16 July 2008

Pilgub NTT dan setimen suku-agama



Pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur sudah selesai dan hasilnya sudah kita ketahui bersama. Frans Lebu Raya-Esthon Foenay unggul dengan perolehan suara 772.263 atau 37,34 persen. Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa 711.116 atau 34,41 persen. Gaspar Parang Ehok-Julius Bobo 584.082 atau 28,25 persen. Pemilih tedaftar 2,65 juta.

Berbeda dengan pilkada di Jawa, pemilihan gubernur NTT diwarnai sentimen primordial yang kental. Faktor suku, agama, denominasi gereja, pegang peranan. Data Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan, 70 persen warga Katolik memilih Frans Lebu Raya. Pak Frans ini ketua PDI Perjuangan NTT, beragama Katolik, berasal dari Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

Sebaliknya, 80 persen jemaat Protestan pilih Ibrahim Agustinus Medah yang Protestan. Jarang ada orang Katolik yang memilih calon Protestan, dan sebaliknya. Politik segregasi agama dan etnis memang diterapkan penjajah Portugal sejak 1556. Kemudian dilanjutkan dengan sistematis oleh Belanda. Flores, Belu, Timor Tengah Utara didesain sebagai zona Katolik. Sisanya Protestan.

Setelah menjadi provinsi sendiri pada 20 Desember 1958, segregasi dan politik etnis ini masih bertahan secara informal. Orang Katolik dan Protestan sulit melebur. Kalau ada kasus pencemaran hosti di Flores, misalnya, pasti orang Protestan yang dicurigai. Teman-teman Protestan asal NTT yang kuliah di Jawa pun sangat senang menyerang doktrin Katolik berdasar 95 pasal Martin Luther versi 1517.

Padahal, doktrin resmi Katolik sudah mengalami perubahan yang mencolok, khususnya pasca Konsili Vatikan II [1962-1965]. Saya sendiri capek meladeni serangan yang terkesan nyinyir dari para murid Tuan Martin Luther, Tuan Kalvin, dan sejenisnya itu.

Pelajar Katolik di Kupang--mayoritas Protestan--tidak mendapat pelajaran agama Katolik di sekolah. Biasanya, pelajaran agama sore hari. Padahal, jumlah pelajar Katolik tidak sedikit. Sebaliknya, di Flores tidak ada pelajaran agama Protestan. Siswa yang beragama Protestan, ya, silakan cari guru di luar. Aneh, memang, di era keterbukaan dan globalisasi ini sekat-sekat agama dan suku tetap saja kokoh di NTT. Hampir tidak ada perkawinan campur Katolik dan Protestan. Padahal, di Jawa, perkawinan beda gereja [Katolik-Protestan] hampir terjadi setiap hari.

Menjelang hari-H pencoblosan, saya kirim SMS kepada Pius, teman di kampung halaman, Flores Timur. "Pilgub ini kamu pilih siapa? Calon mana yang kuat di Flores Timur dan Lembata?" tanya saya.

"Frans Lebu Raya. Dia unggulan kami. Semua penduduk di sini pasti pilih Pak Frans."

"Pak Frans kan sudah pernah jadi wakil gubernur. Pejabat lama. Siapa tahu kebijakannya merugikan rakyat atau melenceng? Apa tidak ada calon lain yang bagus?"

"Kamu di Jawa tahu apa? Ini NTT, bukan Jawa. Pak Frans nepe lewun Adonara Timur, tite hama-hama Lamaholot. Ata kiwanen. Bae sonde bae tite musti pile Lamaholot alawen. Mo ake lupang, tite pe lewo tou: Lamaholot!" tegas sahabat lama ini. [Pak Frans itu orang Adonara Timur, sama-sama suku Lamaholot. Katolik. Baik tidak baik, kita mesti pilih orang Lamaholot. Kamu jangan lupa, kita itu satu kampung: Lamaholot!]

