12 June 2008

Malaysia BOLEH, Indonesia BISA



Malaysia BOLEH!
Indonesia BISA!


Pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan INDONESIA BISA. Upacara besar-besaran di Gelora Bung Karno Jakarta. Semua stasiun televisi menyiarkan acara ini.

Tapi, seperti biasa, orang Indonesia lebih pintar bicara daripada berbuat. INDONESIA BISA hanya slogan belaka. Mirip slogan Orde Baru: MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR. Hingga Orde Baru ambruk pada 21 Mei 1998 masyarakat tidak juga makmur, apalagi adil. Orang miskin mencapai 50-an juta orang. Kalau pakai standar Bank Dunia, mungkin 100-an juta orang Indonesia miskin.

Belum hilang pencanangan INDONESIA BISA, terjadi begitu banyak kejadian yang merisaukan di negeri ini. Pada 23 Mei Presiden Susilo menaikkan harga bahan bakar minyak. Unjuk rasa di mana-mana. Polisi bentrok dengan mahasiswa Universitas Nasional. Kemudian sekelompok warga berjubah putih melakukan kekerasan terhadap kelompok warga lain yang sedang merayakan Hari Pancasila. Kisruh!

Melihat kasus-kasus ini, plus komentar-komentar di televisi, yang sebagian membenarkan tindak kekerasan, yang mengedepankan egoisme golongan, saya ragu Indonesia bisa bangkit, bisa maju, bisa makmur seperti negara lain. Modal untuk bersatu semakin terkikis. Sementara Susilo pun belum terlihat mampu melaksanakan slogan INDONESIA BISA. Kita bisa apa? Kalau tidap hari yang muncul di televisi, radio, dan media massa lain adalah bahasa kekerasan?

Di Malaysia kata BISA selalu berarti RACUN. Misalnya: BISA ular itu berhahaya.

Dan orang-orang Malaysia tahu persis bahwa orang Indonesia menggunakan BISA untuk DAPAT, BOLEH, MAMPU, SANGGUP. Karena itu, sejak dulu pelawak-pelawak Malaysia sering bikin lelucon dengan mengeksploitasi BISA versi Indonesia. Indonesia BISA, menurut versi Malaysia, berarti Indonesia RACUN. Tiap hari menciptakan racun untuk menghabisi sesama bangsa Indonesia. Peristiwa 1 Juni 2008 di Monas menjadi bukti betapa hebatnya BISA di kalangan orang Indonesia itu.

Presiden Susilo sejatinya terlambat memopulerkan slogan INDONESIA BISA. Pada 1980-an Perdana Menteri Mahathir Mohammad sudah lebih dulu menggerakkan warga Malaysia dengan MALAYSIA BOLEH. Kemudian Visi 2020. Sebuah impian jangka panjang Malaysia saat memasuki era 1990-an dan 2000-an alias globalisasi.

Pak Mahathir tegas, cerdas, bisa membuktikan visi jangka panjangnya untuk Malaysia. Pak Mahathir beda dengan Susilo yang peragu dan tidak pernah tegas. Orang-orang Malaysia menjadikan MALAYSIA BOLEH sebagai visi bersama. Kalau negara lain BOLEH maju, makmur, sejahtera, kenapa Malaysia tak BOLEH? Pak Mahathir pun tak memberikan toleransi sedikit pun pada anasir-anasir yang hanya getol berjuang untuk kepentingan golongan.

Sekarang kita semua bisa menyaksikan betapa Malaysia benar-benar BOLEH. Maju, makmur, punya masa depan yang baik. Lapangan kerja di Malaysia berlebihan, sehingga jutaan orang Indonesia bisa bekerja di sana. Semua orang Malaysia punya rumah, punya kereta [mobil], penghasilan bagus, bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai level tertinggi.

Saya pernah menyaksikan sendiri betapa bangganya orang Malaysia pada negaranya. "Putrajaya ini sepenuhnya dibangun dengan dana dari dalam negeri. Hasil kelapa sawit dan getah kami sudah cukup untuk membina [membangun] Putrajaya," ujar Nasaruddin asal Pahang kepada saya di kawasan Putrajaya beberapa waktu lalu.

Putrajaya itu kota baru yang dirancang khusus sebagai ibukota Kerajaan Malaysia. Sangat indah dan modern. Dan, jangan lupa, pekerja-pekerja kasar yang membangun Putrajaya itu orang Indonesia yang TKI itu. Termasuk Pak Sucipto, tetangga saya di Gedangan, Sidoarjo. Yah, Malaysia BOLEH, sementara orang Indonesia sejak dulu masih tetap saja bangsa kuli di negeri orang.

Malaysia BOLEH! Dan sudah terbukti benar-benar BOLEH.

Indonesia BISA! Juga sudah terbukti benar-benar menciptakan BISA [racun] bagi sesama anak bangsa.

2 comments:

  1. boleh dan bisa artinya sama saja. tergantung kebiasaan sajalah.

    ReplyDelete
  2. salam dr malaysia.
    malaysia boleh pastinya indonesia juga pasti boleh! hihi

    ReplyDelete