28 June 2008

Jazz dan media di Surabaya



Konser PIG--Pra Budhidarma, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan--di Vista Sidewalk Cafe Surabaya beberapa waktu lalu tidak mendapat perhatian dari media massa di Surabaya. Tulisan dan ulasan di surat kabar tidak ada.

Oleh Isa Anshori
Penyiar Program Jazz Traffic Radio Suara Surabaya


Sulit diruntut sejak kapan hubungan yang saling berpengaruh (baca: saling menguntungkan) antara musik jazz dengan media massa. Tetapi minimal bisa ditelaah dari perkembangan jazz di Indonesia, yang mana media turut serta menyemangati sekaligus memberi telaah secara konstruktif.


Minimnya pemberitaan tentang musik jazz di era 70 sampai 80-an, tidak lepas dari minimnya apresiasi musik di ranah komunitas penggemar musik di Indonesia. Belum lagi pada tahun-tahun itu, dominasi musik masih dikuasai musik pop, rock dan dangdut. Era keemasan Koes Plus, Bimbo, Panbers, dan lain-lain di jalur pop, Soneta dengan dangdutnya, sementara Godbless, SAS, Giant Step begitu kuatnya menguasai pangsa pasar musik Indonesia. Mereka juga sangat mendominasi pemberitaan media.

Lalu, ke mana musik jazz?

Musik jazz patut iri dengan perkembangan musik lainnya, yang secara konsisten memanfaatkan media sebagai wahana mendekatkan diri kepada para penikmatnya. Jazz tampaknya masih “malu-malu” tampil di media massa, baik cetak maupun eletronik. Ini bisa dilihat dari minimnya berita-berita tentang jazz, baik dalam skala nasional maupun regional.

Sumber persoalannya bisa ditebak, dekade 70 sampai 90-an, tidak banyak musisi jazz yang secara kontinyu tampil di media. Sementara media sebesar TVRI sekalipun tidak bisa bertahan lama menghadirkan acara musik jazz. Sementara musisinya sendiri terlalu larut dengan dunianya, sehingga tidak sempat berpikir “memanfaatkan” media sebagai ujung tombak perkembangan musik jazz Indonesia.

Kalaupun pecinta jazz ingin menikmati musik “elit” ini, paling-paling mereka mendengarnya lewat siaran radio asing yang dapat ditangkap di wilayah Indonesia. Media massa kita belum bisa mengambil peran banyak terhadap perkembangan musik jazz di tanah air, termasuk Surabaya. Peta buram hubungan jazz dan media?


Gudang Musisi minim Apresiasi

Perkembangan jazz di Surabaya agaknya timpang dengan jumlah media massa lokal yang ada. Tidak terhitung berapa jumlah media massa di Surabaya area, baik cetak maupun elektronik. Tetapi hanya sedikit yang secara konsisten dan kontinyu mengangkat jazz dengan segala perniknya. Alasan minim apresiasi dari khalayak media terhadap musik jazz menjadi alat pembenar mereka jarang atau tidak mau menulis dan atau menyiarkan musik jazz.

Di sisi lain rekan-rekan jurnalis masih “gagap” tentang musik jazz, sehingga laporan liputan mereka tentang jazz sangat dangkal kalau tidak boleh dibilang minim pengetahuan. Bubi Chen pernah dibuat jengkel terhadap tulisan di media nasional, yang menulis:

“Menikmati Sisa Energi Bubi Chen”. Dalam salah satu alinea jurnalis itu menulis: “Penampilan Bubi malam itu diiringi pertanyaan sebagian penonton yang merasa ada yang hilang dari permainannya. Satu-satunya pianis Indonesia yang dianggap mampu memainkan jazz jenis bebob dengan sempurna itu terkesan tidak larut dalam permainannya. Hentakan dalam permainannya terkesan tidak mengalir lancar dan kekurangan energi.”

Bubi Chen mengatakan, kalau tidak mengerti tentang musik jazz jangan menulis, karena akan mengacaukan apresiasi penikmat musik jazz.

Surabaya sebagai gudangnya musisi jazz, tampaknya hanya sebagai tempat lahir saja dari mereka (kecuali Bubi Chen) yang selama beberapa dekade meramaikan peta musik jazz tanah air. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya panggung-panggung jazz yang bisa berumur panjang.

Sampai di sini, Surabaya sebagai kota besar lagi-lagi masih harus gigit jari ditinggal musisinya terbang ke ibukota untuk memproses album rekaman. Sampai sekarang nyatanya belum ada studio musik di Surabaya yang sukses memproduksi album-album musik, terutama jazz, sehingga lagi-lagi Jakarta menjadi tujuan utama para musisi tanah air. Artinya, Surabaya masih belum mampu menjadi alternatif industri musik tanah air. Harus diakui, memproduksi album jazz kala itu harus siap dengan sambutan dingin penikmat musik tanah air. Sampai kapan?


