14 August 2008

Misa internasional [international mass] di Surabaya



Sebagai konsul Filipina di Surabaya, Carmelito J. Sagrado sangat peduli pada warga negaranya di Jawa Timur. Pak Konsul benar-benar diplomat yang melayani warganya. Tidak hanya urusan duniawi, tapi juga ukhrawi. Bukan macam diplomat kita yang biasanya diisi bekas pejabat, suka mengutip dana dari tenaga kerja Indonesia, sehingga harus masuk penjara.

Orang Filipina itu mayoritas beragama Katolik. Dus, mereka perlu misa mingguan di gereja. Bukankah di Surabaya ada banyak gereja Katolik? "Benar. Tapi waktu saya pertama kali bertugas di Surabaya tidak ada gereja yang melayani misa dalam bahasa Inggris. Semuanya bahasa Indonesia," cerita Carmelito J. Sagrado.

Padahal, di kota-kota besar lain macam Jakarta atau Denpasar ada international mass alias misa internasional. Bahasa pengantarnya tentu Inggris. Diikuti kalangan ekspatriat, turis, keluarga diplomat yang tinggal di kota itu. Nah, orang Filipina, meski bahasa negaranya Tagalog, tak asing dengan bahasa Inggris. Cas-cis-cus kayak air mengalir saja.

Maka, pada 1986--tahun-tahun awalnya--Pak Sagrado meminta bantuan Prof Dr John Tondowijoyo CM, pastor sekaligus guru besar ilmu komunikasi. Waktu itu Romo Tondo menjabat ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya. Romo Tondo sangat lama studi dan menetap di Eropa, sehingga punya perhatian khusus pada komunitas ekspat Katolik.

"Father Tondowijoyo sangat antusias. Dan sejak itu kami mulai mengadakan international mass," kenang Carmelito J. Sagrado saat minum kopi bareng menjelang konser Surabaya Symphony Orchestra di Hotel Shangri-La, Selasa [12/8/2008] malam.

Belum ada tempat yang layak untuk misa. Pak Sagrado mengistilahkan "dari garasi ke garasi". Di mana ada ruangan kosong, jadilah tempat misa komunitas Filipina dalam bahasa Inggris. Pastor yang melayani sangat terbatas, salah satunya Romo Tondo, karena pastor-pastor lain sibuk di parokinya sendiri-sendiri. Juga tidak terbiasa memimpin misa dalam bahasa Inggris.

Tata perayaan ekaristi sih tidak sulit, tinggal baca saja, tapi khotbah? Ini membutuhkan pastor yang fasih berbahasa Inggris. "Tapi kami jalan terus dengan segala keterbatasan. Satu bulan sekali, minggu ketiga kami bikin international mass," tutur Pak Konsul yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

Pada 1989 komunitas Filipina ditampung di Kapel RKZ [Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo]. Kebetulan RKZ punya pastor pendamping dari Societas Verbi Divina alias SVD, kongregasi pastor terbesar di Indonesia. Pater-pater SVD itu paling berjasa dalam mengatolikkan rakyat di Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya. Sebagai misionaris, pater-pater SVD sangat fasih berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

"Sejak tahun 1989 kami mulai misa rutin di Kapel RKZ. Father-nya ganti-ganti, tapi selalu dari SVD," kata Pak Sagrado.

Entah mengapa, jemaat internasional ini tergusur lagi dari RKZ. Pindah ke kapel kecil milik Panti Asuhan Don Bosco di Jalan Tidar Surabaya. Tiap minggu Carmelito J. Sagrado dan kawan-kawan menggelar misa internasional di sana. Mereka juga membawa makanan, pakaian, dan sumbangan untuk anak-anak panti asuhan.

"Tapi lama-lama misa kami terbentur dengan kegiatan di panti asuhan. Jadi, kami tidak bisa terus-terusan di Don Bosco," kata diplomat yang beralamat di Jalan Kaliwaron 128 Surabaya, telepon 031 593 9889, ini.

Pak Konsul tak patah arang. Namanya juga diplomat, dia tetap mencari jalan agar jemaat Filipina di Jawa Timur beroleh santapan rohani. Sebab, perayaan ekaristi, sakramen mahakudus, sangat vital dalam kehidupan iman jemaat Katolik di mana pun. Orang Filipina rata-rata kurang sreg ikut misa berbahasa Indonesia. "Kemudian saya temui Bapa Uskup Mgr AJ Dibjokarjono [sekarang almarhum]. Saya ceritakan kegiatan kami selama ini, sekaligus minta fasilitas misa internasional."

Mgr Dibjo tidak keberatan. Namun, uskup yang lembut dan kebapakan itu meminta waktu untuk persiapan. Siapa saja pastor yang akan melayani? Tempatnya di mana? Penyelenggaranya siapa? Dan sebagainya. Nah, pada 1992 Pak Konsul mendapat titik terang dari Rom Vincentius Sutikno Wisaksono Pr, pengajar Seminari Tinggi Widya Sasana Malang. Romo Sutikno--sekarang jadi uskup Surabaya--dikenal sebagai alumni Filipina. Pendidikan doktoralnya pun dilakukan di Filipina. Klop sudah!

