04 June 2008

Salah kaprah KEPALA KELUARGA


"Berapa orang yang mengungsi di Pasar Porong?"

Reporter menjawab: "601 kepala keluarga."

"Maksud Anda, hanya 601 laki-laki? Perempuan dan anak-anak juga adakah?"

Si reporter heran. Sebab, pertanyaan saya ini tidak lazim. "Ya, jelas ada suami, istri, anak-anak terpaksa mengungsi di pasar. Korban lumpur Lapindo kan banyak sekali, Mas," jawab reporter.

"Baik, baik, saya sudah paham maksud Anda. Andaikan satu keluarga punya dua anak, maka jumlah pengungsi mencapai 1.200. Kalau tiga anak, ya, hampir 2.000 orang lah."

Saya memang sudah lama mencoret kata KEPALA KELUARGA [biasa disingkat KK] dalam konteks kalimat seperti di atas. Sebab, seperti disepakati orang Indonesia, kepala keluarga itu berarti suami. Apa ada istri yang menjadi kepala keluarga? Mungkin ada. Tapi bangsa Indonesia yang patriarkis, merujuk pada agama-agama yang ada, kepala keluarga itu identik dengan suami. Laki-laki!

Maka, kalimat 'Ada 601 kepala keluarga di pasar' bisa diganti dengan 'Ada 601 suami di pasar'. Padahal, semua tahu maksud penulis berita tidak begitu. Dan si reporter tidak bisa disalahkan begitu saja karena dia memang meniru kebiasaan berbahasa di masyarakat. Pejabat-pejabat memang memopulerkan istilah KK = Kepala Keluarga dalam sensus atau urusan statistik daerah. Pada era Orde Baru [1966-1998] istilah KK memang sangat populer.

Kita memang sering salah kaprah. Ikut arus. Padahal, cara berbahasa pejabat-pejabat, tokoh masyarakat, media massa, tidak selalu benar. Kita telan begitu saja tanpa berpikir banyak. Kembali ke KEPALA KELUARGA, dengan mencoret kata KEPALA, maka selesailah urusan. KELUARGA berarti suami, istri, anak-anak. Singkatan KK dengan sendirinya harus dihapus karena memang tidak tepat.

Terima kasih, KOMPAS sebagai koran paling berpengaruh di Indonesia sudah mencoret istilah KEPALA KELUARGA atau KK dalam pemberitaannya. Mudah-mudahan media massa lain [koran, majalah, radio, televisi, internet] mengikutinya. Sebab, istilah KEPALA KELUARGA secara tersirat memperlihatkan sikap kita yang bias gender. Kita tidak menganggap keberadaan perempuan dan anak-anak. Mengapa hanya laki-laki yang dihitung?

Aha, saya ingat cerita mukjizat Yesus Kristus membuat mukjizat penggandaan roti untuk orang-orang di sekitar Danau Galilea [Matius 15;32-39]. Hanya bermodal tujuh roti dan beberapa ikan kecil, begitu banyak orang bisa makan sampai kenyang. Bahkan, ada sisa tujuh bakul penuh. Berapa orang yang makan roti dan ikan itu?

Penginjil Matius menulis begini:

"Yang ikut makan ialah 4.000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak."

Saya akhirnya sadar bahwa sejak dulu perempuan dan anak-anak tidak dianggap penting. Tidak perlu direken. Yang dihitung hanya KEPALA KELUARGA alias para suami. Jangan-jangan kebiasaan menulis data statistik di Indonesia dengan istilah KK [kepala keluarga] meniru tradisi Palestina dan Yahudi 2.000-an tahun silam?

No comments:

Post a Comment