Angin itu Berbuah Manis

Pasca tahun 90-an perkembangan jazz termasuk hubungannya dengan media mulai sangat intens. Munculnya jazzer-jazzer baru tampaknya mulai menarik minat media massa, untuk mengakrabi musik penuh improvisasi ini. Gelombang industri musik Indonesia termasuk jazz di dalamnya, mulai meramaikan rubrik hiburan di media.

Beberapa radio di kota-kota besar mulai kontinyu memasukkan musik jazz dalam salah satu program siarnya. Sementara hubungan perusahaan rekaman dengan media massa yang sudah terjalin baik selama bertahun-tahun, mulai giat mengantar artis jazz mereka untuk road show promo album ke beberapa media.

Munculnya wajah-wajah baru dalam blantika jazz Indonesia, sebuah fenomena yang luar biasa. Dalam hitungan sepuluh tahun terakhir sudah tidak terhitung berapa banyak musisi muda Indonesia yang berkiprah di dunia jazz. Bahkan, beberapa di antaranya berani “menentang arus” dengan menghadirkan musik jazz yang agak sulit diterima pasar. Toh, media massa sebagai partnership industri musik mampu menjadi jembatan penghubung antara pelaku jazz dengan penikmatnya.

Era Digital, Peluang atau Ancaman

Tidak lama lagi industri media elektronik memasuki babak baru (baca: digitalisasi). Industri musik sudah mengantisipasi perkembangan teknologi ini, dengan memunculkan album dalam bentuk digital selain kaset dan cd. Konsumen bisa memilih apa yang merka mau. Sementara televisi dan radio sebentar lagi juga meramaikan teknologi baru ini dalam siarannya.

Sebagai catatan, server yang menyimpan ribuan atau bahkan jutaan lagu, termasuk jazz, nantinya bisa dengan mudah diakses khalayak penikmatnya. Dengan piranti gadget yang beraneka ragam, mereka bisa men-downloud lagu yang disukai. Sementara radio dan televisi nantinya juga sudah tidak perlu lagi membeli cd untuk kemudian di-upload ke dalam server database mereka, karena semua lagu bisa diakses dari server universal yang menyediakan konten lagu.

Gelombang besar di bidang teknologi digital ini yang harus diantisipasi praktisi musik kita. Ukuran sukses mereka tidak bisa lagi memakai ukuran jumlah album yang terjual. Beberapa grup dan musisi mancanegara sudah mengalihkan perhatian mereka dari tataran sukses secara konvensional. Bagaimana dengan media massa, musisi, dan penyanyi kita? (*)

Danau Kelimutu di Flores


Oleh Metta Dharmasaputa

Sejaras cahaya jingga seolah membelah langit ketika saya tiba di puncak gunung suatu pagi pada Maret 2008. Pucuk-pucuk cemara tegak di tepian kawah, hening dan berkilau keemasan dalam cahaya fajar. Di ketinggian 1.670 meter, angin dingin menderu menusuk tulang. Yohanes Voda, 61 tahun, menyuguhkan secangkir kopi jahe hangat. Nikmatnya bukan main. Apalagi kerongkongan sudah kering setelah mendaki Gunung Kelimutu.

Seperti semua turis lain yang sudi mendaki satu kilometer anak tangga sampai ngos-ngosan, tujuan saya adalah menikmati keelokan kawah tiga warna di puncak gunung itu: Danau Kelimutu. Tak ada catatan pasti kapan danau tiga warna ini mua-mula ditemukan penduduk setempat. Warna airnya berubah-ubah dari masa ke masa. Namun, kelir air danau paling terkenal adalah merah, putih, dan biru. Inilah warna yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah dasar di berbagai belahan Pulau Flores. Dari masa ke masa, warna ini berubah-ubah seturut dengan musim, cahaya matahari, serta aneka perubahan kimiawi di dasar kawah.

Di sebuah tugu kecil di puncak gunung saya bertemu Yohanes Voda. Dia penduduk setempat yang telah 'merawat' Kelimutu selama 26 tahun terakhir sembari berjualan sekadar minuman bagi para turis. Dia pula yang memandu saya ke puncak menunjukkan kawah tiga warna. Indah, tenang, dan mistis, air danau terbentang jauh di dasar kawah dalam warna hijau kebiru-biruan, hitam, dan cokelat pekat seperti Coca Cola. Pak Tua Voda ibarat 'juru kunci tak resmi' bagi para pelancong Kelimutu.

Di sebuah pelataran dekat tugu kecil, Voda 'menjamu' tamunya setiap pagi--turis lokal dan asing. Mereka datang pagi-pagi benar, mengejar matahari terbit, agar keindahan puncak ketiga danau gunung itu dapat dilahap mata secara maksimal. "Saya sudah 26 tahun berjualan di sini," ujar Voda. Berdiam di sebuah desa di kaki gunung, dia berjalan kaki enam kilometer setiap hari untuk menjajakan kopi jahe khas Ende, teh hangat, serta lembar-lembar tenun ikat.

