06 August 2008

TEMPO melawan akronim dan jargon

Apa yang menarik dari majalah TEMPO? Beberapa wartawan senior bilang tidak ada. Sebab, sekarng ini semua isu menarik sudah diberitakan secara luas dan mendalam di koran harian. Panjang lebar. Pakai grafis dan foto-foto menarik.

"Lha, TEMPO mau menulis apa? Pembaca kan sudah baca koran, lihat televisi, mungkin baca berita di internet. Jadi, sangat sulit TEMPO mengulang kejayaan seperti masa lalu," kata sang teman. Mungkin dia benar.

Saya dengar-dengar oplah semua majalah mingguan turun drastis. Banyak yang tutup. Apalagi media yang hanya mengulang-ulang isu yang sudah ditulis panjang lebar di surat kabar harian. "Sudahlah, media mingguan, apalagi dua minggua, apalagi bulanan sudah habis. Sekarang bagaimana kita menyajian berita harian dengan gaya mingguan," kata sang teman.

Tapi sampai sekarang saya masih membeli TEMPO secara teratur setiap Senin. Kadang-kadang terlambat hingga Selasa, toh saya ingin membaca majalah yang dibidani Goenawan Mohamad itu. Harganya Rp 25.000.

Kenapa saya masih menjadi konsumen TEMPO sejak mahasiswa sampai sekarang? Saya melihat TEMPO masih punya kelebihan dibandingkan koran-koran harian. Termasuk majalah sejenis. Tenggat yang satu minggu membuat redaksi punya kesempatan untuk melihat sebuah masalah secara jernih. Bikin analisis. Minta konfirmasi. Dapat dokumen. Hingga menemukan anekdot-anekdot menarik dari sebuah kejadian. TEMPO pun kerap menemukan foto-foto langka.

Dus, TEMPO bukanlah pesaing koran harian, tapi pelengkap. Saya yakin teman-teman di TEMPO pun membutuhkan koran-koran harian untuk menemukan sudut berita yang menarik.

TEMPO juga punya kelebihan dalam membuat laporan investigasi. Berkali-kali majalah ini menemukan bocoran kuitansi atau dokumen-dokumen 'rahasia' untuk menguak kasus korupsi pejabat atau anggota dewan. Kalau bukan wartawan kawakan, gigih, kredibel, niscaya tak akan mampu membuat investigative reporting.

TEMPO pun tak segan-segan mengirim wartawan ke Singapura, Belanda, atau negara-negara lain untuk menyelidiki langsung kasus tertentu. Baru-baru ini, misalnya, Philipus Pareira dikirim ke Singapura untuk mengecek perusahaan Ali Muhammad, pengusaha yang disebut-sebut otak importasi mobil supermewah. Investigasi itu bisa kita baca di TEMPO edisi 4-10 Agustus 2008. Kapan ya media-media lain punya semangat pantang menyerah macam TEMPO?

Ada lagi kelebihan TEMPO sulit dilawan media mana pun di Indonesia. Yakni BAHASA, khususnya perang melawan AKRONIM dan JARGON. Majalah TEMPO sangat peduli bahasa. Sangat gigih melawan singkatan atau akronim yang semakin bergelemak peak di Indonesia. Tiap hari orang bikin akronim dan jargon.

Nama-nama politisi pun disingkat macam SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), SB (Sutrisno Bachir), SDA (Surya Darma Ali), HNW (Hidayat Nur Wahid), pilpol (pilihan politik), BLT (bantuan langsung tunai), RDP (rapat dengar pendapat), warek (wakil rektor), dan seterusnya. Indonesia dikenal sebagai negara penghasil akronim terbanyak di dunia. Ironisnya, redaksi media massa, kecuali TEMPO, menelan mentah-mentah, bahkan menciptakan akronim baru, tanpa usaha untuk menguranginya.

Saya sendiri sudah berusaha memerangi akronim, tapi tidak bisa sefrontal TEMPO. Teman-teman di TEMPO mampu bergerak bersama karena ada kebijakan atau misi bersama. Meniadakan, setidaknya mengurangi akronim, serta jargon. Media memang harus melawan jargon karena jargon bisa menumpulkan akal sehat. Jargon hanya dipakai di kalangan internal komunitas atau instansi, dan bukan di media yang dibaca publik dari berbagai golongan.

Simaklah TEMPO edisi 4-10 Agustus 2008. Bacalah kasus aliran dana Bank Indonesia yang menimpa Menteri Paskah Suzetta dan Menteri Malem Sambat Kaban. Anda tidak akan menemukan akronim yang sebetulnya sudah sangat umum macam BLBI, Bappenas, KPK, BI, Tipikor, DPR, munas, wapres. Redaksi TEMPO menulis secara lengkap: Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Komisi Pemberantasan Korupsi, Bank Indonesia, Tindak Pidana Korupsi, Dewan Perwakilan Rakyat, musyawarah nasional, wakil presiden.

Saya sangat mendukung kebijakan redaksional TEMPO yang membabat habis [hampir] semua akronim, singkatan, dan jargon. Dan itulah alasan terpenting saya membeli dan membaca majalah TEMPO sampai hari ini. Selamat!

5 comments:

  1. bisa nggak klo penulisan lengkap akronim redaksi TEMPO supaya berita panjang-panjang, daripada dimarah redaktur karena sedikit tulisannya.

    *ini cuma pikiran saya saja lho*

    ReplyDelete
  2. Yang penting jelas dan konsisten. Pertama kali ditulis panjang (dan disebutkan akronimnya atau singkatannya). Yang ke-2 dan seterusnya boleh-boleh saja disingkat.

    ReplyDelete
  3. setahu saya majalah PANTAU yang pertama kali 'mengharamkan' akronim. Tapi majalah itu kayaknya sudah gak terbit lagi.

    ReplyDelete
  4. Sebelum diulang pada kalimat atau alinea pada artikel yang sama, kata atau jargon yang dimaksud harus dijelaskan lebih di awal-awal kemunculan singkatan/jargon tersebut.

    Saya sendiri lebih suka membaca tulisan/artikel yang minim akronim kecuali jargon karena sudah sangat sering digunakan dalam percakan sehari-hari. Tapi sayangnya jumlah jargon Bahasa Indonesia semakin bertambah saja.

    Ada beberapa penulisan keliru yang sering saya perhatikan, yaitu:
    - awalan di- sebelum kata kerja dan kata keterangan tempat sering digabung. Misalnya didalam seharusnya di dalam, di catat seharusnya dicatat
    -penulisan nama orang di kostum olahraga. Misalnya Bambang. P seharusnya Bambang P.

    Penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan jelas membantu kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.

    Terima kasih, Salam.

    Depay

    ReplyDelete
  5. Bergelemak peak! Khas kata2 ini Bung! menarik....

    ReplyDelete