20 July 2008

Siapa Sumiarsih? Siapa Letkol Marinir Purwanto?



Sumiarsih dieksekusi bersama anaknya, Sugeng, di hadapan regu tembak dini hari kemarin. Otak pembunuhan berencana keluarga Letkol (Mar) Purwanto, 13 Agustus 1988, itu sosok kontroversial. Inilah penuturan ibu dua anak kelahiran Jombang, 28 September 1948, itu dalam buku MAMI ROSE yang ditulis ITA SITI NASYAH.

Namaku Sumiasih (nama lahir, bukan Sumiarsih yang telanjur tercatat di BAP). Aku dilahirkan dari seorang wanita bernama Sumarsih dan lelaki bernama Kasan Rejo. Dua orang tuaku hidup di Ploso, Jombang, sebuah desa terpencil kala itu. Sebagai anak mbarep (sulung), aku dipanggil Yu Sih oleh kelima adikku, Patemi, Sugito, Parjam, Parmi, dan Parno.

Di antara saudaraku itu, kata orang, aku yang paling cantik. Kulitku kuning, rambutku ikal dan hitam, bibirku tipis, dan mataku meski tidak blolak-blolok (lebar) tapi mirip damar kanginan (berseri-seri). Pipiku ada lesung pipit dan bersemu kemerahan jika tersenyum. Melihat kemolekan wajahku, banyak yang terkagum-kagum.

Banyaknya orang berkata aku cantik menjadikanku kerap mematut diri. Berkaca pada cermin tua yang sudah retak. Benarkah aku ini cantik? Benarkah aku ini ayu? Seolah ingin meyakinkan diri, jika aku dianugerahi segudang anugerah Tuhan, beratus kali pula, aku mematut diri di depan cermin di kamar. Kacanya sebagian juga sudah buram dimakan usia. Nelangsanya lagi, cermin itu diperoleh emak (ibu) dari pemberian orang. Bentuknya tidak utuh. Pecahan persegi tiga.

Cermin yang diselipkan pada sambungan sesek (dinding bambu) rumahku itu dilengkapi sisir hitam dari bahan tanduk. Dua alat kecantikan itulah yang dipakai bareng-bareng, antara emak, bapak, aku, dan adik-adikku.

‘’Mak, bener to aku iki ayu?’’ tanyaku suatu ketika kepada emakku. Emak yang kumintai pendapat hanya senyum-senyum, sambil terus melipati pakaian yang habis dijemur. Tidak seberapa lama, aku mendengar namaku dipanggil oleh satu dari adikku. ‘’Yu Sih, diceluk Yu Minuk, Yu Parti, lan Yu Tri, kae lho. Dienteni nang ngisor wit gayam (Mbak Sih, dipanggil Mbak Minuk, Mbak Parti, dan Mbak Tri, itu lho. Ditunggu di bawah pohon gayam),’’ panggil adikku, Patemi, setengah berteriak.

Di depanku sudah ramai terdengar teriakan dan nyanyian teman sebayaku. Mereka asyik memainkan dolanan kampung. Ada yang cublak-cublak suweng, jumpritan, dan jamuran. Sedangkan anak laki-laki, ada yang main patil lele, gundu, dan ada pula yang main karet serta adu jangkrik.

Teman lelakiku sering jowal-jawil padaku. Ada yang sekadar mencubit lenganku. Ada yang menarik-narik rambutku yang kerap dikucir ekor kuda emakku. Tidak jarang ada yang terang-terangan menggodaku. ‘’Sih...Sih, kowe gelem karo aku?’’ kata mereka kepadaku.

Mendengar rayuan itu, aku hanya bisa mesam-mesem malu. Kata orang, jika aku tersenyum, pipiku bersemu merah. Seperti isi buah jambu di depan rumahku. Di antara semua teman lelaki yang kerap menggodaku, aku sempat tertarik dengan anak lurah di desaku. Sayangnya, anak lurah itu terlalu pendiam. Dia jarang main bersama kami. Aku pun hanya bisa mengagumi saja.

Perbedaan ekonomi yang sangat mencolok menjadikan aku tak berani macam-macam. Jangankan untuk naksir-naksiran, untuk mengakui kagum kepada anak Pak Lurah saja hanya bisa kusimpan sendiri. Aku paling suka jika disuruh emakku menjemput Dik Gito ke rumah Pak Lurah. Adik ketigaku itu, kalau main, suka lupa waktu. Bisa jadi karena rumah Pak Lurah besar dan bagus, hingga Dik Gito lebih kerasan daripada tinggal di rumahnya yang gedheg.

Keluarga Pak Lurah memang baik kepada keluarga kami. Aku kerap dimintai tolong Bu Lurah menata taman bunganya di halaman belakang rumah. Aku biasa diberi tugas mengambil air di sumur untuk menyirami mawar-mawarnya. Bunga yang jadi kegemaranku.
Ada sebuah kebiasaan di rumahku, setiap pulang dari mana aja, adik-adikku di rumah selalu menanti di depan pintu. Mereka duduk berjajar sambil selalu memandangi jalan yang kulewati.

‘’Yu, nggowo opo? (Kak, membawa apa),’’ tanya adik kelimaku, Parmi. Yang lain, seperti Parjan dan Parno, ikut-ikutan merubung minta bagian. Aku senang jika adik-adikku riang seperti itu. Patemi, Sugito, Parjan, Parmi, dan Parno dulu-duluan menghabiskan oleh-oleh yang kubawa. Kendati sebetulnya perutku lapar dan ingin incip-incip, melihat lahapnya cara adikku makan, kutahan saja keinginanku.

