27 June 2008

Bagus, pianis jazz tunanetra





Oleh Lainin Nadziroh

Cacat mata ternyata tak membuat Bagus Adimas Prasetyo (20), mahasiswa Jurusan Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya pesimistis menghadapi hidup. Keahliannya memainkan alat musik piano membuatnya kelimpungan mengatur jadwal antara show dan belajar di kampus. The invisible finger, begitu sebutan teman-temannya terhadap kemampuannya bermain piano.

Kecintaan Bagus terhadap dunia musik, sebenarnya mulai terlihat saat dia masih duduk di bangku kelas empat SD Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Buta di Tegalsari, Surabaya. Dari sini, bakatnya mulai terasah. Ayahnya, Bambang Hariyanto dan ibunya Sri Rejeki memberikan dukungan yang besar bagi perjalanan karirnya. Tak mengherankan, pada saat dia duduk di bangku kelas enam SDLB sang ayah mulai membelikannya piano.

''Saat berlatih piano itulah, ternyata saya makin suka. Dan lambat laun, akhirnya terlihat kalau saya suka lagu yang nge-jazz," kata Bagus yang ditemui saat latihan di markas komunitas jazz Surabaya, C-Two Six, Perumahan Medokan Ayu III A/C-26 Surabaya belum lama ini.

Sang ayah pun, makin bersemangat untuk menyekolahkan putranya bermain musik. Dan sejak duduk di bangku SMP, Bagus pun belajar kepada musisi jazz Buby Chen. Dia kursus bermain piano selama sekitar enam tahun.

Suatu saat, dia ingin mencoba bermain jazz di komunitas C-Two Six pada 2004 lalu. Dari sini, dia mulai merasa cocok. Akhirnya, dengan teman-temannya yang lain dan tergabung dalam grup musik Nadirat, mereka pun berkolaborasi untuk menghibur pecinta jazz di berbagai tempat. Nadirat Band ini terdiri dari Agus Pranajaya (vokalis), M Himawan (drum, keyboard), Kiki Wendra (bass), dan Bagus (piano).

Cowok kelahiran 30 Desember 1987 ini mulai mendapatkan tawaran bermain piano di restoran dan hotel sudah beberapa tahun lalu. Awalnya, dia hanya diminta temannya untuk menggantikan bermain musik di sebuah hotel.

''Dari situ, eh, malah seringkali mendapatkan tawaran main di beberapa tempat," kata putra kedua dari dua bersaudara ini.

Saat ini dalam satu minggu, dia harus manggung secara reguler dalam empat hari. Hari Minggu dan Senin, bermain di Sommerset, Hari Rabu di Garden Palace Hotel, dan hari Sabtu di Nine Resto. Jadwalnya bermain piano ini, mau tak mau memang menyita waktu kuliahnya di kampus. Beruntung, jurusan kuliah yang diambilnya masih berkaitan dengan seni musik. Praktis, meskipun harus manggung, dia tetap bisa menyelaraskan kemampuannya tersebut dengan hafalan materi dari bangku kuliah.

''Jadi, makin terasah kok," terang Bagus yang berat tubuhnya lebih dari 100 kilogram ini.

Saat berlatih kemarin, Bagus tampak memainkan beberapa lagu jazz yang sudah tak asing lagi. Antara lain Inner Beauty yang biasanya dibawakan grup jazz Cherokee, Dream Come True yang biasa dibawakan Four Play. Jari-jemarinya tampak lincah memainkan tuts piano di studio musik berukuran 3 m x 4 m. Dengan ekspresi wajah menghayati lagu-lagu tersebut, dia berusaha menyelaraskan suara tuts piano yang dipencet dengan musik lain yang dimainkan teman-temannya.

''Wah, kurang nyambung nih. Dicoba lagi ya biar pas," kata Wawan, panggilan karib M Himawan, yang turut berlatih dengan Bagus. Dan, latihan pun terus mengalir agar harmonisasi musik bisa terwujud. Meskipun tak bisa melihat, semangat bermain musik Bagus patut diacungi jempol.

