27 September 2008

Kutang, catatan musik Slamet Abdul Sjukur

Oleh Slamet A. Sjukur
Dimuat majalah Perancis LE BANIAN
Edisi Juni 2008



Indonesia negeri orang-orang gila yang membuat segalanya tidak ada yang mustahil. Lebih dari Perancis yang tidak percaya ada yang tidak mungkin. Beberapa waktu lalu, yang belum terlalu lama . . .

Slamet Gundono, yang tubuhnya pendek tapi beratnya 104 kg, membawa ukulele kecil berwarna hijau dan menyanyi seperti burung bulbul. Atau ngomong sendirian dan kadang-kadang sambil diiringi instrumen yang dia bawa itu. Dia seorang dalang dan menceritakan kembali dongeng Andersen, dengan caranya sendiri.

Dia berdiri di depan dekor berwarna merah dengan gaya Tionghwa yang dibuatnya sendiri. Di sisi lain di panggung yang sama duduk delapan pemain musik Dutch Chamber Music Ensemble yang dipimpin Ruud van Eeten. Di situ nanti akan muncul juga Sitok Srengenge, pelaku lain dalam dongeng. Dia sendiri seorang penyair.

Mendadak, musik elit dan “hiburan rakyat” sudah tidak bisa dibedakan lagi, tembok tebal yang memisahkannya selama ini, hilang. Ruang pertunjukan dipadati kawula muda, kursi-kursi terpaksa disingkirkan dan bahkan di luar masih di pasang layar tancap raksasa agar dapat ditonton oleh mereka yang tidak mendapat tempat di dalam. Festival Burung Bulbul berkeliling dari Jakarta ke Bandung, Solo, Yogya dan Surabaya.

Burung Bulbul dan Kaisar Tiongkok, dongeng yang ditulis pengarang Denmark Andersen, telah menjadi karya musik beserta dalang, komponisnya Theo Loevendie, Belanda. Ceritanya terjadi di kekaisaran Tiongkok zaman dulu. Cerita tentang seekor burung bulbul, burung betulan, dan burung-robot tiruannya.

Slamet yang raksasa itu bisa berubah menjadi burung bulbul yang mungil. Ajaib! Ada kalanya dia menampakkan diri di depan dekor merah, sebagai actor yang luar biasa, pada saat-saat lainnya dia menghilang di balik dekor untuk menggerakkan wayang-wayang yang dibuat khusus untuk acara ini.

Burung bulbul satunya lagi, sebuah robot kecil, menjadi sumber kegembiraan bagi para spesialis untuk mengadakan seminar-seminar tentang kecermatan dan kehebatan otak manusia . Bagi Sitok Srengenge pelaku burung tiruan ini, semuanya sudah dirancang sebelumnya, semuanya sudah dapat diduga, maka tinggal membaca naskah saja, semuanya beres.

Wah ! Tidak begitu !

Mestinya dia hafal naskahnya seperti yang sudah diteladani Malcolm McDowell, seorang actor sejati yang pernah dipercayai memegang peran utama dalam film Kubrik CLOCKWORK ORANGE atau dalam film Gore Vidal CALIGULA. Burung bulbul tiruan yang dihadiahkan kaisar Jepang pada kaisar Tiongkok itu, sekalipun ada kekurangannya, robot tersebut tetap indah penuh dengan batu-batu permata.

Perbedaan antara seorang penyair yang membaca naskah seperti anak sekolah, burung bulbul yang aneh dan luar biasa serta ansambel musik yang tidak sekadar betul intonasinya, tidak menjadi masalah bagi penonton. Mereka semua gembira. Orang-orang Indonesia mudah terpukau oleh keindahan dan tidak terlalu tertarik untuk bersikap kritis.

Sebelum The Nightingale (Burung Bulbul) karya Theo Loevendie, disuguhkan dulu musik komponis Belanda lainnya, Roderik de Man, The Surprising Adventures of the Baron Munchausen, berdasarkan peristiwa nyata yang tidak masuk akal. Sebuah catatan perjalanan Friedich di Rusia.

Dia hidup antara 1720-1797. Suatu pengalaman yang demikian mencengangkan , sampai akhirnya hanya dianggap sebagai sekadar bualan yang luar biasa. Ini menyedihkan dan dia mati dengan sakit hati. Dari buku yang ditulis oleh Rudolf Eric Raspe, diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Godfried, diolah kembali oleh komponis serta dibaca oleh Sitok Srengenge.

Sebagai ilustrasi musiknya, maka ditayangkan juga di layar lebar di samping anggung, goresan-goresan disain yang sangat bagus Gustav Doré. Semua ini mengingatkan pertunjukan ‘all stars’. Kita hidup di jaman multimedia.

Begitu rumitnya ! Kita dimanjakan oleh teknologi. Hanya saja pertanyaannya apakah ini bukan kemajuan yang berjalan mundur? Kemampuan kita berkhayal, secara halus dibunuh oleh kemudahan. Tentunya ada cara lain memanfaatkan video dengan sikap yang jauh lebih kreatif.

Dari segi musik, kedua karya The Nightingale dan The Baron sama kuatnya dengan L’Histoire du Soldat – Strawinsky yang keterbatasan instrumentasinya dijadikan acuan untuk festival ini. Bahkan bisa menimbulkan kesan sepertinya ketiga karya itu dibuat pada tahun yang sama. Padahal, kerjasama Strawinsky-Ramus, terjadi hampir seratus tahun yang lalu.

Itu artinya, kedua komponis tersebut berbeda dari umumnya para komponis muda yang mudah hanyut oleh hal-hal yang baru. Loevendie dan Man sudah menemukan jati dirinya dan tahu betul bahwa mereka tidak perlu menjadi Ligeti, Xenakis atau lainnya.

Mundur lebih jauh, sebelum Le Baron ada karya lain yang pendek dan tanpa cerita maupun gambar. Itu musik saya yang berjudul KUTANG. Panjangnya hanya 8 menit bukannya 30 atau 53 menit seperti Baron atau Rossignol. Keuangan Belanda tidak dapat membayar komponis Indonesia dengan derajat yang sama dengan yang dari negeri mereka. Karena itu durasi karyanyapun dibatasi. Itu wajar.

Judul karya saya tidak berurusan dengan musiknya maupun dengan yang dijelaskan dalam dua bahasa di buku acara: Do you remember Hamlet? Ophelia loses her mind when her father, Polonius, was killed by Shakespeare for the sake of Drama. Sedang dalam bahasa Indonesianya: Kutang tidak punya urusan dengan Ophelia yang menjadi gila karena Hamlet, kekasihnya, membunuh ayahnya, Polonius, tanpa sengaja.

Judul tersebut agak berbau erotik, seperti halnya judul karya saya sebelumnya, PAHA, untuk kuintet instrument tiup logam. Itu reaksi saya terhadap proyek DPR membuat undang-undang bodoh anti-pornografi. Dapatkah mereka menemukan sesuatu yang jorok dalam musik saya?

Sesungguhnya, musik itu apa?

Terus terang saja, saya sendiri tidak tahu. Suatu teater energi yang berbicara tentang dirinya sendiri, seperti Kunst der Fuge – Bach, sonata-sonata Mozart atau karya Brian Ferneyhough yang mana saja. Orang dapat saja membumbuinya dengan yang tidak-tidak seperti PETER DAN SERIGALA atau KATEDRAL YANG TERBENAM dan sebagainya.

Anehnya, saya terpaksa harus menjelaskan pada mereka yang memainkan musik saya dengan petunjuk seperti berikut: Peaceful – Mechanical – Dreamy – Chuang Tzu, The Wise Nonsense – Deep Breath. Partitur musik sering tidak berbicara apa-apa bagi yang professional sekalipun. Tidak semua pemusik pasti memahami musik.

Ini lucu!

Dunia ini memang penuh dengan yang tidak karuan. The Nightingale Festival yang diselenggarakan oleh Belanda untuk menyenangkan Indonesia, main-mainnya agak keterlaluan. Kita juga pernah sangat bahagia dan cukup naïf, ketika IMF berlagak membantu kita mengatasi kesulitan ekonomi.

Yang paling mengharukan dari cerita-cerita beginian ialah tentang WHO; tahu bahwa Indonesia menderita karena flu burung, mereka minta dikirimi (gratis) virusnya, bukan untuk menyembuhkan kita, tapi untuk suatu penelitian yang hasilnya sebentar lagi... akan dijual pada kita!

Untung, Indonesia dihuni oleh orang-orang gila. Kita hidup dalam dunia surealis.

24 September 2008

Pentingnya silentium, PUASA BICARA





Anda pernah melihat acara DEBAT di TVOne?

Saya tidak tahu apa kesan Anda. Tapi saya sendiri mual melihat acara yang hura-hura, debat kusir, ramai tak karuan, macam debat anak-anak belasan tahun. Topik sosial politik yang berat dibahas ala obrolan warung kopi. Kacau!

Pernah lihat badut-badut, pelawak, yang tampil tiap malam di televisi selama Ramadan? Juga hiruk-pikuk, kacau-balau. Tertawa cekakan. Konyol. Meledek fisik orang lain. Kata-kata kasar, makian, agar penonton bisa tertawa. Suasana bulan puasa yang seharusnya reflektif, merenung, sama sekali tidak tergambar di acara-acara badut itu.

Puji Tuhan, sejak dulu saya tidak tertarik pada program-program badut slapstik macam itu. Saya, meski bukan Islam, lebih suka menyaksikan pengajian Alquran yang diasuh Prof. Dr. Quraish Shihab di Metro TV. Saya sungguh terkesan dengan kematangan, pembawaan, serta suasana acara yang sangat reflektif.

Manfaatnya sangat banyak untuk kita semua, tak hanya untuk kaum muslim. Tahun lalu, di blog ini, saya menulis bahwa Pak Quraish Shihab penceramah terbaik selama bulan Ramadan. Tahun ini pun beliau masih the best-lah.

Setahu saya, bulan puasa itu tak sekadar pantang makan minum, berhubungan seks (dengan istri), pada siang hari. Puasa selama 30 hari punya dimensi yang jauh lebih luas. Ini arena latihan rohani terbaik. Manusia belajar menahan diri, tidak mengumbar kata-kata yang tidak perlu, lebih peduli sesama, dan seterusnya.

Maka, saya sungguh senang membaca tulisan Ibu Siti Musdah Mulia di Jawa Pos, 24 September 2008. Pakar Islam sekaligus aktivis perempuan ini menekankan PUASA BICARA. Puasa ini dilakukan Maryam (Bunda Maria).

"Puasa bicara jauh lebih sulit ketimbang puasa biasa. Menahan diri dari berbicara ternyata jauh lebih berat daripada menahan makan dan minum," tulis Siti Musdah Mulia di halaman satu koran terbitan Surabaya itu.

Sungguh, saya terinspirasi oleh tulisan Ibu Siti Musdah Mulia. Membaca artikel ini, saya langsung ingat badut-badut pengantar sahur. Artis-artis yang saling menjelekkan, perang kata-kata di televisi, misal si Dewi Persik dan Andi Soraya. Atau Ahmad Dhani dan Maya yang berbulan-bulan seakan berlomba memuntahkan kata-kata kasar di televisi.

Juga suasana pengajian Ramadan di televisi yang lebih mirip lawakan. Lha, kapan PUASA BICARA? Kapan kita dikondisikan untuk melakukan refleksi, melakukan permenungan? "Namanya juga televisi, ya, unsur hiburan lebih dikedepankan," kata teman saya, wartawan televisi.

Tapi, kalau porsi hiburan berlebihan, kelewat batas, maka pesan religiusnya hilang. Orang hanya ingat ulah badut-badut konyol itu. Belum lagi kuis-kuis dengan pertanyaan yang menganggap penonton televisi itu sangat goblok.

Bicara PUASA BICARA, saya teringat SILENTIUM. Laku ini selalu dilakukan para biarawan dan biarawati di lingkungan Gereja Katolik. Jemaat awam pun kerap diajak SILENTIUM saat retret menjelang Natal, Paskah, atau acara-acara khusus. SILENTIUM itu bahasa Indonesianya, ya, PUASA BICARA. Saudara-saudara Hindu mungkin menyebut NYEPI.

Selama SILENTIUM, kita dilarang bicara. Kalaupun bicara, ya, hanya perlu-perlu saja. Radio, televisi, ponsel, harus dimatikan. Kita diajak pembimbing retret untuk melakukan refleksi. Introspeksi ke dalam. Berusaha mendengarkan suara hati. Membaca kitab suci dan melakukan perenungan.

"Saudara, fokuskan pikiran dan perasaan Saudara kepada-Nya. Rasakan udara yang masuk ke paru-paru Saudara. Bersyukurlah kepada Tuhan atas hidup dan berkat yang telah Saudara terima...," begitu antara lain kalimat si pembimbing retret.

Namanya juga tidak biasa PUASA BICARA, banyak peserta retret yang keceplosan bicara. Atau senyam-senyum, menggoda temannya. "PUASA BICARA jauh lebih sulit ketimbang puasa biasa," kata Ibu Siti Musdah Mulia.

Memang demikianlah kenyataannya. Tapi, mengingat manfaatnya besar, naga-naganya kita perlu belajar PUASA BICARA. Meneladani Bunda Maria (Maryam) yang terbiasa melakukan latihan rohani ini. Lukas Penginjil menulis:

“Maria menyimpan segala perkara itu di DALAM HATINYA dan merenungkannya” (Lukas 2:19).

