10 July 2008

Andrew N Weintraub profesor dangdut



Prof Andrew bersama Ida Laila dan A Malik Bz.



Andrew bersama Ali Alatas dan Rhoma Irama di teras Hotel Hyatt Surabaya, 9 Juli 2008.

Gara-gara sering menulis catatan ringan tentang musik di blog ini, Prof Andrew N Weintraub PhD menghubungi saya untuk membantu dia mengumpulkan informasi tentang perkembangan musik melayu-dangdut di Indonesia. Ah, saya dikira pakar atau pengamat musik jempolan. Hehehe....

Setelah kontak beberapa kali lewat e-mail, saya akhirnya bertemu muka dengan Prof Andrew. Orangnya gaul, ramah, telaten, dan sangat profesional sebagai peneliti dari Universitas Pittsburgh. Saya terkesan dengan cara kerjanya yang detail, mendalam, dan sangat menjaga akurasi dan objektivitas.

"Sebagai peneliti, saya harus selalu netral," kata Pak Botak ini kepada saya.


Adakah pakar Indonesia yang serius meneliti musik dangdut?

Prof Andrew N Weintraub PhD dari Pittsburgh, Amerika Serikat, bukan saja mengkaji dangdut, tapi juga tergila-gila dengan dangdut. Dia punya Dangdut Cowboys, band khusus dangdut.


Rabu 9 Juli 2008, Andrew N Weintraub berada di Surabaya untuk menemui para personel Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala, salah satu pelopor musik melayu-dangdut di Indonesia. Sejak lama profesor musik di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, ini memang bercita-cita menulis text book yang membahas perkembangan musik dangdut secara komprehensif.

Maka, Andrew berkeliling ke Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, Banjarmasin, dan tak ketinggalan Surabaya. Surabaya dianggap penting karena di sini ada OM Sinar Kemala pimpinan Abdul Kadir yang pernah berjaya hingga 1970-an. Grup dengan vokalis antara lain Ida Laila, Nur Kumala, S Achmady, dan A Rafiq ini memopulerkan lagu Keagungan Tuhan karya A Malik Bz.

"Jadi, saya harus wawancara dengan anggota Sinar Kemala," ujar Andrew N Weintraub.

Mula-mula Andrew ingin menemui masing-masing personel OM Sinar Kemala di rumahnya masing-masing. Tapi Rhoma Irama, ketua umum Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia, keberatan. "Lha, kalau datang ke rumah satu per satu, kapan selesainya?" kata Rhoma Irama.

Karena itu, Bang Haji yang sedang punya acara tur ke Jawa Timur ini berinisatif mengumpulkan para personel Sinar Kemala di Hotel Hyatt Surabaya. Gayung pun bersambut. Sedikitnya sembilan personel Sinar Kemala bisa berkumpul kembali setelah bertahun-tahun sibuk sendiri.

"Sejak Pak Kadir meninggal, Sinar Kemala memang vakum. Kami juga sudah sepuh sehingga tidak mungkin manggung kayak dulu. Ida Laila malah sudah jadi ustadzah," ujar A Malik Bz, pencipta sejumlah hits OM Sinar Kemala.

Didampingi Rhoma Irama, Prof Andrew N Weintraub mencoba mengorek ingatan para dedengkot musik melayu yang rata-rata berusia di atas 60 tahun itu. Andrew sendiri sudah punya banyak referensi tentang perkembangan musik populer di Indonesia sejak 1950-an sampai sekarang. Dengan telaten, Andrew meminta para personel OM Sinar Kemala mengingat gaya musik, aransemen, pengaruh musik asing (India, Arab, Malaysia, Barat) pada 1960-an.

"Apakah waktu itu sudah pakai suling bambu?" tanya Andrew.

Sebelumnya, musikolog yang pernah tinggal selama lima tahun di Bandung ini memutar rekaman OM Sinar Kemala.

"Wah, ternyata Anda punya koleksi lagu-lagu kami. Padahal, di Indonesia sendiri jarang ada yang punya," tukas A Malik Bz. Menurut Malik, dulu OM Sinar Kemala tidak menggunakan suling bambu, melainkan piccolo. Kemudian, dalam perkembangannya, orkes-orkes melayu beralih ke suling bambu.

"Kenapa?" kejar Andrew.

"Soalnya, lebih merdu. Apalagi, setelah musik melayu mulai terpengaruh gaya India," tambah Abubakar, personel OM Sinar Kemala, yang kemudian membentuk OM Kenanga.

Andrew N Weintraub juga menanyakan asal muasal istilah dangdut. "Apakah pada era Sinar Kemala istilah dangdut sudah dipakai?" tanya Andrew.

Para personel Sinar Kemala menjawab belum. Bahkan, sebelum 1970, musik yang dimainkan grup-grup terkenal macam Sinar Kemala, Bukit Siguntang, Tjandraleka, Kelana belum punya nama. "Gampangnya, ya, irama melayu. Yang memperkenalkan istilah dangdut, ya, Bang Haji ini," ujar Malik Bz sambil menepuk pundak Rhoma Irama. Personel Sinar Kemala yang lain pun membenarkannya.

