06 August 2008

Kisruh ejaan nama orang Indonesia

Bahasa Indonesia yang kita pakai sekarang menggunakan ejaan yang disempurnakan. Biasa disebut EYD. Berlaku mulai 1972--tapi efektif, kalau tak salah--1975, sistem ejaan ini jauh lebih efisien ketimbang sebelumnya. Seharusnya EYD inilah yang dipakai semua orang Indonesia.

Tak ada kecuali-kecualian.

Sejak era Hindia-Belanda kita punya tiga macam ejaan. Ejaan Hindia-Belanda ditetapkan Ch A van Ophuysen sejak 1901. Ejaan ini 100 persen meniru ejaan Belanda. Setelah kemerdekaan, kita kenal Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik. Berlaku sejak 1947, dengan surat keputusan nomor 264/Bh.A tanggal 19 Maret 1947.

Terakhir, EYD yang disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 03/A.I/72. Resmi digunakan pada 17 Agustus 1972 dengan Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1972.

Sekarang, setelah 30 tahun berjalan, EYD sudah diterima secara luas. Orang Indonesia yang lahir sebelum kemerdekaan pun tidak kesulitan menulis C sebagai pengganti TJ, J pengganti DJ, U pengganti OE, dan seterusnya.

Salah satu pokok yang sangat mengganjal hati saya adalah cara penulisan nama orang. Teman saya, Agus, lahir 1977, menulis nama dengan AGOES SOEPRIYANTO.

Mengapa tidak ditulis AGUS SUPRIYANTO?

"Soalnya, orang tua saya menulis begitu. Di ijazah juga begitu," ujarnya enteng.

Alasan macam ini selalu dipakai orang-orang yang menulis nama diri dengan ejaan lama. Kita dipaksa untuk menerima pola penulisan nama yang tidak jelas mengacu ke ejaan mana.

Kalau saja orang tua si Agus ini konsisten menggunakan ejaan Ophuysen, maka nama yang benar adalah AGOES SOEPRIJANTO, bukan AGOES SOEPRIYANTO. Fonem OE hanya paralel dengan J [bukan Y]. Ini berarti cara penulisan nama Agus ini salah kaprah. Hanya untuk gagah-gagahan.

Seharusnya ditulis sederhana saja: AGUS SUPRIYANTO. Bukankah dia lahir 1975 ketika EYD sudah berlaku?

Ketika Gunung Merapi di Jogjakarta akan meletus, Mbah MARIJAN menjadi sorotan utama. Kuncen alias penjaga gunung itu setiap hari muncul di media massa. MARIJAN menjadi terkenal karena berani melawan arus. Ribuan penduduk ramai-ramai mengungsi, eh, dia tenang-tenang saja. Dia percaya bahwa awan panas Merapi yang disebut wedhus gembel itu tidak akan membahayakan penduduk.

Saya ditanya teman wartawan: "Tulisan yang benar itu MARIJAN atau MARIDJAN?"

Maklum, sejumlah media menulisnya dengan cara berbeda. Koran Radar Jogja--yang dikutip semua koran di lingkungan Grup Jawa Pos--menulis Mbah MARIJAN. Kompas menulis Mbah MARIDJAN.

"Lha, Pak Marijan sendiri menulis namanya bagaimana?" tanya saya.

Ternyata, penjaga gunung itu tidak bisa menulis. Tidak punya akte kelahiran. Lantas, kita memakai MARIJAN atau MARIDJAN? "Karena koran-koran besar simpang siur, ya, menurut saya, sebaiknya Mbah MARIDJAN," kata saya.

Alasan saya sederhana saja: Pak Marijan itu lahir sebelum tahun 1972. Waktu itu masih dipakai DJ untuk J [sekarang] dan J untuk Y. Tentulah petugas pencatat kelahiran menulis MARIDJAN, bukan MARIJAN. Hehehe....

Ketika Pak Harto, mantan pesiden Indonesia, meninggal pada 27 Januari 2008, saya membaca beberapa berita di situs internet. Termasuk kantor berita Bernama dari Malaysia dan situs majalah TIME dan NEWSWEEK. Media-media luar negeri itu kompak menulis SUHARTO, bukan SOEHARTO. Dan saya sangat sepakat. Ini sesuai dengan EYD yang diresmikan Pak Harto pada 1972.

Sebaliknya, semua media di Indonesia kompak menulis SOEHARTO, bukan SUHARTO. Alasannya klasik: "Nama orang ditulis sesuai dengan cara orang itu [atau ayahnya atau kakeknya atau mbah buyutnya] menulis namanya."

Menurut saya, argumentasi ini mungkin bisa diterima untuk penulisan nama di dokumen resmi macam paspor atau kartu tanda penduduk, tapi tidak pas untuk media. Bagaimana kalau ejaan yang dipakai sang tokoh tidak konsisten? Apakah penyunting atawa editor harus tunduk juga pada kengawuran itu?

Contoh: DJOKO SUYANTO.

Kata pertama, DJOKO, pakai ejaan lama [Suwandi], kata kedua, SUYANTO, pakai EYD. Kalau mau konsisten seharusnya: DJOKO SUJANTO. Atau, lebih afdal: JOKO SUYANTO.

Salut buat Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO yang menulis nama sesuai dengan ketentuan EYD. Pak Presiden tidak bergenit-genit dengan menulis nama SOESILO BAMBANG JUDHOJONO. Padahal, kita tahu Pak Susilo ini lahir pada 9 September 1949 atau jauh sebelum EYD berlaku.

Mestinya pejabat-pejabat lain pun menyesuaikan penulisan namanya dengan EYD.

4 comments:

  1. bukannya nama harus ditulis sesuai dengan yang tercantum di akte lahir?

    ReplyDelete
  2. secara umum ejaan kita memang belum seragam. byk yg belum paham termasuk lulusan perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  3. Kalau orang yang lahir sebelum ejaan Van Opuisen, nulisnya gimana? Almarhum mbah canggah saya yang hidup di abad XIX biasa ditulis oleh keturunannya "Soerowidjojo". Kalau saya sih selalu menulisnya "Surawijaya". Saya menduga, Mbah Sura hanya mengenal ejaan bahasa Jawa. Dan kita tahu, setiap aksara Jawa yang tanpa "sandhangan" ditransiterasikan menjadi "a". Ha-na-ca-ra-ka, begitu.
    Tergantung jaman kapan kita menulis, menurut saya. Orang-orang populer lain juga saat ini kita tulis menggunakan EYD, bukan yang lain. Contoh: Muhammad, Sunan Kalijaga, Sultan Hamengkubuwana III.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Mas Ahmad Abdul Haq. Pendapatmu sangat saya hargai dan menjadi masukan yang penting. Salam kenal.

    ReplyDelete