03 June 2008

Sunatha Tanjung rocker jadi pendeta





Melintas di depan Masjid Agung Surabaya saya melihat seorang pedagang kaset-kaset lama. Saya mampir karena memang sejak tahun 200-an saya suka koleksi kaset-kaset lama yang menurut saya punya pengaruh di musik Indonesia. Hati-hati memilih kaset di loakan macam ini karena kondisi barang sudah jelek.

"Kalau rusak bisa ditukar. Tenang saja, Cak," kata si penjual. Rata-rata dijual Rp 5.000 satu kaset. Sangat murah. Padahal, banyak sekali koleksi rekaman artis-artis top masa lalu, Barat dan Indonesia, bisa kita temukan di sana.

Menyimak kaset-kaset lawas ibarat napak tilas sejarah musik industri. Kita juga bisa tahu gaya dandan masa lalu, teknik bermusik, pola lagu, pilihan lirik, hingga latar politik. Sebab, di mana-mana lirik itu selalu aktual dengan zamannya. Jadi, kalau saya banyak menulis cerita-cerita tentang artis atawa band lawas, tidak berarti saya suka band atau artis itu. Ia hanya cermin perjalanan masyarakat pada masa itu.

Tadi, 31 Mei 2008, saya ketemu rekaman lama AKA. Ini grup rock legendaris asal Surabaya pimpinan Ucok 'AKA' Harahap. Pak Ucok saya kenal, pernah omong-omong banyak sama saya. Sekarang dia tinggal di Kediri bersama istri barunya. Ayem tentrem, latihan musik, sambil semedi di kaki gunung. "Apa sih yang kita cari dalam hidup? Usia makin tua, kita perlu lebih dekat pada Sang Pencipta," katanya.

Judul kaset lawas ini: Forever AKA in Rock. Ada 10 lagu yang direkam Ariesta Record, semuanya pakai lirik Inggris. Shake Me. crazy Joe. Groovy. Suez War. Skip Away. Do What You Like. Reflection. Cruel Side. Open Dor. Sky Rider. Pak Ucok menyanyi dengan suaranya yang khas: tebal, pakai vibrasi, ngeblues, jernih. Pada 1970-an hingga 1980-an AKA merupakan grup luar biasa di Indonesia. Ucok suka bikin aksi panggung ala pemain sirkus atau teater.

"AKA itu kalau di panggung main musik untuk mata. Kalau di rekaman, ya, musik dibuat untuk konsumsi telinga," ujar Mbah Ucok Harahap kepada saya. Jangan heran Ucok muda suka jungkir balik di atas pangung, melata di atas tali, salto, dan sebagainya. Penonton heboh. "Sekarang sih masih bisa, tapi gak kayak dulu lagi. Hehehe...," kata putra pemilik Apotek Kali Asin [disingkat AKA] itu.

Selain Ucok Harahap, AKA diperkuat Athur Kaunang (bas, keybards), Sjech Abidin Jeffrie (drum), Soenatha Tanjung (gitar). Setelah Ucok sibuk bersolo karier, AKA bubar. Tiga personel sisanya--Sjech, Arthur, Soenatha--bikin grup baru: SAS.

Kumpulan ini sangat produktif merilis album maupun tampil di atas panggung. Bahkan, beberapa wartawan musik senior menyebut SAS sebagai grup rock Indonesia yang paling banyak bikin album. Benarkah? Silakan dicek lagi.

Beberapa waktu lalu saya bertemu Pak Soenatha Tanjung. Dia bukan lagi bintang rock, gitaris hebat, tapi sudah jadi pendeta. Pendeta Muda Soenatha Tanjung. Dia dipercaya menangani pelayanan musik di Gereja Bethany Surabaya. Kebetulan gereja beraliran karismatik ini memang menggunakan musi pop rohani untuk kebaktian-kebaktiannya. Musik rock, pop ber-beat kencang, sangat populer di Bethany. Lain sekali dengan suasana kebaktian di gereja-gereja Protestan lama macam GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Barat), atau GKI (Gereja Kristen Indonesia).