Kain-kain itu bersepuh warna alami dari akar mengkudu dan daun nila. Selembar kain dia hargai Rp 125 ribu. "Agak mahal karena selembar kain itu butuh tiga bulan untuk membuatnya," kata Voda. Puncak Kelimutu bukan sekadar tempat dia mencari nafkah. Tiga kawah itu dia yakini sebagai tempat bermukim para arwah leluhur suku Lio, suku asli di Kabupaten Ende.

"Tempat ini keramat dan disucikan," kata Voda. Karena itu, ia meminta setiap pengunjung tak sembarang memetik buah dari tanaman khas bedaun merah yang tumbuh di sepanjang bukit. "Itu makanan para arwah. Kalau mau petik, izin dulu," dia menambahkan.

***

Terletak 60 kilometer dari Ende, ibu kota Kabupaten Ende, kawah di puncak Kelimutu telah lama menjadi andalan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Namanya masyur bahkan hingga ke berbagai belahan dunia, terutama melalui getok tular para turis asing yang pernah melancong ke sana.

Bentuknya mirip danau membuat sisa kawah ini pun disebut Danau Kelimutu atau danau triwarna. Berada di lahan sekitar 5.000 hektare, sejak 1967 kawasan ini ditetapkan pemerintah sebagai taman nasional. Wilayahnya masuk lima kecamatan: Detusoko, Ndona, Ndona Timur, Wolojita, dan Kelimutu.

Van Schuktelen, warga negara Belanda, yang mula-mula 'membuka' informasi danau tiga warna ini ke dunia luas pada 1915. Keindahan Kelimutu kian tesia setelah Y. Bouman, juga seorang pelancong Eropa, menuliskannya pada 1929. Sejak saat itulah turis asing mulai berdatangan. Misionaris asing di Flores turut membawa kabar tentang danau unik ini ke belahan Eropa dan negeri lain. Belum lagi peneliti yang amat tertarik mencari tahu penyebab fenomena alam yang amat langka ini.

Di Ende Lio, penduduk menyebut ketiga danau ini sebagai Tiwu Ata Mbupu (danau orang tua), Tiwu Nua Muri Ko'o Fai (danau muda-mudi), dan Tiwu Ata Polo (danau tukang tenung) yang dikenal angker. Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri hanya dipisahkan dinding terjal selebar 15-20 meter. Sekitar 300 meter di sebelah barat Tiwu Nua Muri terletak Tiwu Ata Mbupu. Masyarakat sekitar percaya bahwa Danau Kelimutu adalah tempat semayam arwah para leluhur. Setelah meninggal, arwah mereka pindah dari kampung ke puncak Kelimutu untuk selamanya. Kawah mana yang akan ditempati tergantung usia dan amal perbuatannya semasa hidup.

Sebelum masuk ke salah satu danau, menurut kepercayaan, para arwah terlebih dahulu menghadap Konde Ratu. Dialah penjaga gerbang Perikonde, yang diyakini sebagai pintu masuk arwah menuju Danau Kelimutu. Di sini setiap pengunjung diperkenankan memberikan kepingan uang logam, sirih pinang, atau rokok sebagai persembahan kepada Konde Ratu.

***

Kelimutu juga memiliki tempat tersendiri di hati Soekarno. Menurut Voda, presiden pertama Indonesia itu biasa bersemedi di puncak gunung semasa keluarganya dibuang pemerintah Belanda pada 1934-1938. Sebagian jejak Soekarno masih terekam di Museum Bung Karno di Jalan Perwira Ende. Sejumlah barang koleksi miliknya masih tesimpan baik. Seperti foto keluarga dan pribadi Bung Karno, barang-barang keramik, dua tongkat berkepala monyet, lemari pakaian, dan tempat tidur.

Di halaman belakang ada sumur yang digali sendiri oleh Soekarno untuk keperluan sehari-hari. Sebagian kalangan percaya airnya berkhasiat menyembuhkan penyakit dan obat awet muda. Musa, penjaga museum, mengatakan: "Ada pengunjung khusus datang untuk mengambil air dari sumur itu."

Peninggalan lain yang menjadi daya tarik museum adalah ruang semadi Bung Karno. Dalam ruang senyap dan dingin berukuran tiga kali dua meter itu Soekarno biasa menghabiskan malam untuk bersujud memohon 'bantuan' bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Anggota DPR Permadi pernah juga bersemadi di situ," kata Musa. Di kota ini pulalah Soekarno mencetuskan ide lahirnya Pancasila. "Jika ke Kelimutu, Bung Karno pergi dengan berkuda," Musa menambahkan.

Guntur Soekarnoputra, anak tertua Bung Karno, meneruskan kebiasaan ayahnya. Voda menuturkan, dua tahun lalu [2006] Guntur datang mengendarai ojek untuk mengambil air dari dasar kawah. Setelah bersemadi dari malam hingga subuh, ia melepas ayam merah. "Sayalah yang menjaga ayam itu," kata Voda.

