12 June 2008

Manusia Indonesia memang brengsek



Gayus Tambunan, contoh manusia brengsek dan kaya.

Sejak sekolah menengah atas, saya sudah membaca buku karangan Mochtar Lubis berjudul Manusia Indonesia. Pendek, renyah, karena sejatinya makalah ceramah wartawan kawakan itu pada 6 April 1877 di Tamain Ismail Marzuki, Jakarta. Saat kuliah materi buku ini juga dibahas lagi. Kemudian buku itu hilang.

Tapi saya tidak pernah lupa poin-poin yang disampaikan almarhum Mochtar Lubis. Uraian Pak Mochtar tentang watak manusia Indonesia sangat membekas di hati saya. Dan, tadi, saya menemukan kembali buku klasik itu di pasar buku bekas Surabaya. Bagi saya, Mochtar Lubis menggambarkan secara tajam, kritis, blak-blakan, karakter manusia Indonesia.

Ketika korupsi makin meluas meski sudah banyak dibuat lembaga antikorupsi, bahkan jaksa, polisi, pejabat lembaga antikorupsi, pun ramai-ramai korupsi, tidak perlu heran karena Pak Mochtar Lubis sudah mengulasnya panjang-lebar pada 1970-an. Watak-watak yang disitir Mochtar Lubis, menurut saya, masih sangat relevan. Bahkan, semakin menjadi-jadi.

1. MUNAFIK.

Lain di bibir lain di laku. Ikut maki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Korupsi yang parah, kata Mochtar Lubis, akibat watak manusia Indonesia yang munafik ini.

"Sikap munafik sudah ditanam ke dalam diri manusia Indonesia oleh manusia Indonesia lainnya yang lebih berkuasa dan menindas serta memeras, merampas, dan memperkosa kemanusiaan mereka. Ini dipertebal lagi oleh datangnya kekuasaan dari luar seperti Portugis, Spanyol, Belanda," tulis Mochtar Lubis.

Orang Indonesia dikenal paling rajin beribadah. Masjid penuh, gereja sesak, vihara ramai. Terantuk batu sebut nama Tuhan, batuk sebut Tuhan, ditanya apa kabar, jawabannya ya sebut nama Tuhan. Tuhan. Tuhan. Tuhan. Allah. Allah. Allah. Allah. Tapi korupsi di Indonesia luar biasa. Termasuk di lingkungan Departemen Agama yang mengurus ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya. Kok iso ngene, Rek!


2. ENGGAN BERTANGGUNG JAWAB.

"Bukan saya," kata-kata ini sangat populer di Indonesia.

Kalau kebijakan salah, kesalahan digeser ke bawahan, kemudian digeser lagi ke bawah dan bawah lagi. Si bawahan berkilah: "Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan."

"Sebaliknya, jika ada sesuatu yang sukses, gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya," kata Mochtar Lubis.

3. BERJIWA FEODAL.

Berkembang dengan cemerlang di kalangan atas dan bawah. Sikap asal bapak/bunda senang (ABS) ada di mana-mana. Jiwa feodal ini berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan. Zaman dulu raja dianggap beroleh kuasa dari Tuhan atau dewa. Raja ganti presiden, gubernur, bupati, camat... jiwa ini tetap lestari.

4. PERCAYA TAKHAYUL

Hari baik hari buruk. Percaya tempat-tempat keramat. Sekarang pun, meski teknologi berkembang luar biasa, takhayul tetap ada. Pernah ada menteri agama [menteri agama lho!] memerintahkan penggalian situs batu tulis karena ada harta karun. Sekarang pemerintah getol mewacanakan blue energy, bahan bakar dari air. Pakar-pakar tertawa karena tidak masuk akal.

Pejabat-pejabat pelihara dukun atau paranormal. Menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah, dukun laku keras.

5. WATAK LEMAH

Manusia Indonesia tidak kuat mempertahankan keyakinan. Manusia Indonesia bisa dibeli dengan uang dan fasilitas. Teman-teman aktivis yang mengaku berjuang untuk rakyat tiba-tiba berubah posisi. Ternyata, di belakang dia sudah terima uang dan fasilitas. Uang habis, teriak lagi. "Pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia," tulis Mochtar Lubis.

6. ARTISTIK

Ini satu-satunya karakter yang baik. "Bagi saya, ciri artistik manusia Indonesia adalah yang menarik dan mempesonakan dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia," kata Mochtar Lubis.

8 comments:

  1. makasih ya atas komentarnya tentang buku ini... it's help me..

    ReplyDelete
  2. hehe.. mochtar lubis menulis secara karikatural. dilebih2kan sehingga kritiknya menjadi sangat tajam. tapi btw, kalau direnungkan, watak manusia indonesia emang kayak gitu.

    ReplyDelete
  3. Ada benarnya jga kta mochtar lubis, tpi apakah dia sudah bertemu dan mengenal karakter setiap manusia di wilayah negara Indonesia. Penggunaan kata manusia Indonesia sepertinya kurang tepat, lebih baik ditujukan pada oknum atau individual tertentu saja,

    ReplyDelete
  4. Kalau orang Indonesia Brengsek, itu memang sudah budaya sejak nenek moyang. indonesia bisa dijajah sangat lama salah satunya karena kebrengsekan orang Indonesia.sampai sekarangpun dijajah juga mau. meskipun yang menjajah bangsa sendiri. buktinya banyak yang malakukan politik uang untuk memenangkan dirinya, tapi masyarakat tetep mau memilih orang yang pakai uang tersebut. memang yang melakukan kebrengsekan di indonesia adalah oknum, tapi prosentasenya lebih besar dari pada yang tidak brengsek.

    ReplyDelete
  5. pendapat muchtar lubis memang menarik meski agak sarkastis. manusia indonesia pada dasranya baik seperti manusia2 lain di dunia. cuman sistem dan penegakan hukum yg gak bagus. makanya jadi brengsek begitu.
    bayangin aja, petugas penjara jual beli fasilitas, polisi yg harusnya menegakkan hukum malah memeras rakyat. belum kasus bank century, BLBI, dsb.
    kita jadi pesimis melihat masa depan indonesia.

    arnoldus, NTT

    ReplyDelete
  6. saya, anda, manusia indonesia juga ... lalu bagaimana ?

    ReplyDelete
  7. memang orang indonesia paling brengsek, contoh: sampah buang sembarangan,klo hujan banjir,terus menyalahkan pemerintah. tingkat kesadaran nya sangat-sangat-sangat-sangat reeeeennnddddaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.

    ReplyDelete