Pada saat pencoblosan, saya berada di Sidoarjo. Tiba-tiba datang SMS dari Kupang. Aha, adik kandung saya Vincentia, guru di Kupang. "Kami tetap menjagokan Pak Frans Lebu Raya. Na Adonara lewun, hama-hama Lamaholot. Sare le take, kame musti pile titen alawen. Pak Frans pasti menang!" tegas Vincentia.

Kalimat dalam bahasa Lamaholot [Flores Timur] ini intinya warga Flores Timur, Lembata, dan Alor yang dikenal sebagai etnis Lamaholot sudah bulat mendukung Pak Frans. Pertimbangannya bukan kinerja, prestasi, antikorupsi, cerdas, dekat rakyat, dan sejenisnya. Tapi karena sama-sama Lamaholot!

"Pak Gaspar Ehok kan bagus juga? Namanya cukup populer?" pancing saya.

"Sonde! Sonde bisa! Pak Gaspar pe Manggarai lewun. Ata alawen. Tite toi ketun hala. Kame tetap pile Pak Frans Lebu Raya!"
tegas si adik.

[Pak Frans itu orang Manggarai. Kita tidak begitu kenal. Maka, kami tetap pilih Pak Frans Lebu Raya!] Pak Frans ini punya visi mengikis sentimen primordial di NTT yang dinilai tidak sesuai dengan tuntutan modernisasi. Tapi, kita tahu, visi besar ini kalah dengan sentimen suku-agama yang sudah berakar di NTT. Malamnya, saya lihat di televisi orang-orang Lamaholot berpesta ria setelah hasil hitung cepat alias quick count menyatakan Pak Frans Lebu Raya menang.

"Ina, Ama, Kaka, Ari, Opulake, Anaopo... teti Kupang hedung mura-rame. Ra musti poro ewang nawung, behing tuak sampe hogo hulemen! Hehehe....,"
kata saya dalam hati.

Sebagai orang Lamaholot, saya tentu senang karena salah satu tokoh kami berhasil menduduki jabatan gubernur NTT hasil pemilihan langsung. Sebelumnya Pak Hendrikus Fernandez dari Larantuka--juga Flores Timur, tapi dianggap 'kurang Lamaholot' karena berbahasa Nagi [Melayu Larantuka]--menjabat gubernur NTT. Tapi Pak Hendrik naik di era Orde Baru ketika parlemen masih disetir eksekutif. Di sisi lain, saya gamang dengan kentalnya sentimen suku-agama dalam pemilihan gubernur NTT.

Kenapa? Sentimen primordial sangat merusak asas meritokasi di alam demokrasi. Orang dipilih pertama-tama bukan karena kemampuan, kapabilitas, melainkan "tite alawen" alias orang kita. Sekalipun koruptor, karena orang kita, ya dipilih. Sekalipun kurang mampu, karena "tite alawen" ya dicoblos gambarnya. Sekalipun hebat, bersih, sederhana, karena "orang lain" [ata lewun], ya, tidak dipilih.

Quo vadis, Flobamora?

Kornelis Kewa Ama menulis di KOMPAS 14 Juli 2008: "Masyarakat apatis terhadap figur dari suku dan agama lain. Mereka menilai calon dari suku dan agama berbeda tidak akan memperhatikan nasib warga dari suku dan agama lain."

Kata kuncinya adalah TRUST. Mengapa Indonesia tidak maju-maju? Jawabnya: masyarakat kita tergolong LOW TRUST SOCIETY menurut tesis Francis Fukuyama. Nah, menyimak berbagai indikasi yang ada, bisa jadi masyarakat NTT itu berada di level NO TRUST SOCIETY! Yah, tambah sulit majunya!

KREDIT FOTO: http://lamalekasiadonara.blogspot.com/

6 comments:


  1. .. Pelajar Katolik di Kupang--mayoritas Protestan--tidak mendapat pelajaran agama Katolik di sekolah...