23 September 2008

Damianus Wera bina Sasana Rokatenda

Lu pernah dengar nama Damianus Wera ka sonde?

Wah, kalau belum tahu, silakan baca beta pu tulisan ini: Damianus Wera Tabib Asal Flores. Dia punya cara pengobatan yang lain dari lain atau orang Jawa bilang: nyeleneh. Bayangkan, tiap hari Om Dami operasi puluhan orang pakai pisau cutter, sonde (tidak) pakai bius, sonde pakai jahit.

Dan dlam hitungan menit, pasien sudah siuman. Sonde ada bekas luka apa pun. Pasien biasa-biasa saja, ketawa-ketawa. Ada yang sembuh langsung, tapi banyak juga yang harus diterapi beberapa kali. Om Dami sudah melanglang ke beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, untuk mengoperasi pasien-pasien bule.

"Padahal, beta ini orang yang sonde pernah makan sekolah," kata pria asal Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Flores, ini.

Nah, akhir-akhir ini Damianus Wera sering muncul di koran-koran terkemuka di Jawa Timur: Jawa Pos, Kompas, Radar Surabaya, Surya. Cerita tentang pengobatan alternatif di Pondok Candra itu? Sonde. Teman-teman wartawan menulis sisi lain Om Dami. Yakni, sebagai pendiri, pemilik, manajer Sasana Rokatenda. Ketika banyak sasana tutup, Om Dami mulai berusaha menghidupkan dunia tinju di Jawa Timur yang mati suri.

Anak-anak muda Flores, Timor, Sumba... yang hobi berkelahi, suka baku pukul, diajak masuk sasana. Latihan berat tiap hari. Lantas, karena frekuensi pertandingan tinju sangat sedikit, Damianus Wera berinisiatif mengadakan pertandingan tinju rutin. "Tiap bulan beta habis Rp 2,5 juta untuk kasih makan petinju-petunju saya. Rugi terus. Tapi beta sudah telanjur suka sama tinju. Beta ini dulu juga pernah main tinju," kata Om Dami.

Memang, pada 1980-an Damianus Wera pernah ikut kejuaraan tinju amatir. Prestasinya biasa-biasa saja, tapi dia sudah punya dasar-dasar ilmu dan manajemen pertinjuan. Dia pernah diajak Pak Aseng (almarhum) untuk menggelar pertandingan tinju di Maumere, Flores, tahun 2003.

Sukses besar. Dari situ Om Aseng--yang disebut-sebut Don King-nya Indonesia--meminta Om Dami bikin sasana. Ikut menggerakkan tinju di Jawa Timur, Indonesia umumnya. Om Aseng ingin agar Om Dami ini tidak hanya berkutat dengan pasien-pasien gawat darurat yang minta operasi, kena santet, dan macam-macam penyakit berat lain. Harus ada kesibukan atau hobi lain di samping pekerjaan utama. Iya to, Bung!

"Jadi, betapa bikin Sasana Rokatenda ini juga karena dorongan dari Pak Aseng. Beta sonde akan lupa jasa-jasa beliau," ujar tabib yang lahir di Pulau Palue, 27 Januari 1960 ini.

Kenapa pakai nama ROKATENDA? Yang pasti, kita orang-orang Nusa Tenggara Timur (NTT), apalagi Flores, sonde asing lagi. Rokatenda itu nama gunung di Pulau Palue, Sikka, kampung halaman Om Dami. Orang-orang yang tinggal di sekitar Gunung Rokatenda, ya Om Dami ini antara lain, sejak dulu dikenal sakti-sakti. Banyak dukun hebat berasal dari sana.

Prof Dr Josef Glinka SVD, guru besar antropologi Universitas Airlangga, secara khusus bikin riset di Pulau Palue, Rokatenda. Pater Glinka punya riset bikin nama Palue terkenal ke seluruh dunia. "Banyak hal unik yang bisa kita gali di Palue. Saya sangat menikmati kehidupan di Palue bersama masyarakat yang sederhana, tapi sangat baik," kata pater yang sekarang menghabiskan masa tua di Biara Soverdi, Jalan Polisi Istimewa Surabaya itu.

Bagi beta pribadi, Rokatenda itu identik dengan tarian khas yang sangat terkenal di Pulau Flores sebelum 1990-an. Kalau ada pesta di kampung, wuih, orang-orang selalu minta Rokatenda. Tarian massal asal Palue, kampungnya Om Dami ini, sangat sederhana. Laki-laki perempuan, muda-mudi bikin lingkaran. Diiringi musik dengan irama khas Sikka, mirip irama country, kita berputar-putar dengan langkah maju mundur. Orang mesti senang lihat tarian ini.

Lagu paling terkenal untuk mengiringi tarian Rokatenda pada masa lalu, yang beta masih ingat, berjudul MAUMERE MANISE. Liriknya kira-kira begini:

Maumere e...
dengan pulau-pulaunya
Nyiur lambai
Maumere manis e...

Mutiara di Nusa Bunga e...

Maumere e...
Kalau masih ingat e...
Jangan lupa Maumere manis e...

Kalau ketemu orang-orang Flores, beta sering bersiul membawakan lagu MAUMERE. Pasti langsung nyambung. Tapi belum ada yang ajak beta untuk sama-sama menari Rokatenda. Om Dami bilang Gunung Rokatenda itu juga lambang kekuatan. Nah, dia ingin Sasana Rokatenda bisa mencetak petinju-petinju tangguh, kuat, punya prestasi di Indonesia dan dunia.

Wuih, Om pu cita-cita tinggi macam gunung di kampung! Harus! Cita-cita harus tinggi!

Sekarang Om Dami punya nama sudah mulai bergema di Jawa Timur--mungkin juga Indonesia--sebagai pembina tinju. Kita semua sedang menunggu kiprah petinju-petinju binaan Sasana Rokatenda.

Proficiat, Om Dami!

TERKAIT
Damianus Wera operasi tanpa bius.

22 September 2008

Pelacuran selama Ramadan



Ehem... kalau cewek-cewek ini sih penghuni lokalisasi Gang Dolly. Tanjung Perak kapale kobong, monggo pinara kamare kosong.

Setiap malam, pulang kerja usai tenggat, beta su tentu lewat di jalan raya Waru. Tetangga paling dekat Kota Surabaya. Yah, beta kan tinggal di kawasan Aloha, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Sonde begitu jauhlah dari Bandara Juanda.

Di kiri jalan (sebelah timur), beta hampir selalu lihat nona manis berdiri sambil bicara di HP. Umurnya kira-kira 30-an. Tak seberapa jauh dari situ ada seorang laki-laki, 50-an, mungkin pengawal, kekasih, atau suami? Beta sonde tanya. Tiap kali ada laki-laki lewat si nona suka senyum. Kadang melambaikan tangannya.

Kadang ajakan si nona berhasil. Nyong-nyong merapat, omong-omong sebentar lalu pergi entah ke mana. Adegan macam ini mungkin biasa pada hari-hari biasa, tapi kejadian ini justru pada saat Ramadan. Ketika umat Islam menjalankan puasa selama 30 hari. Sonde boleh makan, minum, berhubungan seks dengan istri, apalagi dengan perempuan yang bukan istri. Pokoknya, sonde boleh maksiat!

"Lha, sekarang kan puasa, Mbak, kok sampean tetap kerja? Apa nggak takut dirazia sama polisi atau Satpol PP? Sanksinya berat lho?" beta kasih pancingan.

"Puasa ya puasa, tapi aku kan cari uang. Aku harus makan, anaknya saya juga perlu makan, sekolah, banyak kebutuhan. Lha, kalau aku gak kerjo, apa pemerintah mau kasih saya uang? Mau kasih makan anak saya?" balas si nona itu sengit.

Jawaban-jawaban macam ini sudah klasik. Template, istilah komputernya. Maka, beta sonde begitu terkejut.

"Tapi sampean tetap puasa, Mbak?" beta sambung lagi.

"Oh, jelas, puasa gak mangan gak ngombe awan-awan. Puasa tidak makan dan minum siang hari. Masa sih malam-malam juga gak boleh makan minum?" ujar nona yang ramah itu.

Wah, wah... Beta merenung sejenak. Khotbah-khotbah, seruan moral, perintah untuk menghentikan maksiat... memang sangat mulia. Tapi, jangan lupa, manusia perlu uang--apalagi ini kota besar--untuk membiayai berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan itu sonde pernah ada habisnya. Satu dipenuhi, puluhan lain menyusul di belakang.

Nona pekerja seks itu so pasti tahu bahwa melacur itu tidak baik, berdosa, lebih-lebih di bulan puasa yang suci. Tapi kalau sonde kerja, dorang mo makan apa? Siapa yang mo kasih kerja, kasih susu buat dia pu anak? Melarang pelacuran tanpa disertai pemikiran mendalam tentang karut-marut masalah sosial budaya, jelas sonde bijaksana.

Puluhan pekerja seks terus dirazia di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan kota-kota lain di Jawa Timur, kemudian diajukan ke pengadilan, bayar denda. Kadang-kadang didatangkan rohaniwan untuk kasih petuah hidup baik, suci, meninggalkan dunia hitam. Tapi ya, pelacur tetap ada. Malah makin banyak.

"Beta su bosan dengar nasihat dan khotbah-khotbah. Kasih solusi dong," ujar Mbak Vera, aktivis organisasi nonpemerintah yang sejak 1987 mendampingi pekerja seks di Gang Dolly dan Jarak, Surabaya.

Dua lokalisasi ini--Dolly dan Jarak--paling besar di Indonesia. Ada juga media massa yang bilang terbesar di Asia Tenggara. Tapi beta kira negara Thailand masih nomor satu untuk urusan bisnis esek-esek ini.

Selain pekerja seks jalanan, termasuk kalangan banci, beta juga cari-cari informasi tentang bisnis prostitusi di Surabaya selama bulan Ramadan. Secara formal Gang Dolly, Jarak, dan beberapa lokalisasi "resmi"--pakai tanda kutip karena sebenarnya ada peraturan daerah yang sejak dulu melarang bisnis prostitusi di Surabaya dalam bentuk apa pun--tutup. Tapi... ehm... kalau mau jujur bisnis satu ini sonde pernah mati. Kagak ada matinye, kata orang Betawi.

Coba saja lu jalan-jalan ke Porong, dekat pusat lumpur Lapindo. Di situ ada tanggul Sungai Porong atau orang sini bilang Tangkis Porong. Bisnis seks tetap marak, sonde ada beda dengan bukan Ramadan. Puluhan pekerja seks yang "estewe" (40-an ke atas) dengan dandanan menor, gincu tebal, tetap saja seliwar-seliwer di sana.

"Sering sih dirazia, tapi ya sulit dihentikan. Wong, namanya juga cari uang," ujar seorang pedagang makanan di Pasar Porong kepada beta.

Kalau sudah begini, yo opo maneh Cak? Wong, larangan praktik selama puasa yang ilahi saja sonde digubris, apalagi peraturan daerah atau undang-undang sekalipun. Beta pu pesan kepada pemerintah supaya jangan terlalu sibuk cari muka, tebar pesona, sok alim, tapi perhatikan kemiskinan struktural di kalangan bawah.

Kalau orang sonde apa-apa, sonde dapat kerja, maka apa pun dilakukan agar bisa bertahan hidup. Inga, inga, tanggal 15 September 2008 ribuan orang antre zakat di rumah Pak Syaikon agar bisa dapat uang Rp 20.000 sampai Rp 40.000. Panas terik, gencet-gencetan, sonde dihiraukan lagi.

Maka, 21 ibu-ibu pun tewas terinjak-injak dan mati lemas. Kitorang mo salahkan siapa lagi?

21 September 2008

Paduan suara SMAK St. Louis 1 menang lagi



Juara, juara, juara! Menang, menang, menang!

Begitulah paduan suara Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Santo Louis I Surabaya. Pada akhir Agustus 2008, paduan suara SMA di Jalan Polisi Istimewa ini menjadi juara Festival Paduan Suara XXI yang diadakan Institut Teknologi Bandung. Sinlui jawara untuk kategori paduan suara campuran remaja.

Beta sendiri tidak heran dengan kejayaan kor SMAK St Louis I yang terus berulang di festival paduan suara paling bergengsi di Indonesia itu. Maklum, mereka punya pelatih kawakan Bapak Fransiskus Xaverius Aryono Soeprapto alias Pak Arie alias Pak Yapie. Pelatih yang satu ini berpengalaman dalam membentuk suara anak-anak muda yang baru lepas pancaroba.

Tidak gampang lho menangani vokal remaja SMP dan SMA! Kalau tidak mendalami psikologi remaja, punya jiwa kebapakan, tidak akan bisa. Pak Arie sangat memenuhi syarat karena dia juga tercatat sebagai guru SMAK SMAK St Louis I. Guru di situ, melatih di situ, mendirigen juga, wah kompletlah kelebihan SMAK St Louis I.

Akan lain hasilnya jika paduan suara itu pakai pelatih dari luar. Sehebat apa pun dia, sekolah tinggi sampai ke Belanda atau kutub utara, pun sonde (tidak) akan bisa kalau dia hanya pelatih bayaran. Karena itu, sejak dulu kor-kor jawara senantiasa dilatih oleh pelatih tetap. Bukan macam pelatih bola kaki yang saban musim diganti tergantung kontraknya.