Tergoda Ingin ke Kota

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai tumbuh menjadi remaja putri. Aku menjadi kembang desa yang cantik. Tapi, kecantikan paras wajahku bertolak-belakang dengan ekonomi keluarga. Kehidupan ekonomi keluargaku sangat memprihatinkan. Bapak dan ibuku hanyalah orang kampung biasa. Untuk makan sehari-hari, Bapakku harus banting tulang, menjadi buruh tani di sawah orang lain. Sedangkan emakku hanya ngopeni anak-anaknya di rumah.

Jika musim panen tiba, selain aku, emak juga ikut-ikutan terjun di sawah. Pikir kami, mumpung ada pekerjaan. Inilah saatnya kami mengumpulkan sedikit uang untuk biaya hidup. Kami pun bahu-membahu di sawah orang. Sayangnya, kendati sudah kerja keras, roda ekonomi keluargaku tak juga berputar ke atas. Kemiskinan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hariku. Kemelaratan dan kenistaan mendera hidup kami. Hidup keluarga miskin yang ada di sebuah desa terpencil di Jombang kala itu.

Siapa sih yang tidak ingin hidup makmur seperti anak Pak Lurah? Punya rumah gedhong. Punya sepeda. Bajunya bagus dan makannya selalu nasi putih. Sedangkan keluargaku? Sehari-hari, tiwul dan singkong yang bisa kami santap. Lauk paling enak dan bisa kami jangkau hanyalah tempe goreng. Ya, tempe menu sangat istimewa. Tidak jarang kami makan dengan tiwul dan kelapa parut. Kendati demikian, kami berdelapan menerima keadaan dengan lapang dada. Kami tidak menyangka bahwa kondisi itulah yang mementaskan perjalanan kedewasaanku. Memang, kemiskinan kami merupakan kemiskinan yang termiskin.

Kami baru makan nasi kalau pas musim panen atau Ramadan tiba. Yang paling membuat kami bersuka, jika ada we-we (syukuran atau bancakan nasi dan lauk yang dikirimkan orang mampu pada malam ganjil ataupun menjelang Lebaran). Selain nasi putih atau nasi kuning, menu we-we dilengkapi sayur tempe dimasak dengan santan serta ikan ayam dibumbu. Aku yang paling besar selalu kebagian yang mengalah. Aku biasanya kebagian sak emplokan (sesuap). Meski lagi-lagi harus menelan ludah karena kurang, bagian sak emplok itu sudah cukup mengenyangkan perutku.

Suatu kali emakku pergi ke rumah tetangga, meminjam uang karena sebentar lagi Lebaran. Rencananya, uang itu digunakan untuk membelikan baju kami, anak-anaknya. Entah ke mana saja tujuan Emak pergi. Pastinya, karena cukup lama, adik-adikku sampai ketiduran di amben (ranjang) bambu bikinan Bapak. Amben dengan alas tikar yang sudah robek sana sini menjadi tempat tidur sehari-hari dua adik lanang (lelaki)-ku, Parjan dan Sugito.

Dua adik perempuanku, Patemi dan Parmi, serta adik bungsuku, Parno, tidur bersamaku di dalam kamar. Akan halnya adik lanang-ku, tempat tidur kami juga terbuat dari bayang (ranjang bambu) bikinan Bapak sendiri. Jadi, baik anak laki maupun perempuan tidur ngruntel (berdesakan). Anak lelaki dengan Bapak, sedangkan anak perempuan dengan Emak sambil ngeloni Parno.

Yang tak bisa kulupakan, tempat tidur merangkap ruang tamu berbau pesing. Maklumlah, adik lelakiku masih sering ngompol. Jadi, meski kujemur setiap hari, karena tiap hari diompoli, tikar pandan yang menjadi alas tidur kami tetap saja mengeluarkan aroma tak sedap. Pesing dan lengur. Bau dan basah itulah yang membuat tikar tidur kami diwarnai tinggi (kutu busuk). Itu lho, hewan kecil hitam yang kerap mengisap darah. Baunya busuk jika digintes.

Pukul 21.00 WIB, Emak baru pulang ke rumah. Padahal, berangkatnya bakda (setelah) asar. Tidak seperti keberangkatannya, wajah emak kali ini muram. Matanya sembab habis menangis. Ketika kutanya mengapa, emak diam saja. Tak ada kata yang keluar dari mulut mungilnya. Karena penasaran, kudesak terus emakku. Wanita yang terlihat lebih tua daripada usianya itu hanya berkata pendek. ‘’Ora opo-opo, Nduk. Ora opo-opo,’’ katanya mengelak. Sambil berkata demikian, tubuhnya membelakangiku.

Meski emak tak mau berterus terang, hati kecilku mengatakan, Emak tak dapat pinjaman uang. Buktinya, emak tak lagi membahas akan membelikan baju baru buat Lebaran kami. Yang dilakukan malah naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi adikku, Parno. Tidurnya miring. Aku tahu, emakku bersedih. Aku tahu, emakku habis menangis. Tapi, aku bisa apa? Duh Gusti, sampai kapan kemelaratan ini Kau beri? Sampai kapan kemiskinan ini Kau ujikan? Sampai kapan, Tuhan?

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku menggugat ketidakadilan Tuhan yang diberikan kepada keluarga kami. Kami sudah bekerja keras. Kami sudah berusaha. Kami juga bukan orang malas. Tapi, kapan hidup kami berubah? Aku, si gadis cantik ini, menjadi amat dendam kepada kemelaratan. Kemelaratan inilah yang membuatku tidak berani berangan-angan. Apalagi, cita-cita. Aku takut kecewa! Bagiku, bisa baca dan tulis sudahlah cukup. Tidak perlu harus sampai lulus SD. Masih ada 5 adikku yang butuh biaya. Butuh sekolah.

