30 August 2008

Selamat jalan Pak Soemadi Martono Wonohito

Nyuwun Duko, Pak Madi
Catatan Dahlan Iskan

Saya tahu sejak dulu bahwa Pak Madi -panggilan akrab untuk Dr (HC) Soemadi Martono Wonohito yang meninggal Jumat kemarin pukul 18.15 di Jogjakarta- itu tokoh pers dan pemilik harian Kedaulatan Rakyat di Jogjakarta. Tapi, hingga sepuluh tahun memimpin Jawa Pos, saya masih belum kenal dan belum pernah bertemu dengan beliau. Mungkin karena perbedaan umur yang jauh. Mungkin juga karena Pak Madi jarang mau muncul di pentas hura-hura orang pers di Jakarta. Sedangkan saya, sepuluh tahun pertama memimpin Jawa Pos, boleh dikata amat jarang keluar dari dapur: konsentrasi penuh, fokus dan merawat Jawa Pos seperti merawat bayi.

Memang saya pernah ke kantor Kedaulatan Rakyat, namun hanya di percetakannya. Yakni percetakan yang waktu itu masih sangat baru dan tergolong modern. Kecepatannya 40.000/jam, sistemnya double plate, empat unit, dan buatan Jerman. Namanya Uniman 2/2. Sedangkan Jawa Pos saat itu baru memiliki percetakan yang sangat kecil, kuno, dan hanya satu unit. Saya datang ke percetakan itu untuk melihat betapa modernnya percetakan KR. Mesin seperti itulah yang kami impikan dan kemudian di tahun 1984 berhasil kami beli. Setelah itu, tiap dua tahun Jawa Pos membeli percetakan baru yang kapasitasnya jauh lebih besar.

Suatu hari di tahun 1989, saya membaca berita koran mengenai musibah yang menimpa Pak Madi dan Kedaulatan Rakyat. Yakni berita bahwa hampir semua tenaga redaksi KR (mulai dari pimpinan redaksinya hingga reporternya) secara mendadak dan serentak menyatakan berhenti untuk pindah ke koran baru di Jogja. Saya bisa membayangkan paniknya Pak Madi -meski belum bisa membayangkan orangnya seperti apa. Maka, secara spontan, saya telepon Pak Madi. Saya sampaikan rasa simpati saya. Lalu, saya tawarkan apa saja bantuan yang diperlukan agar KR tidak terganggu oleh eksodusnya tenaga redaksi yang begitu dramatis.

Saya tahu Pak Madi tidak kekurangan uang, kertas, atau logistik lainnya. Karena itu, Pak Madi hanya memerlukan bantuan tenaga redaksi. Maka, hari itu juga saya kirim dua orang tenaga redaksi yang kira-kira bisa mengoordinasikan penerbitan darurat. Yang saya kirim, antara lain, Surya Aka, yang waktu itu sudah menjabat koordinator liputan. Jawa Pos memang masih kekurangan orang, namun membantu mengatasi krisis di KR lebih penting.

Pak Madi sendiri pernah bercerita kepada saya betapa paniknya malam itu. Bukan saja ditinggalkan redaksinya, tapi juga kehilangan naskah-naskah berita yang sudah disiapkan. Tapi, jiwa kewartawanan Pak Madi muncul. Pak Madi dengan segala cara mempertahankan agar KR tetap terbit hari itu, seperti apa pun mutunya. Pak Madi seperti terpanggil jiwa heroiknya untuk mempertahankan kelangsungan hidup KR. Saya hanya membantu di belakangnya.

Cukup lama Saudara Surya Aka berada di Jogja, ikut memimpin secara darurat penerbitan KR. Sampai lima bulan. Agustus-Desember 1989. KR selamat dari malapetaka. Bahkan, ketika Saudara Surya Aka sudah bisa kembali ke Jawa Pos di bulan Januari 1990, oplah KR justru sudah 50 persen lebih besar daripada sebelum ditinggal para redakturnya itu. Sedangkan koran baru yang dibangun investor dari Jakarta itu kian lama kian pudar dan akhirnya mati sama-sekali.

