06 August 2008

Tak lagi kenal tetangga

Selasa, 5 Agustus 2008.

Saya ingin sekali bertemu Pak Kamari di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Dia salah satu empu musik keroncong di Jawa Timur. Sejak kecil main keroncong. Mengisi acara di tempat-tempat hiburan Surabaya. Juga mendidik anak-anak muda agar mau melestarikan keroncong.

Hampir tiga tahun saya tidak bertemu Pak Kamari. Maka, saya pun ke Jalan Jeruk Wage untuk menemui sang pemusik. "Mas, sampean tahu rumahnya Pak Kamari?" tanya saya kepada serang pria 30-an tahun.

"Pak Kamari siapa ya?"

"Pemusik. Beliau punya orkes keroncong."

"Wah, gak pernah dengar, Mas!"

"Gak apa-apa. Mas masih baru di sini ya?"

"Sekitar dua tahun."

Saya pamit karena jelas tidak dapat informasi dari mas itu. Saya bertanya lagi ke dua rumah lagi, tapi jawaban sama. Syukurlah, di rumah keempat saya beroleh jawaban. "Itu lho rumahnya Pak Kamari. Yang ada pohon mangganya," kata seorang ibu dengan ramah.

Wah, ternyata rumah Pak Kamari hanya berjarak 10-15 meter dari kediaman mas yang pertama tadi. Hanya berseberangan jalan. Saya pun bergumam dalam hati: "Sudah dua tahun bertetangga sama keluarga Pak Kamari, empu keroncong, tapi tidak tahu pria yang namanya Pak Kamari. Bagaimana kualitas komunikasi di Wage yang nota bene berstatus DESA?

"Katanya, orang desa itu guyub, rukun, saling kenal, gotong-royong. Ataukah memang masyarakat kita sudah mengalami perubahan sangat drastis? Menjadi individualis ekstrem? Masak, sudah dua tahun tidak pernah mengenal Pak Kamari!"

Begitulah.

Indonesia sudah berubah. Individualisme yang dulu kita cela sebagai gaya hidup orang Barat kini merambah di mana-mana. Apakah Anda mengenal dengan baik lima keluarga tetangga Anda? Hm... belum tentu. Apakah Anda mengenal teman satu indekos? Belum tentu juga. Apalagi, warga perumahan-perumahan baru yang biasanya sibuk sendiri-sendiri, tidak saling kenal satu sama lain.

Maka, masuk akal juga mengapa si Ryan [Very Idam Henyansah] dari Jombang bisa menghabisi 10 korbannya, kemudian menguburkan di halaman rumahnya. Pembunuhan sadis berantai, 10 korban, berlangsung dalam waktu lama. Tapi tidak ada satu pun tetangga yang tahu. Aneh? Ya, kalau konstruksi masyarakat kita masih seperti sebelum tahun 1980-an.

Dulu, ketika masyarakat kita masih guyub, alih-alih membunuh 10 orang, jalan bareng dengan gadis bukan muhrim saja sudah menjadi buah tutur penduduk desa. Semua orang desa tahu siapa naksir siapa, siapa yang sakit jantung, siapa yang punya motor baru, dan seterusnya. Sayang sekali, virus individualisme sudah merusak sendi-sendi kekeluargaan kita.

Saya tak habis pikir tak satu pun penduduk Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, tidak mengetahui perbuatan biadab Ryan. Tidak punya rasa curiga sedikit pun dengan sepak terjang Ryan dan keluarganya.

Poskamling atau ronda kampungnya bagaimana? Kinerja polisi, khususnya intel dan serse, bagaimana? Mengapa begitu banyak laporan orang hilang, tapi aparat tidak juga menemukan jejak orang-orang hilang itu? Ada apa dengan republik ini? Quo vadis Indonesia?

2 comments:

  1. Salah jika dikatakan bahwa individualisme itu jelek. Kebebasan dan keamanan individu di barat memang sangat dihargai. Bahkan ada filsuf (John Stuart Mill?) yang mengatakan bahwa peran negara yang paling penting ialah melindungi invidual liberty. Tapi itu tidak berarti bahwa di barat kami tidak saling kenal tetangga.

    Di blok jalan di kota tempat saya tinggal (antara San Francisco dan San Jose), semua keluarga di sini termasuk berada, tetapi tetap saling mengenal dan menyapa satu sama lain. Tiap hari raya baik Natal, Paskah, atau 4th of July selalu ada acara bersama. Kita juga saling pinjam meminjam alat pertukangan dan bahan memasak. Anak2 bebas keluar masuk rumah tetangga (yang ini kadang2 jadi masalah juga).

    Individualisme tidak identik dengan ignorance.

    ReplyDelete
  2. http://jali-jali-irian.blogspot.com/search?q=keroncong

    ReplyDelete