***

Bagi para turis yang tidak suka pada urusan klenik, 'keajaiban' tiga kawah Kelimutu tetap punya daya tarik. Warna air di ketiga kawah itu terus berubah. Kawah Tiwu Ata Mbupu yang pada 1915 berwarna merah darah, kini berwarna hitam kecokelatan. Begitu pula Tiwu Nua Muri. Kawah aktif dengan kedalaman 127 meter ini terus berubah warna dari hijau zamrud menjadi putih, biru, dan akhirnya hijau muda. Sedangkan Tiwu Ata Polo dari putih, hijau, biru, merah, dan kini cokelat kehitaman.

Menurut sejumlah peneliti, perubahan warna di kawah itu bisa jadi akibat pembiasan cahaya matahari dan pantulan warna dinding kawah, biota air, pantulan dasar danau, serta perubahan zat kimia yang terlarut di kawah. "Luar biasa indah," kata Mary, turis asal Amerika berdarah Indian.

Sayang, keindahan itu tak bisa dinikmati lama-lama. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kabut sudah menyelimuti permukaan kawah. Karena itu, para wisatawan harus berangkat dari Ende ketika hari masih gelap agar setelah dua jam perjalanan mobil, mereka bisa mencapai danau ketika matahari terbit.

Pilihan lain adalah menginap semalam di Kampung Moni, 12 kilometer dari Kelimutu. Kebanyakan turis asal Eropa bahkan bisa menghabiskan 4-5 hari di sana. "Pagi-pagi mereka berlari menuju puncak gunung," ujar seorang staf penginapan. Setelah kabut menyergap, barulah mereka turun.

Perjalanan pulang biasanya menjadi saat-saat menarik karena banyak 'lukisan alam' yang luput terlihat sebelum terang tanah. Persawahan, air terjun, pemandian air hangat, serta jalan terjal yang melingkar di punggung bukit-bukit Flores yang permai. (Majalah TEMPO, 29 Juni 2008)

27 June 2008

Bagus, pianis jazz tunanetra





Oleh Lainin Nadziroh

Cacat mata ternyata tak membuat Bagus Adimas Prasetyo (20), mahasiswa Jurusan Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya pesimistis menghadapi hidup. Keahliannya memainkan alat musik piano membuatnya kelimpungan mengatur jadwal antara show dan belajar di kampus. The invisible finger, begitu sebutan teman-temannya terhadap kemampuannya bermain piano.

Kecintaan Bagus terhadap dunia musik, sebenarnya mulai terlihat saat dia masih duduk di bangku kelas empat SD Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Buta di Tegalsari, Surabaya. Dari sini, bakatnya mulai terasah. Ayahnya, Bambang Hariyanto dan ibunya Sri Rejeki memberikan dukungan yang besar bagi perjalanan karirnya. Tak mengherankan, pada saat dia duduk di bangku kelas enam SDLB sang ayah mulai membelikannya piano.

''Saat berlatih piano itulah, ternyata saya makin suka. Dan lambat laun, akhirnya terlihat kalau saya suka lagu yang nge-jazz," kata Bagus yang ditemui saat latihan di markas komunitas jazz Surabaya, C-Two Six, Perumahan Medokan Ayu III A/C-26 Surabaya belum lama ini.

Sang ayah pun, makin bersemangat untuk menyekolahkan putranya bermain musik. Dan sejak duduk di bangku SMP, Bagus pun belajar kepada musisi jazz Buby Chen. Dia kursus bermain piano selama sekitar enam tahun.

Suatu saat, dia ingin mencoba bermain jazz di komunitas C-Two Six pada 2004 lalu. Dari sini, dia mulai merasa cocok. Akhirnya, dengan teman-temannya yang lain dan tergabung dalam grup musik Nadirat, mereka pun berkolaborasi untuk menghibur pecinta jazz di berbagai tempat. Nadirat Band ini terdiri dari Agus Pranajaya (vokalis), M Himawan (drum, keyboard), Kiki Wendra (bass), dan Bagus (piano).

Cowok kelahiran 30 Desember 1987 ini mulai mendapatkan tawaran bermain piano di restoran dan hotel sudah beberapa tahun lalu. Awalnya, dia hanya diminta temannya untuk menggantikan bermain musik di sebuah hotel.

''Dari situ, eh, malah seringkali mendapatkan tawaran main di beberapa tempat," kata putra kedua dari dua bersaudara ini.

Saat ini dalam satu minggu, dia harus manggung secara reguler dalam empat hari. Hari Minggu dan Senin, bermain di Sommerset, Hari Rabu di Garden Palace Hotel, dan hari Sabtu di Nine Resto. Jadwalnya bermain piano ini, mau tak mau memang menyita waktu kuliahnya di kampus. Beruntung, jurusan kuliah yang diambilnya masih berkaitan dengan seni musik. Praktis, meskipun harus manggung, dia tetap bisa menyelaraskan kemampuannya tersebut dengan hafalan materi dari bangku kuliah.

''Jadi, makin terasah kok," terang Bagus yang berat tubuhnya lebih dari 100 kilogram ini.

