08 August 2008

Musik keroncong perlu 'Rhoma Irama'



Belum lama ini Musafir Isfanhari beroleh penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo. Pak Isfanhari dianggap berjasa mengembangkan kesenian, khususnya musik, baik secara teoretis maupun praktis. Dosen Universitas Negeri Surabaya--dulu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya--ini memang pemusik serbabisa.

Pak Isfanhari itu komposer klasik, kontemporer, hingga keroncong. Saya pernah berbicara khusus dengannya di makam WR Soepratman pada pembukaan Festival Surabaya Full Music. Dia main saksofon mengiringi paduan suara. "Kegiatan saya memang tidak jauh-jauh dari musik," ujar Pak Isfanhari yang suka diskusi tentang kesenian itu.

Menurut dia, musik itu universal, tidak boleh ada sekat-sekat. Janganlah mengembangkan image seakan-akan musik klasik musiknya orang kaya, kelas menengah atas. Dangdut musik kelas bawah. Keroncong musik orang tua. Irama padang pasir musik orang Islam. Paduan suara musik orang Kristen.

"Jangan. Kita harus membiasakan diri menikmati semua jenis musik. Lama-kelamaan Anda akan menemukan keindahan dalam jenis musik yang mungkin sebelumnya Anda tidak suka," ujar pria yang bolak-balik jadi juri lomba menyanyi, paduan suara, keroncong, hingga kasidah di Surabaya ini.

Mengapa jazz kurang peminat di Surabaya, bahkan Indonesia? Ya, citra itu tadi. Ada pencitraan seakan-akan jazz itu sulit, ruwet, musiknya kelas menengah-atas. "Itu kan dibuat-buat saja. Kalau kita membiasakan diri mendengar jazz, wah, musik itu luar biasa. Siapa saja bisa mengapresiasi," tegasnya.

Ingat, jazz dan blues itu pada awalnya dimainkan kaum negro Amerika, yang nota bene buruh, budak belian. Pak Isfanhari menjelaskan, para negro itu diam-diam mencermati musik majikannya yang orang putih. Karena tak punya bekas keterampilan bermusik, mereka menirukan secara spontan. Apa adanya. Improvisasi dibuat sebebas-bebasnya. Inilah yang kemudian melahirkan genre musik baru yang kita kenal sebagai jazz dan blues.

Celakanya, kata Pak Isfanhari, di Indonesia ini ada budaya feodalisme. Juga snobisme. Ini membuat musik yang sejatinya bisa, dan harus, dinikmati semua lapisan masyarakat menjadi terkotak-kotak. Orang-orang kaya ramai-ramai datang ke konser musik klasik Barat. Padahal, dia belum tentu suka. "Untuk simbol status saja. Hehehe," ujar Pak Isfanhari.

Bisa jadi, si kaya ini justru lebih suka dangdut atau pop. Sebaliknya, orang biasa bisa jadi suka klasik atau jazz. Tapi belum apa-apa sudah 'ngeri' dengan citra klasik atau jazz sebagai musik orang gedongan. "Saya mau agar sekat-sekat seperti ini didobrak. Sebab, tidak bagus untuk perkembangan musik kita," kata bekas staf Taman Budaya Jawa Timur itu.

Saya agak terkejut ketika Pak Isfanhari mengatakan dia pun sangat suka dangdut. Musik yang dicitrakan sebagai musiknya orang pinggiran, kelas bawah, tidak makan sekolah, wong kampung... ini ternyata punya kelebihan. "Coba Anda perhatian baik-baik. Semua orkes itu kalau memainkan lagu dangdut, aransemennya pasti sama persis. Mulai intro sampai coda sama persis. Padahal, dangdut itu tidak pakai partitur kayak musik klasik," ujarnya.

Ini menunjukkan bahwa para pemusik dangdut--yang hampir semuanya otodidak, berasal dari kelas menengah-bawah, punya kemampuan listening yang sempurna. Daya tirunya luar biasa. "Bapak-bapak yang main keroncong juga punya improvisasi yang sangat bagus."

Kini, sembari mengajar di jurusan musik Universitas Negeri Surabaya, Pak Isfanhari juga getol membina musik keroncong. Bahkan, jadi pengurus sebuah komunitas pemusik keroncong. "Kenapa keroncong makin tenggelam di Surabaya? Beda dengan dangdut yang semakin mewabah di mana-mana?" tanya saya.

Pak Isfanhari menjawab, sebetulnya keroncong tidak pernah mati. Para pemusiknya, meski rata-rata sudah tua, tetap aktif bermusik. Hanya saja, musik yang pernah sangat populer di tanah air ini tidak pernah muncul di televisi. Jangankan keroncong, musik klasik dan jazz pun tidak disiarkan televisi-televisi kita. Yang ada hanya musik industri--pop [rock] dan dangdut.

"Tapi memang setiap zaman selalu begitu. Ada siklusnya. Musik yang populer di suatu kurun, akan diganti jenis lain, dan seterusnya," ujar Pak Isfanhari.

"Tapi mengapa dangdut berkembang luar biasa, menjadi musik rakyat?" tanya saya lagi.

"Karena dangdut punya Rhoma Irama. Kehadiran Rhoma benar-benar membawa perubahan signifikan bagi musik melayu yang kemudian menjadi dangdut. Revolusi dangdut itu dilakukan Rhoma Irama," tegas Pak Isfanhari.

"Nah, kalau mau berkembang, ya, keroncong harus punya tokoh sekaliber Rhoma Irama. Itulah yang sampai sekarang tidak ada."



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

5 comments:

  1. terima kasih sudah mampir. good luck.

    ReplyDelete
  2. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pak Musafir Isfanhari mengenai musik keroncong. Memang menurut pandangan saya KERONCONG KALAU MAU MAJU HARUS MENGIKUTI PERKEMBANGAN
    JAMAN. Salam kenal nggih Pak.

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun Mas Koko Thole. Saya sering mengikuti acara anda, Gebyar Keroncong, di TVRI. Semoga tetap bertahan dan diminati banyak orang. Salam untuk teman-teman pemusik Gebyar Keroncong.

    ReplyDelete
  4. Mas, boleh minta kontak Pak M Isafanhari? Mau izin publish lagu Jasamu Guru dengan aransemen bersama band. Terima kasih.

    Agung. (ksatria_satu@yahoo.com)

    ReplyDelete