06 July 2008

Wartawan musik makin ngawur



ROLLING STONE satu-satunya majalah musik di Indonesia yang mengulas musik industri secara mendalam dan mencerahkan. Maklum, majalah waralaba ini terbit bulanan.


Isa Anshori, penyiar Radio Suara Surabaya, sekaligus pengasuh program jazz taffic, mengeluhkan kualitas liputan musik yang dilakukan media massa. Seharusnya media massa [cetak, elektronik, online] mampu mensosialisasikan musik kepada masyarakat. Bisa menulis kritik, punya apresiasi, tahu apa yang ditulis. Kacau-balau kalau wartawan menulis artikel musik tanpa referensi dan pemahaman yang memadai.

Mas Isa mencontohkan tulisan seorang wartawan media cetak nasional di Surabaya yang membuat Bubi Chen marah-marah. Si wartawan pemula itu dengan berani mengecam habis permainan Om Bubi, maestro jazz Indonesia asal Surabaya.

Saya sangat tersentuh dengan sentilan Mas Isa. Sebelumnya saya juga kerap mendapat masukan dari teman-teman seniman tentang kualitas tulisan seni budaya yang buruk di media massa. "Wartawan sekarang tulisannya kacau. Menulis kesenian, misal seni lukis, tapi nggak ngerti lukisan. Tidak berusaha belajar dari para senior atau baca buku," kata Pak Herman, pelukis senior yang tinggal di Waru, Sidoarjo.

"Tulisan-tulisan wartawan sekarang tentang musik, khususnya musik klasik, wah, sulit dipertanggungjawabkan. Bikin penafsiran sendiri, tapi tidak didukung oleh pengetahuan yang memadai," kata Solomon Tong, pendiri dan konduktor Surabaya Symphony Orchestra.

Berkali-kali Pak Tong mengeluhkan tulisan-tulisan di surat kabar tentang orkestranya yang dinilai meleset. Menurut dia, wartawan di Surabaya kerap menulis hal-hal yang tidak esensial dari konser musik. Padahal, Pak Tong sangat berharap media massa ikut memberikan wawasan atau pencerahan kepada pembaca. "Lha, kalau tulisannya macam ini terus, ya, bagaimana bisa memberikan apresiasi?" tanya Pak Tong.

Karena sering bertemu seniman [pelukis, pemusik, penari, desainer], saya sangat sering mendengar kritik keras macam ini. Dan tulisan Mas Anshory--dia juga pengamat musik jazz--semakin menyadarkan saya bahwa ada sesuatu yang salah di media massa kita. Tulisan-tulisan tentang musik kedodoran. Wartawan memang bukan seniman, bukan pemusik, tapi dia diharapkan mendekatkan seniman dan masyarakat. Harus berusaha, belajar, untuk meningkatkan mutu liputan.

Kalau kita baca majalah Rolling Stone, wah, betapa bedanya dengan artikel-artikel pendek di surat kabar harian. Kita juga bakal kesulitan melahirkan wartawan-wartawan musik yang hebat macam Theodore KS, Remy Sylado, Denny Sakrie, Denny MR, Bens Leo, Budiarto Shambazy, dan para senior lain di pers. Menurut saya, tulisan-tulisan Theodore yang bernas dan komprehensif akan sulit ditandingi oleh wartawan-wartawan masa kini yang nota bene dimanjakan teknologi canggih dan instan.

Lantas, mengapa artikel, berita, resensi, musik di Surabaya dikecam habis oleh para seniman? Saya kira, Pak Tong, Mas Isa, Pak Herman, dan para seniman sudah tahu jawabannya. Iklim kerja media sekarang memang tidak mendukung lahirnya wartawan-wartawan musik yang hebat macam di Barat.

1. TIDAK KE LAPANGAN

Tulisan yang baik harus lahir dari lapangan. "Wartawan itu pekerjaan kaki," kata Sindhunata, wartawan senior Kompas. Kalau menulis konser, ya, harus lihat konser. Merasakan suasana konser: penonton, lagu-lagu, penampilan pemusik, sound system, dan sebagainya. Menulis konser musik atau kegiatan kesenian tanpa melihat langsung di lapangan sama dengan bohong.

Sudah menjadi rahasia umum, sekarang ini banyak wartawan menulis musik dengan hanya menelepon dari kantor. Panitia ditelepon. Manajer ditelepon. Lagunya apa saja? Penonton ramai nggak? Aksi panggung bagaimana? Lantas, si wartawan merangkai cerita. Gampang dilakukan karena tiap hari kerja wartawan memang mengarang [menyusun] cerita bedasarkan data-data tertentu.

Lantas, judul tulisannya: Konser Band A Memukau Penonton. Hehehe... Deskripsi tidak ada atau kacau. Suasana konser tidak mungkin bisa diangkat ke tulisan. Kering. Bagaimana bisa memberikan apresiasi kalau wartawan tidak mau capek-capek kerja di lapangan, lalu menulis?