Mengapa paduan suara Elfa's selalu jawara olimpiade? Jawabnya sama: mereka punya Elfa Secioria sebagai pelatih, konseptor, direktur musik. Personel boleh gonta-ganti, tapi selama Bang Elfa masih di sana, regenerasi bagus, kualitas tetap terjaga. Paduan suara SMAK St Louis I sudah membuktikannya. Dus, beta bisa katakan bahwa kemenangan PS SMAK St Louis I berarti pula kemenangan Pak Arie Soeprapto.

Kali ini, beta sonde sempat wawancara khusus dengan Pak Arie maupun anggota kor SMAK St Louis I. Tapi beta bisa mengikuti kebahagiaan adik-adik SMAK St Louis I lewat tulisan di Jawa Pos edisi 13 September 2008. Bagaimana persiapan selama dua bulan. Harus ganti repertoir. Penyesuaian yang makan waktu. Meyakinkan panitia. Harus dikarantina: tanpa televisi, ponsel, surat kabar, internet. Stres.

Lantas, stres hilang setelah dewan juri menyatakan bahwa kor SMAK St Louis I Surabaya menjadi juara. Proficiat buat SMAK St Louis I dan Pak Arie! Prestasi kalian merupakan kabar gembira bagi Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Kenapa? Selama ini, seperti beta ulas di tulisan-tulisan lain, peta kekuatan paduan suara nasional berada di kawasan Barat. Kitorang di Jawa Timur sering dianggap sebelah mata.

Selamat berjaya!

Gula lempeng, nusa lontar, minum tuak

GULA LEMPENG. Teman-teman di Nusatenggara Timur bilang GULA LEMPE. Tidak pakai NG. Aha, hari ini beta lihat berita foto di harian KOMPAS edisi Minggu 21 September 2008. Dia pu judul: GULA LEMPENG LONTAR DARI PANTAI LASIANA.

Ada enam foto yang dimuat satu halaman penuh, cerita tentang Yafet Nale, 37 tahun, warga Lasiana di Kupang Tengah. Bagaimana Bung Yafet memanggul HAIK KONEUK, wadah setengah lingkaran dari daun lontar, lantas memanjat pohon lontar, lantas ganti HAIK KONEUK yang sudah penuh berisi nira. Manis sekali pasti!

Cairan nira--di Flores disebut tuak manis--kemudian diproses oleh ibu-ibu menjadi gula lempeng. Cara bikin ini gula sangat gampang. Air nira tadi dipanaskan, mengental, lantas dimasukkan ke gelang-gelang. Setelah mengering pasti mengeras. Jadilah gula lempe.

Jika engkau jalan-jalan ke pasar di Kupang, ibukota provinsi NTT, engkau pasti menjumpai begitu banyak gula lempe. Oleh-oleh khas Kupang, selain dendeng dan abon sapi yang ciamik. Satu kilogram Rp 10 ribu, isi 26-30 gelang gula lempe.

"Orang Timor, khususnya Sabu dan Rote memang tidak bisa lepas dari lontar. Hidupnya dari lontar. Kebutuhan kalori banyak diambil dari lontar. Mereka sonde (tidak makan) nasi pun sonde apa-apa asal sudah minum nira yang manis atau makan gula lempe," kata Peter A. Rohi kepada beta suatu ketika.

Peter ini orang Sabu, wartawan kawakan yang beberapa kali bikin sejarah karena liputan-liputan eksklusif dan investigatif di SINAR HARAPAN pada 1980-an. Om yang satu ini sangat bangga pada kampung halamannya, nusa lontar. Biar orang bilang apa tentang NTT, dia tetap bangga. Bae sonde bae Flobamora lebe bae!

Baru-baru ini ada teman yang datang dari Kupang. "Lu bawa gula lempe ka sonde?" beta bertanya. Ternyata, dia sonde bawa. "Beta sonde sempat beli na. Habis buru-buru sih ke bandara, takut ketinggalan pesawat. Pokoke, kapan-kapan ae aku tuku nang Kupang," kata teman dengan bahasa gado-gado--Melayu Kupang, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

"Yo wis, gak opo-opo. Pokokoe, ojo lali maneh lho! Beta paling suka gula lempe na," kata beta, juga pakai bahasa gado-gado.

Yang jelas, berita foto KOMPAS ini bikin beta ingat beta pu kampung halaman di Flores Timur, tepatnya Pulau Lembata. Sejak zaman dulu bapak-bapak di kampung pu kebiasaan 'mengiris tuak'. Maksudnya mengambil nira dari pohon lontar alias siwalan alias koli alias Borassus sundaicus. Dua kali sehari si bapak harus panjat lontar untuk mengambil cairan berwarna keputihan itu. Rutinitas ini, beta punya banyak kenangan di kampung, sangat mengasyikkan.

Di atas pohon, si bapak bersenandung perlahan. Lagu-lagu spontan, tradisional, khas kampung. Ketika hari mulai gelap, si bapak sudah menyelesaikan tugas 'memanen' nira di empat hingga lima pohon, bahkan lebih. Hasilnya bisa tuak manis, setengah manis, agak kecut, hingga yang berat. Tergantung ramuan yang ditambahkan ke nira tersebut.

Kalau di Kupang dan sekitarnya, khususnya Rote-Ndao, nira banyak dibuat gula lempe, di Flores Timur... lebih banyak diminum. Kumpul bersama di ORING (pondokan sederhana beratap alang-alang atau daun kelapa atau daun lontar), lantas minum. Penerangannya cukup cahaya bulan atau pelita minyak tanah. Bicara ngalor-ngidul bersama rekan-rekan satu MOTING, kemudian makan bersama.

Acara ini berlangsung sampai malam, lantas pulang, istirahat. Besok kegiatan yang sama dilanjutkan. Orang-orang kampung sonde bicara politik, karena memang sonde mengerti, sonde nonton televisi, karena memang sonde ada. Mereka bicara hal-hal sederhana tentang alam, rumput liar di kebun, panen yang gagal, dan seterusnya.

Hidup terasa tanpa bebas meskipun para pengamat dan media massa sejak dulu menyebut NTT sebagai provinsi termiskin di Indonesia. "Ketong di kampung sonde merasa miskin. Tetap makan kenyang, minum sampai berlebih, sonde stres, sonde mencuri macam di kota besar," begitu kata-kata Freddy, beta pu teman yang asal Kupang.

Sarjana yang sudah pulang kampung ini menilai para ilmuwan itu sonde tahu apa-apa tentang budaya dan kehidupan orang NTT. Kriteria miskin pakai buku teks. Rumah bambu, beralas tanah, atas alang-alang, menurut ahli, disebut miskin. "Padahal, ketong di NTT dari dulu kan begitu. Kita pu nenek moyang bikin rumah pakai alang-alang, sonde pake tembok, sonde pake aksesoris macam-macam. Apa benar ketong miskin?" protesnya.

Sudahlah, Bung! Biar sa dorang omong apa. Yang penting, kalau lu ke Surabaya jangan lupa bawa gula lempe. Nanti be sama teman-teman makan sama-sama sambil nyanyi FLOBAMORA.

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!!!

Konsistensi Galajapo dan diskriminasi seniman



Priyo, Djadi, Lutfi. Trio Galajapo yang masih bertahan di Surabaya.

Surabaya--atau Jawa Timur umumnya--dikenal sebagai gudang pelawak. Tapi itu dulu. Ketika Srimulat masih berjaya hingga pertengahan 1980-an. Srimulat kemudian hijrah ke Jakarta, diikuti pelawak-pelawak lain. Lalu, dunia lawak di Surabaya cenderung mati suri. Antara ada dan tiada.

Sebetulnya, lawakan Jawa Timur itu identik dengan ludruk. Dan ludruk, meski kembang kempis, masih hidup di desa-desa. Sehingga, ya, pelawak-pelawak tetap ada. Tapi ya itu, usianya sudah sepuh-sepuh, dan gaya lawakannya masih tetap seperti dulu. Slapstik, kasar, sulit diterima anak-anak muda.

Misalnya, pembantu menjungkalkan majikan dari kursi, salah satu pelawak digelontor dengan air kotor. Nggilani! Kita tertawa, tapi juga tidak sampai hati melihat kekonyolan macam begini. Saya jadi malas nonton ludruk, antara lain karena gaya lawakan yang slapstik, kebabalasan.

Dalam lanskap macam ini, alhamdulillah, masih ada Galajapo. Pada 19 September 2008, trio pelawak Surabaya ini--Djadi, Lutfi, Priyo--merilis buku berjudul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan di Graha Pena Jawa Pos. Dikemas dalam acara buka puasa bersama, para pelawak, aktivis sosial, sastrawan, wartawan, budayawan, hadir untuk mengapresiasi keberadaan Galajapo.

"Kami bisa bertahan sampai sekarang karena bantuan teman-teman wartawan," ujar Djadi yang setelah naik haji mengubah namanya menjadi Haji Muhammad Cheng Hoo Djadi Galajapo. Cheng Hoo itu tokoh muslim Tiongkok yang besar jasanya dalam penyebaran agama Islam dan ekspedisi di Nusantara.

Perjalanan Galajapo sebagai pelawak DAERAH--penekanan ini penting, mengingat industri hiburan kita terpusat di Jakarta--sejak 1992 tahun tidaklah mulus. Pasang surut. Jatuh bangun. Apalagi, panggung yang disediakan di televisi daerah (lokal) maupun acara-acara lain makin sedikit.

Maka, beberapa tahun terakhir si Djadi alias Cheng Hoo lebih dikenal sebagai pembawa acara alias master of ceremony (MC). Djadi punya gaya khas, yakni dengan banyak menyisipkan pesan-pesan dakwah. Dia memang piawai menghafal ayat-ayat suci Alquran. Penonton mantuk-mantuk sambil tersenyum mendengar wejangan pak kiai yang pelawak itu.

Kemudian, si Priyo Aljabar sekarang lebih dikenal warga Jawa Timur sebagai pembawa acara Cangkrukan di JTV atau bincang-bincang di TVRI Jatim. Gaya Priyo persis jupen alias juru penerangan era Orde Baru. Suka pakai bahasa Jawa ngaka, suroboyoan, yang paling kasar, kehadiran Priyo masih ditunggu banyak kalangan.

Si Lutfi, yang sebetulnya paling lucu, tak seheboh kedua rekannya karena jarang jadi MC. "Galajapo itu grup, tapi semua personel diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan masing-masing. Jadi, tidak harus tampil bertiga terus," ucap Djadi Cheng Hoo.

Suatu ketika saya omong-omong santai dengan Djadi di Graha Pena. Saya bertanya, apakah mungkin kita mencetak pelawak-pelawak muda Jawa Timur dengan festival pelawak? "Kenapa tidak? Galajapo itu kan grup lawak hasil festival yang diadakan Jawa Pos tahun 1980-an," tegasnya. Galajapo sendiri singkatan Gabungan Lawak Jawa Pos.

Bahkan, Djadi mengaku sudah beberapa kali bikin festival, mengader pelawak-pelawak muda, tapi hasilnya tidak optimal. Ada beberapa calon pelawak yang sebetulnya potensial. Namun, karena tidak mau mengasah diri, kurang belajar, akhirnya stagnan. Lalu, mati. Ada lagi yang mengadu nasib ke Jakarta, "Karena memang pasaran lawak di daerah memang sepi. Yah, itu semua pilihan teman-teman saja."

Celakanya lagi, pemerintah-pemerintah daerah pun umumnya kurang menghargai pelawak-pelawak daerah. Contohnya tak usah jauh-jauh. Pada perayaan hari jadi ke-715 Kota Surabaya, Mei 2008, seniman lokal ditinggalkan. Termasuk pelawak-pelawak macam Galajapo, Hunter Parabola, Kartolo, Kenthus, dan para eks Srimulat. Pemerintah kota hanya mau memakai jasa artis industri dari Jakarta.

Saking mangkelnya, Djadi Cheng Hoo mengumpulkan para seniman lokal dan bikin jumpa pers. Intinya, memprotes keras sikap panitia hari jadi Surabaya yang mendiskriminasi seniman Jakarta dan daerah. Ini bahkan sudah terjadi sejak era Cak Narto (Wali Kota Sunarto Sumoprawiro, almarhum).

"Seniman daerah hanya dikasih makan nasi kotak, air putih, sedangkan artis-artis ibukota makanannya mewah dan nginap di hotel berbintang," protes Djadi dan kawan-kawan.

Lantas, kenapa Anda tidak pindah saja ke Jakarta agar dapat perlakukan istimewa dan honor tinggi? "Wah, saya sudah komitmen untuk tetap di Surabaya. Tetap di daerah. Sebab, yang namanya rezeki itu sudah diatur oleh Allah SW," tegasnya.

Ketika membaca undangan buka puasa bersama plus peluncuran buku Galajapo, saya langsung teringat guyonan khas Djadi. Humor atau lebih tepat teka-teki ini kerap dilontarkan Djadi ketika memandu kuis berhadiah. Ini disampaikan lagi sehari sebelum puasa, 31 Agustus 2008, di Taman Surya.

"Siapa yang selalu dikejar-kejar burung?" tanya Djadi.

"Perempuan."

"Huss... Besok kita mau puasa. Ojo ngeres, Rek."

"Ayo, bagi yang menjawab benar, dapat hadiah dari sponsor. Lumayan gede lho."

Ternyata, para peserta jalan sehat tidak ada yang bisa menjawab. Maka, Djadi pun menjawab sendiri. "Yang selalu dikejar-kejar burung itu, ya, orang naik becak."

Hehehe.... Tukang becak itu pasti laki-laki, mengayuh becaknya dari belakang. Tentu saja, 'burungnya' terus mengejar penumpang, tapi tidak akan pernah dapat. Ada-ada saja si Djadi ini. Dasar pelawak, meski sudah haji, suka mengutip kitab suci, ya, tetap saja nyerempet-nyerempet ke situ.

