19 June 2008

LP Porong pengganti Kalisosok


Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Dusun Macan Mati, Desa Kebon Agung, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, merupakan salah satu penjara terluas di Indonesia. Asdjudin Rana, kepala LP Porong [sebutan LP pengganti Kalisosok, Surabaya] ini memberlakukan disiplin sangat keras.

“Kalau soal disiplin, kalapas yang baru ini sulit dicari tandingannya. Mungkin dia kalapas paling keras di Indonesia,” ujar beberapa sipir LP Porong kepada saya.

Sejak bertugas di LP Porong tahun 2004, Asdjudin Rana sudah punya gambaran tentang apa yang harus ia lakukan. Penjara pengganti LP Kalisosok (Surabaya) terlalu luas, 12 hektare. Penjaga alias sipir sangat terbatas, sementara penghuninya napi kelas ‘berat’.

Hukuman mereka di atas dua tahun. Para napi politik seperti aktivis organisasi separatis macam Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan, pernah dan sedang dititipkan di sini. Napi-napi yang mengacau di penjara lain--Jawa maupun luar Jawa--dititipkan di Porong.
Menghadapi orang-orang keras, Asdjudin pun harus sangat disiplin. “Di sini nggak ada kompromi,” ujar pria berdarah campuran Jawa-Lampung itu.

Disiplin ketat, kata Asdjudin Rana, harus meliputi semua lini. Pengunjung, entah itu keluarga, wartawan, pembesuk biasa, harus melalui ‘saringan’ di blok penjagaan. Barang-barang kiriman, termasuk makanan, diperiksa secara ketat. Ini sesuai dengan tekad Asdjudin agar LP Porong kebal dari narkoba. “Napi narkoba tidak ada di sini. Silakan mereka menghuni LP lain,” katanya.

Telepon seluler dan alat-alat komunikasi lain haram hukumnya bagi napi. Jangan heran, di sini para sipir kerap melakukan razia HP. Menurut Asdjudin Rana, alat komunikasi canggih ini bisa menjadi alat untuk berkoordinasi dengan dunia luar, dan itu pada akhirnya merepotkan pengelola LP juga. Di LP lain pun larangan HP memang ada, tapi praktiknya tidak seketat di Porong.

Ibaratnya, Asdjudin mengerahkan pasukan untuk merazia kamar, lemari, tas, dan semua perlengkapan napi untuk memastikan bahwa HP, pager, HT, radio, dan sejenisnya tidak ada. Belajar dari pengalaman, beberapa LP atau rutan selalu kebobolan gara-gara penghuninya melakukan transaksi narkoba via HP/SMS.

Napi politi sama saja. “Kalau sudah masuk di sini mereka kita perlakukan sama dengan yang lain. Mereka pun tidak boleh pakai HP atau alat komunikasi lainnya,” kata Asdjudin Rana. Kendati begitu, kadang-kadang Asdjudin memberi kesempatan kepada napi politik untuk berkomunikasi dengan keluarganya melalui telepon kantor.
Ketika terjadi musibah gempa bumi dan tsunami, 26 Desember 2004, para napi GAM difasilitasi untuk memonitor perkembangan kampung halamannya di Aceh.

Di balik ‘keangkerannya’, sikap tanpa kompromi, Asdjudin Rana sadar bahwa para napi membutuhkan hiburan. Karena itu, di setiap blok ada televisi umum untuk ditonton ramai-ramai. Bagaimana kalau ada napi membawa televisi sendiri?

Bagi Asdjudin, tetap dilarang keras. Karena itu, napi yang kebetulan orang kaya (pengusaha top), mantan pejabat, artis, harus bisa merasakan ‘derita’ selama menjalani masa hukuman. Di dalam penjara, segala atribut seperti (mantan) pejabat, pengusaha, selebriti, artis, tidak dikenal. “Bisa rusak kalau kita memberi fasilitas istimewa kepada napi tertentu,” tegasnya.

Nah, sebagai kompensasi, Asdjudin Rana secara rutin menanggap orkes dangdut ke dalam penjara. Kenapa dangdut? Ini erat hubungan dengan selera mayoritas napi yang doyan joget. Dengan dangdut, apalagi penyanyinya cewek bahenol, para napi seperti kesetanan.

“Kita gelar orkes setiap empat bulan sekali. Waktu tujuh belasan, dan sebelumnya pada Hari Pemasyarakatan,” ujar Asdjudin Rana seraya tersenyum lebar.

Begitulah. Pria yang sudah 30-an tahun mengabdi di LP (di berbagai daerah di Indonesia) sangat mengerti psikologi narapidana. Sekeras-kerasnya napi di LP Porong, termasuk yang hukumannya di atas 20 tahun, mereka toh manusia pula.

Melihat artis dangdut bahenol, goyang ngebor, napi LP Porong yang 100 persen laki-laki itu ternyata tidak berkutik. “Tapi kita nggak bisa terus-terusan gelar orkes dangdut. Dananya dari mana?” ujar seorang sipir muda.

No comments:

Post a Comment