19 July 2008

Setahun bersama Sugeng dan Sumiarsih



Oleh Muhammad Sholeh
Jawa Pos, 19 juli 2008

Saat semua koran memberitakan eksekusi mati terhadap Sumiarsih dan Sugeng, saya teringat pertemanan dengan mereka selama satu tahun di Penjara Kalisosok, Surabaya, (sekarang pindah ke Porong). Ternyata sudah sepuluh tahun saya tidak bertemu mereka. Saya bebas mendapatkan amnesti dari Presiden Habibie pada 1998.

Penjara Kalisosok memang dipenuhi narapidana kasus-kasus besar. Selain Sugeng, ada Sugik (pembunuh empat keluarga Jojoran, Surabaya), Aris (pembunuh istri, anak, dan pembantu kepala cabang BCA Darmo), Nano (adik Sugeng yang divonis penjara 20 tahun), dan Pak Prayit almarhum (suami Sumiarsih). Belum lagi sisa-sisa orang PKI dan napi separatis Papua.

Saya lebih dekat dengan Pak Prayit karena kamarnya berdampingan dengan blok saya. Pak Prayit di Blok D (khusus orang tua dan narapidana yang sakit), saya di Blok E (kamar isolasi) kumpul dengan Sugik dan Aris. Saya masih terkenang dengan panggilan sayang orang tua itu kepada saya.

***

Kami sering bertukar pikiran soal politik, ekonomi, hingga kasus pembunuhan Letkol Purwanto (13/8/1988). Dalam setiap minggu, Pak Prayit selalu mengajak badminton meskipun bukan badminton sungguhan, mengingat usia beliau sudah lanjut. Pak Prayit akhirnya meninggal sebelum regu tembak mengeksekusinya.

Sekalipun dalam keseharian bergaul dengan para pembunuh yang oleh media dijuluki berdarah dingin, di Kalisosok hal itu tidak pernah tampak. Semuanya seperti layaknya manusia yang lain. Mereka juga menjalankan salat, bercocok tanam, hingga membuat karya seni. Banyak orang tidak tahu bahwa Sugeng itu pandai membuat kaligrafi Arab. Jika disandingkan dengan produksi pesantren, karyanya belum tentu kalah.

Saya biasa memanggil Sugeng dengan sebutan Mas karena umurnya jauh di atas saya. Selama satu tahun hidup dengannya, belum pernah saya melihat Sugeng bertengkar dengan narapidana lain. Menyandang status hukuman mati menjadikan Sugeng disegani napi lain. Tetapi, Sugeng tidak pernah memanfaatkan reputasi besar tersebut.

Dalam pengamatan saya, kasus pembunuhan itu dibagi menjadi dua. Pertama, mereka yang membunuh sebagai bagian dari perilaku kekerasan, misalnya perampok yang membunuh korbannya. Kedua, pembunuhan yang dilakukan dalam kondisi gelap mata. Misalnya, Sugeng, Aris, Sugik, dan Pak Prayit. Hal itu mudah diamati.

Kelompok kedua tersebut -sebelum terkena kasus- tidak punya catatan kriminal, seperti Sugik (tukang becak), Aris (mandor bangungan). Ketika di penjara, mereka tidak suka bertengkar, tidak suka ngompas, dan saat tidak punya uang pun hanya berdiam diri di kamar.

Itu berbeda dengan kelompok pertama, yang kriminalitas adalah kehidupan mereka. Di dalam penjara, mereka masih saja suka ngompas, minum, dan bikin kacau.

Preman-preman itu paling takut berhadapan dengan napi hukuman mati. Bagaimana tidak takut, mau bunuh sepuluh orang lagi pun, hukumannya tetap hukuman mati.

Suatu saat saya melihat Sugik bertengkar dengan preman. Karena marah, Sugik mengambil batu dan mengejar preman itu. Jika preman tersebut tidak lari, tentu kepalanya sudah ditimpuk batu oleh Sugik.

***

Saat beberapa kali saya besuk, Sugeng kelihatan tegar. Dia masih bisa membesarkan hati para pembesuknya. Bagaimana tidak, ajal sudah di depan mata. Setiap manusia pasti mati, entah besok, lusa, atau minggu depan. Tapi, buat Sugeng dan Bu Sumiarsih, ajal tinggal menuggu jam. Tentu, orang yang sudah merasa kenal baik pun iba melihatnya.

Saya tidak punya kepentingan terhadap eksekusi hukuman mati Sugeng maupun Bu Sumiarsih. Tetapi, setahun bersama mereka di Penjara Kalisosok mengajarkan kepada saya tentang pentingnya kasih sayang antarsesama manusia. Manusia itu memang tempat salah dan lupa.

Saya pun sedih atas eksekusi mati terhadap mereka. Apalagi melihat wajah Sumiarsih, seorang ibu yang sudah renta, tidak dieksekusi pun, mungkin ajal juga tidak lama lagi pasti datang.

Saat Astini dieksekusi mati beberapa tahun lalu, saya juga bersedih karena saya berteman dengan dia cukup lama ketika sama-sama tinggal di Rutan Medaeng. Astini bahkan pernah berjasa kepada kami ketika Penjara Medaeng terbakar. Saat itu sekelompok preman hendak memerkosa Dita Sari (tapol PRD). Astini dengan berani menggagalkan upaya pemerkosaan itu.

Masyarakat mendukung eksekusi mati Sumiarsih dan Sugeng hanya melihat dari sisi perbuatan kejamnya, bukan melihat sisi kehidupan mereka setelah dipenjara.

Pendapat saya, kenapa kita tidak memberi kesempatan Sumiarsih dan Sugeng bertobat dan beribadah sebanyak-banyaknya. Toh, keduanya telah menjalani 20 tahun penjara. Bukankah selama dipenjara mereka telah dibina dan membantu pembinaan terhadap napi lain. Artinya, kehidupan mereka jauh lebih bermanfaat daripada dieksekusi mati.

Biarkan Tuhan nanti yang menghukum mereka. Sebab, persoalan mati itu menjadi wewenang mutlak Tuhan, bukan jaksa, bukan hakim, apalagi regu tembak.

Muhammad Sholeh , mantan napi PRD di Kalisosok 1996-1998, sekarang advokat PDIP Surabaya

No comments:

Post a Comment