31 May 2008

Dua tahun lumpur lapindo

Jawa Pos, 30 Mei 2008
Menjadikan Semburan Lumpur Daya Tarik Tingkat Dunia

OLEH: Dahlan Iskan


MEMBICARAKAN bagaimana cara menutup semburan lumpur Lapindo tampaknya sudah tidak relevan lagi. Terutama ketika masalah sosial yang ditimbulkannya hampir terselesaikan. Juga, berbagai upaya ternyata sudah dilakukan dan tidak ada gunanya. Memang masih ada banyak saran yang disampaikan. Tapi, semuanya hampir tidak mungkin dilakukan lantaran terlalu mahal.

Kalau masih harus membicarakan lumpur Lapindo, sebaiknya mulai beralih ke agenda ini: akan diapakan lokasi itu. Terutama setelah melihat dalam beberapa bulan terakhir tidak ada tanda-tanda membesarnya semburan itu. Belakangan saya sering lewat memutar di atasnya dan selalu saja saya melihat tidak ada tanda-tanda gejolak baru.

Tapi, untuk membicarakan akan diapakan lokasi itu tentu masih harus dilihat dulu siapa yang berhak atas pengelolaan wilayah tersebut. Pemda Sidoarjo? Pemda Jatim? Pemerintah pusat? Bakrie Group?

Dua minggu lalu saya diajak makan malam oleh seorang menteri luar negeri dari negara tetangga yang lagi berkunjung ke Surabaya. Meski tidak beragama Islam, siang harinya dia berziarah ke makam Sunan Ampel, lalu sorenya menemui pengusaha-pengusaha dari negaranya dan malamnya mengundang kami makan malam. Di samping kiri saya ada Alim Markus, chairman Maspion. Di samping kanan saya ada Pak Sigit dari Kadin. Lalu ada bos Bogasari Herman Juhar, bos Surya Inti Henry Gunawan, bos Bank Ekonomi Group dan bos Sekar Group.

Kami berbicara banyak hal, termasuk lumpur Lapindo. Topik pembicaraan adalah: bagaimana seharusnya orang Jatim menyikapi lumpur itu. Kesimpulannya, kini sudah saatnya membalik berita-berita tragedi, sedih, dan bencana itu menjadi berita baik. Sudah terlalu jelek nama Jatim di dunia luar. Apalagi nama Sidoarjo. Sudah terlalu lama kita bersedih, berduka, dan menangis untuk lumpur Lapindo. Tapi, air mata sebanyak lumpur Lapindo pun tidak akan mampu mengubah bencana itu.

Sudah saatnya kita mengusap air mata, meski tetap harus memperjuangkan mati-matian nasib penduduk yang terkena dampak lumpur itu, baik langsung maupun tidak langsung. Sebagai seorang asing yang tidak terikat oleh emosionalitas peristiwa itu, Menlu tersebut, secara pribadi, punya pandangan yang agak berbeda dengan umumnya kita.

Peristiwa di Sidoarjo itu dinilai sangat langka. Di seluruh dunia hanya terjadi di Sidoarjo ini. Seluruh dunia justru harus tahu ini. Harus tahu bahwa kalau mau melihat fenomena bumi yang ajaib dan hanya terjadi di satu tempat, datanglah ke Sidoarjo. Kini rasa malu bahwa daerah kita terkena musibah itu sudah harus diakhiri. Harus diubah menjadi bangga.

Caranya dengan membuat desain khusus yang bisa memanfaatkan lokasi itu untuk apa saja yang punya daya tarik tingkat dunia. Wisatanya, kajian ilmiahnya, historisnya, dan seterusnya. Film-film awal lumpur itu, penderitaan masyarakatnya, contoh-contoh lumpurnya, apa saja kandungannya, di mana saja peristiwa serupa pernah terjadi dan banyak lagi yang harus dipajang di lokasi.

Tapi, siapa yang harus mulai bicara ini? Inikah cara buat Sidoarjo untuk bangkit lebih hebat dari sebelum lumpur?

2 comments:

  1. pada hari kamis (12/6) kebetulan saya ada acara di gresik, jawa timur. di sana saya sempat berbincang dengan salah seorang penggiat NGOs di Gresik. Kawan tersebut mengeluhkan bahwa media besar yang ada di Jawa Timur, hampir semua menerapkan praktik jurnalisme bodrek (jurnalisme yang berorientasi pada uang). Akibatnya, suara NGOs dan masyarakat sipil lainnya yang tidak bisa membayar iklan atau membayar wartawan atau membeli sejumlah koran yang bersangkutan tidak pernah dimuat di media tsb.

    Mendengar cerita itu, pikiran saya langsung tertuju pada kasus Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Dugaan saya praktik jurnalisme bodrek juga terjadi dalam kasus Lapindo. Dugaan itu semakin kuat ketika besoknya (13/6) salah seorang kawan yang sejak awal bergelut dengan korban lumpur lapindo mengeluhkan tumpulnya wartawan dan media massa lokal yang tidak bisa membongkar kelicikan dan kebohongan lapindo.

    Sulit bagi saya untuk tidak menduga bahwa kemenangan Public Relation Lapindo terkait erat dengan praktik kotor jurnalisme bodrek di Jawa Timur. Saya sempat berkhayal, ada satu saja mahasiswa yang mampu membongkar dugaan konspirasi jahat ini.

    Saya sempat berdoa, semoga kawan2 mahasiswa di jawa Timur menjadikan temuan awal ini sebagai bahan penelitiannya. Mungkin ga ya konspirasi jahat itu dibongkar?

    Salam,
    Daus

    ReplyDelete
  2. Luar biasa pandangan pak Dahlan ini. Memang lumpur lapindo benar-benar menunjukkan besarnya kekuasaan Tuhan dan betapa kecil dan tidak berdayanya manusia. Kita tidak perlu menyesali kehendak Tuhan. Lebih baik kita intropeksi diri dan menunggu apa kehendak Tuhan dengan adanya musibah ini.

    ReplyDelete