22 August 2008

Peliknya Dewan Kesenian Sidoarjo

"Sudah dengar belum? Dewan Kesenian baru saja bikin musyawarah. Hasilnya, ya, sama saja. Ketuanya sama, Cak Sakek [foto]," ujar seorang teman pelukis di Sidoarjo.

Dewan Kesenian Sidoarjo. Lembaga ini--seperti juga dewan-dewan kesenian di kabupaten lain di Jawa Timur--sejak dulu tak jelas peranannya. Menurut ketentuan, katanya dewan berfungsi memberikan masukan-masukan kepada bupati atau wali kota tentang kesenian dan kebudayaan. Itu salah satunya. Dus, dewan kesenian harus ada di semua kabupaten.

Tapi, seperti saya ketahui, kebetulan saya juga pernah diundang ikut musyawarah untuk memilih pemimpin Dewan Kesenian Sidoarjo periode lalu, 2005-2008, yang namanya dewan kesenian ibarat organisasi papan nama. Antara ada dan tiada. Tiap tahun, di Sidoarjo, dapat dana Rp 12 juta untuk memutar roda organisasi.

Kegiatan-kegiatan? "Ya, sulit, wong dananya nggak ada. Bikin kegiatan itu kan perlu dana. Untuk konsumsi saja sudah berapa? Sewa gedung, seniman, dan lain-lain? Makanya, posisi dewan kesenian selalu sulit," kata Hartono Aje, bekas ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Karena tak punya dana, dulu Hartono suka mengumpulkan para seniman, khususnya pelukis, di rumahnya, samping Gelora Delta. Sekadar omong-omong, diskusi, merasani pejabat, hingga susun rencana kegiatan. Kadang ada acara bakar sate, makan bareng, sambil melukis bareng. Beberapa pemusik menghibur teman-temannya sesama seniman.

"Kalau nggak gitu, ya, dewan kesenian itu hanya namanya thok," kata Hartono. Kebetulan bos Akar Jati ini punya kafe dan tempat kongkow-kongkow yang bagus di Sidoarjo. Dia juga bukan pegawai negeri atau orang kantoran, sehingga kapan saja orang bisa 'main-main' ke rumahnya.

Lha, bagaimana kalau ketua Dewan Kesenian Sidoarjo itu bukan Hartono, tapi orang sibuk? Yang tidak punya tempat untuk kongkow-kongkow? Hehehe... Inilah yang terjadi selama tiga tahun kepemimpinan Cak Sakek.

Nungky Prasedarnanto--nama lengkap Cak Sakek--pengusaha periklanan, sangat sibuk. Dia kan tipe orang yang suka kongkow-kongkow. Namanya juga pengusaha, meski sejak kuliah di Jogjakarta selalu berkumpul bersama seniman, Cak Sakek tak punya banyak waktu untuk kumpul-kumpul dengan pelukis, penyair, pemusik, atau penggiat kesenian di Sidoarjo.

Gayanya memang beda. Dan, rupanya, itulah yang membuat banyak teman seniman yang menggerutu. "Dewan kesenian kok begini? Gak jelas kegiatannya, kemudian musyawarah diam-diam, Cak Sakek tetap bertahan. Mau dibawa ke mana kesenian di Sidoarjo," begitu gerutuan teman-teman seniman.

Saya diam saja karena tidak aktif berkumpul bersama teman-teman seniman sejak 1 Januari 2006. Beda dengan era Mas Hartono, di mana hampir setiap hari saya mangkal di Akar Jati. Setiap hari diskusi dengan pelukis, pemusik, dan macam-macam tipe seniman.

"Pokoknya, saya sudah tidak mau tahu lagi deh," kata Harryadjie BS, bekas ketua penelitian dan pengembangan Dewan Kesenian Sidoarjo.

Aneh, karena dulu Pak Harryadjie selalu bicara tentang kesenian dan dewan kesenian. Pernyataan-pernyataan Pak Harryadjie, pelukis di Sidokare, yang sering saya tulis di koran membuat Pak Win Hendrarso, bupati Sidoarjo, memberikan respons positif. Seniman dirangkul, diajak bicara.

