27 August 2008

Teknik vokal menurut N. Simanungkalit



Kebyar-Kebyar karya Gombloh, aransemen SATB oleh N. Simanungkalit.

Nortier Simanungkalit identik dengan paduan suara. Pria kelahiran Tarutung, Sumatera utara 17 Desember 1929 ini tak asing di kalangan para aktivis paduan suara. Pak Simanungkalit sangat produktif. Komposisi-komposisinya khas. Dia bikin ratusan mars, himne, serta lagu-lagu khusus untuk festival paduan suara baik itu tingkat mahasiswa, umum, gerejawi, atau instansi tertentu.

Maka, sangat wajar bahwa Pak Simanungkalit digelari Bapak Paduan Suara. Sampai hari ini, ketika usianya mendekati 80 tahun, Pak Kalit masih terus berkarya. "Saya ini kan pemusik. Musik tidak bisa lepas dari napas hidup saya. Saya baru berhenti berkarya kalau sudah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa," ujar Pak Simanungkalit kepada saya beberapa waktu lalu.

Tadi, 27 Agustus 2008, secara tak sengaja saya menemukan buku Teknik Vokal Paduan Suara di Toko Buku Gramedia Jalan Manyar, Surabaya. Penyusunnya N. Simanungkalit. Tanpa banyak pikir saya membeli buku itu. Takut habis kalau tidak segera 'diamankan'. Lantas, sambil menikmati lontong balap di Taman Bungkul, saya lahap habis buku teori vokal kor versi Bapak Paduan Suara Indonesia. Saya cermati uraiannya mulai halaman 1 sampai 124.

Bagi bekas aktivis paduan suara macam saya, banyak hal yang tak asing lagi dalam teknik olah vokal. Simanungkalit membahas teknik pernapasan--poin paling penting bagi penyanyi dan pemain alat musik tiup. Kemudian vokal dan konsonan: cara melafalkan huruf mati dan huruf hidup. Jenis dan karakter suara. Yang tak kalah penting bagaimana paduan suara harus tampil di atas panggung.

Mengapa suara parau. Pantangan bagi penyanyi. Aha, saya dan teman-teman dulu sering menyediakan wedang jahe untuk anggota paduan suara. Ini SALAH total! Pak Simanungkalit menulis: "Para ahli vokal dan paduan suara menganjurkan seorang penyanyi menghindari makanan dan minuman panas atau dingin yang didominasi rasa pedas, mengandung unsur jahe, kencur, asam, dan berlemak dua jam sebelum pementasan."

Maka, Saudara-Saudara, segera hapuskan minuman jahe hangat dari menu latihan Saudara! Paling afdal tentu minum air putih. Jangan-jangan paduan suara saya sering kalah pada 1990-an karena terlalu sering minum jahe selama latihan dan menjelang lomba. Hehehe....

Nasihat Pak Simanungkalit ini layak kita petik karena asal tahu saja beliau inilah yang kali pertama menggagas festival paduan suara mahasiswa tingkat nasional pada 1978. Sampai sekarang festival itu masih jalan. Paduan suara mahasiswa tumbuh di kampus-kampus tak lain berkat dedikasi luar biasa dari Pak Simanungkalit.

Buku karya N. Simanungkalit di usia senja ini sangat cocok untuk para aktivis paduan suara di Indonesia. Memang, dibandingkan buku serupa karya Karl-Edmund Prier SJ, MENJADI DIRIGEN [tiga seri], buku tipis ini kalah lengkap. Teknik pembentukan suara digeber habis Romo Prier yang juga bos Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta. Pak Simanungkalit lebih fokus ke garis-garis besar saja. Termasuk teori musik dasar yang wajib dipahami para penyanyi paduan suara.

Sonoritas suara menjadi tekanan Pak Kalit. Dia mengibaratkan vokal kor seperti kopi susu. Kopi susu terdiri dari kopi, gula, susu, air panas. Hasilnya kopi susu, tapi tidak terlihat lagi unsur-unsur kopi, gula, susu. "Demikian juga dengan suara kor. Unsur-unsurnya adalah suara perorangan dan berbagai unsur lainnya seperti suara sopran, alto, tenor, bas. Adukkan suara-suara manusia ini disebut suara kor atau choral voice," tulisnya di halaman 45.

Simanungkalit ternyata seorang komponis yang gandrung nada-nada pentatonik khas Indonesia. Pada 1981-1991 dia bikin orkes simfoni gondang Batak. Jauh sebelumnya, 1972, Pak Simanungkalit diundang sebagai pembicara pertemuan musik sedunia di New York. Saat itu dia memperkenalkan aransemen paduan suara GAMBANG SULING karya Ki Narto Sabdo dengan notasi pentatonik Jawa yang sangat kental lengkap dengan iringan piano.

Komposisi ini kemudian tak hanya terkenal di Indonesia, tapi juga kalangan pakar musik dunia. Aransemen paduan suara dan piano GAMBANG SULING tak lupa dilampirkan di buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, ini.

Yang cukup menggelitik, N. Simanungkalit menegaskan bahwa musik rap--semacam ocehan--itu sudah dikenal orang Batak sejak awal abad ke-20. Di Amerika justru baru muncul pada akhir 1970-an. Simanungkalit menunjuk lagu SIK-SIK SIBATU MANIKKAM yang terkenal itu. "Lagunya sangat miskin nada melodi, kata-katanya tidak begitu berarti, tetapi iramanya berulang-ulang menimbulkan kesan lucu. Lagu rap ini bisa didahului ataupun diikuti dengan lagu padanan atau lagu rakyat jenaka Batak lainnya." (halaman 85).

Masih ingat syair SIK-SIK SIBATU MANIKKAM yang kerap dibawakan paduan suara mahasiswa itu?
Ini dia:

SIK-SIK SIBATU MANIKKAM
DIPARJOGET
SORMA DI GOTTAM
DINAMA NGINGANI
SI GAMBANG KARJULA-JULA
SI GAMBANG KARJULA-JULA

Baca Juga:
N. Simanungkalit Bapak Paduan Suara.

5 comments:

  1. salut sama abang yg byk nulis paduan suara di blog. jarang ada lho blog yg kayak gini.

    fred

    ReplyDelete
  2. MAsih segar di ingatan saya, akan semangat yang dimiliki oleh Bapak N. Simanungkalit, beliau memberikan inspirasi saya untuk memimpin paduan suara selama lebih dari 10 tahun. Saya menyayikan lebih dari 10 komposisi beliau termasuk lagu Gomloh yang menjadi lagu wajib saat ini.

    ReplyDelete
  3. Mas, diamana ya saya bisa cari buku ini?? tau gak tentang buku semacam ini, yang membahas paduan suara.. help :(

    ReplyDelete
  4. buku ini dulu saya beli di gramedia manyar surabaya. gak tahu apa masih ada stok mengingat sudah lama banget. silakan anda cari di gramedia krn buku ini memang terbitan gramedia. salam.

    ReplyDelete
  5. boleh info gak dr tmn2, saya lagi nyusun skripsi akhir, dan buku paduan suara skrg lg susah bgt dicari, smua gramedia dibanjarmasin sdh gk jual terbitan lama. andaikan ad tmn2 yg mau jual juga saya mksh byk bgt. Klo ad info boleh kalih tau saya ya no tlpon 081250308027 makasih

    ReplyDelete