Saat berlatih kemarin, Bagus tampak memainkan beberapa lagu jazz yang sudah tak asing lagi. Antara lain Inner Beauty yang biasanya dibawakan grup jazz Cherokee, Dream Come True yang biasa dibawakan Four Play. Jari-jemarinya tampak lincah memainkan tuts piano di studio musik berukuran 3 m x 4 m. Dengan ekspresi wajah menghayati lagu-lagu tersebut, dia berusaha menyelaraskan suara tuts piano yang dipencet dengan musik lain yang dimainkan teman-temannya.

''Wah, kurang nyambung nih. Dicoba lagi ya biar pas," kata Wawan, panggilan karib M Himawan, yang turut berlatih dengan Bagus. Dan, latihan pun terus mengalir agar harmonisasi musik bisa terwujud. Meskipun tak bisa melihat, semangat bermain musik Bagus patut diacungi jempol.

*****

Belajar bersama dengan para siswa yang normal, tentu bukan hal yang mudah bagi Bagus. Keterbatasannya tak mampu melihat membuatnya harus mendapatkan bantuan ketika menerima materi mata kuliah tertentu. Begitu juga ketika Bagus harus tanda tangan kehadirannya di bangku kuliah.

''Terkadang ya, titip tanda tangan. Kalau ndak begitu, biasanya saya tanda tangan dengan dibantu teman," kata Bagus yang bicaranya ceplas-ceplos ini.

Beruntung, banyak teman yang membantunya untuk memahami materi kuliah. Hanya saja, yang seringkali membuatnya merasa tak nyaman, adalah saat ada dosen yang tak mau tahu kondisinya. Bahkan, dia seringkali diminta belajar sendiri di rumah untuk memainkan musik tertentu.

''Saya itu kan bisa mengikuti pelajaran, tetapi harus diajari dulu not-notnya bunyinya seperti apa. Nah, dari situ akhirnya saya bisa menirukan. Kalau disuruh belajar sendiri, ya, sama saja saya kursus dan akhirnya dapat ijasah," tambah Bagus.

Memang, hanya segelintir dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang bersikap acuh padanya. Yang lain, banyak pula yang sangat paham dengan kekurangannya. Beruntung, dosen yang acuh itu memiliki asisten dosen yang peduli dan membantunya bisa belajar. Biasanya, untuk mengikuti pelajaran dan ujian, maka dia mendengarkan dengan seksama terlebih dahulu. Berbekal hafalan itulah, dia akhirnya bisa diterima kuliah di Unesa.

Di bangku SMA, Bagus juga bercampur dengan siswa yang normal. Dia bersekolah di SMA GIKI 1 Dukuh Kupang. Tak jarang, teman-teman perempuannya menggandeng Bagus dan masuk ke dalam ruangan kelas. ''Teman-temannya yang laki-laki sering berseloroh begini, 'Enake rek bagus, diantar cewek-cewek. Tapi, itu ternyata tak membuat Bagus marah," tambah Kiki Wendra, yang masih kerabat Bagus.

Apakah tidak sempat risih dengan celetukan-celetukan yang terkesan mencemooh? ''Wah, gimana ya mbak. Saya sudah biasa kok, dan lagi orangnya ndableg. Makanya ya...santai saja hahaha," terang Bagus.

Tak jarang pula, postur tubuhnya yang besar diibaratkan sebagai lemari berjalan. Suatu saat, Bagus pernah menabrak meja di ruang kelas. Seorang teman pun menggodanya dengan celetukan gaya suroboyoan: 'He..lek mlaku ndelok ta!" Meski digoda seperti itu, Bagus cuek saja.

Kini, dengan kemampuannya bermain piano tersebut, dia berharap suatu saat ingin mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian Royal Jazz. Ini merupakan ujian persamaan bertaraf internasional yang digelar di Singapura. Jika berhasil mengantongi ijasah Royal Jazz ini, maka kemampuannya bisa dijual ke berbagai negara.

''Tetapi itu tidak mudah dan butuh biaya besar. Harapan saya, nanti bisa ikut ujian ini," kata cowok yang mengidolakan penyanyi Syaharani ini.

Bersama rekan-rekannya di komunitas C.Two Six, kini dia makin mendalami jazz. Agar tidak membosankan, dia senang ketika bisa bermain lagu etnik yang dibuat nge-jazz. Seperti lagu khas Madura 'Tanduk Majeng', yang pernah dimainkan bersama grup jazz Nadirat. ''Istilahnya kita itu, pakai cord miring. Jadi, notasinya ditambah dengan nada jazz," kata cowok berbintang Capricornus ini, dan tak menyiakan waktu bermain jazz dengan Ad Colen Quartet saat bertandang ke Surabaya awal Maret 2006 lalu.

Hal lain yang ingin dicapai adalah suatu saat bisa mengajar di sekolah luar biasa atau SLB. Dia ingin menularkan kemampuannya bermain piano kepada mereka yang ditakdirkan cacat mata seperti yang dialaminya. Dengan begitu, maka diharapkan mereka tak patah semangat menghadapi hidup. "Ingin sekali saya bisa mengajar di SLB. Mudah-mudahan saja bisa terwujud," katanya.

