13 August 2008

Lihat Konser Kemerdekaan 2008 SSO


Oleh Lambertus L. Hurek

Lama tidak melihat konser Surabaya Symphony Orchestra alias SSO, saya berniat menikmati konser kemerdekaan, Selasa 12 Agustus 2008. Kali ini digelar di ballroom Hotel Shangri-La, bukan di JW Marriott. Mengapa begitu? Pak SOLOMON TONG, pendiri sekaligus konduktor SSO, sudah bercerita latar belakangnya kepada saya, tapi off the record. Sekadar tahu sajalah.

Menurut saya, tempat konser di Shangri-La justru lebih bergengsi. Siapa pun tahu saat ini Hotel Shangri-La menjadi pilihan utama even-even bergengsi. Acara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Shangri-La. Festival marketing-nya Pak Hermawan Kartajaya di Shangri-La. Resepsi-resepsi pernikahan paling bergengsi, ya, Shangri-La juga. Jadi, Pak Tong, jangan kecil hatilah!

Sesuai dengan tradisi sejak didirikan pada 1996, setiap Agustus itu konser kemerdekaan. Banyak lagu nasional ditampilkan. Nyanyian anak sekolah, lagu daerah, seriosa Indonesia ada. Yang menarik, kali ini Pak Wiranto, bekas panglima Tentara Nasional Indonesia, menjadi salah satu biduan.

"Saya tertarik dengan suara Pak Wiranto ketika lihat acara Kick Andy. Suaranya Pak Wiranto itu romantis," ujar Solomon Tong kepada saya. Pak Tong lantas mengajak Pak Wiranto agar mau ikut konser bersama SSO di Surabaya. Tanpa ragu-ragu, pensiunan jenderal ini setuju. "Saya senang sekali karena respons Pak Wiranto sangat cepat. Padahal, sebelumnya saya belum kenal," ujar Pak Tong, yang sudah menekuni musik klasik selama 50 tahun lebih itu.

Wiranto yang juga ketua Partai Hati Nurani Rakyat jelas bukan penyanyi profesional. Dia bekas tentara, kini politikus. Jadi, maklum kalau di atas panggung Pak Wiranto terlihat agak tegang. Dia juga sempat 'pidato kecil' untuk mencairkan suasana. Lalu, mengalunlah lagu TUHAN karya Bimbo yang terkenal itu. Irama yang mengalir, beda dengan band biasa, membuat Pak Wiranto harus hati-hati benar agak tidak salah masuk.

Aplaus panjang! Pak Wiranto ternyata berhasil mencairkan suasana konser. Saking bersemangatnya--atau mungkin suporter Pak Wiranto--baru satu kalimat lagu sudah ada tepuk tangan. Kebiasaan yang melanggar pakem konser musik klasik. Syukurlah, di lagu kedua, WHEN I FALL IN LOVE, Pak Wiranto lebih mantap. Begitu pula penonton mau bersabar sampai akhir lagu sebelum bertepuk tangan.

Oh, ya, Pak Wir sempat mengutip syair Khalil Gibran sebelum melantukan WHEN I FALL IN LOVE. Pas banget!

Bagi saya pribadi, konser ini membuka kenangan semasa mahasiswa. Tak lain karena lagu BUMIKU INDONESIA. Komposisi paduan suara karya Liliek Sugiarto dari Universitas Indonesia ini pada 1990-an sering dijadikan lagu wajib atau pilihan festival paduan suara antarmahasiswa di Jawa Timur. Di Universitas Jember pun sering dipakai sebagai lagu wajib lomba untuk mahasiswa baru.

Lama sekali saya tidak mendengar lagu itu. Syukurlah, paduan suara Surabaya Oratorio Society alias SOS membawakannya dengan baik. Terasa lebih megah karena diiringi orkestra lengkap, dirigennya Solomon Tong pula.

"Awan gelap suram mencekam kenangan. Negeri murung dilanda nesta. Manusia mencari memacu harapan dalam hamparan petaka...," begitu antara lain syair BUMIKU INDONESIA. Sungguh, sampai sekarang saya tidak lupa syair dan aransemen paduan suara komposisi tersebut.

Saya juga lega menikmati lagu-lagu SERIOSA Indonesia [Pak Tong sejatinya tidak suka istilah ini]. Lagu-lagu itu dulu dilombakan di Bintang Radio dan Televisi. Malam Rabu Pon itu penikmat musik bisa merasakan keindahan melodi dan syair lagu WANITA [Ismail Marzuki], dibawakan Melissa Setyawan. KISAH MAWAR DI MALAM HARI [Iskandar] dibawakan Dewi Endrawati, menantunya Pak Tong. DEWI ANGGRAENI [Iskandar] dibawakan Pauline Poegoeh. MEKAR MELATI [Cornel Simanjuntak] dibawakan Pak Handoko Hidajat.

