26 June 2008

Sanggar Alang-Alang Sidoarjo




Kalau di Surabaya ada Didit Hape, di Sidoarjo ada Priyo Utomo. Pria kelahiran Surabaya, 7 April 1957 ini di balik Sanggar Alang-Alang Delta, Sidoarjo. Dialah motor utama penggerak sanggar ini.

Diakui Priyo, komitmennya pada ‘anak-anak negeri’ (alias anak-anak jalanan) tak lepas dari kekagumannya pada sosok Didit Hape. Setelah mengenal beberapa komunitas serupa, di Surabaya, Priyo merasa lebih pas dengan pola pembinaan Didit Hape di Alang-Alang.

Lalu, mereka diskusi, membahas konsep pembinaan... hingga akhirnya lahir komunitas Alang-Alang Delta pada 28 September 2005.

Mula-mula Priyo, ayah tiga anak ini, keluyuran ke alun-alun dan kantong-kantong anak jalanan di Sidoarjo. Menyapa, mengajak bicara, mengenal mereka lebih dalam. Masa orientasi ini dilakukan cukup lama, hingga Priyo benar-benar memahami karakter ‘anak negeri’ Sidoarjo. “Ternyata, berbeda dengan Surabaya. Ada yang khas,’’ cerita suami Syamsiar Rahmayasidi itu kepada saya.

Salah satu kekhasan anak jalanan di Sidoarjo adalah komunitas punk, punkers. Mereka ini bukan anak pengemis-gelandangan, keluarga miskin, melainkan anak orang-orang biasa, bahkan sangat mapan. Beberapa di antara mereka anak pejabat atau pengusaha kaya. Uang, fasilitas, rumah, mobil... mereka punya. Kok?

‘’Katanya mereka mau mencari jatidiri, identitas. Saya juga heran, cari identitas kok mbambung, jadi gelandangan?’’ kenang Priyo Utomo.

Di tahap pendataan ini Priyo berhasil menyapa 37 punkers. Mereka diajak berkumpul, bicara dari hati ke hati, di rumah Priyo, kawasan pinggir Kali Pucang. Klop, karena Priyo yang pemusik bertemu dengan para punkers yang setiap hari main musik atau ngamen di jalanan.

Selain memberikan semacam kursus musik (hasilnya beberapa anak sudah punya band bagus), pelan-pelan Priyo menanamkan empat prinsip Alang-Alang: etika, estetika, norma, dan agama. ‘’Awalnya sulit, tidak semudah membalik tangan,’’ kata mantan anak kolong itu. (Ayah Priyo Utomo perwira tinggi Marinir-TNI Angkatan Laut.)

Kini, komunitas punkers yang dibina di Alang-Alang Delta tercatat 74 orang. Tidak semuanya punkers yang ‘mencari jatidiri’, ada juga anak-anak dari keluarga miskin. Di Alang-Alang Delta, 74 anak ini--harus berusia di bawah 18 tahun, lebih dari itu diharapkan sudah bisa mandiri--masuk dalam kategori pertama.

Membina mereka, kata Priyo, gampang-gampang sulit mengingat ‘tradisi’ menggelandang yan sudah mendarah daging. Mereka kadang-kadang merasa terlalu diatur atau dikekang. Tapi, sesuai dengan empat prinsip Alang-Alang (etika, estetika, norma, agama), hidup menggelandang jelas tidak cocok di Indonesia. Tak heran, mereka jadi cemoohan masyarakat, dirazia aparat keamanan.

Menurut Priyo, hampir semua ‘anak negeri’ ini putus sekolah sejak kelas 4-5 SD. Beberapa anak putus kelas 3, bahkan ada yang buta huruf. Karena itu, Alang-Alang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Sidoarjo menggelar program Kejar Paket A di dalam sanggar.

Program ini dilakukan tiga kali sepekan dengan tutor (guru) yang disahkan dinas. Sehingga, setelah ikut Kejar Paket ‘anak-anak negeri’ mendapat ijazah setara SD. Mereka bisa melanjutkan ke SLTP (biasa) atau Kejar Paket lanjutan.

Skill bermusik ‘anak-anak negeri’ juga terus diasah. Didukung beberapa warga, Alang-Alang membuat sebuah studio musik, namanya Studio Alam. Berbagai instrumen standar band tersedia, sound-system lumayan, Priyo ingin mendidik mereka menjadi pemusik profesional. Priyo tak ingin anak-anak asuhnya mengamen ala pengemis jalanan, tapi bermusik secara profesional di kampung-kampung.