"Sudahlah, itu semua masa lalu. Sekarang saya menekuni pekerjaan baru. Melayani Tuhan dengan lebih intensif," ujar Pak Soenatha.

Pendeta cum pemusik ini selalu ramah, tersenyum, bicara dengan nada rendah. Sama sekali tidak ada eksan sangar seperti saat main bersama AKA atau SAS sebelum 1990-an. Profesi baru, panggilan baru, gemblengan rohani ala Bethany membuatnya berubah.

"Tuhan yang mengubah hidup saya. Dan saya menemukan kebahagiaan dengan bekerja seperti sekarang. Ingat, popularitas di masa lalu, ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Dulu saya jauh dari Tuhan. Gak pernah ke gereja. Gak berdoa, gak puasa. Saya seperti orang hilang," ungkap Pak Soenatha.

Arkian, sekitar 1987 Soenatha bersama teman-temannya manggung di sebuah kota Jawa Timur. Penonton histeris. Para pemusik makin kesetanan. Tanpa diduga-duga terjadi korsleting. Gitaris hebat ini langsung lumpuh tangan kanannya. Konser pun bubar. Meski ditangani dokter hebat, rumah sakit mahal, tangan Soenatha tak kunjung pulih. Padahal, anggota badan itu sangat penting bagi kariernya.

Bagaimana dia bisa cari makan kalau tangannya tidak bisa dipakai main gitar? "Sejak itu karier musik saya selesai. Sudah waktunya bagi saya untuk istirahat dari hiruk-pikuk industri musik," kenangnya.

Selama mengalami kelumpuhan, Soenatha Tanjung dibesuk para aktivis gereja. Mereka berdoa minta Tuhan memberikan mukjizat penyembuhan. Di pihak lain, Soenatha yang dulu malas berdoa, jarang menyapa Tuhan, semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. "Kelumpuhan itu ternyata merupakan cara Tuhan untuk menyapa saya. Tuhan punya rencana lain atas saya," katanya.

Singkat cerita, suatu ketika, setelah didoakan, tangan Soenatha bisa digerakkan. Kuat lagi seperti sedia kala. Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, Soenatha berniat memberikan diri dan talentanya untuk Tuhan. Gereja Bethany pun tak menyia-nyiakan talenta Soenatha untuk menata music ministry di gereja yang bermarkas di kawasan Nginden Intan, Surabaya, itu. Saya beberapa kali menyaksikan gaya Soenatha Tanjung setelah bergelar pendeta muda. Mainnya tetap ciamik, selalu senyum, sangat menikmati musiknya.

"Kalau dulu saya main musik untuk memuaskan penonton, cari nafkah, cari popularitas, sekarang main musik untuk memuliakan nama Tuhan. Tuhan kita itu sungguh luar biasa. Haleluya!" ujar Pak Soenatha.

Para penyelenggara konser musik nostalgia di Surabaya berusaha mengajak Soenatha untuk reuni bersama Athur Kaunang dan Sjech Abidin. Tidak usaha banyak lagu, cukup beberapa untuk memenuhi keinginan para penggemar rock klasik Indonesia. Arthur--yang juga makin religius, sempat bikin album rohani alias gospel--sudah bersedia. Begitu juga Sjech. Tapi Soenatha tetap bergeming. Dia tetap fokus di Bethany dan menolak manggung lagi.

Soenatha sekarang beda dengan dulu. Lain dengan Ucok AKA Harahap yang masih terus berusaha mencari job ke mana-mana meskipun penggemarnya sudah tidak ada lagi. Juga Arthur yang masik suka mendemonstrasikan kepiawaiannya bermain bas, keyboard, dan menyanyikan nomor-nomor kencang ala classic rock.

Begitulah. Nasib bintang rock Indonesia di hari tua memang berbeda-beda. Ada yang menjadi pendeta atau kiai [macam Gito Rollies atau Hari Moekti], tapi ada juga yang dipenjara gara-gara kasus narkoba macam Achmad Albar.

Rock! Rock! Rock! Yeah!!!!

No comments:

Post a Comment