Pauline, soprano dengan power dahsyat, ini semakin matang saja. Tidak salah kalau gadis kelahiran Surabaya 3 Februari 1984 ini menjadi andalan Pak Tong. Komposisi sesulit apa pun disantap dengan nyaman oleh Pauline. Keunggulan Pauline semakin terasa pada AGNUS DEI [Mozart] dan AGNUS DEI [G. Bizet]. Dalam berbagai kesempatan, Pak Tong mengatakan bahwa Pauline Poegoeh ini soprano terbaik di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

"Warna suara sopran coloratura-nya sangat unik. Jarang ditemui range suara yang mampu mencapai f tinggi dan running technic yang matang. Pauline tidak kesulitan menyanyikan aria-aria opera apa pun, khususnya gubahan Verdi, Puccini, dan Mozart," ujar Pak Tong, pemusik kelahiran Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939 ini.

Pak Tong ini memang hebat! Usia sudah dekat 70 tahun, tapi semangatnya dalam mengembangkan musik klasik, khususnya orkestra, luar biasa! Jamunya apa, Pak? Hehehehe.... "Kita punya Tuhan. Serahkan semuanya pada Tuhan," begitu resep anak kelima dari tujuh bersaudara ini. Enam saudaranya pun hebat-hebat di bidangnya masing-masing: Peter Tong [USA], John Tong [USA], Caleb Tong [Bandung], Stephen Tong [Jakarta], dan Joseph Tong [USA].

"Saya ini bisa makan apa saja, nggak pakai diet-dietan. Perut saya juga tidak buncit. Hehehe," kata dirigen orkestra yang dikenal tegas, disiplin, tak kenal kompromi, tapi kebapakan ini.

Satu catatan lagi yang tak kalah penting. Pada Konser Kemerdekaan 2008 ini Pak Tong memberi kesempatan kepada CHRISTIAN XENOPHANES sebagai dirigen pendamping. Lahir di Malang 27 Oktober 1978, pemain cello SSO ini sangat berbakat sebagai konduktor. Bahkan, Christian ikut menggarap orkestrasi di beberapa komposisi.

Adakah ini sebuah upaya regenerasi mengingat Pak Tong sudah 69 tahun? Bisa ya bisa tidak. Tapi, menurut saya, anak-anak muda berbakat perlu diberi kesempatan untuk tampil. Sebab, bagaimanapun juga masa depan musik klasik, orkestra, manajemen SSO ada di tangan orang muda. Hanya dengan begitu, musik klasik bisa eksis di tengah hantaman kultur pop yang luar biasa di tanah air.

Sampai berjumpa pada konser berikut!

Salam musik!

5 comments:

  1. ...waaah saya baru tahu ada konser ini pagi harinya lewat JP.

    salam,

    wilma_wijaya@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. wah,bang hurek ini intens sama musik klasik ya. gak nyangka deh.

    ria

    ReplyDelete
  3. Wah, Wilma Wijaya, terima kasih sudah berkunjung ke sini. Saya juga senang mendengarkan lagu-lagu lawas di Wijaya FM--kalau tidak terlambat bangun. Good luck!

    ReplyDelete
  4. Saya ingin menyebutnya sebagai musik minoritas saja, yaitu musik yang peminatnya sedikit karena perubahan zaman dan permintaan pasar. Klasik, renaisans, jazz-klasik, keroncong, dangdut-klasik, rock-klasik, orkestra dan lain-lain (menurut saya) ada di kelompok ini. Mungkin suatu saat aliran rock-dut masuk dalam kelompok ini, hahaha...

    Saya sendiri baru tahu dari Anda tentang Surabaya Shymphony Orchestra. Sejauh ini saya baru tahu ada dua orkestra di negeri ini yaitu Twilight Orchestra dan Erwin Gutawa Orchestra (mohon koreksi jika keliru). Terim kasih telah mengulasnya dengan jelas.

    Salam,

    Depay

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Anda sudah mampir dan kasih komentar. Dibilang minoritas ya memang benar karena ia beda dengan pop, musik industri yang penggemarnya berjuta-juta. Tapi bagaimanapun juga musik klasik Barat tetap penting bagi orang yang ingin mendalami seni musik.

    Dua orkestra yang Anda sebut itu orkes pop alias pop orchestra. Pasti memainkan nomor-nomor pop, yang populer dengan sentuhan orkestra. Orkes simfoni [symphony orcehstra] tentu berbeda dengan orkestra pop. Anda bisa diskusi lebih jauh dengan pakar-pakar musik di kota Anda.

    Yang jelas, orkes simfoni di Indonesia selalu tak pernah banyak. Dan tak pernah awet. Kalau tak salah dulu ada Orkes Studio Jakarta, Orkes Simfoni Jakarta, Orkes Simfoni Nasional Indonesia, tapi yang bertahan tidak banyak. Di Surabaya, syukurlah Surabaya Symphony Orcehstra yang didirikan Pak Solomon Tong pada 1996 masih bertahan. Setahun tiga kali konser besar dan beberapa kali konser kecil, dengan pemain tetap.

    Salam!

    ReplyDelete