01 July 2008

Aku masuk UGD William Booth

Sehat itu penting. Dan kita baru benar-benar menyadari betapa pentingnya kesehatan ketika sakit. Gara-gara sakit, saya tidak bisa memutakhirkan naskah di blog ini. Bisa menulis, tapi tidak konsentrasi. Tidak ada semangat. Maka, apa boleh buat, produktivitas saya tidak seperti biasanya. Agar kelihatan 'ramai', saya terpaksa mengutip beberapa naskah teman.

Harap maklum!

Musim pancaroba ini ternyata dibarengi dengan penyebaran virus influenza [flu]. Banyak teman yang sakit. Saya yang biasanya paling lama sakit flu tiga hari, tahun ini menyerah. Sakit 10 hari lebih. Tapi--untung--masih tetap kerja seperti biasa. Badan panas, demam, macam orang kedinginan. Syukur, flu pelan-pelan hilang berkat makan banyak [walaupun tidak selera] dan konsumsi vitamin C dosis tinggi.

Belum tuntas flu, saya keracunan makanan. Pencernaan terganggu. Sakit perut luar biasa. Usus seperti melilit, berputar, tapi sulit buang air besar. Keringat dingin. Sebentar-sebentar ke toilet, tapi tidak bisa keluar. Wah, sengsaranya minta ampun. Lalu, muntah-muntah. Dalam satu dua jam saya muntah sekitar delapan kali. Makanan yang dimakan tadi--saya curiga mengandung mikroba berbahaya--keluar semua. Lemaslah badan.

Saya harus bikin keputusan. Tidak bisa mengeluh saja. Saya langsung cabut dari kantor, kira-kira pukul 23:00 WIB, menuju ke Rumah Sakit William Booth di Jalan Diponegoro Surabaya. Masuk Unit Gawat Darurat alias UGD. UGD? Ya. Tengah malam begini tidak ada klinik atau dokter praktik yang buka. UGD pilihan terbaik meskipun terdengar gawat.

"Lho, yang sakit siapa? Siapa yang antar?" tanya perawat. Dua perawat manis di William Booth menyambut saya dengan ramah.

"Saya sendiri. Mungkin saya keracunan. Perut saya muter-mute gak karuan. Sulit berjalan, tapi saya paksakan saja daripada mati," ujar saya sekenanya. Lalu, petugas rumah sakit milik Bala Keselamatan itu menangani saya seperti pasien gawat darurat umumnya. Ramah, lincah, profesional. Dokter--usia 40-an--menangani saya. Perutku ditepuk-tepuk.

"Oh, kembung. Memang ada yang tidak beres," kata Bu Dokter.

"Mau disuntik?" tanya dokter.

"Maaf, Dok, saya takut disuntik. Sudah belasan tahun saya tidak pernah disuntik."

"Ya, sudah, saya kasih resep saja. Obatnya segera diminum ya?"

Kesibukan di kamar UGD pun selesai. Dengan langkah gontai saya berjalan ke konter khusus menunggu tiga macam obat yang diresep. Obat sakit perut, penawar muntah, dan satu lagi entah apa namanya. Sekitar 20 menit pesanan sudah ditangan. Lalu, kembali ke dua perawat berkostum biru yang tadi menerima saya. Daftar harga pun diberi.

Ongkos UGD Rp 30.000. Tiga macam obat itu Rp 140.000. Total Rp 170.000.

Yah, kesehatan memang mahal. Bayangkan kalau saya hanya merintih kesakitan di kamar, tidak berusaha ke dokter, tidak makan obat? Satu jam kemudian segala keruwetan di dalam perut berakhir. Plong!

Terima kasih dokter dan dua perawat UGD William Booth yang telah menyelamatkan hidup saya. Berbahagialah orang yang tidak pernah berurusan dengan dokter dan rumah sakit!

No comments:

Post a Comment