26 June 2008

Sanggar Alang-Alang Sidoarjo




Kalau di Surabaya ada Didit Hape, di Sidoarjo ada Priyo Utomo. Pria kelahiran Surabaya, 7 April 1957 ini di balik Sanggar Alang-Alang Delta, Sidoarjo. Dialah motor utama penggerak sanggar ini.

Diakui Priyo, komitmennya pada ‘anak-anak negeri’ (alias anak-anak jalanan) tak lepas dari kekagumannya pada sosok Didit Hape. Setelah mengenal beberapa komunitas serupa, di Surabaya, Priyo merasa lebih pas dengan pola pembinaan Didit Hape di Alang-Alang.

Lalu, mereka diskusi, membahas konsep pembinaan... hingga akhirnya lahir komunitas Alang-Alang Delta pada 28 September 2005.

Mula-mula Priyo, ayah tiga anak ini, keluyuran ke alun-alun dan kantong-kantong anak jalanan di Sidoarjo. Menyapa, mengajak bicara, mengenal mereka lebih dalam. Masa orientasi ini dilakukan cukup lama, hingga Priyo benar-benar memahami karakter ‘anak negeri’ Sidoarjo. “Ternyata, berbeda dengan Surabaya. Ada yang khas,’’ cerita suami Syamsiar Rahmayasidi itu kepada saya.

Salah satu kekhasan anak jalanan di Sidoarjo adalah komunitas punk, punkers. Mereka ini bukan anak pengemis-gelandangan, keluarga miskin, melainkan anak orang-orang biasa, bahkan sangat mapan. Beberapa di antara mereka anak pejabat atau pengusaha kaya. Uang, fasilitas, rumah, mobil... mereka punya. Kok?

‘’Katanya mereka mau mencari jatidiri, identitas. Saya juga heran, cari identitas kok mbambung, jadi gelandangan?’’ kenang Priyo Utomo.

Di tahap pendataan ini Priyo berhasil menyapa 37 punkers. Mereka diajak berkumpul, bicara dari hati ke hati, di rumah Priyo, kawasan pinggir Kali Pucang. Klop, karena Priyo yang pemusik bertemu dengan para punkers yang setiap hari main musik atau ngamen di jalanan.

Selain memberikan semacam kursus musik (hasilnya beberapa anak sudah punya band bagus), pelan-pelan Priyo menanamkan empat prinsip Alang-Alang: etika, estetika, norma, dan agama. ‘’Awalnya sulit, tidak semudah membalik tangan,’’ kata mantan anak kolong itu. (Ayah Priyo Utomo perwira tinggi Marinir-TNI Angkatan Laut.)

Kini, komunitas punkers yang dibina di Alang-Alang Delta tercatat 74 orang. Tidak semuanya punkers yang ‘mencari jatidiri’, ada juga anak-anak dari keluarga miskin. Di Alang-Alang Delta, 74 anak ini--harus berusia di bawah 18 tahun, lebih dari itu diharapkan sudah bisa mandiri--masuk dalam kategori pertama.

Membina mereka, kata Priyo, gampang-gampang sulit mengingat ‘tradisi’ menggelandang yan sudah mendarah daging. Mereka kadang-kadang merasa terlalu diatur atau dikekang. Tapi, sesuai dengan empat prinsip Alang-Alang (etika, estetika, norma, agama), hidup menggelandang jelas tidak cocok di Indonesia. Tak heran, mereka jadi cemoohan masyarakat, dirazia aparat keamanan.

Menurut Priyo, hampir semua ‘anak negeri’ ini putus sekolah sejak kelas 4-5 SD. Beberapa anak putus kelas 3, bahkan ada yang buta huruf. Karena itu, Alang-Alang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Sidoarjo menggelar program Kejar Paket A di dalam sanggar.

Program ini dilakukan tiga kali sepekan dengan tutor (guru) yang disahkan dinas. Sehingga, setelah ikut Kejar Paket ‘anak-anak negeri’ mendapat ijazah setara SD. Mereka bisa melanjutkan ke SLTP (biasa) atau Kejar Paket lanjutan.

Skill bermusik ‘anak-anak negeri’ juga terus diasah. Didukung beberapa warga, Alang-Alang membuat sebuah studio musik, namanya Studio Alam. Berbagai instrumen standar band tersedia, sound-system lumayan, Priyo ingin mendidik mereka menjadi pemusik profesional. Priyo tak ingin anak-anak asuhnya mengamen ala pengemis jalanan, tapi bermusik secara profesional di kampung-kampung.

Selain membina anak-anak jalanan), Alang-Alang Delta menjadi wahana bagi anak-anak ‘ratu’. Mereka berasal dari keluarga mapan, anak pejabat, termasuk keponakan menteri.