Maka, misa internasional mulai diadakan di Griya Pukat, Jalan Bengawan 1 Surabaya. Pastor-pastor dari Malang, dosen STFT Widya Sasana, yang melayani. Misa internasional pun semakin eksis. Tak hanya orang Filipina, warga asing lain yang tinggal di Surabaya dan Jawa Timur umumnya menjadi jemaat tetap.

Pada 1996 Uskup Surabaya merekomendasikan agar international mass ini dipindahkan ke Gereja Redemptor Mundi, Jalan Dukuh Kupang Barat Surabaya. Ini gereja baru hasil pemekaran Gereja Hati Kudus Yesus alias Katedral Surabaya. Sampai sekarang misa internasional digelar di situ, tiap Minggu pukul 10:00 WIB. "Puji Tuhan, sekarang kami tidak perlu lagi berpindah-pindah dari garasi ke garasi," katanya bangga.

Saya pernah beberapa kali ikut misa internasional bersama di Gereja Redemptor Mundi. Pakem litugi sama saja dengan misa bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Namun, suasana Filipina sangat kental. Lebih ceria, riang, relaks, ala misa kelompok karismatik. Orang-orang Filipina itu musikalitasnya tinggi, dan itu tercermin dari paduan suara dan nyanyian selama misa.

Mereka senang memakai iringan gitar. Lagu-lagu memang berbahasa Inggris, tapi dengan gaya Filipina. Asyik sekali! Jemaatnya juga sangat ekspresif. Pada saat "salam damai", para jemaat berjabatan tangan dengan hangat. Beda sekali dengan misa di gereja-gereja di Jawa Timur yang salam damainya terkesan hambar. Meski jemaat ekspatriat itu orang kaya, berpangkat, diplomat, mereka memperlakukan sesama dengan sangat baik.

Ini yang membuat saya sangat terkesan. Suasana misa internasional yang dikelola Pak Carmelito J. Sagrado sungguh membuat saya betah. Umat lain yang bukan orang Filipina, ekspatriat, pun senang. Tak heran, jemaat internasional meningkat pesat. Setiap misa rata-rata hadir 500 orang. "Saya sendiri tidak membayangkan jemaatnya tumbuh sebanyak itu," kata Pak Sagrado.

Dibandingkan dengan jemaat di paroki-paroki biasa, 500 orang ini tidak ada apa-apanya. Tapi kolektenya, Saudara, sangat menggiurkan. Sekali misa uang yang terkumpul Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Bagaimana pembagiannya? "Oh, kami serahkan kepada gereja untuk dikelola. Satu sen pun tidak dipakai oleh orang Filipina," tegas Pak Sagrado dengan nada tinggi.

Saya belum sempat mengecek manajemen kolekte. Tapi, yang jelas, menurut Pak Sagrado, sempat muncul kecemburuan sosial gara-gara kolekte ini. Belum lagi banyak umat Surabaya yang ramai-ramai ikut misa internasional. Biasanya alumni Amerika, Eropa, atau luar negeri yang ingin merasakan suasana internasional. Orang tua, sanak famili, diajak serta ke misa internasional. Akibatnya, beberapa pastor di Surabaya mengeluh karena umatnya berkurang.

Kolekte di gereja-gereja tertentu pun tersedot ke misa internasional. "Makanya, kami sudah sering mengumumkan agar umat Katolik asal Surabaya kembali ke gereja masing-masing. Sebab, tujuan misa internasional itu untuk melayani para ekspatriat atau warga negara asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia dengan baik," kata Carmelito J. Sagrado.

Dalam sebuah percakapan terpisah, Romo Eko Budi Susilo Pr--sekarang kepala Paroki Katedral--menilai misa internasional di Gereja Redemptor Mundi pada awalnya bagus, sesuai dengan konsep, tapi makin lama disalahgunakan oleh umat Katolik asal Surabaya dan sekitarnya. Konsepnya, ya, misa khusus untuk para ekspatriat, yang kebetulan mayoritas orang Filipina.

Tapi lama-kelamaan umat asli Surabaya pun ikut, sehingga mengabaikan misa dan kegiatan di parokinya masing-masing. "Juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang malas bangun pagi. Karena terlambat bangun, mereka ikut misa internasional pukul 10:00. Ini yang harus diluruskan," ujar Romo Eko.

Romo Eko ini mantan kepala Paroki Redemptor Mundi, tuan rumah misa internasional. Sehingga, dia tahu persis perkembangan misa internasional setelah digelar di Gereja Redemptor Mundi. Menurut pastor asal Solo ini, umat Katolik hendaknya misa di gerejanya masing-masing. Sekali-sekali bolehlah ikut misa di tempat lain, tapi jangan menjadi kebiasaan. "Buat apa ada paroki kalau kategorial yang diutamakan?" ujar tokoh dialog lintas agama di Jawa Timur ini. (*)

No comments:

Post a Comment