16 June 2008

Dari buta huruf ke intelektual

Oleh Theophilus Bela
theo_bela@yahoo.co.id

Memang tentang Flores sungguh ada banyak ceritera serta analisa yang cukup menarik. Saat saya masih kuliah di Jerman dulu (tahun 1970-an) seorang profesor saya mengatakan di depan ruang seminar bahwa untuk dunia memang Flores merupakan sebuah fenomena khusus. Yaitu, telah terjadi semacam mukjizat di dunia pendidikan di mana hanya "dalam satu generasi orang Flores berubah dari masyarakat buta huruf menjadi kaum intelektual..."

Menurut Ibu Profesor tadi hal ini telah dibahas dan dilaporkan oleh "Dewan Para Ahli Pemerintah Jerman". Jadi, pengumuman bahwa telah terjadi mukjizat di bidang pendidikan di Flores bukan dibuat oleh sebuah surat kabar boulevard, tapi langsung oleh para ahli penasihat pemerintah Jerman sendiri. Tentu ada benarnya laporan tim ahli pemerintah Jerman Barat tersebut, tapi harus diingat bahwa ada kemungkinan besar bahwa hampir semua profesor tenaga ahli pemerintah Jerman tadi tak ada seorang pun yang tahu persis di mana letak Flores diatas muka bumi ini.

Saya menduga bahwa laporan istimewa tentang Flores tadi kemungkinan besar telah diselundupkan para pastor SVD asal Jerman ketengah tim para ahli tersebut. Atau bisa juga almarhum Pater Dr. Jan van Doormaal SVD yang telah menceriterakan hal tersebut kepada orang-orang ahli Jerman tadi.

Kawan saya Pater van Doormaal telah memainkan peran besar dalam menarik bantuan Pemerintah Jerman Barat untuk proyek pembanguan yang disebut "Flores-Timor Plan" . Proyek tersebut telah menelan biaya dari APBN Jerman sekitar 10 juta DM. Untuk menarik dana sebesar itu dari Pemerintah Jerman maka harus diciptakan sebuah mukjizat di Flores yaitu ceritera tentang keajaiban di bidang pendidikan tadi. Hal ini penting supaya baik pemerintah dan DPR Jerman senang hatinya dan lancar mengeluarkan dana bantuan tersebut.

Memang harus diingat bahwa Pater van Doormaal sangat ahli dalam tata cara berceritera kepada orang-orang Jerman yang umumnya amat minim pengetahuannya tentang Flores atau bahkan Indonesia. Perlu diingat bahwa dalam berkorespodensi dengan pihak pemerintah Jerman kawan saya tadi selalu menulis namanya sebagai Dr. JC von Doormaal, seorang tenaga ahli di bidang pertanian. (Perhatikan : van diganti von). Memang demi untuk "kebaikan Flores" segala trik telah dipakai kawan saya ini. Dulu di Jerman ada buku yang mendaftar semua nama orang Jerman yang memakai kata von karena itu katanya masih termasuk orang-orang dari kelas Mosalaki.

Kalau kita cari dalam buku pintar tersebut sampai tua juga tidak akan menemukan nama von Doormaal karena nama ini adalah nama orang Belanda. Tapi itulah kawan saya, Pater van Doormaal. Kenapa saya menyebut almarhum kawan saya? Beginilah ceriteranya (singkat saja).

Waktu melamar beasiswa pemerintah Jerman dulu saya disuruh ajak orang tua atau wali saat ada wawancara dengan seorang petugas beasiswa dari Jerman yang datang ke Jakarta. Kebetulan yang akan menginterviu saya waktu itu ialah seorang ibu muda yang bahasa Inggrisnya masih kurang lancar. Hal ini saya dapati saat beliau mulai menginterviu saya dan beliau berbicara dalam bahasa Inggris yang agak kaku (memang itu ciri khas orang Jerman). Melihat kekakuan itu saya langsung menginterupsi beliau dan mengatakan padanya: "Besser sprechen wir auf deutsch" (lebih baik kita bicara Jerman saja). Dan langsung saya merasa bahwa saya sudah menang--seperti orang main judi--yaitu bahwa beasiswa sudah ditangan saya.

Karena saya tidak dapat mendatangkan ayah saya dari Flores ke Jakarta maka yang saya ajak sebagai wali saya ialah Pater van Doormaal. Kebetulan juga tempat wawancara tadi tidak jauh dari kantor Soverdi Jakarta, tempat Pater van Doormaal menginap kalau berada di ibukota.

Setelah wawancara tadi, kini giliran Ibu muda dari Jerman tadi bicara empat mata dengan wali saya, yaitu Pater van Doormaal. Ibu tadi mengatakan bahwa kesan beliau tentang saya baik sekali hanya Ibu tadi sedikit cemas karena saya seorang Katolik dan Ibu tadi tahu bahwa Indonesia adalah sebuah negara Islam.

Mendengar itu langsung Pater van Dorrmaal bertanya balik kepada Ibu muda itu: "Sudah berapa lama Anda tinggal di Indonesia?" Ibu itu menjawab bahwa baru kemarin dia tiba di Jakarta. Langsung Pater van Doormaal menggelar kebolehannya. Beliau katakan pada Ibu itu bahwa beliau sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Indonesia. Pater van Doormaal bertanya apakah Ibu itu tahu bahwa ada seorang menteri beragama Katolik.... Mendegar uraikan Pater van Doormaal yang amat meyakinkan itu, maka sang ibu muda itu pun menyerah dan beasiswa untuk saya beres.

Itulah jasa Pater van Doormaal untuk saya pribadi.

Sekarang tentang peran orang Flores didunia internasional seperti saat ketiga orang Flores mengikuti acara PBB di Roma yang diceriterakan dalam surat Pak Don ini.
Hal ini gampang saja dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sejak kecil orang-orang Flores mulai dari kampungnya sudah biasa bergaul dengan para pastor dan suster missionaris orang-orang Barat. Kalau dia masuk sekolah juga sekolah diasuh oleh pastor, frater atau suster orang Barat. Jadi, untuk orang Flores bergaul dengan orang Barat itu tidak lagi merupakan sesuatu yang "asing" karena dari kecil dia sudah biasa dengan hal itu.

Pernah di Jakarta di depan banyak orang dalam sebuah pertemuan besar saya katakan bahwa "Indonesia ini untuk saya terlalu kecil", dunia saya lebih luas dari negeri kita. Jadi, untuk Bruder Martin dan Sdr. Emmanuel Dapa Loka dapat saya katakan bahwa memang peran orang Flores sudah demikian. Dari kampungnya dia sudah terbiasa bergaul secara internasional karena di sana ada banyak pastor orang Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Polandia, Hongaria, dan Ceko Slowakia.

4 comments:

  1. so, kenapa harus jadi mantan teman,Bro?? atau saya yang kurang bisa membaca...? :)

    salam kenal

    ReplyDelete
  2. thx for stopping by.. salam jazz juga

    ReplyDelete
  3. manusia tidak bergerak mundur tetap-i maju terus dari zaman batu sampai internet sekarang. maju terus flores

    ReplyDelete
  4. makanya jangan main-main dengan orang flores. orang flores itu hebat bung

    apong rahmat -malang

    ReplyDelete