Sementara di kampungku, setiap anak yang sudah berusia 11 tahun biasanya pergi merantau. Mencari kerja ke kota besar. Surabaya dan Jakarta, merupakan kota jujukan bagi remaja Jombang. Pekerjaan yang tersedia tak bisa bervariasi. Kalau bukan babu, ya penjaga warung. Itu karena pendidikan kami rata-rata sangat rendah. Tapi, aku juga dapat kabar, gadis-gadis yang punya paras cantik lebih gampang dapat kerja. Bagi yang cantik dan apalagi bisa baca, pekerjaan yang tersedia di kota bisa saja tambah satu: penjaga toko orang Cina.

Pekerjaan itulah yang kuincar. Pikirku, meski tidak punya ijazah, aku bisa hitung-hitungan. Aku bukan gadis bodoh. Kalau saja aku bisa sekolah terus, pastilah aku mampu bersaing dengan anak-anak pintar lainnya. Aku punya keyakinan seperti itu. Begitu juga kalau harus ikut menjaga warung. Aku bisa masak karena terbiasa membantu Emak di dapur. Cuma, siapa yang mau memberikan pekerjaan? Siapa yang akan mengantarkanku ke kota?

Untuk sampai ke Surabaya saja diperlukan waktu kira-kira 3-4 jam naik kendaraan umum. Itu pun harus berjalan kaki dulu ke kota. Jika mikir itu, puyeng kepalaku! Untuk itu, aku tak berani berpikir yang aneh-aneh. Takut kecewa. Takut gagal. Besarnya keinginan, ditambah tidak adanya biaya, menjadikanku murung. Untuk minta duwit kepada orang tua, tidaklah mungkin. Sementara waktu kulupakanlah keinginanku bekerja.

BAGIAN KEDUA

Nafkahi Keluarga dari Tip Hostes Kelab Malam Ancol. Tekanan ekonomi membuat pernikahan dini Sumiarsih gagal total. Dia lalu memutuskan merantau ke Jakarta.


COWOK yang apel ke rumahku kian banyak. Ibarat bunga, aku sedang mekar-mekarnya. Pemuda yang naksir tidak terbatas di kampungku. Pemuda tetangga desa juga kerap main ke rumahku. Rata-rata mereka bermaksud menjadikanku sebagai pacar. Tidak itu saja. Kecantikanku membuat lelaki beristri ikut-ikutan "mengagumiku".

Di antara lelaki yang datang, ada satu yang menarik hatiku. Lelaki bernama Suwadi itu sangat perhatian terhadapku. Selain berbudi luhur, dia sabar dan ngemong. Kami pun lantas pacaran, meski sebentar. Oleh orang tuaku, kami kemudian dinikahkan. Tepatnya, ketika usiaku menginjak 15 tahun pada 1963. Setahun kemudian, anak kami lahir dan diberi nama Sugeng (bersama Sumiarsih ikut dieksekusi di depan regu tembak pada 19 Juli 2008).

Anak lelaki pertama yang lahir 15 September 1964 itu berwajah ganteng. Kulitnya kuning, hidungnya mancung, dan rambutnya ikal. Kegantengan Sugeng mungkin mewarisi wajahku dan wajah Suwadi kali ya, he he he.

Meski sudah menikah dan punya anak, aku ingin merasakan dapat uang sendiri. Satu-satunya cara ya dengan bekerja. Sayang, keinginanku itu ditentang oleh Mas Wadi, suamiku. Katanya, cukup lelaki saja yang mencari uang.

Aku iri melihat teman-teman sebayaku pulang kampung saat Lebaran. Pakaiannya bagus-bagus. Perhiasan emasnya kemeroncong. Mereka selalu pulang membawa roti kaleng Khong Guan dan minuman sirup jeruk Orson. Melihat pemandangan seperti itu, hatiku makin sakit. Kenapa mereka bisa, aku tidak. Padahal, wajah mereka tidak secantik wajahku. Kalau saja aku bisa ke kota, pastilah lebih banyak uang kubawa.

Besarnya keinginan untuk punya penghasilan sendiri itulah yang menjadikan rumah tanggaku goyah. Mas Wadi yang hanya bekerja serabutan tidak mampu menaikkan kondisi ekonomi sehingga kami sering cekcok. Singkat cerita, kami pun berpisah. Sugeng yang belum berumur 40 hari kutitipkan kepada emakku di desa. Aku nekat mengadu nasib ke Jakarta.

Sejak berangkat dari Stasiun Jombang aku bersumpah anak dan adik-adikku harus hidup sejajar dengan warga kampung yang lain. Mereka harus jadi orang besar. Punya cita-cita. Punya harapan. Bisa sekolah tinggi seperti anak Pak Lurah.

***

Pepatah yang mengatakan kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibu kota bukan sekadar pepatah belaka. Di sana aku hidup sebatang kara. Hidup di kota besar seperti Jakarta itu ternyata tidak mudah. Tak seperti saat tinggal di kampungku di Jombang, semua diukur pakai uang. Jangankan untuk makan, kencing pun harus pakai uang, apalagi mandi. Ini yang membuatku menangis setiap malam.

Aku bisa bekerja di sebuah warung makan. Warung tegal pinggir jalan milik Koh Liem. Warung yang tidak seberapa luas itu menyediakan berbagai macam masakan Jawa. Ada pecel, sup, sayur asem, hingga lodeh. Warung nasi yang tak jauh dari Terminal Pulo Gadung itu sebenarnya sudah punya tiga pegawai. Aku bisa dipekerjakan setelah satu pegawai bagian cuci piring tidak kembali karena menikah.

Di warung itulah aku mengenal banyak lelaki. Mulai sopir, kernet, makelar tiket, hingga penyemir sepatu di Terminal Pulo Gadung. Karena kecantikanku, warung milik Koh Liem, laris manis. Banyak pelanggan yang tak segan memberiku tip. Awalnya, pemberian itu kutolak halus. Aku tidak biasa menerima uang tanpa harus bekerja lebih dulu. Tapi, karena majikanku mengizinkan, akhirnya tip itu kuambil juga. Tip dan gaji yang tidak seberapa itulah yang rutin kukirimkan ke kampung.