Suatu saat saya diminta Pak Madi untuk sama-sama ke Jakarta, menemui tokoh penting asal Jogjakarta: Probosutedjo. Itulah pertemuan pertama saya dengan Probosutedjo, adik tiri Presiden Soeharto itu. Di situ saya baru tahu Pak Madi lagi cari tokoh yang bisa melindungi kalau-kalau ada musibah politik yang menimpa KR. Kala itu keberadaan koran memang sangat rawan: kapan saja bisa dibredel. Apalagi KR berada di Jogja yang tentu masuk radar pengamatan istana. Salah sedikit bisa berbahaya.

Pak Madi, dengan gaya dan bahasa Jogja-nya, mengutarakan segala maksudnya dengan bahasa penuh terselubung. Saya bisa meraba maksud yang sebenarnya karena sebagai anak Magetan, budaya saya tidak banyak berbeda dengan budaya Jogja. Pak Madi berusaha apa saja untuk menyelamatkan korannya.

Kami punya kenangan manis dengan Pak Madi dan Kedaulatan Rakyat-nya. Juga kenangan solidaritas yang sangat baik. Sayang, kenangan ini sempat rusak gara-gara koran kami di Jogja menulis serentetan berita mengenai pribadi Pak Madi. Saya tidak tahu sama sekali karena saya berada di Surabaya. Kami tidak pernah mengikuti isi koran kami yang di Jogja waktu itu.

Saya tidak mempersoalkan benar salahnya berita tersebut. Juga tidak mempersoalkan sisi hukum di balik itu. Sebagai orang yang punya kenangan manis dengan Pak Madi, saya segera ke Jogja. Saya temui Pak Madi, saya cium tangannya, dan sebagai orang yang lebih muda saya ucapkan serentetan kata nyuwun duko.

Pak Madi lantas curhat yang mendalam kepada saya. Dia tunjukkan kepada saya sesuatu yang baru dia ambil dari lemarinya. Saya kaget. Barang yang beliau ambil ternyata tulisan tangan saya yang sudah diabadikan dalam bentuk tulisan timbul. Pak Madi juga menunjukkan betapa banyak tulisan saya yang dikumpulkannya dan disimpannya. Berkali-kali Pak Madi menyampaikan betapa selama ini mengagumi dan ingin mengikuti jejak saya, namun kemudian terganggu oleh pemberitaan yang dibuat anak buah saya.

Sekali lagi saya nyuwun duko. Tapi, mungkin itu memang belum cukup memuaskan hati Pak Madi. Setidaknya, saya merasa seperti itu. Karena itu, ketika saya dan Pak Madi bersama-sama berada di atas panggung untuk jadi pembicara di seminar yang diadakan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) di Bandung, saya ulangi sopan-santun ketimuran itu. Bahkan, di forum besar tersebut saya cium kakinya di depan umum.

Setelah itu, saya tidak pernah bertemu lagi. Saya sendiri kemudian menderita sakit yang parah. Liver saya terkena sirosis dan kemudian terkena kanker. Tiga buah kanker yang salah satunya sudah berukuran 6 cm berada di liver saya. Tidak ada jalan lain, saya harus ganti hati.

Setelah saya berhasil ganti hati itu, Pak Madi kirim SMS ke saya. SMS itu dalam bahasa Jawa kromo yang sangat santun. Pak Madi mengungkapkan rasa syukurnya bahwa saya selamat dari maut yang sudah terasa dekat. Saya balas SMS itu dengan ucapan terima kasih dalam bahasa kromo inggil.

Bulan lalu sebenarnya saya ke Jogja. Tapi, acara saya begitu padat. Saya menyesal tidak menemui Pak Madi hari itu. Terutama karena saya tidak mengira bahwa Pak Madi akan pergi selamanya secepat ini. "Nyuwun duko, Pak Madi." Saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan, berdoa setulus-tulusnya untuk kelapangan jalan Pak Madi ke surga. Saya juga tidak sempat melayat karena saya ke Singapura dan terus ke Kamboja. (*)

No comments:

Post a Comment