2. REKAYASA BERITA

Ini juga biasa dilakukan kelompok wartawan. Karena konser malam hari, dan dikejar deadline, wawancara dilakukan siang. Daftar lagu dan bla-bla-bla ditanyakan. Malamnya pasti tidak datang. Bagaimana beritanya? Gampang saja. Para artis diminta memainkan satu lagu, beraksi di panggung, lantas dipotret. Hasil wawancara siang ini kemudian ditulis dan keluar di koran besok.

"Lho, kok kostum artisnya kok lain? Tadi malam saya lihat konser, penyanyi pakai baju merah. Kok di koran pakai baju putih? Wartawan Anda itu meliput di lapangan atau tidak?" protes salah satu pembaca. Mau bilang apa? Hehehe....

Pembaca itu benar. Siang hari si penyanyi memang pakai baju putih, tapi saat konser beneran paai baju merah. Begitulah. Kalau sering merekayasa berita, suatu saat pasti kena batunya.

3. MINIM WAWASAN MUSIK

Ini jelas. Hampir tidak ada wartawan spesialis musik, apalagi spesialis jazz, klasik, rock, dan sebagainya. Wartawan-wartawan itu umumnya generalis. Meliput apa saja. Kadang-kadang wartawan kriminalitas atau politik menulis konser musik. Bagaimana bisa mendalam?

Wartawan sekarang juga tidak punya waktu untuk belajar musik atau sekadar diskusi dengan pakar. Banyak yang merasa sudah pintar. Juga banyak yang memang tidak suka musik, tapi terpaksa menulis musik karena tuntutan pekerjaan. Kacau!

Saya sulit membayangkan dengan situasi seperti sekarang lahir wartawan musik sekaliber Theodore KS, Bens Leo, Remy Sylado, Remy Sutansyah, yang punya kedekatan luar biasa dengan pemusik. Mereka-mereka ini bukan sekadar wartawan, tapi juga pemusik. Budaya media yang makin instan tidak akan membantu.

4. BUDAYA INSTAN

Mengapa wartawan-wartawan tempo doeloe, katakanlah sebelum 1990, sangat hebat? Jawabannya sederhana: mereka turun ke lapangan. Melihat langsung, ngobrol panjang-lebar sama artis, nonton konser sampai selesai, baru menulis laporan. Lha, sekarang ini berita sudah selesai ditulis, bahkan dicetak, sebelum konser diadakan. Bagaimana bisa dipertanggungjawabkan?

Internet dengan mesin pencari macam Google memudahkan wartawan masa kini untuk memulung berbagai macam data artis atau band. Lalu, dibuat oplosan kanan-kiri, jadilah reportase. Atau, minta dikirimi berita via e-mail sama teman atau humasnya si artis. Tulisan memang jadi, tapi tidak bernyawa. Istilah majalah Tempo: tulisan yang tidak berdaging.

5. BUDAYA INFOTAINMEN

Sekarang ini jarang ada media yang serius menulis artikel musik secara mendalam, kecuali tulisan-tulisan Theodore, Denny Sakrie, atau Denny MR. Kiprah artis diberitakan setiap hari, tapi tidak membahas kinerjanya di musik, film, sinetron. Yang dibahas artis A selingkuh sama B, artis ulang tahun, gaya bahasa Cinta Laura, sidang perceraian, konflik Ahmad Dhani-Maia-Mulan, artis umrah, dan tetek-bengek lainnya.

Liputan-liputan macam ini tidak butuh pengetahuan musik atau sinematografi yang mendalam. Siapa saja bisa. Maka, saya sangat gembira dengan majalah Rolling Stone Indonesia yang mengupas musik industri secara mendalam. Saya juga senang membaca tulisan-tulisan musik rock dari Pak Budiarto di Kompas.

6. ROTASI TERLALU CEPAT

Sistem rotasi atau rolling wartawan sekarang sangat cepat. Baru dua bulan di liputan musik atau seni budaya sudah digeser ke kriminalitas atau politik atau pengadilan. Si wartawan tidak bisa mendalami liputannya, pindah lagi dan seterusnya demikian.

Karena itu, berbahagialah wartawan-wartawan senior yang menjadi spesialis macam Muhammad Hendrowiyono [kereta api, telekomunikasi] atau Dudy Sudibyo [penerbangan] atau Theodore KS [musik industri]. Mungkin hanya media-media khusus musik yang memungkinkan pembahasan musik secara mendalam. Jangan berharap banyak pada koran/majalah/tabloid umum.

3 comments:

  1. yah.. gitulah jaman instant, cari gampangnya aja.

    ReplyDelete
  2. Perlu adanya kesadaran intelektual !!!

    ReplyDelete
  3. ass, om remi saya mau minta nomor hp iden

    ReplyDelete