Di warung itulah aku berkenalan dengan Hendrik. Lelaki dari seberang itu mengatakan akan mencarikanku pekerjaan lain. Menurut Hendrik, kerja di warung tak akan bisa membuatku kaya. "Lho, kan cantik, kerja di tempat lain aja yang gajinya lebih tinggi," ajaknya.

Suatu hari Hendrik mengantarku ke klub hiburan malam di daerah Ancol. Restorannya memang besar. Tempatnya bagus. Tapi, kalau siang, sepi. "Iki jane ngono nggone opo? (Ini tempat apa ya sebetulnya)," kataku kepada Hendrik.

Manajer di sana mengamatiku cukup lama. Aku akhirnya diterima tanpa ditanya tentang ijazah. Tugasku mengantar minuman dan makanan kecil pesanan para tamu. Kerjanya malam hari. Jam pitu bengi sampek jam telu parak isuk (Pukul tujuh malam hingga tiga dini hari). Aku mau karena bayarannya tiga kali lipat dibanding kerja di warung.

Bapak manajer memberiku seragam. Rok mini ketat dan atasan putih. Aku terkaget-kaget ketika bekerja. Banyak wanita cantik berlalu lalang. Mereka hanya duduk-duduk di kamar ruang tertutup. Tidak sedikit yang sambil merokok. Aku bertanya ke Hendrik, apa pekerjaan wanita-wanita itu? Kata Hendrik, mereka itu hostes.

Meski hanya pelayan (waiters), aku dapat imbalan cukup tinggi. Tip yang kuterima dari tamu lebih besar daripada bayaranku sebulan. Bulan pertama aku mendapatkan Rp 41 ribu dari tip saja, sedangkan gajiku Rp 30 ribu. Ceperan dari pengunjung itu kubelikan alat-alat make up. Ya gincu, pemoles pipi, sampai eye shadow. Pokoknya komplet. Hanya dalam setahun, manajer dan mami tempatku bekerja menaikkan pangkatku menjadi hostes. Aku ikut-ikutan "mejeng" di ruang kaca agar bisa dipilih tamu.

Kali pertama yang aku lakukan adalah memotong rambut model agogo ala Marilyn Monroe yang saat itu tren. Aku memang mengagumi artis Hollywood itu. Sebagai hostes, aku harus tampil seksi. Aku pakai rok superpendek dan sepatu hak tinggi yang warnanya sesuai baju. Tapi, biasanya aku pakai baju hitam. Supaya kontras dengan kulitku yang kuning langsat.

Tip yang kuterima dari tamu makin banyak. Mulai Rp 1.000 hingga Rp 10 ribu. Cukup besar untuk ukuran waktu itu. Tamu-tamu yang nakal memberi tip dengan menyelipkannya di sela-sela payudara. Kadang ada yang di sela celana dalamku. Aku senang jika tamuku mabuk. Tipnya makin banyak.

Atas saran Mami, nama Sumiasih yang terdengar kampungan diganti nama lain. Aku memang suka mawar, maka aku senang saat Mami memberi nama Rose. Aku ingin bunga mawar seharum namaku di dunia malam. Pelangganku kalangan menangah ke atas. Ada pengusaha, pegawai, ABRI (tentara), dan tidak sedikit yang jadi pejabat.

Empat tahun menetap di Jakarta, aku pulang ke desa di Ploso, Jombang. Tepatnya saat Lebaran. Kali ini aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Di depan warga desa, aku tampil habis. Semua yang kumiliki kupamerkan. Apalagi, aku mudik membawa mobil. "Dadi opo kowe nang Jakarta, Sih," tanya tetangga sambil melihat-lihat perhiasan emas yang kukenakan.

Adik perempuanku, Patemi dan Parmi, kubelikan oleh-oleh anting, gelang, kalung, emas lengkap dengan baju model terbaru dari Jakarta. Tiga adik laki-lakiku, Sugito, Parjan, dan Parno, kubelikan sepeda mini (sepeda tren saat itu) satu-satu, selain sepatu dan baju baru.

Emakku yang dulu selalu menangis menjelang Lebaran karena tidak punya uang, semringah melihatku pulang. Sebelum balik ke Jakarta, aku minta Emak menyekolahkan Sugeng (anaknya yang ditinggal di desa) dan lima adiknya. "Jangan takut masalah biaya, Mak. Nanti aku yang mengirimi setiap bulan," kataku.

BAGIAN KETIGA
Terjebak Kongsi Wisma Bordil di Gang Dolly

Setelah sukses mengembangkan "karir" dan memupuk modal di Jakarta, Sumiarsih memutuskan pulang ke kampung halaman. Bersama suami baru, dia lalu membuka bisnis esek-esek di Surabaya.


Dengan uang yang rutin aku kirim dari Jakarta, rumah kami di desa yang dulu dari gedheg (anyaman bambu) dibangun dengan batu bata. Bahkan, rumah kami sudah jadi rumah gedong menyamai rumah Pak Lurah. Sugeng juga sudah bisa bersepeda. Empat adikku semuanya sudah mengenakan perhiasan di leher, jari, maupun tangan.

Pergaulan high class-ku (sebagai hostes) di Jakarta berimbas pada kehidupan pribadiku. Aku jadi emoh tinggal di desa terpencil, seperti Ploso. Agar terlihat seperti orang kota, aku pun membeli rumah di kota Jombang. Tepatnya di Jalan Gajah Mada. Ini kulakukan agar adik-adikku tidak terlalu jauh jika pergi sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah yang bagus hanya ada di kota kabupaten. Aku ingin adik-adik dan anakku bisa menikmati fasilitas terbaik.