MENURUT Priyo Utomo, bos Alang-Alang Delta, munculnya anak-anak ‘ratu’ ini karena perkembangan di lapangan setelah sanggarnya eksis di sidoarjo. Tadinya, Priyo hanya ingin fokus apada anak-anak ‘negeri’, khususnya punkers. Mereka diberi kursus musik, kejar paket A, serta empat prinsip Alang-Alang (etika, estetika, norma, agama).

Eh, setelah Alang-Alang Delta berjalan, beberapa anak dari tokoh yang selama ini peduli dengan Alang-Alang tertarik untuk belajar musik. Anak-anak ‘ratu’ pun tak risi ketika harus berbaur dengan anak-anak ‘negeri’.

‘’Saya pikir, kenapa tidak? Ini sekaligus menjadi ajang pembauran antara anak ‘negeri’ dan anak ‘ratu’ di Sidoarjo,’’ jelas Priyo Utomo.

Namun, sebagai orang yang tahu psikologi anak dan remaja, Priyo tidak ingin mencampur begitu saja anak ‘negeri’ dan anak ‘ratu’. Sebab, latar belakang, perhatian orang tua, penampilan, gaya hidup... kedua kelompok ini sangat berbeda.

Priyo lantas membuat kelompok ‘anak ratu’, kendati benderanya tetap Alang-Alang Delta. Umumnya, anak-anak ‘ratu’ yang gaul ini belajar beberapa instrumen musik.

‘’Sekarang lagi latihan intensif. Mereka akan saya ikutkan di sebuah festival band pelajar di Sidoarjo,’’ ujar Priyo Utomo.

Tak hanya bicara, pria kelahiran Surabaya, 7 April 1957 ini meminta band ‘anak ratu’ (semua personel perempuan) untuk memperlihatkan kemampuannya di depan wartawan RADAR Surabaya. Lumayan ciamik, apalagi sang drummer yang merangkap vokalis.

Priyo mengaku selalu menekankan rasa kebersamaan di antara anggota komunitas Alang-Alang. Kendati berbeda latar belakang, ‘anak negeri’ dan ‘anak ratu’ sama-sama keluarga besar Sanggar Alang-Alang Delta.

"Saya selalu tekankan agar mereka memegang teguh etika, norma, agama, estetika. Yang lebih mudah memanggil yang lebih tua dengan ‘mas’, dan sebaliknya ‘adik’. Dan itu mereka lakukan," kata ayah tiga anak itu.

Di sini Priyo Utomo berhasil membuktikan bahwa anak telantar, anak orang miskin, anak orang kaya, anak pejabat, bisa berinteraksi tanpa hambatan psikologis. Di Alang-Alang Delta tembok psikologis yang membatasi orang kaya dan miskin praktis tidak ada. Dengan bangga, Priyo menunjuk gadis mungil (balita) yang tengah belajar komputer di sebuah ruangan Alang-Alang.

‘’Anak itu keponakannya Bu Meutia-Hatta (menteri pemberdayaan perempuan),’’ ujar Priyo seraya tersenyum.

Hadirnya ‘anak ratu’, tak ayal, melahirkan kelompok ketiga di Alang-Alang, yakni kelompok pelajar. Ini tak lepas dari ‘sosialisasi’ secara tidak langsung dari anak-anak ‘ratu’ kepada teman-temannya di sekolah. Para guru SMP terkejut melihat kemampuan anak-anak didiknya yang bisa main band.

Usut punya usut, akhirnya anak-anak ‘ratu’ itu mengaku belajar musik di Alang-Alang. Pak Guru terkejut karena dalam tempo sangat singkat anak-anak bisa main band, padahal sebelumnya tidak bisa apa-apa.

Guru-guru pun sadar bahwa mereka bukan makhluk yang serba bisa. Guru di sekolah umumnya lebih banyak mengajar teori musik dan teori-teori lain, tapi praktik lebih efektif di luar sekolah. Salah satunya Alang-Alang Delta. Dari sinilah beberapa guru musik SLTP di Sidoarjo ‘menitipkan’ siswa-siswinya kepada Priyo Utomo. Saat saya berada di Alang-Alang Delta, giliran anak-anak SMPN 5 Sidoarjo yang belajar main band.

"Mereka ini bukan ‘anak negeri’ atau ‘anak ratu’, tapi kelompok pelajar," ujar Priyo Utomo. Band SMPN 5, misalnya, tengah serius belajar lagu-lagu Peterpan, yang dijadikan lagu standar latihan di Alang-Alang.

Yang menarik, sekian banyak program di Alang-Alang Delta ditangani dengan manajemen keluarga. Priyo Utomo sebagai pimpinan, dibantu sang istri (Syamsiar Rahmayasidi) serta Ryan Utomo (sang anak).

Manajemen kecil ‘kekeluargaan’ ini mengadopsi pola Didit Hape, bos Alang-Alang Surabaya yang dianggap sudah sukses.

CONTACT PERSON

Priyo Utomo

031 6109 6237
0816 156 39114
031 6021 7577
0812 596 17920

19 June 2008

Wawang airbrusher kondang



Irwan Wahyudy alias Wawang, arek Magersari Permai R-03 Sidoarjo, menjadi salah satu airbrusher terkemuka di Jawa Timur. Belum lama ini ia dipercaya tabloid Ototrend (Jawa Pos Group) mewakili Indonesia di kontes airbrush internasional di Bangkok, Thailand.

