26 August 2008

Priyo Suprobo rektor ITS



Juru Tulis: Bahtiar dan Siti (ITS Online)
juru Edit: Lambertus L. Hurek

Sejak dilantik oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo sebagai rektor ITS pada 13 April 2007, kesibukan Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD semakin bertambah. “Saya sekarang sekali bolak-balik ke Jakarta,” ujar pria jebolan Purdue University, Amerika Serikat, ini.

Pengganti Prof Mohammad Nuh--sekarang Menteri Komunikasi dan Informasi--ini sebelumnya juga aktif sebagai ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia Komda Jawa Timur dan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Jatim. Walaupun begitu, dia masih menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan keluarga.

“Saya usahakan menyisihkan waktu untuk window shopping, main bulu tangkis, dan golf dengan keluarga,” ujar anak kedua dari enam bersaudara ini. Tapi ia juga mengakui bahwa terkadang waktu luang untuk keluarga terambil oleh kesibukannya.

Priyo juga memiliki hobi kuliner. Dia mengaku jatuh hati dengan soto ayam. Bahkan, dia punya langganan khusus di Jogjakarta, kota asalnya. “Di Jalan Adi Sucipto, yang juga langganannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Red),” ujarnya.

Ditanya perjalanan hidupnya, dia menceritakan bahwa kesuksesan yang diraih sekarang diinspirasi pesan orangtuanya. “Intinya, di mana pun saya berada saya harus bisa membawa diri dan berguna bagi sesama,” tambahnya sambil mengingat-ingat masa lalunya. Sehingga, orangtuanya membebaskan Priyo dalam memilih jalan hidupnya.

“Dahulu saya hanya ingin jadi insinyur,” tegasnya. Sebab, pria asal Jogjakarta ini menganggap insinyur sebagai pekerjaan yang diisi orang-orang pintar.

Priyo Suprobo mengaku sempat mengalami dilema ketika lulus SMA. Ketika itu dia sudah diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Jogjakarta, dan Teknik Sipil ITS. Ternyata, dia memilih Teknik Sipil ITS. “Kalau insinyur kan bisa jadi politisi dan seniman, tapi kalau politisi atau seniman sulit jadi insinyur,” tuturnya lalu tertawa kecil.

Pada umur 43 tahun, dia meraih gelar profesor dalam bidang struktur beton. Dia juga pernah tercatat sebagai guru besar termuda di ITS sebelum rekornya dipatahkan Prof Agus Rubianto (saat umur 37 tahun, Red). Dia mengaku bahagia ketika melihat anak didiknya menjadi orang sukses. Namun, dia sedih melihat mahasiswanya tidak bisa menangkap pelajaran. “Ada dua kemungkinan kalau mahasiswa diam: mengerti atau blank. Saya lebih suka mahasiswa yang banyak bertanya,” tegasnya.

Dalam mendidik anak, ia tidak pernah memaksakan pilihannya kepada anaknya. Anaknya yang tertua kuliah di FK Unair, sementara anaknya yang lain sempat mengatakan ingin menjadi pengusaha restoran. “Apa pun pilihan mereka saya hargai,” ujar ayah dari empat anak ini.

Soft Skill Alumni Masih Kurang

Berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta akhir-akhir ini saling berlomba meningkatkan kualitas. Tak terkecuali Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Bahkan, ITS telah mencanangkan diri sebagai kampus yang siap go international.

Bagaimana desain dan visi ITS ke depan? Berikut wawancara khusus dengan Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD.


Apa strategi Anda untuk lebih meningkatkan kualitas ITS sebagai salah satu perguruan tinggi utama di tanah air?

Yang jelas, saya akan membawa ITS untuk go international. Itu misi utama yang akan saya jalankan selama memimpin institut ini. Sehingga, nantinya ITS mendapat pengakuan resmi dari Ranking World Class University.

Untuk menjalankan misi tersebut, langkah-langkah apa yang akan dilakukan?