Kepindahan kami ke kota seperti kampanye. Yang mengiring ratusan. Saking banyaknya yang ikut, untuk mengangkut mereka, orang tuaku menyewa truk.

Manisnya Jakarta terus kureguk. Ibarat minum air laut, aku selalu kehausan, demikian juga dengan diriku. Kian hari kian ketagihan. Aku lupa daratan. Norma-norma agama sudah kulanggar semua. Aku juga sudah terbiasa hidup tanpa ikatan.

Penghasilanku makin besar jika aku di-BL (booking luar). Saat itu, rasanya, uang itu tidak ada artinya. Sambil menimang uang gebokan, pikiran jelekku keluar. ''Kenapa tidak dulu-dulu seperti ini,'' ucapku dalam hati. Hotel Indonesia -saat itu paling besar dan paling terkenal- jadi tempatku mangkal sehari-hari.

Aku pernah ikut (di-BL) kunjungan kerja seorang menteri ke Batam selama seminggu. Pulangnya, uang yang diberikan bisa kupakai beli mobil (Suzuki) Carry baru. Ya, hitung sendiri deh, berapa kira-kira.

Dampak lain dari profesiku itu, aku juga sudah keliling Indonesia. Apalagi jika bukan mengikuti ''kunjungan'' para pejabat. Ya, itung-itung, sambil kerja, aku juga bisa piknik gratis, gitulah.

Saat ke Jakarta dan bekerja sebagai hostes, awalnya aku sudah bertekad tidak jatuh cinta kepada lelaki mana pun. Namun, Hasan Winarya, seorang pria beristri dan beranak, berhasil mencuri perhatianku. Ketelatenan dan kelembutan pria keturunan China Lampung itu menjadikan hatiku terlena. Aku benar-benar mabuk oleh perhatiannya. Mungkin, perasaan itu tumbuh lantaran di Jakarta aku hidup sendiri.

(Dari Hasan Winarya, seorang pengusaha kontraktor ibu kota saat itu, Sumiarsih mendapat hadiah rumah di kawasan Senayan, Jakarta. Dari hasil hubungan itu, lahir Rose Mey Wati, perempuan, anak kedua, yang saat berusia empat bulan dititipkan ke neneknya di Jombang).

***

Karena tak kunjung dinikahi dan terus didamprat dan iba dengan istri dan anak-anak Hasan Winarya, Sumiarsih lalu memutus hubungan dengan Hasan. Dia lalu memutuskan kembali ke Jombang.

Di sisi lain, kembalinya Rose alias Sumiarsih ke Jombang menjadikan buah bibir tersendiri di kampung halamannya. Tak sedikit lelaki yang coba-coba mendekatinya. Maklum, Rose memang cantik. Di antara lelaki yang tertarik kepada Rose adalah Djais Adi Prayitno. Duda dua anak tersebut terang-terangan mengatakan ingin mempersunting dia.

''Nganpunten (maf) lho, Mas. Saya tidak ingin pacaran lagi. Malu. Sudah tua. Saya mencari calon suami,'' kata Rose kepada Prayit ketika lelaki itu menyampaikan isi hatinya.

Sebaliknya, lelaki berkaca mata itu gembira dengan ketegasan Rose. ''Kalau Jeng Sih mau mencari suami, saya siap menikah. Kapan pun diminta,'' ujarnya menimpali kalimat Rose.

Rose mengatakan sebetulnya masih mencintai Hasan Winarya, ayah Wati. Namun, Sumiarsih melihat Prayit sabar dan bertanggung jawab. Sadar bahwa dia butuh pendamping untuk menata hidupnya ke depan, Rose pun menerima pinangan Prayit -panggilan akrab Djais Adi Prayitno- untuk menikah.

Sumiarsih memang tak punya keahlian selain pengalamannya menjadi hostes dan mengelola salon plus (beberapa kapsternya juga wanita panggilan) di Kebayoran Baru, Jakarta. Karena itu, setelah menikah dengan Prayit, keduanya memutuskan membuka binis esek-esek. Pilihannya jatuh ke Dolly, kawasan pelacuran terkenal di Surabaya.

Launching rumah bordil dua lantai Happy Home (HH) dilakukan pada awal 1975. Rumah berukuran 8 x 15 meter itu diharapkan jadi tumpuan hidup keluarga. Letaknya di gang Dolly bernomor 2B. Pada awal pembukaan HH, Mami Rose -panggilan akrabnya di Dolly, hanya menampung sepuluh orang pekerja seks komersial (PSK). Tapi, yang membuat wisma HH jadi harum karena PSK di sana masih sangat belia dan cantik-cantik. Usianya berkisar 15 tahun.

Para PSK itu direkrut secara terang-terangan. Becermin dari pengalaman hidup Sumiarsih, para remaja itu berasal dari kalangan tidak mampu. Mereka ini adalah korban perdagangan wanita. ''Kowe gelem gak melu ngladeni tamu nang omahku Suroboyo. Tugasnya ngancani ngombe. Tapi, nek tamu ngajak turu, kowe yo kudu gelem. (Kamu mau ikut menemani tamu di rumahku Surabaya? Tugasmu menemani minum. Tapi, kalau tamu minta dilayani tidur, kamu harus mau),'' ujar Mami Rose Sumiarsih kepada para calon PSK saat wawancara. Karena terdesak faktor ekonomi, rata-rata gadis yang datang kepada Rose bersedia secara suka rela.

Para PSK yang dikaryakan kebanyakan janda muda dengan berbagai problem. Ada yang ditinggal kawin suami, ada yang suami pengangguran, dan tidak sedikit wanita yang punya anak tanpa bapak. Tarif short time PSK di HH Rp 25 ribu. Dari jumlah itu, Mami Rose dapat 70 persen.