Cak Djadi, Cak Lutfi, Cak Priyo, matur nuwun atas lawakan dan buku sampean!

Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para calon pelawak di Jawa Timur.

20 September 2008

Ali Alatas dan Gambus El Balasyik


Ali Alatas (tengah) bersama Prof Andrew Weintraub dan Rhoma Irama.

Irama gabus, siapa tak kenal? Musik ala Timur Tengah ini sangat populer di tanah air, khususnya di kalangan warga keturunan Arab (Timur Tengah). Bahkan, sudah meluas ke mana-mana, termasuk kawasan Indonesia Timur.

Namanya pun macam-macam: zafin, dana, dani, kasidah. Yang jelas, musik yang satu ini sangat khas. Melodinya repetitif alias berulang, dengan syair berpantun. Bisa pantun cinta, nasihat, pantun lama, hingga dakwah. Karena liriknya cenderung berdakwah, musik gambus selama ini cenderung disebut musik religius. Musik islami.

Iramanya sangat ritmis, rancak. Dan itu sangat cocok buat menari. Maka, lahirlah tarian zafin yang amat populer di kalangan masyarakat keturunan Arab dan para santri. Gerakan kaki sang penari sangat asyik. Kadang mirip gerakan kaki kuda, kadang mirip orang pincang... Bikin senyum dikulum.

"Sebetulnya syairnya bisa diisi apa saja. Tapi dasar musikalnya sudah pakem, khas. Jadi, begitu dengar intronya, orang langsung tahu, oh itu gambus. Irama Zafin," jelas Ali Alatas, penyanyi Surabaya, keturunan Arab, yang kini 'identik' dengan irama gambus.

Ali Alatas ini pada 1970-an sangat terkenal di Indonesia--juga Malaysia, Brunei, Singapura--dengan lagu hitnya Rindu. [Rindu, mengapa rindu hatiku tiada tertahan, kau tinggalkan aku seorang. Engkau pergi tiada pesan. Kabar darimu kunantikan...]. Karena itu, Bang Ali yang satu ini sering juga disapa 'Ali Rindu'.

"Saya ini Ali Rindu. Kamu tahu nggak lagu Rindu," ujar Ali Alatas kepada saya beberapa waktu lalu di aula Universitas Widya Mandala Surabaya.

Lantas, pria yang dipercaya sebagai juri lomba menyanyi dangdut itu melantunkan Rindu yang melambungkan namanya di belantika musik Indonesia. Aha, persis di kaset yang pernah saya nikmati di kampung, Flores Timur. "Sampai sekarang saya masih tetap menyanyi meskipun tidak lagi muncul di televisi. Musik itu tidak pernah mati, dan saya bisa seperti ini karena musik."

Baru-baru ini saya beroleh rekaman Ali Alatas bertajuk PENGANTIN BARU. Dia bernyanyi diiringi Orkes Gambus El Balasyik, grup sangat terkenal di Jawa Timur. Bukan main! Suara Bang Ali masih tetap prima, empuk, punya sedikit vibrasi. Mirip-mirip suara Muchsin Alatas. "Kebetulan nama belakangnya sama. Hehehe," kata Ali Alatas lantas tersenyum lebar.

Ada delapan lagu di album dengan penata musik (arranger) Mohammad Va'aq ini. Pengantin Baru. Jangan Pura-Pura. Pantun Bercinta. Lain di Mulut Lain di Hati. Merana. Jangan Asal. Bagai Bidadari. Gosip.

Meski musiknya sama dengan kasidah, namanya saja gambus atau zafin atau dana, isinya tetap profan. Bukan lagu khusus islami, tapi universal. "Kita buat yang umum-umum saja untuk hiburan yang mendidik," kata pria murah senyum itu. Simak saja salah satu bait lagu Ali Alatas:

"Mau cari istri harusnya kau berhati-hati
Jangan asal jadi tanpa engkau uji
Walaupun tak cantik, asal baik budi pekerti
Asal taat pula dalam beribadah..."


Bersama El Balasyik, Ali Alatas masih terus membagikan suara merdunya kepada khalayak ramai. Sebagai penyanyi senior, dia sadar bahwa sekarang eranya penyanyi-penyanyi muda yang berjaya. Puncak kejayaan Ali Alatas sudah dicapai pada 1970-an hingga 1980-an. Ibarat roda, perjalanan hidup dan bermusik pun terus berputar.

"Yang penting, kita syukuri nikmat dari Allah," ujar Ali Alatas.

ORKES GAMBUS EL BALASYIK
Mohammad Ahmad Vada'q
(031) 7091 2236
Jalan Karangtembok 41 Surabaya

18 September 2008

Pop Mandarin di Indonesia



Ling Ling Ling Ling oh kekasihku,
dara lincah tetanggaku,
diam-diam aku jatuh cinta kepadanya,
oh Ling Ling Ling
Pada suatu hari yang indah,
di pesta ulang tahunmu,
diam-diam aku menciummu....”



Oleh THEDORE K.S.

Itulah antara lain lirik lagu Ling Ling berirama Mandarin yang menjadi sangat populer tahun 1975. Tekanan politik Orde Lama dan Orde Baru yang melarang peredaran dan menyanyikan lagu-lagu Mandarin di tempat umum justru melahirkan lagu-lagu Indonesia berirama Mandarin.


Diawali Titik Shandora tahun 1971 lewat lagu-lagu Bersama Angin Laut, Terang Bulan di Gunung, Si Cantik Jelita, Dayung Sampan, dengan beberapa di antaranya justru menjiplak asli Mandarin seperti Ni She Chun Ze Feng, atau Si Cantik Jelita yang konon mentah-mentah dijiplak dari lagu Jepang, Sina no Yoru (Malam yang Indah).

Ling Ling adalah salah satu lagu dari album pertama grup The Phoenix. Kelompok yang beranggota R. Ashari Asaari, Yusuf, Syarif, Irfan, Yarzuk Arifin, dan Bob Salem ini pun menjadi pusat perhatian pada awal tahun 1975.

Menurut R. Ashari Asaari, pencipta Ling Ling, irama lagu Cina sudah dikenal di Indonesia sejak lama, antara lain seperti lagu gambang kromong Jangan Malu Malu Kucing. Jadi, apa yang dilakukannya bukan hal baru. Seperti juga gambang kromong, Ling Ling juga disukai masyarakat Indonesia umumnya, tidak terbatas pada masyarakat keturunan saja.

“Yang banyak beli kasetnya justru orang kita sendiri,” kata Ashari, yang sebagaimana anggota The Phoenix lainnya berasal dari Palembang, kepada sebuah majalah berita musik bulan Agustus 1975. Master rekaman album pertama The Phoenix itu dijual Ashari Rp 2 juta kepada perusahaan rekaman Remaco.

Sedemikian populernya Ling Ling sehingga menjadi wabah, yang menyebabkan penyanyi dan grup lainnya ikut-ikut merekam lagu pop Indonesia dengan irama Mandarin. Mulai dari Deddy Dores, Leily Dimyathi, Ferdi Ferdian, Irni Basir, Is Haryanto, Rudy’s Grup, Dominos, hingga The D’lloyd, dan The Steps. Imron dan Ismet yang menjadi penggerak The Steps menyatakan lagu mereka sebagai pop Mandarin Melayu dan dinyanyikan Marini. Dua lagunya antara lain berjudul Moy Moy dan Wo Ai Ni Nio, yang dua-duanya ciptaan Imron.

Pada saat yang sama Titik Shandora yang sudah terlebih dulu sukses dengan lagu-lagu berirama Mandarin-nya mendulang emas pula berduet dengan Muchsin. Mereka merekam sejumlah album berbagai jenis musik; pop, melayu, pop Jawa, dan lain-lain. Duet Titik Shandora-Muchsin juga diikuti munculnya duet-duet yang lain.

Sementara itu, penyanyi Indonesia keturunan Cina, Ervinna, malang melintang di Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Meskipun tidak pernah menyatakannya secara eksplisit, tampaknya langkah Ervinna meniti kariernya mulai dari Hongkong pada tahun 1974 disebabkan banyak rambu-rambu yang harus dilewati lagu Mandarin dalam lalu lintas industri musik Indonesia.

Setelah keluar masuk studio rekaman Hong Kong, Singapura dan Taiwan dengan album Mandarin-nya yang laris manis, Ervinna memperoleh sejumlah penghargaan. Menurut A. Riyanto, yang lagu-lagunya dinyanyikan Ervinna dalam rekaman pop Indonesia, Ervinna termasuk penyanyi yang cepat mengerti maunya pencipta lagu. Penyanyi yang sekarang berusia 45 tahun itu [pada 2005] menghasilkan sekitar 200 album rekaman di dalam dan luar negeri sepanjang kariernya.

Langkah Ervinna bisa dimengerti, mengingat hingga tahun 1991 lagu Mandarin tetap diwaspadai pemerintah. Karaoke di Jawa Tengah dilarang memutar lagu-lagu Mandarin, sementara penayangan video lagu-lagu Mandarin di karaoke Jakarta dianggap melanggar peraturan. Sampai tahun 1996 lagu Mandarin tetap dihadang dengan berbagai peraturan.

Kaset lagu Mandarin berlisensi (izin resmi dari perekam aslinya di negeri asalnya) harus lolos sensor baru boleh beredar. Tetapi, anehnya, kaset bajakan juga ada tanda lolos sensornya. Kaset yang berlisensi dan tidak berlisensi dijual bersama-sama, bahkan ada yang hanya menjual kaset lagu Mandarin tanpa lisensi alias bajakan, tetapi lolos sensor.

Meski demikian, penyanyi dan grup musik Mandarin di Indonesia terus tumbuh. Di Medan berdiri grup Nila Nada tahun 1969 yang menjadikan lagu Mandarin sebagai andalan, kemudian berganti nama menjadi Nila 73 pada tahun 1973. Mereka mengisi acara di restoran chinesse food dan klab malam seperti Tropicana dan Bali Plaza. Nila 73 hadir pada saat yang bersamaan dengan kejayaan grup The Rhythm King’s, The Minstrel’s dan The Mercy’s, namun mereka tetap dapat tempat di hati masyarakat dengan modal lagu-lagu Mandarin-nya.

Dan sekarang Medan seakan tidak mau berhenti beregenerasi. Gen’s 21 yang beranggotakan Robent (vokal), Huang Ie (vokal), Edwin (vokal), EQ (keyboard), Agus (drum), Yudhie (bas) dan Jay (gitar), yang mengandalkan lagu Mandarin, Jepang, dan Indonesia, terbentuk tahun 2002. Walaupun selama tiga tahun ini dikenal di Medan, baru sekarang, tiga tahun kemudian, perusahaan rekaman Gema Nada Pertiwi memproduksi rekaman perdananya berjudul The Past and The Future yang antara lain berisi lagu Feng Yun Tian Di (Angin Awan Langit Bumi) dan Xing Xing Suo versi Mandarin lagu rakyat Tapanuli, Sing Sing So.

Di samping The Phoenix, di Jakarta juga dikenal penyanyi Dewi Puspa yang nama aslinya The Coe Cou, yang pada tahun 1973 masih dikenal sebagai penyanyi pop anak-anak. Dewi juga bintang film yang muncul dalam Aku Tak Berdosa (1972), Ketemu Jodoh (1973), Suster Maria (1974) dan Arwah Penasaran (1975), di samping menyanyi lagu Mandarin hingga ke luar negeri.

Dari Semarang pada era 70-an antara lain juga tercatat Fang Fang dan Evi Lukito. Pada waktu itu Fang Fang terbilang sudah kawakan karena sudah mulai menyanyi sejak pertengahan tahun 50-an. Fang Fang sering tampil dengan grup rock kondang Semarang, Fanny’s dan Dragon, yang beberapa anggotanya keturunan Cina. Media musik tahun 70-an menyebut dua kelompok musik itu grup cap-cai.

Fang Fang dan Evi Lukito membawa lagu Mandarin dalam versi aslinya. Evi sering membawakan antara lain lagu Ming Rek Dien-ya (Jika Esok Tiba) dan Wo Ai Ni Ie Wan Pe (Aku Mencintaimu Sepuluh Ribu Gudang). Sementara Fang Fang suka melantunkan Ye Siang Ye Ai Nie (Semakin Dipikir Semakin Cinta) dan Jiau Jiau Men (Ketuk-ketuk Pintu). Walaupun lagu-lagu asli Mandarin sering terdengar di atas panggung, ternyata banyak di antaranya yang dibajak dengan menggantikan liriknya ke bahasa Indonesia.

“Mentang-mentang lagu Mandarin dicekal di Indonesia sehingga dikira tidak ada yang tahu lagu ciptaannya adalah hasil jiplakan. Bagi yang berminat ingin melihat dan mendengar bukti penjiplakan lagu Mandarin dapat menghubungi saya. Saya memiliki data sekitar 30 buah lagu hasil jiplakan, judul aslinya beserta nama-nama pencipta lagu yang menjiplak,” demikian antara lain tulis Teddy Teguh Raharja, siswa SMAN 4 Singaraja, Bali, di “Surat Pembaca” Kompas, Minggu 9 April 1995.

Padahal, masalah hak cipta gencar dibicarakan dua puluh tahun sebelumnya, yang pada puncaknya diselenggarakan “Seminar Hak Cipta” di Denpasar, Bali, 20-25 Oktober 1975. Seminar itu adalah untuk mengumpulkan berbagai sumbangan pemikiran bagi disusunnya Rancangan Undang-Undang Hak Cipta.

