10 July 2008

Tiap hari orang mati di jalan

Nyawa manusia di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya sangat murah. Nyaris tak berharga. Tadi, 10 Juli 2008, seorang mahasiswa 20-an tahun tewas di jalan raya kawasan Aloha, Pepelegi, Waru. Saya tidak melihat langsung kejadiannya, tapi yang jelas almarhum naik motor GL-Pro. Lalu, dihantam truk gandeng di tengah kemacetan lalu lintas sekitar pukul 16.30 WIB.

Jasad anak muda itu digeletakkan begitu saja di pinggir jalan. Dibungkus kertas koran. Kemudian beberapa polisi dari Polsek Waru, Sidoarjo, memuat jasad itu di atas pick-up bak terbuka. Tak ada yang menemani si jasad. Oh Tuhan, beginikah perlakuan terhadap anak manusia di kota besar? Manusia nyaris tak berbeda dengan....

Saya sangat sering menyaksikan peristiwa mengenaskan macam ini. Pekan lalu, juga ada anak muda bersepeda motor dihantam mobil di tempat yang sama. Menggelepar sebentar, kemudian hilang nyawa. Oh Tuhan! Sebelumnya, di Gresik, saya juga melihat langsung anak muda bermotor diserempet mobil dan meninggal di jalan raya.

Penanganannya sama. Jasad diletakkan di pinggir jalan raya. Dibungkus kertas koran. Polisi datang. Olah tempat kejadian perkara. Lalu, dititipkan ke kendaraan apa saja yang lewat. Minta visum di rumah sakit. Syukur-syukur, keluarga datang menjemput si mayat.

Yah, jalan raya di kota besar macam Surabaya-Sidoarjo makin mencekam. Terlalu banyak manusia mati sia-sia karena pemakai jalan yang ugal-ugalan. Motor zigzag, salib sana-sini, tidak pakai helm yang benar. Pengendara mobil, termasuk yang mewah, pun sama kacaunya. Uangnya banyak--bisa beli mobil, bukan?--tapi tidak tahu aturan lalu lintas.

Mobil di Surabaya mengambil hak pengendara sepeda motor dengan menguasai badan jalan sebelah kiri. Maka, wajar saja bahwa pengendara motor pun gantian 'menguasai' jalur kanan. Kampanye jalur kiri untuk sepeda motor oleh Polwiltabes Surabaya boleh dikata gagal total. Tidak ada efeknya sama sekali.

Penghargaan Wahana Tata Nugraha yang berkali-kali diterima Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sejatinya semu belaka. Tidak mengubah perilaku berlalu lintas warganya. Duh, murahnya nyawa manusia di kota ini.

No comments:

Post a Comment