Nah, Cak Sakek ini lebih dekat lagi dengan Pak Win karena sama-sama pernah merasakan pahit manisnya kehidupan di Jogjakarta pada 1970-an. Naiknya Cak Sakek pun lebih karena 'pertimbangan politik' lantaran kedekatan itu. Siapa tahu, karena dekat, kesenian di Sidoarjo lebih diperhatikan.

Sayang sekali, pada era Cak Sakek Sidoarjo dilanda musibah lumpur panas --Porong dan sekitarnya--pada 29 Mei 2006. Dampaknya luar biasa. Sekitar 20.000 orang terkena dampak langsung, mengungsi. Lebih dari 10 desa di tiga kecamatan amblas. Energi pemerintah tersedot ke lumpur. Pak Win hampir tiap hari didemo oleh korban lumpur yang menuntut ganti rugi dan sebagainya.

Mana sempat Pak Bupati mikir kesenian yang dananya Rp 12 juta setahun? Jadi, kalau dewan kesenian tidak jalan selama dipegang Cak Sakek, ya, harap maklum. Musibah lumpur panas Lapindo Brantas Incorporated ini memang luar biasa dahsyatnya... sampai hari ini.

Cita-cita Pak Win menjadikan Sidoarjo sebagai kota festival pun kian menjadi tanda tanya. "Yang jelas, sekarang ini Sidoarjo sudah terkenal dengan festival lumpur panas Lapindo. Hehehe," kata seorang teman.

Yah, tidak gampang memang mengelola Dewan Kesenian Sidoarjo dalam suasana macam sekarang. Jangankan Cak Sakek, siapa pun juga, termasuk mereka-mereka yang suka mengecam dewan kesenian, tak akan bisa. Di masa normal saja susah, apalagi di musim lumpur begini. Bagi saya, masih syukurlah Cak Sakek masih mau berkorban untuk memimpin Dewan Kesenian Sidoarjo.

Lalu, apa yang harus dilakukan Cak Sakek bersama pengurus lain? Tidak usah muluk-muluklah. Jalan saja dulu.

KOMUNIKASI lebih banyak. Bicara dari hati ke hati dengan para seniman, khususnya pelukis. Sebab, pelukis yang 300-an orang itu--apa pun kekurangannya--sangat menentukan merah hitamnya kesenian di Sidoarjo. Era seluler sekarang seharusnya bikin kita lebih mudah berkomunikasi.

INVENTARISASI seniman dan kesenian. Database kesenian di 18 kecamatan mulai Waru, Sedati, Candi, Porong, Tanggulangin, Krian, hingga Tarik harus dilakukan.

Inventarisasi SITUS cagar budaya, kantong-kantong kesenian, potensi-potensi kesenian yang hilang ditelan lumpur Lapindo. Di mana keberadaan para seniman [apa saja] yang tinggal di desa-desa yang kini tenggelam oleh lumpur? Alamat baru mereka harus diketahui. Ingat, Porong dan sekitarnya dikenal sebagai kawasan situs cagar budaya peninggalan Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil.

Bikin MEDIA komunikasi. Sederhana saja. Blog Dewan Kesenian Sidoarjo memang sudah ada, tapi setahu saya jarang diakses. Teman-teman seniman di Sidoarjo perlu dibiasakan memanfaatkan internet untuk berkomunikasi, sosialisasi program dewan kesenian, diskusi, merancang program, dan sebagainya.

Kembangkan JARINGAN. Cak Sakek dan kawan-kawan berada di garis depan dalam membangun jaringan dan kerja sama dengan seniman-seniman daerah lain. Bahkan, dunia internasional. Jajaki kemungkinan kerja sama seniman Sidoarjo dengan seniman luar. Usahakan agar seniman-seniman Sidoarjo--yang berkualitas, tentu--berkesempatan tampil di ajang regional, nasional, bahkan internasional.