Industri musik tahun 1975 bagai hutan belantara. Penjiplakan lagu terjadi begitu saja, seakan-akan tidak ada pemiliknya. Itulah yang terjadi pada Ling Ling, yang tiba-tiba menjadi Kenangan Manis, dengan notasi yang sama tapi lirik dan judulnya di ubah tanpa pemberitahuan apalagi minta izin penciptanya. Tetapi urusannya selesai, setelah Ashari memperoleh imbalan Rp 500.000.

Kalau Kenangan Manis dinyanyikan Lily Junaedhy, Ling Ling dalam versi gambang kromong dibawakan Suheiri juga tanpa izin dari Ashari sebagai pencipta. Entah bagaimana caranya urusannya selesai secara damai. Ketika Ling Ling lagi-lagi direkam penyanyi lain dengan cara yang sama, Ashari pun naik pitam. Apalagi ketika dia hanya diberi Rp 60.000 sebagai tanda permintaan maaf. Ashari tersinggung dan meneruskan perkaranya ke pengadilan. Hanya saja, kelanjutan perkara itu tidak pernah kedengaran.

“Ling Ling di-CIA (dimakan) hopeng (teman baik)nya sendiri,” begitu gerutu pencipta lagu pada era Ashari. Mereka memelesetkan cia dengan CIA berhuruf besar dan dibaca si-ai-e. Masalah cia-mencia ini terus berlangsung sampai Dinding Pemisah yang sangat populer lewat suara Merry Andani dan irama lagu dangdut pada tahun 1993. Lagu itu ternyata jiplakkan dari Lai Sen Yen.

Kebijaksanaan Presiden Abdurrahman Wahid menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional dan kedatangan grup boyband Taiwan, F-4, tahun 2002 yang dielu-elukan masyarakat luas melegakan warga negara Indonesia keturunan Cina. Namun, ketika lagu-lagu Indonesia yang dinyanyikan duet Harry dan Iin dalam bahasa Mandarin dan akan ditayangkan di stasiun televisi ditolak sambil diberi komentar, “Masak lagu rakyat Indonesia dinyanyikan dalam bahasa Cina!”

Lalu lintas industri musik memang terus memasang rambu-rambu dan teman seperjalanan masih main kayu walaupun sebenarnya wo men hen ai ni (kami sangat mencintaimu) Ling Ling. Sebagaimana hau ce (lezat)nya menu kami sehari-hari: capcai, siomay, bakso, mi ayam, kecap, taoge, dan tahu.

Sumber: Kompas, 10 Juni 2005

17 September 2008

Jagung titi dan Pater Gregorius Kaha SVD



Saya baru saja bertemu Pater Gregorius Kaha SVD di Gereja Katolik Roh Kudus, Rungkut, Surabaya. Pater kelahiran Menanga, Solor Timur, ini pastor paroki di situ. Terletak di Perumahan Puri Mas, Paroki Roh Kudus merupakan paroki terbaru di Keuskupan Surabaya. Tadinya, stasi dari Paroki Gembala Yang Baik.

Pater Goris pun sebelumnya bertugas di Gembala Yang Baik. Dia dikenal di dunia maya karena mengelola situs Yesaya (Yesus Sayang Saya), webiste Katolik yang sangat terkenal di Indonesia. Setelah pindah ke Rungkut, Yesaya pun 'dibawa' ke Rungkut. "Tiga orang yang rutin memasok bahan untuk Yesaya. Sekarang situs kami sudah masuk catatan Vatikan," ujar pastor yang sangat ramah ini.

Bertemu Pater Gregorius Kaha, bagi saya, sangat menyenangkan. Kami sama-sama berasal dari Flores Timur. Sama-sama etnis Lamaholot. Sama-sama berbahasa daerah Lamaholot. Maka, percakapan kami di ruang atas pastoran pun diwarnai bahasa daerah. Logat Solor (dia) dan logat Ile Ape, Lembata (saya), memang beda, tapi secara umum kata-kata Lamahalot sama.

Sebetulnya tujuan saya menemui Pater Goris cuma satu: ambil jagung titi. Ini makanan kecil, camilan khas Lamaholot, di Flores Timur. Bahasa Indonesianya lebih tepat emping jagung. Mula-mula jagung disangrai, kemudian 'dititi' (dipukul) dengan batu. Jagung pun menjadi pipih. Enak sekali... bagi kami, apalagi para perantauan Flores Timur.

Ceritanya, jagung titi ini dibawa oleh teman saya, Marselina. Sekarang Suster Marselina OSA, bertugas di Ketapang, Kalimantan Barat. Dia baru pulang kampung sambil membawa oleh-oleh jagung titi. Sayang, saya tidak bisa menemui Marselina di Pelabuhan Tanjung Perak. "Kalau begitu saya titip sama Pater Gregorius Kaha," kata teman yang sekarang biarawati itu.

Nah, berkat jagung titi itulah saya beroleh kesempatan untuk berbincang empat mata dengan Pater Goris. Dia sudah lama bertugas di Surabaya, tapi saya tidak pernah omong-omong dengannya. Saya pun tak menyangka bahwa dia berasal dari Solor Timur. Baru setelah saya telepon, untuk menanyakan jagung titi, tahulah saya Pater Goris ternyata sama-sama Lamaholot.

"Wah, wah, orang Lamaholot banyak yang jadi pastor paroki di kawasan Surabaya Selatan. Pater Goris Kaha SVD, Pater Yosef Bakubala SVD, Pater Sonny Keraf SVD. Wah, tuan-tuan nepe tite lewuken amuken. Pastor-pastor itu ternyata sama-sama dari kampung kita, Lamaholot," kata saya.

Pater Goris tertawa kecil. Yah, harus diakui sejak lama paroki-paroki di kawasan Surabaya selatan 'dikuasai' pastor-pastor asal Flores. Ordonya Societas Verbi Divini alias SVD. Tidak aneh juga karena Keuskupan Surabaya memang mengajak SVD untuk membina sebagian paroki di Keuskupan Surabaya.

Lha, kalau bicara SVD, ya, mau tak mau, suka tak suka, didominasi pater-pater Flores. Lha, kebetulan saat ini pater-pater Lamaholot alias Flores Timur cukup banyak di Surabaya. "Ini semua rencana Tuhan. Saya sendiri juga tidak pernah membayangkan akan ditugaskan sebagai pastor paroki di Rungkut," kata Pater Goris.

Dia ditahbiskan di kampung halamannya pada 5 September 1988 itu. Tahbisan imamat Pater Goris Kaha SVD terbilang unik karena berlangsung di kampung yang mayoritas penduduknya Islam. Banyak anggota panitia tahbisan juga bukan orang Katolik.

"Tetapi mereka bekerja luar biasa dan sangat rukun. Warna macam ini dalam refleksi pribadi saya sebenarnya melukiskan latar belakang karya perutusan kami yang ditahbiskan," tulis Pater Goris di laman pribadinya.

Sambil menikmati makanan kecil, minum air putih, makan buah, saya dan Pater Goris bicara ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil seputar kampung halaman. Apalagi, dia baru pulang kampung sehingga sedikit banyak tahu perkembangan masyarakat dan gereja di Lamaholot. Termasuk kelakuan beberapa oknum pastor yang lucu-lucu. Hehehe....

Sebetulnya, saya tidak berbicara lebih lama dengan putra Bapak Marcelinus Kaha ini. Namun, saya tahu Pater Goris itu pastor paroki di gereja besar dengan jemaat yang sangat dinamis. Banyak umat yang juga ingin menemuinya sekadar say hello, konsultasi, atau berdiskusi seputar bulan kitab suci.

Maka, saya pun pamit pulang.

Muri ahan beng tite tutu koda balik!

16 September 2008

Aning Katamsi terbitkan buku seriosa



Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu. Keduanya konsisten mengembangkan musik seriosa di tanah air. Salut!

Tidak sia-sia saja mampir ke Toko Buku Gramedia di Jalan Manyar Surabaya. Saya 'menemukan' buku KLASIK INDONESIA: KOMPOSISI VOKAL DAN PIANO, susunan Aning Katamsi. Mbak Aning, soprano liris kita, bikin buku?

Tanpa pikir panjang, saya beli buku terbitan Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2008, itu. Harganya Rp 35.000.

Klasik indonesia sudah pasti berisi komposisi-komposisi musik klasik plus vokal ala Indonesia. Selama ini kita kenal dengan lagu seriosa. Musik ini pernah berjaya sejak 1950-an hingga 1970-an ketika masih ada Bintang Radio dan Televisi. Berbeda dengan musik pop, musik klasik (seriosa) membutuhkan wawasan musik yang cukup tinggi.

Minimal bisa baca notasi balok. Tahu teknik produksi suara, pernapasan, ala klasik. Karena itu, memang tidak banyak penyanyi Indonesia yang menekuni seriosa. Puji Tuhan, Aning Katamsi [Ratna Kusumaningrum Asmoro, lahir di Cilacap 3 Juni 1969] menggelutinya sampai hari ini. Maklum, Aning putri mendiang Pranawengrum Katamsi, dedengkot seriosa kita.

"Saya termasuk orang yang beruntung karena ibu saya seorang penyanyi klasik di masa lagu-lagu itu diciptakan. Sehingga, paling tidak saya menyimpan hampir seluruh partitur lagu seriosa yang sering beliau nyanyikan. Karena sering mendengar ibu saya dan rekan-rekannya, sesama penyanyi, menyanyikannya, baik saat latihan maupun pementasan, saya memiliki referensi bagaimana cara membawakan lagu-lagu tersebut," kata Aning Katamsi.


Nah, Aning, jawara BRTV jenis seriosa tahun 1987, berusaha membagikan segelentir koleksinya untuk penikmat musik klasik Indonesia. Pada seri pertama ini--mudah-mudahan seri lain segera menyusul--hanya tiga komponis yang ditampilkan. Binsar Sitompul (1923-1991), FX Soetopo (1937-2006), dan Mochtar Embut (1934-1973). Sebetulnya masih banyak nama komponis klasik Indonesia lain yang karyanya layak diketahui publik. Sebut saja Iskandar, Ismail Marzuki, GWR Sinsu, Maladi, Ibu Sud, atau N. Simanungkalit.

Selama ini kita sangat sulit menemukan partitur musik seriosa Indonesia karena memang belum dibukukan. Kaset atau CD-nya pun praktis tidak ada di pasar. "Sebab, rekaman seriosa itu dibuat sangat terbatas. Biasanya beredar di lingkungan teman-teman sendiri atau kolektor musik yang benar-benar serius," ujar Binu Doddy Sukaman, juga soprano terkenal, kepada saya beberapa waktu lalu.

Maka, publikasi KLASIK INDONESIA yang dikerjakan Aning Katamsi layak diapresiasi. Ini sebuah kerja kebudayaan yang jauh dari perhitungan niaga. Idealisme Aning Katamsi-lah yang melahirkan buku bagus ini. "Saya merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap karya-karya komponis musik klasik kita. Saya ingin karya-karya mereka mudah didapatkan oleh siapa saja yang mau mempelajarinya," ujar Aning, bekas pelatih paduan suara mahasiswa Universitas Indonesia.

Dari 22 komposisi yang dihimpun Aning Katamsi, sebagian di antaranya sudah saya kenal ketika menyaksikan program BRTV di TVRI sebelum tahun 1990-an. Beberapa lagu juga sudah dipublikasikan Pak Muchlis dengan notasi angka. Tapi yang membuat saya sangat gembira adalah dimuatnya komposisi CINTAKU JAUH DI PULAU karya FX Soetopo, lagu kesayangan saya. Diangkat dari puisi Chairil Anwar, lagu ini kerap dibawakan di BRTV.

Terakhir, saya nikmati pada babak final BRTV 2007 di Taman Surya Surabaya. Christopher Abimanyu, tenor dahsyat, bekas jawara BRTV, pun sempat membawakannya dengan vokal yang menggelegar. "Komposisi ini memang sangat bagus baik lirik maupun musiknya. Karena itu, hampir semua lagu seriosa kita berkualitas tinggi," kata Abimanyu.

Selain CINTAKU JAUH DI PULAU, masih ada lima komposisi FX Soetopo yang bisa kita nikmati. Yakni BUKIT HITAM, ELEGIE, LEBUR, NATALKU KE-9, dan PUISI RUMAH BAMBU. Delapan karya Binsar Sitompul: AWAN, BAGI KEKASIH, DOA, RENUNGAN DI MAKAM PAHLAWAN, TEMPAT BAHAGIA, SAUDADE, T'RIMA SALAMKU, dan TEMBANG RIA.

Kemudian delapan karya Mochtar Embut, komponis romantis yang mati muda pada usia 39 tahun karena sakit hati (lever): KASIH DAN PELUKIS, KUMPULAN SAJAK PUNTUNG BERASAP (USMAR ISMAIL), SANDIWARA, SEGALA PUJI, GADIS BERNYANYI DI CERAH HARI, SETITIK EMBUN, SRIKANDI, dan SENJA DI PELABUHAN PERAHU.

Mbak Aning, terima kasih!

Saya tunggu buku-buku Anda berikutnya!

BACA JUGA
Lagu seriosa itu apa?

10 September 2008

Ramadan, Ramadhan, Idul Fitri, Idulfitri

Bahasa Indonesia menyerap banyak sekali kata-kata asing, khususnya Belanda, Inggris, dan Arab. Persoalan yang paling banyak ditemui di media massa adalah kata serapan dari bahasa Arab. Variasinya sangat banyak.

