07 July 2008

Makan-makan di G-Walk Surabaya



Minggu, 6 Juli 2008. Selepas menyaksikan festival perkusi di G-Walk, saya jalan-jalan mengitari pusat makanan kelas atas itu. Jalan sepanjang 600-an meter itu sangat ramai. Mobil-mobil berseliweran. Orang ramai-ramai bersantai sambil makan-makan. Maklum, G-Walk dikenal punya banyak menu yang enak.

"Seperti apa sih rasanya makanan di G-Walk? Lebih enak atau sama saja dengan di depot atau restoran biasa? Harganya bagaimana?" pikir saya.

Maka, malam itu saya menjajal dua tempat karena penasaran. Seumur-umur saya belum pernah makan di G-Walk. Padahal, tempat elite di CitraRaya, Surabaya, ini sudah lama berdiri. Banyak orang membicarakannya dengan kagum dan bangga. "Anda ketinggalan kalau belum mencoba makanan di G-Walk. Tempatnya kayak di Singapura, The Singapore of Surabaya," kata teman saya.

Singapuranya Surabaya, begitu slogan yang selalu dikumandangkan pengelola CitraRaya. Dan, memang, kawasan ini sangat bersih, hijau, tertata apik, dengan begitu banyak karya seni berkelas. Pak Ciputra, begawan real estat, berada di balik keanggunan CitraRaya. Kata teman-teman asli Surabaya, dulu kawasan ini tandus, belukar, sangat buruk pemandangannya. Tempat jin buang anak. Tapi Pak Ciputra berhasil menyulapnya menjadi tempat hunian paling elok di Jawa Timur.

Saya pun mampir ke depot ayam goreng. Layanannya bagus, ramah, dan cepat. Rasa ayam gorengnya? Hehehe... biasa saja. Tidak lebih baik daripada di warung kaki lima. Bahkan, masih lebih nikmat di kawasan Aloha atau Sidoarjo. "Sekarang agak sepi, Mas. Banyak yang tutup karena pengunjung berkurang. Namanya jualan, ya, kadang ramai kadang sepi," kata pemilik depot menjawab pertanyaan saya.

Makanan sudah masuk dengan selamat ke dalam perut saya. Tiba giliran saya untuk membayar. Ayam goreng Rp 9.000. Nasi putih Rp 2.500. Es teh manis Rp 2.500. Total Rp 14.000. Lumayan! Makan nasi ayam goreng yang tak seberapa enak itu habis empat belas ribu rupiah.

Sepuluh pemusik patrol asal Jember masih melanjutkan pergelaran di panggung terbuka G-Walk. Kualitas grup ini biasa-biasa saja. Nyanyi Bokong Semok untuk mengundang tawa hadirin, tapi tidak berhasil. Irama patrol terasa monoton, sehingga penonton kurang antusias. Banyak kursi mulai kosong. Tapi saya mencoba menikmati kesenian tradisional ini. Lalu, konser perkusi bubar!

Jalan-jalan lagi ke bagian lain G-Walk. Di sini jauh lebih ramai. Para penjual pun terlihat lebih semangat. Sate rupanya menjadi makanan favorit, sehingga ludes meski belum larut malam. "Sampean datangnya kurang sore sih. Sate ayam, sate kambing, itu memang cepat habis. Wong, wuakeh sing goleki," kata pelayan dengan logat Surabaya kental.

Apa boleh buat, saya pun menjajal soto ayam Bokhlan. Si pelayan bilang soto ayam jualannya enak, rasanya beda. "Pakai telur muda lho," katanya.

"Minta paha apa dada?" tanya si gadis pelayan.

"Paha saja. Saya kurang suka dada," jawab saya sekenanya.

Layanan di sini pun cepat, lancar. Tak sampai 10 menit soto ayam plus nasi putih sudah diantar. Saya pun menikmati makanan itu. Rasanya? Hehehe.... Tidak berbeda dengan soto di kaki lima atau warung biasa. Tidak ada yang khas. Malah, menurut saya, soto madura masih lebih enak ketimbang soto ayam di G-Walk ini. "Mbak, bayar!" kata saya agak keras.

Daftar harga pun datang. Soto ayam Rp 20.000. Nasi putih Rp 3.000. Es teh manis Rp 3.000. Total 26.000. Satu porsi soyo ayam Rp 26 ribu. Bandingkan dengan soto ayam langganan saya yang hanya Rp 6.000 plus es teh manis. Perbedaan harga antara G-Walk dan warung biasa memang sangat signifikan.

Toh, saya melihat makin lama pengunjung makin banyak. Harga bukan soal untuk masyarakat kelas atas yang mobilnya bagus-bagus itu. G-Walk pertama-tama menjual gaya hidup, nuansa modern, elite, kelas atas, ala Singapura. Maka, kalau Anda masih sensitif soal harga, rasa makanan, ya, G-Walk bukan tempat yang cocok untuk Anda. Cari saja makanan di tempat lain yang mungkin lebih enak dan murah.

Gitu aja kok repot!

5 comments:

  1. thanks atas info n sharingnya.

    ReplyDelete
  2. gak menarik g walk. tempatnya aja yg di citraland. semrawut kayak kaki lima.

    ReplyDelete
  3. Kalo saya ya pilih dada, Mas.
    Haha...

    ReplyDelete
  4. hehe neh yang di cari info harga bos

    kunjungi balik yah
    http://duniaberbagi.com

    ReplyDelete
  5. Kenapa rasa2 makanan rata2 sama saja .. tidak ada yg uenak sekali. Contohnya, kalau saya mencoba resto2 yg dikerubuti orang kok rasanya biasa2 saja. Seperti ikan bakar Cianjur di bali, ikannya baik bakar or goreng disajikan dingin dan hambar..enakan ikan bakar pinggir jalan..hangat dan berbumbu

    ReplyDelete