Berbeda dengan para mucikari lain, setoran yang 70 persen itu diolah lagi oleh Mami Rose. Sebesar 50 persen masuk kantong pribadi, 10 persen biaya makan dan minum PSK, dan 10 persen untuk biaya kursus. Untuk yang terakhir itu, PSK biasanya sekolah modes di daerah Pasar Kembang yang tak jauh dari Gang Dolly.

''Kalian-kalian tidak boleh selamanya jadi balon (PSK). Di sini kamu semua harus mentas setelah tabunganmu cukup,'' kata Rose saat membrifing anak buahnya sebelum diterjunkan ke lembah hitam.

Selain tamu dari kalangan biasa,Wisma HH kerap didatangi lelaki dari kalangan tentara. Salah seorang di antara lelaki itu tidak lain adalah Letkol Marinir Purwanto. Bapak tiga anak itu punya jabatan prestisius: kepala Primer Koperasi Angkatan Laut (Primkopal) di Pangkalan Angkatan Laut, Ujung, Surabaya. Seperti pengunjung yang lain, Purwanto kerap bersenang-senang dengan anak buah Sumiarsih.

Yang membuat Mami Rose girang, kehadiran Purwanto dianggap sebagai ''pelindung''. Maklumlah, dunia hitam seperti itu rentan berbagai kejahatan dan keributan.

Suatu hari, saat menyambangi Wisma HH, Purwanto mengajak omong-omong serius Mami Rose. ''Mi, kalau aku buka usaha (membuka rumah bordil di Dolly) seperti punyamu, apa masih laku ya,'' kata Purwanto seperti ditirukan Sumiarsih.

Pucuk dicita ulam tiba. Tawaran ini bersambut. Mami Rose mengakui ''penghuni'' HH sudah overload. Sebelumnya, Rose berpikir ingin melebarkan sayap. Namun, untuk memperluas bangunan, tidak mungkin karena tanahnya terbatas. Mau membeli rumah baru, uangnya juga belum mencukupi. ''Kebetulan sekali, kalau Pak Pur mau bikin di sini,'' kata Rose terus terang.

Berkat kongsi usaha dengan Puwanto itu, tepat pada ulang tahun kelima Wisma HH (1980), Mami Rose membuka "cabang" kedua. Kebetulan, ada wisma yang dijual pemiliknya karena bangkrut. Rumah itu bernomor 1A atau berjarak dua rumah dari Wisma HH. Oleh Mami Rose, rumah bordir baru itu diberi-nama Wisma Sumber Rejeki (SR).

Usai merayakan peresmian SR, Mami Rose, Prayit, dan Purwato -yang menjadi pengelola dan "pemegang saham"- terlibat diskusi serius. Yakni, mematangkan sistem bagi hasil usaha barunya. ''Sebagai pemilik, aku minta kamu setor Rp 25 juta per bulan. Tidak boleh telat. Gimana, Mi,'' kenang Rose tentang kalimat Purwanto.

Sejenak berpikir, Mami Rose, yang kala itu mengenakan rok terusan warna hitam bunga-bunga merah, mencoba menawar. ''Ya, jangan segitu toh, Pak Pur. Ini kan usaha baru. Anak-anaknya juga belum banyak. Kita juga belum tahu sambutan pasar,'' kata Mami Rose coba berdalih.

Setelah melalui perdebatan sengit, mereka bertiga sepakat setor Rp 22 juta per bulan. Setiap tahun, setoran selalu meningkat Rp 1 juta per bulan. Setiap keterlambatan Purwanto -yang sudah terbiasa mengelola usaha di koperasi itu- mengenakan denda. ''Nggih, Pak. Menawi ngaten, tiap tanggal 1 kita akan kirimkan uangnya ke Bapak,'' kata Rose.

Banyaknya anak buah (PSK) yang diasuh menjadikan masalah bagi Mami Rose. Terutama masalah keuangan. Ada yang pinjam uang untuk biaya anak sakit, sekolah, modal untuk tanam padi desa, dan sebagainya. Jika tidak punya uang, Sumiarsih pinjam kepada teman kongsinya, Purwanto. Lambat laun, utang Rose semakin berbukit. Apalagi, semua tidak sekadar pinjam, tapi ada bunganya. Belum lagi jika terlambat membayar jatah setoran bulanan. "Ada denda 10-20 persen," ujar Rose.

Suatu hari, Rose pernah menyetor uang bagian Purwanto hingga Rp 40 juta. Padahal, sesuai perjanjian, bagian Purwanto hanya Rp 25 juta. Sisa yang Rp 15 juta itu merupakan bunga keterlambatan dan cicilan utang. ''Pak Pur, mbok kalau bisa, saya diberi keringanan. Banyak anak-anak yang belum bisa bayar utang ke saya. Jadi, saya yang harus nomboki dulu,'' kata Rose coba menawar. Bukan kata-kata halus yang didapat. Wanita yang telah ikut membesarkan SR tersebut malah dibentak dengan gebrakan meja. ''Gak iso. Iku harga mati. Koen lak wis janji. Ojok main-main karo aku lho, yo,'' kata Pur.

Bukan itu saja. Purwanto juga kerap menakut-nakuti dengan pistol jika Rose dan Prayit sedikit mengulur setoran. Alasan perwira TNI-AL tersebut bermacam-macam. Satu di antaranya adalah Rose telah mempekerjakan PSK di bawah umur. Pelanggaran seperti itu, jika diketahui polisi, bisa membawa Sumiarsih ke penjara. Lelaki yang dulu dianggap backing usahanya kini menjadi musuh dalam selimut.

BAGIAN KEEMPAT

Bawa Dua Anak untuk Luluhkan Hati Purwanto. Terus terlilit beban setoran yang berat membuat Sumiarsih merancang pembunuhan terhadap Letkol Purwanto.


