12 June 2008

Radio Suara Surabaya 25 tahun

Radio Suara Surabaya 100 FM sedang merayakan ulang tahun ke-25. Usia cukup matang meski belum apa-apa untuk media. Radio interaktif ini mulai beroperasi pada 11 Juni 1983 bersamaan dengan gerhana matahari total di tanah air.

Kini, 25 tahun kemudian, Radio Suara Surabaya bertekad masuk titik nol. Membuat visi dan tekad baru menjadi radio terbaik di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia. Saya juga mengucapkan selamat kepada Radio Suara Surabaya yang sedang merayakan pesta perak.

Radio Suara Surabaya membuktikan bahwa radio tidak pernah mati. Bahkan, penggemarnya justru makin banyak meski stasiun televisi makin banyak. Media cetak dan media online pun banyak. Tapi radio punya kekhasan yang tidak dipunyai media-media lain. Orang yang berkendara di jalan raya, terjebak kemacetan, maka radio yang diputar.

Radio Suara Surabaya menjadi favorit karena sejak dulu aktif melaporkan kemacetan di berbagai ruas jalan. Pelapor atau reporternya, ya, pendengar-pendengar sendiri. Radio Suara Surabaya beruntung karena masyarakat kita suka bicara ketimbang menulis. Mereka rela menghabiskan jutaan rupiah untuk pulsa.

"Saya ingin berbagi dengan masyarakat. Kalau topik yang dibahas menarik, ya, saya usahakan bergabung dalam diskusi di udara," ujar Iwan Kusmarwanto. Doktor lulusan luar negeri ini termasuk salah satu dari sekian banyak pendengar aktif Radio Suara Surabaya. Pak Iwan ini bisa membahas masalah apa saja dengan enak.

Harus diakui Radio Suara Surabaya telah menjadi ikon Surabaya. Kalau Anda ingin tahu perkembangan Surabaya--kemacetan, kejahatan, pembangunan, pengaduan warga, dan sebagainya--cukup simak saja Suara Surabaya. Radio Suara Surabaya juga senantiasa berusaha menelepon narasumber--hebatnya, Radio Suara Surabaya punya hampir semua nomor telepon orang-orang penting--sehingga informasi yang disiarkan relatif berimbang.

Kalau mau dibilang 'kelemahan'--dan ini risiko sistem interaktif--tak sedikit masukan atau celoteh warga yang tidak bermutu. Hanya asal bunyi. Saya sebagai pendengar Radio Suara Surabaya sering jengkel mendengar pernyataan asal-asalan itu. Terlalu memaksakan diri muncul di radio. "Suara Surabaya kayak obrolan di warung kopi. Berisik, gak karuan, meskipun ada yang baik," kata teman saya, Lutfi.

Saya tahu teman-teman di Radio Suara Surabaya pun sudah punya catatan tentang kualitas pendengar yang sering omong di radio. Tapi bagaimana mau menyensor ala media cetak? Konsekuensi internatif, ya, siap-siaplah menjadi corong bagi siapa saja yang menelepon. Karena itu, pemihakan atau penyikapan Radio Suara Surabaya terhadap sebuah masalah tidak jelas. Ini beda dengan BBC, Radio Australia, atau Radio Belanda yang proses siarannya didahului editing ketat.

Sebagai manusia biasa, teman-teman penyiar Radio Suara Surabaya pun sadar atau tidak sering terlalu subjektif. Apa-apa yang sebaiknya untuk konsumsi pribadi, tidak untuk disiarkan, diumbar begitu saja di udara. Padahal, Radio Suara Surabaya ini kan untuk pendengar dari berbagai golongan, etnis, ras, agama, afilisasi politik, dan sebagainya. SMS pribadi dari pendengar dibaca begitu saja.

Oh, ya, jingle 25 tahun Radio Suara Surabaya kok jelek sekali ya? Dan diputar puluhan kali sehari selama berbulan-bulan. Selamat ulang tahun Radio Suara Surabaya!

No comments:

Post a Comment