Ada banyak cara. Di antaranya, meningkatkan lulusan ITS yang berkualitas, sehingga nantinya lulusan ITS tidak sekadar jago kandang. Meningkatkan prestasi bertaraf internasional seperti Maritim Challenge. Kemudian meningkatkan riset-riset bertaraf internasional dan tentunya diakui tingkat internasional.

Berkaitan dengan status ITS sebagai perguruan tinggi negeri (PTN), adakah rencana ITS untuk menyesuaikan diri dengan manajemen PTN sekarang?

Sesuai dengan instruksi Mendiknas, saat ini PTN diharuskan beralih status ke menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP) atau Badan Layanan Umum (BLU). Pilihannya hanya dua itu.

Alasan apa pihak ITS memilih BLU?
Ada beberapa pertimbangan, dan ini pun telah dimusyawarahkan dengan Senat ITS. Di antaranya, pegawai administrasi dan dosen masih ditanggung negara (APBN), defisit keuangan masih ditanggung negara, serta diperbolehkannya membentuk usaha. Selain itu, undang-undang tentang BLU lebih jelas daripada BHP.

Dengan status BLU, apakah ada perubahan biaya SPP? Biasanya, masyarakat khawatir SPP semakin tidak terjangkau oleh mahasiswa yang orangtuanya tidak mampu?

Mahasiswa lama tidak perlu khawatir karena biaya SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) untuk mahasiswa lama tidak akan dinaikkan. Sebab, SPP itu naik hanya untuk mahasiswa baru, dan itu pun sudah dengan pertimbangan yang cukup matang. Dan, sebenarnya, biaya kuliah di ITS itu sudah cukup murah.

Mahasiswa hanya membayar sekitar 12,5 persen dari biaya total. Sebenarnya satu orang mahasiswa bisa menghabiskan biaya Rp 18 juta. Padahal, pihak institut hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah sekitar Rp 2,5 juta per mahasiswa. Sedangkan sisanya dari ITS dan SPP mahasiswa.

Terus, bagaimana dengan proporsi mahasiswa yang diterima di ITS?

Sejauh ini untuk penerimaan mahasiswa baru 65 persen dari SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan sisanya dikhususkan untuk program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Nah, calon mahasiswa dari program PMDK harus ikut placement test.

Placement test di sini bisa dilihat dari prestasi akademik yang dicapai oleh calon mahasiswa itu sendiri, baik itu nilai rapor atau pun prestasi akademik waktu di SMA. Termasuk menjuarai lomba-lomba saat SMA.

Apakah mahasiswa yang diterima di ITS sudah memenuhi standar kualitas? Juga bagaimana kualitas lulusan ITS?

Yah, sejauh ini pemantauan yang dilakukan ITS masih terdapat banyak kekurangan, terutama dalam hal soft skill, yakni leadership dan teamwork. Oleh karena itu, dibutuhkan pembenahan. Sekarang, misalnya, ITS memberikan sarana dan prasana yang mendukung. Salah satunya dengan mendirikan Centre of Entrepreneur Development(CED).

CED didirikan guna meningkatkan mahasiswa untuk menjadi entrepreneur sambil kuliah.
Selain itu, pada tahun ajaran 2009/2010 soft skill berupa leadership dan teamwork akan dimasukkan dalam kurikulum. Technopreneur akan diwajibkan di setiap mata kuliah. Dan untuk mahasiswa tahun ajaran 2008/2009 akan diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di kampus seperti bela diri.

Berkaitan dengan misi agar ITS go international, apakah sarana prasarananya sudah cukup mendukung?

Saya rasa, sarana dan prasana sudah cukup mendukung untuk proses belajar mengajar di ITS. Akan tetapi, memang masih ada kekurangan. Masih belum ada alat yang memadai jika ingin melakukan riset yang berkualitas tinggi.

Bagaimana dengan staf pengajarnya? Apakah sudah memenuhi?