Contoh: Ramadhan, Ramadan, Ramadlan, Romadlon, Romadon, Romadhon, Romadhan.... Dan beberapa variasi lagi. Kalau penyerapan kata dari bahasa-bahasa Barat--Belanda, Inggris, Portugis, Latin, Prancis--kita bisa cepat bersepakat, mengapa sangat sulit dalam kasus bahasa Arab?

Menurut saya, ini karena tidak banyak pakar bahasa yang menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Arab dengan sama baiknya. Kiai-kiai atau santri-santri yang fasih berbahasa Arab belum tentu memahami struktur atau gramatika bahasa Indonesia. Dan sebaliknya. Karena itu, sampai sekarang kata-kata serapan Arab selalu kembar dua, tiga, empat, lima, bahkan sepuluh.

Tentu, ini tidak bagus dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Kata apa pun yang dipungut dari bahasa asing harus 'dimatikan', disesuaikan dengan pola serapan bahasa Indonesia. Tidak bisa dibiarkan mengambang. Di Jawa Timur sering kita baca kata ISTIGHOTSAH, doa bersama yang umumnya dilakukan jemaat NAHDLATUL ULAMA.

Saya menilai istilah ini masih berbau Arab meskipun tiap hari dipakai. Sudah dianggap sebagai kata-kata kita sendiri. Mengapa tidak dipakai ISTIGASAH, NADATUL ULAMA, atau NADIYIN? Sayang, saya tidak paham bahasa Arab sehingga tidak bisa mengurai kasus kata-kata serapan Arab ini dengan baik.

Kembali ke bulan RAMADAN atau RAMADHAN atau RAMADLAN atau ROMADLON? Istilah mana yang benar sesuai dengan pedoman penyerapan? Kalau kita membaca berita di kantor berita asing yang berbahasa Inggris, bentuknya sudah baku: RAMADAN. Tidak pakai H. Media-media yang berbahasa Malaysia, bahasa yang dekat dengan bahasa Indonesia, pun sama. RAMADAN.

Kenapa KOMPAS sebagai harian besar, yang punya penyunting bahasa, tetap mempertahankan RAMADHAN? Begitu juga televisi-televisi di Indonesia?

Menurut Abdul Gaffar Ruskhan, pakar bahasa Indonesia yang paham bahasa Arab, yang benar adalah RAMADAN, bukan RAMADHAN, apalagi RAMADLAN. Mengapa?

"Kata itu merupakan serapan bahasa Arab RAMADHAN. DH dalam transliterasi yang mutakhir menggunakan tanda titik di bawah huruf D. Huruf DAD [DH] diserap menjadi D," jelas Pak Gaffar Ruskhan yang juga pembina bahasa Indonesia di media massa.

Kasus serupa dijumpai dalam DARURAT, HADIR, HADIRIN. Salah: DHARURAT, HADLIR, HADLIRIN.

Setelah berpuasa selama satu bulan, umat Islam merayakan Lebaran. Istilah serapan Arab yang lazim: IDUL FITRI atau IDULFITRI? Menurut Pak Gaffar, kata itu diserap dari ID AL-FITR yang berarti hari raya kesucian atau fitrah. Dalam bahasa Arab, ID berarti hari raya.

Dan--ini yang sangat penting--IDUL merupakan bentuk terikat yang harus diikuti kata lain. Maka, penulisannya disambung, tidak terpisah.

IDULFITRI, bukan IDUL FITRI. IDULADHA, bukan IDUL ADHA.

Lain halnya dengan SALAT ID, penulisan ID terpisah dari SALAT.

Aha, penulisan SALAT di Indonesia pun ada beberapa versi:

SALAT
SHALAT
SOLAT
SHOLAT.

Yang benar pastilah SALAT.

SALAT MAGRIB, bukan SALAT MAGHRIB.

Mudah-mudahan kita, orang Indonesia, makin cermat dalam berbahasa. Ingat, bahasa menunjukkan bangsa!

Pantai Kenjeran yang garing



Pantai Ria Kenjeran? Orang Surabaya tentu sangat kenal pantai di kawasan Surabaya Utara ini. Pantainya tidak begitu indah, beda dengan Sanur atau Kuta di Bali, tapi lumayanlah untuk melepas penat.

Embusan angin cukup kencang membuat kita bisa beristirahat dengan nyaman. Bandingkan dengan temperatur di Kota Surabaya yang gerah, panas, bikin keringat menetes. Kenjeran ibarat oase kecil di tengah Surabaya yang panas.

Minggu lalu, saya menikmati pantai Kenjeran. Pasang surut. Hamparan pasir sangat luas. Aroma khas laut tercium di mana-mana. Ratusan pengunjung, kebanyakan membawa anak-anak kecil, menikmati suasana liburan itu. Para pedagang menawarkan makanan, camilan, meski sedang bulan puasa.

Yang puasa, silakan puasa, yang tidak, silakan mencicipi aneka panganan laut khas Kenjeran. Juga ada suvenir berupa hiasan, kalung, gelang, tasbih... semuanya dari hasil laut. Para pedagang ini biasanya berjualan di pantai Kenjeran Lama. Tapi, setelah Kenjeran Baru alias Pantai Ria semakin berkembang menjadi wisata keluarga, sebagian pedagang pun pindah ke sini.

Jajanan khas Kenjeran apa lagi kalau bukan es kelapa muda. Es degan, kata orang Jawa. Juga sate kerang, lontong kupang, soto ayam, hingga nasi goreng spesial. Harganya sedikit lebih mahal ketimbang di luar tempat wisata umum. Harga yang pantas dibayar untuk menikmati pemandangan pantai ala Surabaya.

Pengelola Pantai Ria tampaknya bekerja keras untuk mengubah imej tempat wisata ini. Dulu, Kenjeran identik dengan tempat muda-mudi memadu kasih, pacaran, bahkan tempat maksiat. Kebetulan ada motel dan hotel delapan jam yang biasa disewa para sejoli untuk berkasih-kasihan. Sampai sekarang motel dan hotel masih ada. Tapi saya tidak sempat mengecek apakah masih disalahgunakan oleh tamu-tamu yang tidak bertanggung jawab.

Yang mengagumkan dari Ria Kenjeran adalah suasana Tionghoa. Musik instrumental khas Mandarin diperdengarkan untuk menyapa hadirin. Desain kya-kya, pusat rekreasi utama, pun serba merah. Motifnya khas Tiongkok. Ukiran ular naga terlihat di mana-mana. Juga lampion merah yan digantung di sepanjang lorong di bibir pantai.

Tak jauh dari situ ada Sanggar Agung. Kelenteng yang dulu bernama Kwan Kong Bio. Bapak Soetiaji Yudho, bos PT Granting Jaya, pengelola Pantai Ria Kenjeran, merelokasi dan memperluas rumah ibadat Tridarma yang sudah berusia 30 tahun ini. Ada patung Dewi Kwan Im dan beberapa dewa-dewi menjadi tetenger atau penanda Pantai Ria Kenjeran.

"Saya ingin agar orang-orang Tionghoa bisa sembahyangan di sini. Setelah itu bisa jalan-jalan, menikmati pemandangan di pantai," kata Pak Soetiaji.

Kelenteng yang baru dioperasikan kembali pascareformasi itu cukup terkenal di Jawa Timur. Maklum, Pak Soetiaji sering menggelar even-ven besar. Beberapa rekor nasional telah dicatat di Museum Rekor Indonesia.

Melengkapi kelenteng Sanggar Agung, dibangun pula patung Buddha Empat Muka yang disaput emas. Indah sekali. Para pengunjung, apa pun agamanya, biasanya mampir ke sini untuk melihat dari dekat monumen keagamaan itu. Aroma hio merebak ke mana-mana. Orang diajak mendekatkan diri pada Tuhan dan menjauhkan pikiran-pikiran buruk, misalnya berpacaran aneh-aneh di tempat gelap atau hotel.

Pantai Ria Kenjeran alias Ken Park juga masih punya banyak fasilitas lain. Ada sirkuit khusus untuk balapan. Sering jadi tuan rumah kejuaraan nasional, bahkan internasional. Ada gedung serbaguna atau multifunction room. Aula yang sangat luas untuk konser atau konvensi kelas nasional maupun internasional.

Beberapa waktu lalu saya pernah menonton konser musik metal dari grup asal Jerman. Tempat ini sangat bagus karena areal parkirnya luas. Beda dengan stadion-stadion di Surabaya atau Sidoarjo yang parkirnya sulit. Kelemahannya: Pantai Ria Kenjeran dianggap terlalu jauh, ujung kota. Jarang ada kendaraan umum yang melintas ke sana. Tapi, saya kira, persoalan ini mudah diatasi karena Kenjeran toh berada di dalam kota.

Areal pancing di Ria Kenjeran pun cukup luas. Cuma belum banyak dimanfaatkan. Begitu pula arena mainan anak-anak yang kurang terurus. Kolam renang masih bagus. Juga ada gedung bulutangkis yang bisa dipakai untuk latihan atau pertandingan.

Melihat dari dekat Pantai Ria Kenjeran, mestinya Surabaya bisa mengembangkan wisata pantai secara optimal. Bukankah Surabaya berada di pinggir laut? Kalau mau jujur, areal pantai di Surabaya, khususnya Kenjeran, jauh lebih luas ketimbang di Singapura.

Tapi Singapura bisa mengembangkan wisata pantai seperti di Pulau Sentosa secara modern dan profesional. Dan orang-orang Surabaya rame-rame ke Singapura untuk menikmati berbagai wahana dan taman-taman kota ala Singapura. Saya sendiri, ketika berada di Singapura, tidak habis pikir mengapa begitu banyak orang Surabaya--Indonesia umumnya--suka melancong ke objek wisata Singapura yang 'begitu-begitu' saja.

Mudah-mudahan Pak Bambang DH, wali kota sekarang, dan wali kota yang akan datang, mau mengembangkan wisata pantai di Kota Surabaya. Kalau Singapura bisa, kenapa Surabaya tidak?



Bagaimana pendapat Anda? Silakan tulis di bawah artikel ini.

01 September 2008

Obbie Messakh di Metro TV


Obbie Messakh itu ternyata ceria, suka bercanda, ceplas-ceplos. Beda jauh dengan lagu-lagunya yang sebagian besar bercerita tentang kesedihan, bahkan frustrasi. Ini terlihat saat Obbie Messakh tampil di acara Zona 80, Metro TV, Minggu 31 Agustus 2008. Selama satu jam, diselingi iklan, tentu, penonton televisi diajak kembali ke era 1980-an.

Obbie Messakh, pemusik asal Rote, Nusa Tenggara Timur, memang salah satu ikon 80-an. Suka tidak suka orang harus ingat Obbie kalau bicara tentang musik pop 1980-an. Karya-karyanya mendominasi Aneka Ria Safari dan Selecta Pop di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia masa itu.

Ratusan lagu, bahkan mungkin ribuan, telah lahir dari tangan Obbie Messakh. Sebab, Obbie mengaku mulai menulis lagu sejak 1974. Rinto Harahap menjadi salah satu penulis lagu yang banyak memberi inspirasi padanya. Namun, setahu saya, Obbie Messakh mulai melejit ketika direkrut JK Records pada awal 1980-an. Judhi Kristianto, bos JK Records, mengandalkan Obbie dan Pance Fransisikus Pondaag sebagai penulis lagu utama perusahaan rekaman itu.

Karakter lagu-lagu Obbie memang pas dengan karakter Judhi yang juga pemusik dan penulis lagu. Maka, puluhan artis pun diorbitkan JK Records. Sebut saja Lidya Natalia, Ria Angelina, Helen Sparingga, Heidy Diana, Dian Piesesha, Marina Elsera, Nindy Ellese... dan masih banyak lagi. Sukses Obbie di JK Records membuat produser lain di era 80-an terigur. Mereka antre menunggu lagu-lagu Obbie Messakh.

"Waduh, waktu itu nyari Bang Obbie susahnya setengah mati. Dia kan lagi jaya-jayanya," kata Ratih Purwasih di Zona 80, Metro TV. "Saya malah tidak pernah bertemu langsung sama Bang Obbie. Padahal, saya terangkat karena lagu-lagunya," tambah Angel Pfaff. Pada akhir Agustus 2008 ini tubuh Angel Pfaff terlihat gemuk berisi, tak lincah, jangkauan suaranya pun tidak prima lagi.

Angel, pelantun 'Pernahkah Dulu', bersama Ratih Purwasih--adik kandung penyanyi Endang S. Taurina yang juga kondang pada 1980-an--mendampingi Obbie Messakh di Zona 80-an. Pemandu acaranya Ida Arimurti dan Sys NS, dua penyiar radio yang kondang di Jakarta pada 1980-an. Di saat begitu banyak selebitis lama mengidap obesitas dan stroke, fisik Obbie Messakh tetap langsing macam 20-an tahun silam. Suaranya lebih tebal, tapi tetap nyaman. Ini karena Obbie memang sejak dulu aktif berolahraga.

Bagi Obbie Messakh, menulis lagu-lagu sweet pop ala JK Records merupakan berkah luar biasa pada 1980-an. Hampir semua artis yang diorbitkan dengan lagu karyanya melejit. Kaset--dulu belum ada CD--laku keras. "Paling sedikit terjual 400.000. Industri musik benar-benar booming," kenang Obbie yang lahir dan besar di Jakarta itu.