Mereka juga sepakat bahwa Rhoma Irama-lah yang membuat musik melayu sangat populer di Indonesia. Perlahan-lahan istilah dangdut pun meluas ke mana-mana. Namun, yang menarik, grup-grup dangdut sampai sampai sekarang masih menggunakan embel-embel OM, singkatan orkes melayu. "Saya sendiri sebelum bikin Soneta pada 1970 ikut OM Purnama," timpal Rhoma Irama yang dikenal sebagai 'raja dangdut' itu.

Andrew N Weintraub puas karena berhasil menggali banyak informasi tentang melayu-dangdut di Surabaya. Dia berencana menulis buku kajian ilmiah tentang dangdut sebagai rujukan universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia. "Cetakan pertama nanti sekitar seribu eksemplar," kata pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Ali Alatas, penyanyi yang memopulerkan lagu Rindu, geleng-geleng kepala melihat ketekunan Andrew menggali sejarah melayu-dangdut. Dia tak menyangka kalau Andrew mengoleksi begitu banyak lagu dangdut sejak 1950-an hingga sekarang. Ironisnya, orang Indonesia sendiri hampir tidak pernah mengangkat musik melayu-dangdut sebagai karya ilmiah.

"Yang jelas, suatu saat nanti orang Indonesia perlu ke Amerika kalau ingin belajar dangdut," ujar Ali lantas tertawa kecil. (*)

9 comments:

  1. yah, kita perlu ambil hikmah. org luar emang lebih peduli budaya kita.

    ReplyDelete
  2. yah.. peneliti, prof kita, kan gak punya duit. makanya rame2 jadi politisi. payah deh.

    ReplyDelete
  3. Waduh waduh....

    Koq yang punya minat besar sampe2 meneliti musik asli Indonesia ini malah orang Bule ya...???

    Inilah negara kita, kalo udah ada negri lain yang mengambil budaya negeri ini, baru-lah kita bergerak.

    hehe... inilah Negeri Kita

    Bos... Salam kenal ya... :)

    Hidup DANGDUT... Hidup INDONESIA...

    ReplyDelete
  4. aq juga bingung kok peneliti kita, perguruan tinggi kita, pada ke mana ya?

    ReplyDelete
  5. duh salut deh buat prof. andrew.... keep spirit.... salam saya dari penggemar dangdut melayu..... ojan bujang purayu

    ReplyDelete
  6. Jangan Ke GE-Eran loe pada.
    Peneliti memang jadi profesi yg menghasilkan uang yg lumayan. terutama Amerika/US yg dana penelitiannya besuuaaarrrrr sekali. jadi jgn heran mereka suka meneliti apa aja, bahkan yg enggak terfikir sama kita. krn memang mereka dirangsang untuk meneliti agar menghasilkan uang. ya sejalan lah dengan idealisme menelitinya para akademisi mereka.

    ReplyDelete
  7. halo, Mas dan Mbak (=

    lagi iseng nggugel Om Andrew gara2 ga sengaja nemu bukunya, eh, nyasar ke sini.

    cuma mau urun pendapat...

    pertama, saya nggak setuju kalo dibilang akademisi Indonesia nggak peduli. bangsanya sendiri. masalahnya, ngadain penelitian itu muwahal. dan dana APBN ndak bisa nalangin. apalagi sekarang pendidikan tinggi juga udah swadaya. agak ironis makanya, ketika pintu untuk ngadain penelitian itu malah terbuka lebar dari korporasi asing yg bakalannya ngeruk kekayaan Indonesia sendiri. saya tau itu karena kerjaan saya sebagai freelance translator (setengah) profesional bikin saya pernah nerjemahin laporan tentang suku anak dalam buat salah satu perusahaan minyak asing yg perlu "intel" buat community development sebelum mereka buka lapak di sana.

    kedua, ngambil budaya? ah, kejauhan. seperti batik, dangdut itu kan pengaruh Melayu. batik pun nyebar di negara2 tetangga yg serumpun, bahkan sebenernya sampe Australia (tapi mereka kenalnya tie-dye, yg kalo di kita jadi jumputan). sumbunya jangan kependekan ah. jangan kecepetan dipancing juga.

    ketiga, kenapa kebanyakan orang asing yg lebih tertarik budaya kita? generally karena mereka nggak punya apa yg kita punya. karena itu mereka tertarik.

    udah sih, itu aja. maap2 kalo berasa nyampah (=


    terima kasihhh...

    ReplyDelete
  8. di barat ada insentif utk peneliti. dan mereka punya budaya ilmiah yg sangat kuat. beda dg kita yg banyak sarjana n peneliti papan nama, cuma pasang gelar doang. makanya indonesia sulit maju.

    ReplyDelete
  9. dosen di USA digaji mahal sehingga gak pikir urusan dapur, beda dg kita bro..

    ReplyDelete