03 June 2008

Flores pulau lahirnya pancasila



Di sini, pinggir pantai Ende, di bawah pohon sukun, Bung Karno menggagas Pancasila dan pemikiran-pemikiran besar untuk kemerdekaan Indonesia. Tapi sukun yang asli [hidup pada era 1934-1938] sudah mati. Yang ini sukun duplikat yang ditanam di lokasi bersejarah itu. Foto: www.ooyi.wordpress.com

Tidak banyak orang Indonesia yang memperingati Hari Pancasila, 1 Juni. Ada memang beberapa kelompok yang bikin acara, tapi secara umum tidak ada greget. Bahkan, menurut survei KOMPAS (1/6/2008), tidak sampai 50 persen manusia Indonesia yang hafal lima sila Pancasila dengan benar.

Wah, jangankan rakyat biasa, banyak pejabat dan politisi saja yang lupa sila-sila Pancasila. "Yang penting kan dilaksanakan. Bukan seremoni atau pidato-pidato," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejak Orde Baru jatuh, 21 Mei 1998, Pancasila memang jarang terdengar. Pejabat alergi omong Pancasila. Upacara bendera plus pengucapan Pancasila pun mulai langka. Partai-partai pun tidak merasa perlu berasas Pancasila. Sistem ekonomi, sistem politik, kebijakan budaya, dan sebagainya pun tak lagi merujuk pada Pancasila.

Tamatkah Pancasila sebagai ideologi, dasar negara, filosofi bangsa? Moga-moga tidak. Kita berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih tegas lagi komitmennya dalam membela dasar negara. Ironis, orang yan sedang memperingati Hari Pancasila diserbu komunitas tertentu. Polisi membiarkan, seakan merestui. Kacau-balau memang negaraku ini.

Di Hari Pancasila ini saya teringat Bung Karno, Flores, dan Pancasila. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan Flores, sejarah mencatat bahwa ideologi Pancasila itu digagas Bung Karno [Ir Soekarno] di Ende, Pulau Flores. Sekadar mengingatkan, Bung Karno diasingkan pemerintah Hindia-Belanda di Flores pada 1934-1938. Di pelosok terpencil itu Bung Karno punya banyak waktu untuk melahirkan ide-ide besar bagi Indonesia yang akhirnya diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Bung Karno mengatakan dalam biografinya betapa dia sering duduk merenung di bawah pohon sukun, dekat laut. "Pohon itu di atas sebuah bukit berumput. Dari sana saya dapat memandang sebuah teluk. Di sana selama berjam-jam saya bermimpi dengan mata terbuka sambil memandang luasan langit yang biru dengan tepi-tepinya yang putih berawan. Kadang-kadang seekor kambing tersesat lewat di depan saya." (Cindy Adams, 1966).

Banyak hal yang direnungkan Bung Karno. Pasang surut, tapi gelombang tetap menggulung. Bung Karno juga merumuskan ideologi negara yang di kemudian hari kita kenal sebagai Pancasila. Pada sidang persiapan kemerdekaan, rumusan ini disampaikan dengan bersemangat oleh Bung Karno. Tidak ada yang memungkiri--kecuali rezim Orde Baru--bahwa Pancasila itu merupakan ide besar Bung Karno. Dan, kalau kita baca buku-buku sejarah dan otobiografi Bung Karno, gagasan tentang Pancasila [ketuhanan, perikemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, keadilan sosial], dilahirkan Bung Karno... di Flores.

Pohon sukun di pinggir pantai jadi saksi. Sayang, saksi sejarah itu sudah mati. Pemerintah Kabupaten Ende kemudian mengganti sukun itu dan diberi nama Pohon Pancasila. "Kita sebagai orang Flores patut berbangga dengan kenyataan sejarah ini. Bahwa cikal-bakal Pancasila itu ternyata dari kampung halaman kita, Flores," ujar Frans, teman dari Flores Barat.

Karena itu, saya sangat marah ketika ada teman yang iseng-iseng mewacanakan Flores Merdeka. Alasannya, Timor Timur yang manusianya mirip Flores, agamanya sama-sama Katolik, sudah lebih dulu lepas dari Indonesia. Wah, teman yang punya ide macam ini jelas tidak pernah baca sejarah. Tidak sadar bahwa Flores pernah menjadi pulau perjuangan, tempat Bung Karno menempa diri selama empat tahun [1934-1938], merumuskan Pancasila, dan beberapa gagasan besar lain.

Dus, Flores bagian integral dari Republik Indonesia, bahkan sebelum proklamasi 1945. "Bagaimana bisa Anda menggagas Flores Merdeka? Timor Timur memang lain sekali. Sejak awal ia tidak termasuk eks Hindia-Belanda. Masuknya Timor Timur itu kan karena kecelakaan sejarah pada 1975. Bung, jangan samakan Flores dengan Timor Timur atau Aceh!" tegas saya.

Terus terang, menjaga hakikat Pancasila di era globalisasi, pasar bebas, neoliberalisme, eksklusivisme... sekarang sangat berat. Subsidi dicabut demi pasar dunia. Keadilan sosial masih mimpi. Musyawarah mufakat makin mustahil. Gotong royong cerita lalu. Persatuan sesama anak bangsa makin sulit dirajut. Tapi, mudah-mudahan, sebatang pohon sukun di pantai Ende, Flores, bisa membuat kita ingat pada Pancasila.

2 comments:

  1. pancasila terancam bung. lihat aja kasus FPI ama aliansi kemaren. ngeri deh!

    ReplyDelete
  2. well, sebagai orang Ende saya tentu saja senangd engan kenyataan bahwa Ende adalah tempat lahirnya pancasila, tetapi lihatlah kenyataan bahwa Masyarakat Indonesia (nasional) tidak tahu dan tidak mau tahu dan mengaprsiasi kenyataan ini. Liahtlah betapa banyaknya orang Indonesia yang masih bingung dimana FLORES terletak? apakah Flores dekar papua? atau FLORES itu di Timor Timur??? saya sering mendengarkan pertanyaan ini sewaktu saya di JAWA...saya tidak mendukung FLORES berpisah dari Indonesia tetapi alangkah baiknya FLORES mulai minta diperhatikan dan jangan hanya jadi anak tiri dalam kerangka kebangsaan nasional. sejujurnya asa nasionalis saya semakin menipis melihat ketidak adilan antara FLORES dibanding daerah lain di Indonesia!!

    ReplyDelete