    Setahu saya, pelajaran agama di sekolah swasta tergantung pada yayasan yang mengelola sekolah tersebut. Kalo yayasan katholik, berarti pelajaran agamanya ya pelajaran agama katholik. Kalo yayasan protestan, pelajaran agamanya protestan.
    Sedangkan sekolah negeri tetap melaksanakan pelajaran agama sesuai keyakinan murid.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Bung Peter,
    Ini pengalaman saya ketika menjadi mahasiswa titipan di SMAN 1 Kupang selama hampir dua bulan. Waktu itu kepala sekolahnya, Pak Abd Kadir Goro. Kami, siswa Katolik, pelajaran agama di luar jam pelajaran resmi. Sore hari.
    Mudah-mudahan sudah ada perubahan. Waktu pindah ke SMAN Malang--hanya 6 non-Islam dari 42 siswa--kami bisa pelajaran agama pada jam sekolah, kumpul sama teman-teman dari kelas lain. Ini sekadar perbandingan saja.

    ReplyDelete
  3. bung, jangan2 krn itu flores mau jadi provinsi sendiri. apa krn beda agama? salam.

    ReplyDelete
  4. I think regionalism is still very strong in NTT while you are still in. However when you are out of NTT you feel so united or bonded as being part of NTT. Fanaticism is still strong in NTT when it comes to religion. We cannot blame this to anyone because we are in the transition stage from a close society to an open society. I think changes in society have occurred, new cultures – new point of views – have emerged including how we look at other traditions and culture also has changed. We have come across with various people ethnic groups, the process of integration of various culture may bring about new realization and insights. The danger however if one does not capability to adapt then s/he may lost his / her direction in midst of rapid change in our society. So, the key for people to be in tune with the rapid changes is to be always updated about information. One therefore must continue to learn and unlearned. Openness therefore becomes a great trait in learning. Without this we remain closed. Franskupangujan (olan444@yahoo.com.ca)

    ReplyDelete
  5. Soal Pilkada Gubernur NTT kemarin terus terang : isu primordial masih menjadi faktor yang sangat kuat bagi masyarakat kita dalam memberikan pilihan politiknya dan bukan faktor integritas, kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin NTT. Yang terjadi kemarin adalah masih memilih Gubernur Adonara dan bukan Gubernur NTT.Arus perubahan belum menjadi wacana kuat pada saat Pilkada kemarin. Akibatnya kita hanya memilih birokrat yang sebenarnya sudah tahu bobroknya birokrasi pemerintahan, merajalelanya korupsi,korupsi dan nepotisme tetapi tidak bisa berbuat banyak karena mereka sendiri diuntungkan dengan situasi seperti itu dan sungkan mengambil tindakan tegas karena politik balas budi dan pertemanan tadi,yang kemudian menguat dalam bentuk sikap primordial tersebut.
    Bayangkan saja di NTT, masalah seperti busung lapar,gizi buruk,kualitas pendidikan merosot,infrastruktur pembangunan sangat minim,pelayanan publik amburadul, pendapatan perkapita penduduk sangat rendah dari propinsi lain,tetapi masalah seperti ini tidak pernah tuntas, sementara korupsi justru tumbuh subur di NTT.
    Dana Alokasi Umum dan Khusus mengalir terus ke NTT tetapi pembangunan jalan di tempat. Jadi kalau 5 tahun ke depan NTT masih tetap seperti ini maka yang salah tidak hanya Gubernur terpilih tetapi masyarakat kita juga harus diminta pertanggungjawaban karena salah dalam memilih pemimpin yang kapable,integritas,visioner, dan yang punya spiritualitas hidup yang kuat.
    Tugas kita memang belum selesai.Pendidikan politik harus terus dibangun untuk membebaskan masyarakat kita dari sikap-sikap yang mengarah kepada primordialisme, yang untuk sesaat tampak baik tetapi malah berakibat fatal bagi masa depan masyarakat NTT secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  6. Delis Lein, terima kasih, no so kasih komentar di kita pu blog.

    "Yang terjadi kemarin adalah masih memilih Gubernur Adonara dan bukan Gubernur NTT." Pak Frans Lebu Raya harus bisa membuktikan bahwa dia benar-benar gubernur NTT, bukan hanya memperhatikan Adonaranya. Salam!!!

    ReplyDelete