16 July 2008

Tugu Kuning di Porong


Rumah Pak Totok Widhiarto di Siring pada 1 Juni 2006, empat hari setelah semburan lumpur panas. Sekarang rumah ini bersama ribuan rumah lainnya sudah tenggelam di dasar lumpur.

Senin 14 Juli 2007. Saya melintas di depan Tugu Kuning. Ini pintu gerbang Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Puluhan orang berjejeran di tanggul melihat kolam air lumpur Lapindo. Sejak musibah lumpur panas pada 29 Mei 2006, Desa Siring tinggal kenangan. Bersama Jatirejo dan Renokenongo, Siring merupakan korban lumpur tahap pertama.

Ribuan warga mengungsi, mencari selamat sendiri-sendiri. Namun, mereka tetap berkomunikasi untuk mengurus ganti rugi yang dibayar dengan skema 20:80. "Saya sudah tidak tahu lagi di mana tetangga-tetangga saya di Siring dulu. Kami ini ibarat kapal pecah. Tersebar nggak karuan," ujar Pak Totok, warga Siring, kepada saya.

Siring sudah dua tahun ini menjadi kolam--atau lebih tepat 'lautan'--lumpur. Ratusan rumah penduduk sudah tak terlihat. Yang ada cuma air lumpur, puing-puing bangunan, serta tanggul. Pak Totok sendiri mengaku malas menengok bekas rumahnya di Porong. "Untuk apa? Sudahlah, semua sudah terjadi," ujar pria yang suka memainkan lagu keroncong dengan gitar atau kibod itu.

Bu Luqman, tetangga Pak Totok, sudah tak jelas rimbanya. Saya pernah bertemu dan berbincang pada bulan pertama pascamusibah di pasar, tempat pengungsian. Setelah itu, istri almarhum Luqman Aziz [pelukis senior] ini kontrak rumah atau tinggal di rumah kerabatnya.

Saya ingat, ketika Desa Siring masih ada, saya sangat sering main-main ke rumah Pak Totok, kemudian mampir di rumah Gus Luqman. Minum kopi. Ngobrol ngalor-ngidul. Latihan keroncong. Diskusi budaya Jawa. Lihat lukisan. Macam-macamlah aktivitas di Porong. Ah, saya juga tidak tahu di mana jasad Gus Luqman setelah kompleks makam Siring tenggelam oleh lumpur panas.

Tugu Kuning! Tugu berwarna kuning, sederhana, tapi selalu disebut-sebut di Radio Suara Surabaya. "Kawan, terjadi kemacetan di sekitar Tugu Kuning Porong karena truk gandeng mogok," kira-kira demikian penyiar SSFM. Tugu Kuning pun selalu menjadi tempat warga melakukan koordinasi sebelum berunjuk rasa.

Setiap kali melintas di depan Tugu Kuning, saya teringat teman-teman yang baik hati di Siring. Banyak kenangan indah di Siring. Kapan ya semburan ini berhenti?

2 comments:

  1. moga2 korban lapindo segera memulai hidup baru. jangan ikut2an tenggelam dalam lumpur.

    sukisman

    ReplyDelete
  2. hebat bung, jumlah visitor blog anda banyak banget. artinya, blog ini bagus n informatif.

    ReplyDelete