Selain membina anak-anak jalanan), Alang-Alang Delta menjadi wahana bagi anak-anak ‘ratu’. Mereka berasal dari keluarga mapan, anak pejabat, termasuk keponakan menteri.


MENURUT Priyo Utomo, bos Alang-Alang Delta, munculnya anak-anak ‘ratu’ ini karena perkembangan di lapangan setelah sanggarnya eksis di sidoarjo. Tadinya, Priyo hanya ingin fokus apada anak-anak ‘negeri’, khususnya punkers. Mereka diberi kursus musik, kejar paket A, serta empat prinsip Alang-Alang (etika, estetika, norma, agama).

Eh, setelah Alang-Alang Delta berjalan, beberapa anak dari tokoh yang selama ini peduli dengan Alang-Alang tertarik untuk belajar musik. Anak-anak ‘ratu’ pun tak risi ketika harus berbaur dengan anak-anak ‘negeri’.

‘’Saya pikir, kenapa tidak? Ini sekaligus menjadi ajang pembauran antara anak ‘negeri’ dan anak ‘ratu’ di Sidoarjo,’’ jelas Priyo Utomo.

Namun, sebagai orang yang tahu psikologi anak dan remaja, Priyo tidak ingin mencampur begitu saja anak ‘negeri’ dan anak ‘ratu’. Sebab, latar belakang, perhatian orang tua, penampilan, gaya hidup... kedua kelompok ini sangat berbeda.

Priyo lantas membuat kelompok ‘anak ratu’, kendati benderanya tetap Alang-Alang Delta. Umumnya, anak-anak ‘ratu’ yang gaul ini belajar beberapa instrumen musik.

‘’Sekarang lagi latihan intensif. Mereka akan saya ikutkan di sebuah festival band pelajar di Sidoarjo,’’ ujar Priyo Utomo.

Tak hanya bicara, pria kelahiran Surabaya, 7 April 1957 ini meminta band ‘anak ratu’ (semua personel perempuan) untuk memperlihatkan kemampuannya di depan wartawan RADAR Surabaya. Lumayan ciamik, apalagi sang drummer yang merangkap vokalis.

Priyo mengaku selalu menekankan rasa kebersamaan di antara anggota komunitas Alang-Alang. Kendati berbeda latar belakang, ‘anak negeri’ dan ‘anak ratu’ sama-sama keluarga besar Sanggar Alang-Alang Delta.

"Saya selalu tekankan agar mereka memegang teguh etika, norma, agama, estetika. Yang lebih mudah memanggil yang lebih tua dengan ‘mas’, dan sebaliknya ‘adik’. Dan itu mereka lakukan," kata ayah tiga anak itu.

Di sini Priyo Utomo berhasil membuktikan bahwa anak telantar, anak orang miskin, anak orang kaya, anak pejabat, bisa berinteraksi tanpa hambatan psikologis. Di Alang-Alang Delta tembok psikologis yang membatasi orang kaya dan miskin praktis tidak ada. Dengan bangga, Priyo menunjuk gadis mungil (balita) yang tengah belajar komputer di sebuah ruangan Alang-Alang.

‘’Anak itu keponakannya Bu Meutia-Hatta (menteri pemberdayaan perempuan),’’ ujar Priyo seraya tersenyum.

Hadirnya ‘anak ratu’, tak ayal, melahirkan kelompok ketiga di Alang-Alang, yakni kelompok pelajar. Ini tak lepas dari ‘sosialisasi’ secara tidak langsung dari anak-anak ‘ratu’ kepada teman-temannya di sekolah. Para guru SMP terkejut melihat kemampuan anak-anak didiknya yang bisa main band.

Usut punya usut, akhirnya anak-anak ‘ratu’ itu mengaku belajar musik di Alang-Alang. Pak Guru terkejut karena dalam tempo sangat singkat anak-anak bisa main band, padahal sebelumnya tidak bisa apa-apa.

Guru-guru pun sadar bahwa mereka bukan makhluk yang serba bisa. Guru di sekolah umumnya lebih banyak mengajar teori musik dan teori-teori lain, tapi praktik lebih efektif di luar sekolah. Salah satunya Alang-Alang Delta. Dari sinilah beberapa guru musik SLTP di Sidoarjo ‘menitipkan’ siswa-siswinya kepada Priyo Utomo. Saat saya berada di Alang-Alang Delta, giliran anak-anak SMPN 5 Sidoarjo yang belajar main band.