Sebagai perbandingan, saat ini bisnis kaset/CD memasuki masa yang sangat sulit. Studio banyak, siapa saja bisa bikin lagu, merekam lagu, membuat aransemen dengan berbagai corak, tapi... sulit dijual. Laku 20.000 saja sudah bagus. Bahkan, ada penyanyi terkenal sudah senang bukan main ketika albumnya terjual 2.000. Masa keemasan seperti yang dirasakan Obbie dan JK pada era 1980-an tampaknya hanya tinggal sejarah.

Di program musik nostalgia Metro TV yang mulai dilirik banyak orang itu, Obbie juga menjelaskan kasus pelarangan lagunya oleh pemerintah Orde Baru. Tepatnya, pada 1988 Menteri Penerangan Harmoko--sebagai penanggung jawab utama TVRI--murka gara-gara lagu Hati Yang Luka [karya Obbie Messakh, dibawakan Betharia Sonata] sangat sering keluar di TVRI. Di mana-mana orang menyanyikannya. Lantas, Pak Harmoko meminta agar TVRI tidak lagi menyiarkan lagu-lagu cengeng.

"Saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud dengan 'cengeng'. Di kamus bahasa Indonesia tidak ada istilah itu," kata Obbie Messakh. Namun, Obbie mengakui pelarangan lagu-lagu manis ciptaannya juga membawa hikmah. Sebab, sejak itu dia sering diundang pejabat dan menteri-menteri.

Menurut Obbie, lagu 'Hati Yang Luka' itu justru membela kaum perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suami seenaknya main tangan. "Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tanganmu...," begitu antara lain lirik 'Hati Yang Luka'. Hanya saja, ungkapan advokasi versi Obbie Messakh dipahami secara berbeda oleh pemerintah, khususnya Pak Harmoko.

Setelah pelarangan pada 1988, Obbie Messakh tetap berkarya. Dia menulis lagu-lagu riang, bahkan pop dangdut. Masyarakat sempat suka, tapi tak sedahsyat lagu-lagu manis yang sudah menjadi trade mark Obbie Messakh. Dan, pelan tapi pasti, berakhirlah era keemasan Obbie Messakh, Pance Pondaag, Judhi Kristianto, Tommy J. Pisa, dan penyanyi-penyanyi sejenis. JK Records pun surut.

"Tapi saya senang karena sejak di JK Records sistem royalti sudah dipakai," ujar Obbie Messakh yang murah tawa itu. Gamblangnya, Obbie bisa membeli rumah, mobil, mencukupi nafkah keluarganya berkat royalti lagu-lagunya.

Sambil tidur-tidur ayam, saya menikmati Obbie Messakh menyanyikan dua lagu karyanya: Aduh Rindu dan Kau dan Aku Satu. Lagu-lagu ini pernah sangat terkenal di Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur. Saya masih ingat hampi semua bemo alias angkutan umum seakan berlomba menghibur para penumpang dengan lagu-lagu Obbie Messakh.

"Melodi, melodi memori
yang pernah kucipta
jadi teman setia....

Melodi, melodi memori
pengganti dirimu
penghibur sepi malamku...."



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

Selebriti, selebritis, selebritas




Mana yang baku: SELEBRITI, SELEBRITIS, SELEBRITAS?

Pertanyaan ini sering muncul di kamar redaksi surat kabar. Banyak orang bicara, mengajukan argumentasi, tapi tidak ada kata putus.

Maklum, ketiga kata serapan ini dipakai dan hidup di masyarakat kita. Surat kabar, majalah, radio, televisi, pun menggunakan tiga kata itu. Tanpa ada upaya untuk membakukannya. Saat ini kata SELEBRITI paling dominan.

Seharusnya para penyunting di media massa bersepakat untuk menggunakan satu bentukan yang berterima. Menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia modern. Sayang sekali, tidak semua media punya penyunting bahasa yang jeli dan punya keahlian yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dulu ada Pak Slamet Djabarudi (almarhum), penyunting bahasa majalah TEMPO, yang kerap dijadikan rujukan media massa di Indonesia. Sekarang belum ada penyunting sekaliber Pak Slamet. Juga ada Pak Jus Badudu yang, dulu, gencar mengadakan pembinaan bahasa Indonesia di TVRI. Sekarang tidak ada lagi.

Sekarang bahasa Melayu-Betawi justru menggeser bahasa Indonesia standar. Berbahasa Indonesia gaya Jakarta dianggap lebih keren, lebih maju, lebih modern.

Jika merujuk kata-kata bentukan sejenis dari bahasa Inggris, menurut saya, seharusnya tidak perlu ada bentuk kembar tiga SELEBRITI, SELEBRITIS, SELEBRITAS. Sudah jelas kata itu berasal dari CELEBRITY. Kamus bahasa Inggris John M. Echols dan Hassan Shadily, halaman 104, menjelaskan:

celebrity seorang yang terkenal/masyur.
celebrities bentuk jamak dari celebrity.

Kita sudah punya beberapa contoh akhiran -ty yang diindonesikan menjadi -tas.


University ---> universitas.
Commodity ---> komoditas.
Activity ---> aktivitas.
Popularity ----> popularitas.


KESIMPULAN

Celebrity -----> selebritas.


BUKAN selebriti atau selebritis.

Setahu saya, kecuali beberapa kata dari bahasa Latin seperti data/datum, alumnus/alumni, bahasa Indonesia tidak menyerap unsur jamak dari bahasa asing, khususnya Inggris. Karena itu, kata SELEBRITIS yang dimaknakan sebagai bentuk jamak orang-orang terkenal [artis dan sebagainya] tidak bisa diterima.

Istilah SELEBRITI yang sangat populer di Indonesia, seiring popularitas program berita artis di televisi hanya cocok dipakai di Malaysia. Sebab, negara tetangga kita itu menyerap akhiran -ty dengan -ti.

Universiti. Komoditi. Aktiviti. Populariti.

Saya bergembira sekaligus mengapresiasi redaksi majalah TEMPO dan GLOBAL TV yang selama ini konsisten menggunakan istilah SELEBRITAS. Mudah-mudahan media lain segera menyusul.



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

Jurnalisme dakwah dan propaganda

Saya sering membolak-balik media rohani, entah itu yang Islam, Katolik, Protestan, Hindu. Media Buddha jarang saya temui. Begitu pula Konghuchu. Semakin hari tampilan mereka semakin bagus. Sampulnya bagus. Media kristiani macam GLORIA atau BAHANA paling sering memasang foto artis di halaman depannya. Begitu pula tabloid NURANI yang Islam.

Bagaimana isinya? Apakah sudah sesuai dengan standar jurnalisme?

Jujur saja, belum. Prinsip peliputan yang berimbang, cover both side, diabaikan teman-teman pengelola media rohani. Lebih banyak yang sepihak. Padahal, banyak sekali materi liputan yang jelas-jelas menghantam pihak lain.

Misalnya cerita tentang artis, pengusaha, atau orang biasa yang pindah agama. Redaksi media rohani menyajikan cerita panjang lebar mengapa orang itu pindah agama. Sedikit banyak si sumber menjelek-jelekkan agama lama. Agama lamanya dianggap ngawur, sesat, buruk, tidak layak dianut. Agama baru dipuji-puji. Semua ditulis apa adanya. Tanpa upaya meminta pendapat dari 'pihak sana' yang dikritik.

"Namanya juga dakwah, ya, begitu. Pembaca media rohani itu kan sangat segmented. Hanya orang-orang seagama saja. Toh, yang kami tampilkan cerita apa adanya dari narasumber," ujar seorang pengelola media rohani kepada saya.

"Kenapa tidak minta konfirmasi, sedikit saja, dari pihak lain yang dijelek-jelekkan itu?" tanya saya.

"Nggak perlulah. Toh, semua orang sudah maklum," ujar sang kawan.

Franky Sinai [kini almarhum], pemimpin redaksi majalah rohani Kristen TIANG API, punya kiat lain. Kesaksian sumber yang pindah agama ini tetap dimuat, tapi melalui penyuntingan yang sangat ketat. Naskah asli diedit habis-habisan. Diperhalus.

"Kalau dimuat apa adanya, wah, bisa habis kita orang. Kita ini kan minoritas. Jadi, semua hal yang bersinggungan dengan pihak mayoritas, ya, sangat hati-hati. Kalaupun sudah diedit, tapi masih sensitif, ya, saya tidak muat. Bahaya!" ujar teman saya ini.

Harus diakui, cerita tentang artis yang pindah agama ke agamanya pengelola majalah selalu menarik dibaca. Apalagi, si artis itu sedang melejit. Ada semacam perasaan menang dan senang karena 'dia pindah ke agama kita'. Sebaiknya, jika si artis yang tadinya beragama Kristen, misal, kemudian pindah ke Islam, maka ada perasaan kalah. Media kristiani tidak memberitakan. Kalaupun diberitakan, porsinya cuma beberapa kalimat.

Ketika Nur Afni Octavia masuk Kristen, dulu, media-media kristiani memberitakan secara luas. Apalagi, penyanyi melankolis ini juga kemudian bikin album rohani dan menyampaikan kesaksian di gereja-gereja dan persekutuan doa. Beritanya muncul terus. Beberapa tahun kemudian, Nur Afni bercerai, dan menikah lagi, dan kembali memeluk Islam.

"Mana beritanya? Pembaca macam beta kan ingin tahu perkembangan Nur Afni?" pancing saya. "Hehehe... Kalau itu diberitakan, ya, tidak cocok dengan visi dan misi media kami. Bisa melemahkan iman pembaca. Hehehe," kata teman lain, sebut saja Samuel, pengelola media kristiani.

Tabloid kristen GLORIA, yang oplahnya besar, pernah memberitakan besar-besaran Dian Sastrowardoyo. Aktris hebat ini dipasang di halaman satu. Aktivitas Dian, pemahaman tentang gereja, kesaksian, hingga latar belakang kekristenan Dian digeber habis. Seakan-akan Dian itu teladan bagi pembaca media.

Beberapa bulan kemudian. Dian Sastrowardoyo memutuskan masuk Islam. Koran-koran umum, tabloid hiburan, televisi memberitakannya. Ada acara khusus di televisi berisi kesaksian para mualaf. Salah satunya, ya, Dian Sastro. "GLORIA kok gak nulis Dian Sastro pindah agama?" pancing saya.

"Itu kan bukan konsumsi kita. Biarkan saja dia pindah agama. Itu hak asasi manusia," ujar Daniel Rorong, teman saya, dulu wartawan GLORIA. Andai saja, suatu ketika, Dian Sastro kembali memeluk agama Kristen, naga-naganya bakal dimuat besar di media kristiani. Hehehe....

Kelemahan lain jurnalisme dakwah di media-media rohani adalah terlalu banyak memaksakan opini. Fakta dan opini dicampur habis-habisan dengan porsi yang timpang. Fakta sedikit, bumbu opini mendominasi artikel. Tentu saja, opini yang menyerang habis pihak lain yang dianggap sebagai 'musuh bersama' media itu.

Saya sering menemukan artikel di media rohani yang kadar informasi [fakta] hanya dua alinea, sementara delapan alinea sisanya opini. Saya pun langsung kehilangan selera baca. Apalagi membeli dan berlangganan media-media macam ini.

Andreas Harsono, guru jurnalisme dari Yayasan Pantau, dalam berbagai kesempatan mengatakan, jurnalisme ya jurnalisme. Tidak ada jurnalisme Islam, jurnalisme Kristen, jurnalisme Hindu, jurnalisme Buddha. Tatkala jurnalisme diberi embel-embel agama, maka jurnalisme mati.

Yang ada hanya propaganda!

Jubilate, SKB, Madah Bakti, Kidung Adi, Puji Syukur



Beberapa buku nyanyian liturgi koleksi saya: Yubilate, Kidung Adi, Madah Bakti, Puji Syukur. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Saya bukan ahli liturgi, bukan pastor, pun bukan bekas siswa seminari. Saya awam. Tapi, terus terang, saya cukup peka liturgi. Maklum, jelek-jelek begini saya pernah aktif di paduan suara mahasiswa, paduan suara gerejawi, bahkan sempat menjadi pelatih paduan suara di kalangan anak-anak muda Katolik alias mudika. Sekarang aktivitas yang menyenangkan macam itu tidak lagi saya tekuni.

Kerja malam-malam sih!

Karena itu, setiap kali ikut misa, di mana pun, secara refleks saya cermati berbagai hal yang ada kaitan dengan liturgi. Paduan suara. Aransemen kor. Cara organis bermain. Karakter nyanyian. Kemudian elemen-elemen dasar paduan suara. Saya sangat sering kecewa karena teman-teman aktivis tidak mempersiapkan diri sungguh-sungguh. Nyanyi asal-asalan. Teknik vokal kacau-balau. Paduan suara asal bunyi.

Romo-romo pun sering kurang persiapan dalam urusan musik. Menyanyikan prefasi asal-asalan. Pernapasan tidak diatur sehingga tidak ada keseniannya. Padahal, si romo sering memarahi umat karena tidak menyanyi dengan baik dan bersemangat.

"Romo-romo kita memang perlu belajar musik," kata Embong Rahardjo [RIP], pemusik jazz, saksofonis legendaris Indonesia, di Surabaya suatu ketika.