MENGELOLA dua rumah bordil sekaligus, Happy Home dan Sumber Rejeki, nama Mami Rose cukup kondang di lokalisasi Gang Dolly. Kalau sedang mujur, semalam satu wisma bisa memberikan laba bersih Rp 2 juta. Di atas kertas, kalau bisnis berjalan normal, sebulan Sumiarsih dari dua wisma bisa mengumpulkan Rp 120 juta. Itu angka yang fantastik untuk ukuran usaha pada 1980-an.

Di kalangan pria hidung belang, wisma milik Mami Rose itu cukup atraktif. Wanita itu kerap mendatangkan penyanyi-penyanyi dangdut dengan pengiring musik live di malam hari. Dia juga mempekerjakan bartender khusus yang harus hafal minuman masing-masing pelanggan.

Namun, usaha prostitusi seperti itu tetaplah rentan. Gangguan yang sepele saja bisa mengganggu jalannya usaha. Padahal, khusus untuk Wisma Sumber Rejeki, hasil kongsi Mami Rose dengan Letkol Purwanto, dia punya kewajiban setor Rp 22 juta per bulan.

Suatu kali, dua wisma itu sepi selama seminggu. Itu terjadi karena ada operasi oleh Polres Surabaya Selatan terhadap laporan penculikan anak di bawah umur. Ada tengara, gadis berusia 12 tahun itu dijual di Gang Dolly. Setelah digerebek, anak itu ditemukan di sebuah wisma di sana. Akibatnya, transaksi seks di Gang Dolly menurun drastis.

''Piye yo, Pak, cara ngadepi Pak Pur. Mbok sampean toh sing mrono (Bagaimana Pak cara menghadapi Pak Purwanto. Bapak saja yang menghadap ke dia),'' kata Mami Rose kepada suaminya, Djais Adi Prayitno (Prayit). Mendengar keluhan itu, Prayit malah menasihati agar Sumiarsih sendiri yang menghadap. Siapa tahu, kalau wanita yang menghadap, hati Purwanto luluh.

Dengan diantar pakai mobil Suzuki Carry oleh anak tirinya (anak Prayit), Nano, dia berangkat ke rumah Purwanto di Jalan Dukuh Kupang Timur, Surabaya. Setelah Mami Roses menyampaikan permohonan keringanan akibat wisma yang sedang sepi itu, Purwanto menanggapi dengan tegas.

''Bah sepi. Bah rame. Nek awakmu nyetor telat, yo kudu mbungai. Titik! Wis, kono muliho. Ngganggu ae. (Biar sepi. Biar ramai. Kalau kamu setor terlambat, ya harus bayar bunga. Titik. Sudah, pulang sana. Mengganggu saja),'' jawab Purwanto.

Sumiarsih pulang dengan air mata menggenang. Mami Rose bersyukur Nano yang menunggu di luar tidak tahu bahwa di dalam tadi perwira marinir yang masih aktif itu memarahinya habis-habisan.

Pada kali lain, saat liburan Ramadan, Sumiarsih sedang bahagia karena kedua anaknya, Wati dan Sugeng, yang selama ini sekolah dan tinggal di rumah Jombang bersama nenek, liburan ke rumah keluarga Sumiarsih di Jalan Kupang Gunung Timur I/41, Surabaya.

Anak-anak Mami Rose itu pun diajak keliling kota seperti ke Toko Siola, Toko Nam, Taman Hiburan Rakyat (THR), dan kebun binatang. Namun, pada saat bersamaan, Mami Rose bingung karena usaha rumah bordilnya sedang sepi. Saat waktu membayar setoran tiba, uang yang tersedia hanya Rp 20 juta.

Saat mereka mau membayar setoran itu, anak-anak itu pun diajak ke rumah Purwanto. Harapan Sumiarsih, dengan mengajak anak-anak, kemarahan Purwanto bisa redam. ''Mugo-mugo ae Pak Pur gak ngamuk nek awak e dhewe teko bareng-bareng yo, Pak,'' kata Rose kepada Prayit sebelum mereka berangkat.

Kiat Mami Rose jitu. Melihat rombongan yang dikuti Wati dan Sugeng itu, Purwanto lebih lunak saat Mami Rose mau menyampaikan setoran yang hanya Rp 20 juta. ''Yo, wis, kurang piro. Gowoen ae disik nek ngono. Tapi, tolong, tanggal 15 kudu onok sak bungae lho yo (Ya, sudah, uangnya dibawa dulu. Tapi, tolong, tanggal 15 harus dibayar bersama bunganya),'' katanya.

Sambil berkata demikian, Purwanto tak henti-henti memandangi Wati. Entah apa yang ada di dalam benaknya. Setelah itu, rombongan kecil itu meneruskan perjalanan menuju THR di Jalan Kusuma Bangsa.

Besok malamnya, sekitar pukul 20.30, Purwanto mengenakan jaket doreng berkunjung ke Wisma Sumber Rejeki, bersama tiga anak buahnya. Dia duduk di tengah para PSK yang sedang mejeng di ruang tamu atau akrab dikenal sebagai ''akuarium''. Dia minum sampai mabuk.

Pukul 23.30, Rose mendapati Purwanto keluar kamar. Dari mulutnya menyembur aroma alkohol. ''Sugeng dalu, Pak (Selamat malam, Pak),'' sapa Mami Rose berbasa-basi. ''He'eh,'' jawab Pur. Pur lalu bertanya soal setoran yang diantarkan kemarin.

''Seperti yang saya sampaikan kemarin, masih ada Rp 20 juta. Kurang Rp 5 juta. Tapi, malam ini tadi ada pemasukan Rp 1 juta,'' kata Mami Rose. Purwanto mendengarkan sambil berbaring di tempat tidur.

