01 August 2008

Prof Andrew dangdutan di Gang Dolly



Profesor Andrew N. Weintraub PhD bukan peneliti sembarangan. Profesor musik di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, ini rela berkeliling kota di Indonesia untuk menggali seluk-beluk musik dangdut. Dia juga tak segan masuk Gang Dolly, kompleks pelacuran, untuk merasakan langsung denyut kehidupan malam plus dangdut yang heboh.

Total. Habis-habisan. Begitulah cara kerja Andrew N. Weintraub. Selama liima tahun dia malang melintang di Jakarta dan Bandung. Sampai akhirnya pria satu anak ini memutuskan untuk mendatangi Surabaya.

"Saya tahu Surabaya itu gudangnya orkes dangdut dari beberapa teman. Ceritanya, hampir di semua sudut Surabaya banyak tempat hiburan malam atau pub yang menyajikan musik dangdut secara live," kata Andrew.

Tak hanya itu. Andrew semakin tertarik ketika diberitahu bahwa penggemar musik dangdut di Surabaya sangat banyak. Musik ini digemari kalangan atas hingga bawah di kampung-kampung. "Saya sangat suka," ujarnya.

Rabu (9/7/2008) Andrew bermalam di Harritage Country Suite, Jalan Nginden Intan Surabaya. Malam-malam Pak Profesor ini menelepon saya minta diajak melihat konser dangdut di tempat hiburan malam. "Tolong karena saya hanya punya waktu malam ini. Besok saya ke Banjarmasin," katanya.

Ajakan yang bagus. Sayang, malam itu saya harus kerja. Maka, teman saya, Novi Bunder, saya minta menemani Andrew N. Weintraub. Si Novi pertama kali membawa Andrew ke Putat Jaya, kompleks pelacuran. Eh, pria USA ini menyebut Gang Dolly beberapa kali. "Saya kepingin tahu bagaimana kondisi Gang Dolly. Katanya, hampir tiap malam ada suguhan musik dangdut secara live," katanya.

Maka, Novi membawanya ke Gang Dolly. Andrew tertawa terpingkal-pingkal sembari menahan malu. Andrew mengira Gang Dolly seperti yang dibayangkan di benaknya. Ada banyak pub dangdut, berikut wanita penghibur berwajah cantik yang menemani. "Saya terangkan bahwa Gang Dolly itu mangkalnya pekerja seks," kenang Novi.

"Saya cari tempat yang ada musik dangdutnya, bukan cari pelacur," terangnya lalu tertawa ngakak. Hehehe...

Meski harus berjalan kaki menelusuri gang ke gang di Putat Jaya, keinginan Andrew menyaksikan pub dengan sajian musik dangdut secara langsung akhirnya terwujud. "Saya kepingin musiknya enak didengar dan sound system-nya tak terlalu keras. Usia saya sudah tua, jadi gendang telinga tak kuat lagi," papar Andrew.

Pub Jaya Dangdut dianggap Andrew sebagai tempat yang pas karena musiknya sedang-sedang saja. Begitu duduk, Andrew pun langsung terhanyut dalam alunan lagu dangdut yang dilantunkan penyanyi wanita. "Saya kepingin menyanyi diiringi musik," pinta Andrew.

Andrew pun maju ke depan panggung. Pengunjung pub dan band pengiring terheran-heran melihat pria bule ingin mencoba menyanyi dangdut. Sorotan mata aneh dan senyuman nyinyir ditujukan ke Andrew yang mungkin dianggap mabuk berat. Tetap tenang dan penuh percaya diri, Andrew meminta lagu "Terajana" ciptaan Rhoma Irama.

Bak penyanyi dangdut asli, Andrew mampu menyanyikan bait demi bait lagu itu tanpa meleset. Apalagi fals. Cengkok dangdutnya pun pas. Kontan saja, penampilan Andrew menjadikan pengunjung terkesima. Pengunjung pub yang semula mencemooh Andrew rame-rame berhamburan ke depan panggung ikut bergoyang.

"Fantastis. Luar biasa. Seorang bule mampu menyanyikan lagu dangdut sangat apik dan pas. Kita, malah tak mampu bernyanyi seperti itu," lontar Bambang, seorang pengunjung.

Andrew yang telah berpengalaman dalam meneliti musik dangdut ini hanya tersenyum. Tak lupa, seusai menyanyi, dia menyodorkan lembaran uang sebagai tip atau saweran.

Pengamatan Andrew tentang musik dangdut di Surabaya tak hanya sampai di sini. Pub Dangdut Permata Jalan Raya Gubeng, Pub Dangdut Poppy Jalan Tidar, dan Pub Dangdut Rasa Sayang Jalan Diponegoro ikut menjadi objek penelitiannya.

Bukan main! Orang Amerika Serikat begitu mendalami musik dangdut ya?

3 comments:

  1. Bernie,

    Hi! Saya pulang tiga hari yang lalu tapi masih jet-lag berat. Aduh, sudah tua begini! Tapi saya sudah kirim foto kepada anggota Sinar Kemala. Dengan surat ini saya lampirkan foto rombongan waktu di hotel.

    Lumayan untuk 4 hari di Surabaya. Waduh, SUB punya kebudayaan dan sejarah luar biasa. Kapan bisa kerja sama lagi?

    Sekarang saya lagi planning untuk konperensi bulan Oktober. Perjalanan Soneta ke Amerika akan terjadi. Let’s cross our fingers!

    Ok, sekian dulu. Terima kasih atas bantuan anda. Saya harap kita akan terus surat-menyurat.

    Andrew

    ReplyDelete
  2. wow prof andrew hebat. jd inspirasi bagi kita2.

    ReplyDelete
  3. Mari bergabung @ FLOBAMORA Blogger Community

    bloggerian_flobamora-subscribe@yahoogroups.com

    Ditunggu yah!

    ReplyDelete