*****

Belajar bersama dengan para siswa yang normal, tentu bukan hal yang mudah bagi Bagus. Keterbatasannya tak mampu melihat membuatnya harus mendapatkan bantuan ketika menerima materi mata kuliah tertentu. Begitu juga ketika Bagus harus tanda tangan kehadirannya di bangku kuliah.

''Terkadang ya, titip tanda tangan. Kalau ndak begitu, biasanya saya tanda tangan dengan dibantu teman," kata Bagus yang bicaranya ceplas-ceplos ini.

Beruntung, banyak teman yang membantunya untuk memahami materi kuliah. Hanya saja, yang seringkali membuatnya merasa tak nyaman, adalah saat ada dosen yang tak mau tahu kondisinya. Bahkan, dia seringkali diminta belajar sendiri di rumah untuk memainkan musik tertentu.

''Saya itu kan bisa mengikuti pelajaran, tetapi harus diajari dulu not-notnya bunyinya seperti apa. Nah, dari situ akhirnya saya bisa menirukan. Kalau disuruh belajar sendiri, ya, sama saja saya kursus dan akhirnya dapat ijasah," tambah Bagus.

Memang, hanya segelintir dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang bersikap acuh padanya. Yang lain, banyak pula yang sangat paham dengan kekurangannya. Beruntung, dosen yang acuh itu memiliki asisten dosen yang peduli dan membantunya bisa belajar. Biasanya, untuk mengikuti pelajaran dan ujian, maka dia mendengarkan dengan seksama terlebih dahulu. Berbekal hafalan itulah, dia akhirnya bisa diterima kuliah di Unesa.

Di bangku SMA, Bagus juga bercampur dengan siswa yang normal. Dia bersekolah di SMA GIKI 1 Dukuh Kupang. Tak jarang, teman-teman perempuannya menggandeng Bagus dan masuk ke dalam ruangan kelas. ''Teman-temannya yang laki-laki sering berseloroh begini, 'Enake rek bagus, diantar cewek-cewek. Tapi, itu ternyata tak membuat Bagus marah," tambah Kiki Wendra, yang masih kerabat Bagus.

Apakah tidak sempat risih dengan celetukan-celetukan yang terkesan mencemooh? ''Wah, gimana ya mbak. Saya sudah biasa kok, dan lagi orangnya ndableg. Makanya ya...santai saja hahaha," terang Bagus.

Tak jarang pula, postur tubuhnya yang besar diibaratkan sebagai lemari berjalan. Suatu saat, Bagus pernah menabrak meja di ruang kelas. Seorang teman pun menggodanya dengan celetukan gaya suroboyoan: 'He..lek mlaku ndelok ta!" Meski digoda seperti itu, Bagus cuek saja.

Kini, dengan kemampuannya bermain piano tersebut, dia berharap suatu saat ingin mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian Royal Jazz. Ini merupakan ujian persamaan bertaraf internasional yang digelar di Singapura. Jika berhasil mengantongi ijasah Royal Jazz ini, maka kemampuannya bisa dijual ke berbagai negara.

''Tetapi itu tidak mudah dan butuh biaya besar. Harapan saya, nanti bisa ikut ujian ini," kata cowok yang mengidolakan penyanyi Syaharani ini.

Bersama rekan-rekannya di komunitas C.Two Six, kini dia makin mendalami jazz. Agar tidak membosankan, dia senang ketika bisa bermain lagu etnik yang dibuat nge-jazz. Seperti lagu khas Madura 'Tanduk Majeng', yang pernah dimainkan bersama grup jazz Nadirat. ''Istilahnya kita itu, pakai cord miring. Jadi, notasinya ditambah dengan nada jazz," kata cowok berbintang Capricornus ini, dan tak menyiakan waktu bermain jazz dengan Ad Colen Quartet saat bertandang ke Surabaya awal Maret 2006 lalu.

Hal lain yang ingin dicapai adalah suatu saat bisa mengajar di sekolah luar biasa atau SLB. Dia ingin menularkan kemampuannya bermain piano kepada mereka yang ditakdirkan cacat mata seperti yang dialaminya. Dengan begitu, maka diharapkan mereka tak patah semangat menghadapi hidup. "Ingin sekali saya bisa mengajar di SLB. Mudah-mudahan saja bisa terwujud," katanya.

No comments:

Post a Comment