Sumiarsih melirik Purwanto yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Heran, kali ini bapak tiga anak itu terlihat lebih sabar. Saat Purwanto mengelurkan sebatang rokok, wanita itu pun membantu menyulut dari korek api miliknya. ''Ora usah kok pikirke kekuranganne, Rose. Tapi, anakmu Wati kekno aku (Tidak usah kamu pikirakan kekurangannya. Tapi, anakmu Wati kasihkan aku),'' katanya enteng.

Mendengar itu, tubuh Rose gemetar. Kakinya mendadak lemes. Seorang bodyguard wisma Sumber Rejeki, Bambang, yang kebetulan melintas heran mengetahui bosnya memegangi kepala. ''Ada apa, Mi, kok pucat,'' tanya Bambang. Tanpa diminta, pria bertubuh kekar itu membopong Mami Rose ke kamar nomor 6 yang malam itu tidak dipakai pelanggan.

(Sejak peristiwa itu, Sumiarsih mengaku terus berusaha menyelamatkan Wati yang berwajah ayu dari Purwanto. Pada 1986, Wati menikah dengan Serda (Brigadir Polisi Dua) Adi Saputro. Namun, Purwanto tak berhenti mengejar Wati. Faktor itulah yang menyebabkan Adi Saputro sangat sakit hati).

Delapan tahun lebih kongsi Purwanto-Sumiarsih di Wisma Sumber Rejeki itu adalah saat-saat yang berat bagi Sumiarsih. Wanita itu sering defisit karena Purwanto selalu meminta setoran tetap dengan nilai yang terus naik tiap tahun. Bahkan, keterlambatan pembayaran pun dikenai penalti bunga.

Puncak kesulitan itu terjadi pada Agustus 1988. Saat itu, setoran bulanan sudah menjadi Rp 30 juta. Angka itu belum memperhitungkan bunga karena sudah melebih tanggal 1. Purwanto memberikan deadline tanggal 15. Sumiarsih tidak kuat lagi. Suatu hari Sumiarsih mengungkapkan rencana jahat kepada Prayit: membunuh Purwanto.

Semula Prayit tidak setuju. Tapi, setelah dimintai pendapatnya langkah apa yang tepat untuk menghindari teror Purwanto, Prayit tak punya pilihan. Lelaki itu pasrah dan menyetujui ide Sumiarsih. Malam itu pula, pukul 19.30 WIB, Mami Rose lantas memanggil kemenakan Prayit, Daim, di meja bartender. Lelaki muda itu dipekerjakan di wisma sebagai pengawas keuangan.

Setelah berada di dalam kamar, Rose meminta tolong agar Daim ikut membantu membunuh Purwanto. ''Kowe lak ya, lara ati ta, Im (Kamu juga sakit hati kan, Im). Yok apa nek (Bagaimana kalau) Pak Pur kita bunuh saja bersama-sama,'' pinta Rose kepada Daim di dalam kamar. Daim sepakat dengan usul Sumiarsih. Sebab, Daim sendiri mengaku beberapa kali dipopor pistol hingga berdarah-darah.

Namun, sebelum keluar kamar, Prayit kepada Daim mengatakan agar minta bantuan Nano, anak Prayit dari istri terdahulu, yang tinggal di Putat Jaya Tembusan, Surabaya. ''Jangan bertindak sendiri-sendiri, tunggu perintah kita selanjutnya, ya,'' kata Prayit lagi. Daim manggut-manggut tanda mengerti.

Pada 12 Agustus 1988, bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur I/2B, Surabaya, rumah Sumiarsih yang lain, mereka berkumpul menyusun strategi pembunuhan. Saat rapat itu, Rose juga memanggil menantunya, Adi Prayitno, yang sedang berada di Surabaya karena urusan dinas. Rapat kecil itu menyepakati menghabisi Purwanto dengan dipukul alu besi.

''Hati-hati, lho. Pak Pur itu tentara. Kuat. Jadi, harus membawa senjata sendiri-sendiri. Kita keroyok ramai-ramai. Kalau tidak, kita yang mati. Dia punya pistol dan juga bisa karate,'' kata Prayit.

Tak seperti yang ditakutkan Prayit. Saat eksekusi pembunuhan terhadap Purwanto (dan empat anggota keluarga yang lain) dilaksanakan di rumah Purwanto, siang hingga sore pada 13 Agustus 1988, hampir tidak ada perlawanan berarti. Para korban, termasuk yang tak berkaitan dengan kongsi rumah bordil, seperti istri dan anak-anak Purwanto, mereka bunuh dengan cara yang sadis.

Wati sendiri tidak menyangka bahwa sang ibu yang dianggap sebagai otak pembunuhan itu berbuat demikian nekat. Sejak Sumiarsih dan kakaknya, Sugeng, dieksekusi mati menyusul suaminya (Adi Saputro) yang terlebih dahulu menghadapi regu tembak, Wati kini hidup sebatang kara. ''Saya tidak mengira ibu tega berbuat itu. Sebab, yang saya tahu, ibu itu berhati lembut,'' katanya.

TAMAT

10 comments:

  1. korban pembangunan tidak merata dan arogansi penguasa.

    ReplyDelete
  2. Membaca kisah ini menjadi teringat betapa tidak adilnya hidup di jaman Orde Baru, di mana oknum militer dan polisi diperlukan untuk menjadi beking berbagai usaha, dari yang di dunia gelap seperti kisah ini, atau di dunia terang sekalipun.

    Pembunuhan memang tidak dibenarkan, tetapi kita bisa memahami kenapa Mami Rose alias Sumiarsih memutuskan untuk menghabisi penindasnya.

    ReplyDelete
  3. Bgmn kabarnya si Wati, anak Bu Sumiarsih?

    ReplyDelete
  4. Banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita ini...

    ReplyDelete