28 June 2008

Jazz dan media di Surabaya



Konser PIG--Pra Budhidarma, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan--di Vista Sidewalk Cafe Surabaya beberapa waktu lalu tidak mendapat perhatian dari media massa di Surabaya. Tulisan dan ulasan di surat kabar tidak ada.

Oleh Isa Anshori
Penyiar Program Jazz Traffic Radio Suara Surabaya


Sulit diruntut sejak kapan hubungan yang saling berpengaruh (baca: saling menguntungkan) antara musik jazz dengan media massa. Tetapi minimal bisa ditelaah dari perkembangan jazz di Indonesia, yang mana media turut serta menyemangati sekaligus memberi telaah secara konstruktif.


Minimnya pemberitaan tentang musik jazz di era 70 sampai 80-an, tidak lepas dari minimnya apresiasi musik di ranah komunitas penggemar musik di Indonesia. Belum lagi pada tahun-tahun itu, dominasi musik masih dikuasai musik pop, rock dan dangdut. Era keemasan Koes Plus, Bimbo, Panbers, dan lain-lain di jalur pop, Soneta dengan dangdutnya, sementara Godbless, SAS, Giant Step begitu kuatnya menguasai pangsa pasar musik Indonesia. Mereka juga sangat mendominasi pemberitaan media.

Lalu, ke mana musik jazz?

Musik jazz patut iri dengan perkembangan musik lainnya, yang secara konsisten memanfaatkan media sebagai wahana mendekatkan diri kepada para penikmatnya. Jazz tampaknya masih “malu-malu” tampil di media massa, baik cetak maupun eletronik. Ini bisa dilihat dari minimnya berita-berita tentang jazz, baik dalam skala nasional maupun regional.

Sumber persoalannya bisa ditebak, dekade 70 sampai 90-an, tidak banyak musisi jazz yang secara kontinyu tampil di media. Sementara media sebesar TVRI sekalipun tidak bisa bertahan lama menghadirkan acara musik jazz. Sementara musisinya sendiri terlalu larut dengan dunianya, sehingga tidak sempat berpikir “memanfaatkan” media sebagai ujung tombak perkembangan musik jazz Indonesia.

Kalaupun pecinta jazz ingin menikmati musik “elit” ini, paling-paling mereka mendengarnya lewat siaran radio asing yang dapat ditangkap di wilayah Indonesia. Media massa kita belum bisa mengambil peran banyak terhadap perkembangan musik jazz di tanah air, termasuk Surabaya. Peta buram hubungan jazz dan media?


Gudang Musisi minim Apresiasi

Perkembangan jazz di Surabaya agaknya timpang dengan jumlah media massa lokal yang ada. Tidak terhitung berapa jumlah media massa di Surabaya area, baik cetak maupun elektronik. Tetapi hanya sedikit yang secara konsisten dan kontinyu mengangkat jazz dengan segala perniknya. Alasan minim apresiasi dari khalayak media terhadap musik jazz menjadi alat pembenar mereka jarang atau tidak mau menulis dan atau menyiarkan musik jazz.

Di sisi lain rekan-rekan jurnalis masih “gagap” tentang musik jazz, sehingga laporan liputan mereka tentang jazz sangat dangkal kalau tidak boleh dibilang minim pengetahuan. Bubi Chen pernah dibuat jengkel terhadap tulisan di media nasional, yang menulis:

“Menikmati Sisa Energi Bubi Chen”. Dalam salah satu alinea jurnalis itu menulis: “Penampilan Bubi malam itu diiringi pertanyaan sebagian penonton yang merasa ada yang hilang dari permainannya. Satu-satunya pianis Indonesia yang dianggap mampu memainkan jazz jenis bebob dengan sempurna itu terkesan tidak larut dalam permainannya. Hentakan dalam permainannya terkesan tidak mengalir lancar dan kekurangan energi.”