"Mereka ini bukan ‘anak negeri’ atau ‘anak ratu’, tapi kelompok pelajar," ujar Priyo Utomo. Band SMPN 5, misalnya, tengah serius belajar lagu-lagu Peterpan, yang dijadikan lagu standar latihan di Alang-Alang.

Yang menarik, sekian banyak program di Alang-Alang Delta ditangani dengan manajemen keluarga. Priyo Utomo sebagai pimpinan, dibantu sang istri (Syamsiar Rahmayasidi) serta Ryan Utomo (sang anak).

Manajemen kecil ‘kekeluargaan’ ini mengadopsi pola Didit Hape, bos Alang-Alang Surabaya yang dianggap sudah sukses.

CONTACT PERSON

Priyo Utomo

031 6109 6237
0816 156 39114
031 6021 7577
0812 596 17920

9 comments:

  1. saya membaca sanggar alang-alang juga ada di kota sidoarjo...lebih tepatnya di mana ya mas...cz saya ingin mengunjunginya.saya ingin lebih mengenal seluk beluk sanggar alang-alang sebagai bahan skripsi saya..selain itu rumah saya juga di daerah sidoarjo.boleh kan mas...
    cinta_imoet_nih@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Perkenalkan mas Didit HP nama saya henny saya mencari tentang LSM atau lembaga yang bertugas untuk mengentaskan Gepeng(Gelandangan dan Pengemis) khususnya di kota surabaya dan sekitarnya saya terus mencari baik melalui browser dan informasi melalu telkom.Begini mas hati saya tergerak beberapa hari ini saya melihat beberapa kali ada seorang nenek tua renta yang kondisinya sangat memprihatinkan.Beliau lumpuh kehujanan dan kepanasan..lokasinya di sekitar jalan raya waru samping kiri pintu keluar bungurasih.Tolong nenek ini mas kasihan... seandainya saya mampu untuk menampung saya akan lakukan tapi saya memohon pertolongan untuk nenek ini semoga mas Didit melihat tulisan saya..untuk informasinya dapat di hubungi melalui handphone saya 031.60326374.Terima kasih sblmnya

    ReplyDelete
  3. mbak henny, blog ini milik saya. saya posting berita tentang mas didit hape dan sanggar alang-alang. jadi, ya, mas didit ya kemungkinan besar gak baca. apa tidak sebaiknya sampean kontak langsung, bertemu muka, face to face, aja?

    terus terang, banyak komentator yang salah persepsi. apa pun, terima kasih atas perhatian anda.

    ReplyDelete
  4. terkesan akan kegigihan anda membantu anak2 "kaum negeri" oh ya kapan saya bisa mengunjungi teman2 di sanggar alang2???
    mungkin kita bisa share...?
    tepatnya dimana markas lokasi arek2 negeri delta itu ssendiri??
    suwun

    ReplyDelete
  5. Mas saya ingin tahu sanggar alang-alang di Sidoarjo, ingintahu tpetnya dimana sekaligus PIC (personal in charge) yang ngurusi disana saya ada perlu, kalo bisa dijawab hari ini. thank

    ReplyDelete
  6. Komentar anonim, tanpa nama dan alamat, tidak dijawab. Xiexie.

    ReplyDelete
  7. Pak Lambertus,
    Saya ingin mengetahui tentang sanggar Alang-alang di Sidoarjo, karena saya ingin turut membantu dalam permasalahan anak jalanan di Sidoarjo, terutama untuk anak2 batita dan balita yang saya prihatinkan. Saya ingin tahu dimana lokasinya dan bagaimana saya bisa memberikan bantuan saya.
    Sophia Mineke
    0858-50008088, 031-71828088
    sophiamineke@gmail.com
    Terima kasih banyak Pak Lambertus.

    ReplyDelete
  8. tempat.ny sekarang ada di sidokare indah, deket.ny pintu masuk.

    ReplyDelete
  9. maaf mas mw tanya..
    kalau boleh tahu alamat sanggar alang-alang delta ada dimana ya???kebetulan saya mau observasi untuk bahan skripsi...
    kalau diperbolehkan saya mau minta..
    tolong kirim via email ke : nopex_maniez@yahoo.com

    terima kasih sebelumnya..

    ReplyDelete