Sumber nyanyian, buku liturgi, menjadi perhatian utama saya. Ini penting supaya kita 'tahu diri' ketika ikut misa di luar paroki, apalagi keuskupan kita. Ah, andai kata Gereja Katolik di seluruh dunia menggunakan bahasa yang sama, bahasa Latin, tentu persoalan ini bisa diatasi. Tapi memang ada plus minus menggunakan bahasa dan tata cara lokal. Begitu banyak variasinya.

Jangankan beda keuskupan, beda paroki saja sering berbeda cara membawakan lagu-lagu aklamasi. Frasering atau cara pemenggalan kalimat lagu berbeda. Di Jawa Timur, perbedaan yang paling kentara di aklamasi:

Tuhan sertamu
Dan sertamu juga
Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan
Sudah kami arahkan.


Begitu saya ke Malang, biasanya ikut misa di Gereja Hati Kudus Kayutangan, suara saya menjadi lain sendiri. Gaya Surabaya! Jemaat di Keuskupan Malang punya pakem berbeda meski sama-sama memakai PUJI SYUKUR sebagai buku doa dan nyanyian. Maka, sebaiknya ketika engkau bertamu di paroki lain, perhatikan dulu cara umat setempat berdoa atau bernyanyi. Biar tidak lain sendiri.

Kalau misa di Jogjakarta dan Jawa Tengah, khususnya pedesaan, lain lagi ceritanya. Umat pakai KIDUNG ADI. Buku doa dan nyanyian berbahasa Jawa halus [krama inggil]. Diterbitkan Pusat Musik Liturgi, nyanyian litugi hampir sama dengan MADAH BAKTI. Satu penerbit, bukan? Hanya beda bahasa.

Orang Jawa Timur selalu kesulitan mengikuti misa di Jogjakarta atau Jawa Tengah karena hampir tidak ada misa bahasa Jawa di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember -- kota-kota besarlah! Apalagi orang Flores atau luar Jawa yang sama sekali tidak paham bahasa Jawa. Tapi, karena susunan misa itu di mana-mana sama, kita bisa menebak-nebak makna doa dan syair lagu. Apalagi kalau melodi lagu sudah kita kuasai.

Lagu 'Ndherek Dewi Mariyah' [Kidung Adi 440] paling populer di kawasan Jogjakarta dan Jawa Tengah. Hampir semua umat suka. Almarhum Mgr. Johanes Hadiwikarta, mantan uskup Surabaya, selalu minta lagu ini setiap misa. Maklum, monsinyur ini berasal dari Jawa Tengah. Dan orang-orang Katolik di Jawa Tengah dan Jogjakarta punya tradisi devosi yang kuat macam jemaat di Flores. Agak beda dengan orang Katolik di kota-kota Jawa Timur yang terlalu minoritas.

Sejak Konferensi Waligereja Indonesia [KWI] mencabut rekomendasi untuk MADAH BAKTI, nyanyian dan tata liturgi di Indonesia makin variatif. Saya melihat masing-masing keuskupan bikin kebijakan sendiri-sendiri. PUJI SYUKUR dianjurkan menjadi buku resmi liturgi. Tapi, seperti saya ceritakan di depan, Jawa Tengah/Jogjakarta alias Keuskupan Semarang punya kebijakan lain. MADAH BAKTI dan KIDUNG ADI jalan terus.

Ada plus minus buku-buku liturgi ini. Saya tidak membahas karena akan sangat panjang. Lagi pula, ketika masih mahasiswa, ketika masih aktif di paduan suara, saya sudah ikut membahas panjang lebar di majalah HIDUP tahun 1990-an.

Saya pun pernah kasih masukan kepada Bapak Ernest Mariyanto, pakar musik liturgi asal Curahjati, Banyuwangi, penanggung jawab musik liturgi KWI di Jakarta. Kritik dan masukan dari umat pun sudah sering kita baca di media rohani, khususnya HIDUP.

Pekan lalu, saya mampir di Gudang Buku Nusa Indah, Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Saya lihat ada buku YUBILATE. Bagi orang Flores macam saya, nama ini tak asing lagi. Zaman dulu bapak-ibu dan kakek-nenek di kampung pakai JUBILATE, terbit 1968, disusun oleh Pater Does alias Pustardos. Lagu-lagu JUBILATE [pakai J] dihafal benar oleh jemaat di pelosok-pelosok.

Umat ke gereja tanpa buku, tapi menyanyi dengan semangat tanpa salah syair. Tapi tidak semua lagu dinyanyikan. Ada lagu yang sangat sering dinyanyikan, ada yang sedang, ada yang jarang sekali, bahkan tak pernah. Kasus ini pun berlaku untuk MADAH BAKTI, KIDUNG ADI, dan PUJI SYUKUR. Sebab, paduan suara dan umat biasanya cari lagu-lagu yang gampang dan enak.

Nah, YUBILATE yang baru ini, cetakan pertama 1991, merupakan revisi JUBILATE dan SYUKUR KEPADA BAPA alias SKB. SKB ini menggantikan JUBILATE di Flores dan semua paroki di Nusa Tenggara Timur hingga pertengahan 1980-an. Ketika MADAH BAKTI datang dengan dominasi lagu-lagu inkulturasi--sebagian besar justru lagu-lagu bercorak tradisional Flores--SKB pun pelan-pelan surut.

Pada saat itu saya melihat umat Katolik di seluruh Indonesia terbius dengan eksperimen Pater Karl-Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan, dua dedengkot PML di Jogjakarta, yang dahsyat. Lagu-lagu dikemas ala karnaval Bhinneka Tunggal Ika. Ada gaya Jawa, Flores, Papua, Batak, Manado, Sunda, Dayak, Keroncong, hingga Minangkabau. Paul Widyawan menjadi penulis sekaligus penyusun aransemen paduan suara utama lagu-lagu MADAH BAKTI.

MADAH BAKTI memang dahsyat. Lagu-lagunya lekas mengumat, gampang dinyanyikan, dan enak. Tapi kritik terhadap MADAH BAKTI pun banyak. Syair-syair ala Paul Widyawan terlampau 'puitis, njawani, sering mengawang-awang'. Bahasanya kurang terang.

Simak saja ungkapan Paul Widyawan:

sewaka bakti, sesaji sembah, pratala, praumat, laut terenang....

Padahal, syair untuk nyanyian liturgi, selain biblis dan sejalan dengan ajaran gereja, juga harus mudah dipahami umat.

Saya tidak tahu kenapa pada awal 1990-an, KWI menarik rekomendasi untuk MADAH BAKTI. Dan mulailah era PUJI SYUKUR di Jawa [sebagian] pada 1993/1994. Sebenarnya masih banyak lagu MADAH BAKTI--minus lagu-lagu Paul Widyawan--dimasukkan ke PUJI SYUKUR. Tapi syairnya banyak yang diubah dengan berbagai pertimbangan. Notasi sejumlah lagu pun berubah.

Umat pun sempat dilanda kebingungan massal. Bayangkan, syair lagu atau doa yang sudah dihafal selama 20--30 tahun berubah. Dan, bagi orang yang sudah berusia di atas 25 tahun, menghafal itu bukan perkara gampang. Saya sendiri, misalnya, sampai sekarang masih mengandalkan doa-doa hafalan era 1980-an versi Flores. Doa Pagi, Doa Malam, Doa Malaikat, Doa Harapan, dan sebagainya. Tak ada satu pun doa versi MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR yang saya hafal.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa umat Katolik di Jawa Timur nyaris tidak punya 'doa hafalan', kecuali Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya. "Bagaimana bisa hafal kalau teksnya sering gonta-ganti?" kata teman saya, asli Jawa Timur.

"Paling gampang ya, kita baca saja. Toh, romonya pun pakai baca. Hehehe...," si teman melanjutkan lalu tertawa keras-keras.

Mudah-mudahan para waligereja, romo, pengurus liturgi keuskupan, dan pihak-pihak terkait mau memperhatikan kesulitan umat ketika membuat keputusan mengganti buku liturgi. Dampaknya sangat luas. Bukan saja umat terpaksa membeli buku baru, tapi juga mengubah HABITUS [ini istilah yang dipopulerkan KWI, hehehe...] umat terhadap doa dan nyanyian yang sudah mendarah daging.

Contohnya tanda salib. Sekarang ini sedikitnya ada tiga versi:

Atas nama Bapa....
Demi nama Bapa....
Dalam nama Bapa....


Padahal, sejak dulu sampai sekarang versi bahasa Latin sama saja:

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancto....

Setahun kepergian Anne Satya Adhika (RIP)

Oleh Kahono

Engkaulah anugerah terindah dari Allah…

Saat undangan ini ditulis, genap sudah satu tahun anak kami Anne berpulang ke pangkuan Allah Yang Maha Suci, tepatnya besok tanggal 9 September 2008. Waktu yang belum mampu membendung air mata kami yang kadang masih kerap mengalir setiap muncul rasa rindu yang tak terperi.

Bukan kami tidak ikhlas dengan kepergiannya, tetapi perjalanan dua belas tahun bersamanya telah menyiratkan ikatan kuat dan dalam, bukan waktu yang pendek untuk merangkai sebuah jalinan cinta kasih dan menjalani hidup penuh perjuangan bersamanya.

Detik-detik terakhir sebelum Anne meninggalkan kami merupakan hari yang sangat mendebarkan bagiku sebagai orangtua sekaligus sebagai seorang ayah. Tarikan nafasnya satu-satu, dan Anne anakku pun mulai melemah, sehingga harus dibantu dengan alat pemompa. Kutunggui anakku terus-menerus, aku tahu Anne ingin menyampaikan kata-kata tetapi tidak bisa untuk mengatakannya.

Kami hanya dapat membelai rambutnya, mencium keningnya, memijit pelan punggungnya sambil memberikan bimbingan doa dan dorongan untuk sabar dan mendekatkan diri kepada-Nya. Aku melantunkan doa Bapa Kami di samping Anne, aku tahu anakku sadar dan mendengarkan doa itu, meski kondisi tubuhnya tidak memungkinkannya berkomunikasi. Anne berusaha menggapai tanganku dan tangan istriku ketika itu, lalu Anne menggenggam tangan kami dengan sangat erat, sementara itu aku terus melantunkan doa.

Itulah doa paling menyentuh dan tersedih dalam hidupku. Aku masih ingat betul percakapan kami dengan Anne lima menit sebelum Anne pergi, ”Anne...Anne..ma..maafkan ba..bapak ibu ya....” ketika itu Anne pun menjawab dengan suara lirih ”aa..aaaku tuh su..su..sudah memaafkan....ibuuu, bapak ma..maafkan Anne ya....” dan kami pun hanya bisa mengangguk, karena air mata kami semakin deras keluar begitu saja.

Usaha tim medis sudah maksimal, doa telah kami lantunkan, tapi kondisi Anne semakin memburuk. Akhirnya aku tidak lagi memohon kesembuhan, tetapi memohon pada Allah agar diberikan jalan terbaik. Tanggal 27 September 2007, pukul 09.45 WIB akhirnya Anne anakku menutup mata untuk selama-lamanya. Sambil berusaha untuk tabah, perasaanku sebagai ayah berkecamuk saat itu.

Anne telah pergi...Anne telah pergi...tapi apa yang dapat kulakukan kecuali sabar, pasrah kepada keagungan dan kebaikan Allah?. Tanpa kusadari air mataku terus keluar begitu deras, aku berusaha segera mengabari sanak saudaraku, dan saat kupegang gagang telepon aku pun tidak sanggup untuk berkata-kata, namun sanak saudaraku nampaknya sudah tanggap akan isak tangisku yang terdengar lirih di telepon.

Selamat jalan Anne anakku, maafkan bapak dan ibu... Semoga Allah Yang Maha Baik senantiasa memberikan kebahagiaan tiada tara di rumah-Nya yang kudus. Sesungguhnya segalanya milik Allah, dan hanya kepada Allah-lah segalanya akan kembali.

Anne...pelajaran berharga yang Anne berikan kepadaku, kepada kami, dan kepada semuanya akan arti hidup dan kehidupan bahwa semuanya akan kembali kepada Allah Yang Maha Agung semata, dan tidak ada yang abadi. Yang sombong, yang kaya, yang gagah, yang merasa besar pasti akan terurai juga menjadi tanah, dan akhirnya kebaikan dan keutamaan Allah juga yang berperan.

Anne...... kepergianmu kami ikhlaskan, bergembira dan berbahagialah di Surga, doakan dan tunggulah kami. Kiranya kelak kami akan juga menyusulmu. Ayah, Ibu dan Sela adikmu akan selalu menyayangi dan merindukanmu… Engkau adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada ayah, ibu, dan Sela ….

Kami yang menyayangimu.
Yogyakarta, September 2008

Anne Satya Adhika

Lahir: Rabu, 7 Juni 1995
Dipanggil Allah Yang Maha Suci : Rabu Legi, 26 September 2007

Diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Selasa, 9 September 2008
Pukul : 17.00 WIB
Tempat : Rumah kami Jl. Gejayan, Santren Gang Menur No. 5C Yogyakarta

Demikianlah undangan kami, atas perhatian dan kehadiran Bapak, Ibu, dan Saudara-Saudari kami ucapkan banyak terima kasih.

Salam hormat kami,
Kahono dan keluarga

Kami menyadari karena jarak dan kesibukan yang tidak memungkinkan Bapak/Ibu/Saudara untuk menghadiri undangan ini, maka sudilah kiranya menulis doa untuk anak kami di http://anne1995.wordpress.com/2008/08/23/buku-tamu/

Namun apabila Bapak/Ibu/Saudara berkenan hadir kami merasa senang sekali
Link undangan http://anne.43i.net
http://anne1995.wordpress.com