Bubi Chen mengatakan, kalau tidak mengerti tentang musik jazz jangan menulis, karena akan mengacaukan apresiasi penikmat musik jazz.

Surabaya sebagai gudangnya musisi jazz, tampaknya hanya sebagai tempat lahir saja dari mereka (kecuali Bubi Chen) yang selama beberapa dekade meramaikan peta musik jazz tanah air. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya panggung-panggung jazz yang bisa berumur panjang.

Sampai di sini, Surabaya sebagai kota besar lagi-lagi masih harus gigit jari ditinggal musisinya terbang ke ibukota untuk memproses album rekaman. Sampai sekarang nyatanya belum ada studio musik di Surabaya yang sukses memproduksi album-album musik, terutama jazz, sehingga lagi-lagi Jakarta menjadi tujuan utama para musisi tanah air. Artinya, Surabaya masih belum mampu menjadi alternatif industri musik tanah air. Harus diakui, memproduksi album jazz kala itu harus siap dengan sambutan dingin penikmat musik tanah air. Sampai kapan?


Angin itu Berbuah Manis

Pasca tahun 90-an perkembangan jazz termasuk hubungannya dengan media mulai sangat intens. Munculnya jazzer-jazzer baru tampaknya mulai menarik minat media massa, untuk mengakrabi musik penuh improvisasi ini. Gelombang industri musik Indonesia termasuk jazz di dalamnya, mulai meramaikan rubrik hiburan di media.

Beberapa radio di kota-kota besar mulai kontinyu memasukkan musik jazz dalam salah satu program siarnya. Sementara hubungan perusahaan rekaman dengan media massa yang sudah terjalin baik selama bertahun-tahun, mulai giat mengantar artis jazz mereka untuk road show promo album ke beberapa media.

Munculnya wajah-wajah baru dalam blantika jazz Indonesia, sebuah fenomena yang luar biasa. Dalam hitungan sepuluh tahun terakhir sudah tidak terhitung berapa banyak musisi muda Indonesia yang berkiprah di dunia jazz. Bahkan, beberapa di antaranya berani “menentang arus” dengan menghadirkan musik jazz yang agak sulit diterima pasar. Toh, media massa sebagai partnership industri musik mampu menjadi jembatan penghubung antara pelaku jazz dengan penikmatnya.

Era Digital, Peluang atau Ancaman

Tidak lama lagi industri media elektronik memasuki babak baru (baca: digitalisasi). Industri musik sudah mengantisipasi perkembangan teknologi ini, dengan memunculkan album dalam bentuk digital selain kaset dan cd. Konsumen bisa memilih apa yang merka mau. Sementara televisi dan radio sebentar lagi juga meramaikan teknologi baru ini dalam siarannya.

Sebagai catatan, server yang menyimpan ribuan atau bahkan jutaan lagu, termasuk jazz, nantinya bisa dengan mudah diakses khalayak penikmatnya. Dengan piranti gadget yang beraneka ragam, mereka bisa men-downloud lagu yang disukai. Sementara radio dan televisi nantinya juga sudah tidak perlu lagi membeli cd untuk kemudian di-upload ke dalam server database mereka, karena semua lagu bisa diakses dari server universal yang menyediakan konten lagu.

Gelombang besar di bidang teknologi digital ini yang harus diantisipasi praktisi musik kita. Ukuran sukses mereka tidak bisa lagi memakai ukuran jumlah album yang terjual. Beberapa grup dan musisi mancanegara sudah mengalihkan perhatian mereka dari tataran sukses secara konvensional. Bagaimana dengan media massa, musisi, dan penyanyi kita? (*)

2 comments:

  1. blognya sangat bagus sekali


    dan kalu bisa artikelnya ditambah lagiiii

    ReplyDelete
  2. ulasan yg baik. media mestinya ikut mempromosikan musik2 yg berbobot kayak jazz atau klasik atau etnik.

    ReplyDelete