Bikin APRESIASI di kalangan anak muda. Tanpa apresiasi, maka kesenian akan sulit dinikmati masyarakat. Ingat, sekarang ini kita dibombardir oleh kesenian industri, budaya massa, yang sangat dahsyat. Ruang-ruang untuk apresiasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, sangat sedikit.

Lha, kalau pemerintah dan kawan-kawan seniman tidak bergerak, membiarkan mekanisme pasar bermain, maka kesenian yang apresiatif bisa hancur. Sekarang saja banyak warga Sidoarjo tidak kenal lagi kesenian-kesenian asli daerahnya. Busana khas Sidoarjo pun tak populer.

Apresiasi bisa dilakukan dengan biaya murah. Jika ada pameran lukisan, misalnya, undang anak-anak sekolah. Pelajar diskusi sama seniman. Jelaskan proses kreatif, aliran lukisan, manfaat kesenian, dan seterusnya. Insyaalah, 10-20 tahun ke depan, ketika anak-anak muda ini sudah kerja, punya penghasilan sendiri, mereka menjadi konsumen alias kolektor lukisan. Jadi pengunjung konser musik klasik, tradisional, kontemporer.

Yang tak kalah penting, bahkan urgen, dewan kesenian perlu melobi pemerintah dan parlemen untuk membangun GEDUNG KESENIAN. Ini cita-cita lama. Kata Pak Sutrisno Kasim, pembina seni tari, sejak 1970-an para seniman di Sidoarjo sudah menuntut didirikannya gedung kesenian di Sidoarjo. Tapi tetap tidak ada realisasinya meski bupati sudah ganti berkali-kali. "Saya sampai nek bicara gedung kesenian," kata Mas Tris.

Memang, banyak sekali seniman yang putus asa kalau bicara gedung kesenian. Omong berbusa-busa, janji-janji manis, tapi semuanya fantasi belaka. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan entengnya membiaya klub sepakbola Deltras Rp 12-14 miliar per tahun, tapi tak pernah mau keluar duit untuk membangun gedung kesenian.

Kesenian masih dianggap anak tiri. Beda dengan atlet peraih medali Pekan Olahraga Nasional, apalagi Olimpiade, yang bermandi uang. Seniman kadang-kadang 'disangoni' Rp 50.000.

Akankah Pak Win Hendrarso mencatat namanya sebagai bupati yang berhasil membangun gedung kesenian? Kita lihat saja hingga 2010. Pak Win sudah menjabat dua periode sehingga tidak mungkin naik lagi. Cak Sakek, sebagai ketua dewan kesenian, kiranya bisa memainkan peranannya sebagai juru bicara seniman yang ingin mewujudkan gedung kesenian di Sidoarjo.

Kalaupun toh tidak berhasil, tidak apa-apa. Bukankah para seniman di Sidoarjo sejak dulu sudah kenyang dijejali janji-janji manis? Prek!!!

2 comments:

  1. hi...
    saya senang dengan artikel mengenai pesta kacang di gunung Ile Ape yang saudara Lambertus siapkan karna sangat bermanfaat untuk semua orang sekaligus memperkenalkan budaya kita kepada masyarakat Indonesia yang belum tau serta masyarakat di seluruh dunia. saya berasal dari desa Jontona,salah satu desa di kecamatan di Ile Ape. saya menyesal karna saya belum pernah mengikuti acara pesta kacang tersebut. saya sebenarnya di lahirkan dan dibesarkan di Malaysia. saya cuman setahun di kampung dan seterusnya saya terpaksa pergi kuliah. saya sekarang sedang kuliah di Malang. saya berharap saudara Lambert akan lebih memperbanyakkan lagi artikel yang berkaitan dengan Lembata dan juga Ile Ape.
    Terima kasih.

    By : Kethy Maqing, UNIKAN Malang.

    ReplyDelete
  2. hi...
    saya suka sekali dengan arikel and mengenai dengan pesta kacang di Ile Ape. teruskan memperbanyakkan artikel mengenai dengan Ile Ape ya. All the Best.

    from : Kethy Maqing, UNIKAN Malang.

    ReplyDelete