Mengingat ITS telah terakreditasi A, jika dilihat dari segi kuantitas, staf pengajar yang ada sekarang masih kurang. Dan, kalau mau konsekuen, seharusnya tiap tahun ada 35 orang yang berpredikat doktor di ITS, 17 orang dikukuhkan sebagai guru besar. Saat ini ITS masih memiliki 70 guru besar dan persentasenya baru mencapai 17 persen. Padahal, seharusnya jumlah doktor 35 persen dari total staf pengajar. (*)

Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD

Tempat, tanggal lahir: Jogjakarta, 11 September 1959
Nama Istri: Dyah Listiowati
Nama Anak: Puspita Wijayanti, Jagatdito, Danur Pastika, Rangga Lalita

Pendidikan
SMAN 1 Jogjakarta
Teknik Sipil ITS
Pursue University, USA.

JABATAN
Rektor ITS Surabaya

AKTIVITAS
Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia Komda Jawa Timur
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Jatim.

14 comments:

  1. Purdue University, West Lafayette, Indiana. Tidak ada Pursue University.

    ReplyDelete
  2. suwun dah posting pak priyo suprobo. bagus buat referensi teman2 pengguna internet.

    ReplyDelete
  3. ITS kayaknya belum sekeren namanya. kerja keras lagi prof.

    ReplyDelete
  4. maju terus pak probo..jadikan ITS yg terbaik di Indonesia!

    ReplyDelete
  5. Mahasiswa tertindas4:16 AM, June 06, 2009

    ITS tidak akan pernah maju dan menduduki papan atas di Ranking World Class University kalau semua ruang gerak mahasiswa dan ormawa ITS dibatasi dengan adanya SK-SK rektor yang membuat jam malam dan akan menghapuskan ospek dari ITS...lihat, dalam kepemimpinan Priyo Suprobo prestasi ITS pasti akan menurun dari kepemimpinan sebelumnya...Ironis...

    ReplyDelete
  6. Mas Boo, inget ga tuh sama Khotib yang di ganti sama temannya?

    Aku ga bisa ngomong apa apa selain SELAMAT, mudah mudahan Ridho dan Barokah Allah menyertai mas bo sekeluarga(gw kagak tau lho kalo elo rektor waaaaa.....)

    ndoro rema

    ReplyDelete
  7. Kusuma

    Saya setuju sekali dgn SK REKTOR yang mengahpus adanya OSPEK dan mengahpus jam malam..bagaimanapun juga kebiasaan perpeloncoan dr zaman dahulu itu wajib dihapuskan dan alangkah baiknya apabila soft skill para mahasiswa yang ditingkatkan.

    Melihat background pendidikan bapak yang S3 dan memiliki paten Internasional..tak diragukan lagi bapak akan membawa ITS menuju world class university ( Insya ALlah )..fivat pak probo fivat ITS!

    ReplyDelete
  8. saya adit mahasiswa ITB

    saya setuju dengan pak probo yang menghapuskan perpeloncoan di perguruan tinggi, hal itu memang bertentangan dengan kemajuan mahasiswa, justru dengan perpeloncoan itu bangsa kita tidak akan pernah maju karena terbiasa dijajah.

    Bapak luar biasa jadi profesor di usia muda dan memiliki paten internasional..saya berharap ITS dan ITB sama" memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa ini..Selamat prof priyo.

    ReplyDelete
  9. pak priyo S2 dimana to??

    ReplyDelete
  10. smoga pak priyo trplih jd rektor its lagi.

    ReplyDelete
  11. Priyo suprobo bagus..
    Tapi Triyogi lebih bagus lagi...

    ReplyDelete
  12. kepada yang terhormat bapak rektor ITS, kami dari kampus Universitas Yudharta Pasuruan Jawa Timur. bisakah kami melanjutkan S2 di ITS dengan Kampus Kami Yang Masih Akreditasi C untuk Teknik Informatika.

    ReplyDelete