SANTAI, sederhana, tenang, blak-blakan, enak diajak ngobrol. Itulah Wawang, yang nama lengkapnya Irwan Wahyudy. Praktis, hampir sepanjang hari Wawang tak pernah lepas dari sepeda motor (milik orang) yang akan dilukis dengan teknik airbrush.

“Kalau yang ini motornya orang Bandung. Saya diminta membuat desain ala kayu jati dan sedikit motif kartun. Baru rampung nih,” ujar Wawang kepada saya.

Di dunia seni rupa teknik melukis dengan airbrush tergolong gampang-gampang susah. Airbrush kerap dianggap hanya sebagai pekerjaan ‘tukang’, kerajinan, bukan seni. Apalagi, biasanya si pelukis airbrush mengerjakan pesanan orang lain, bukan kreasi sendiri. Namun, rumusan ini tak berlaku bagi seorang Wawang.

Ia mengerjakan airbrush, pesanan atau bukan, sebagai wujud ekspresi seni. Melukis dengan cat (teknik airbrush) dengan badan sepeda motor sebagai mediumnya. Cat menyembur sangat cepat, beda dengan melukis pakai cat di atas kanvas (oil on canvas), menuntut konsentrasi dan keahlian tingkat tinggi. Salah sedikit hasilnya sangat buruk.

“Saya sudah mantap di airbrush,” ujar pria kelahiran 3 Januari 1976 ini.

Kendati senang otomotif dan belajar airbrush sejak kecil, Wawang baru menekuni airbrush gara-gara krismon. Krisis moneter sejak 1997 membuat Wawang kehilangan pekerjaan. Menganggur. Kerja serabutan, merintis usaha kecil, ternyata tetap sulit. Padahal, ia punya istri dan seorang anak yang masih kecil. Hidup harus jalan terus.

Setelah merenung, pria gondrong ini akhirnya sadar bahwa ia punya kemampuan melukis airbrush. Maka, di awal 2000-an itu Wawang mulai menekuni airbrush secara serius. Bagaimana menjadikan airbrush sebagai mata pencarian, ketimbang menjadi pegawai, buruh, atau bekerja pada orang lain. Ternyata benar. Kemampuan airbrush Wawang terus berkembang.

Ketekunan Wawang diam-diam menyebar ke komunitas otomotif di Sidoarjo, Surabaya, dan Jawa Timur. Tabloid Ototrend pun akhirnya menangkap fenomena si gondrong Wawang, beberapa kali membuat liputan khusus tentang Wawang. Apalagi, lukisan-lukisan airbrush Wawang selalu unik, menarik, layak masuk tabloid otomotif.

Gara-gara tabloid Ototrend itulah, nama Wawang tersebar ke seluruh Indonesia. “Saya dapat pesanan dari mana-mana, lebih banyak dari luar Jawa. Bahkan dari Irian Jaya alias Papua,” ujar Wawang didampingi Maria, istrinya.

Berdasar pengalamannya, penggemar otomotif dari luar Jawa, khususnya Kalimantan dan Papua, tidak tanggung-tanggung kalau memesan lukisan airbrush. Gampangnya, mereka tak mengenal negosiasi atau tawar-menawar. “Kuncinya di trust, kepercayaan. Ini yang membedakan dengan teman-teman di Sidoarjo,” ujar Wawang seraya tersenyum.

Asal tahu saja, penggemar otomotif di Sidoarjo cenderung suka menawar harga secara ekstrem dan kurang menghargai sulitnya melukis dengan teknik airbrush. Harga ditekan sangat rendah. “Saya kasih jalan keluar. Kalau danamu nggak cukup, bagaimana kalau airbrush dicicil, tidak seluruh bodi? Eh, teman Sidoarjo ini tetap keberatan. Kondisinya memang begitu.”

Karena itulah, menurut Wawang, teknik airbrush sulit berkembang di Kabupaten Sidoarjo. Buktinya, sampai sekarang airbrush painter tak lebih dari enam orang, termasuk Wawang. Ketika ada kontes otomotif di halaman GOR Sidoarjo beberapa waktu lalu, misalnya, praktis Sidoarjo hanya menjadi penonton. “Teman-teman harus belajar banyak dari kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, bahkan luar Jawa,” tukasnya.

Tahun 2006, Wawang alias Irwan Wahyudy terpilih mengikuti kontes airbrush internasional di Bangkok. Wawang sendiri mengaku tidak pernah menyangka kalau hobi iseng-iseng ini ternyata membuatnya menemukan dunia baru yang asyik. Dan ia sangat menikmati itu.

LP Porong pengganti Kalisosok


Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Dusun Macan Mati, Desa Kebon Agung, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, merupakan salah satu penjara terluas di Indonesia. Asdjudin Rana, kepala LP Porong [sebutan LP pengganti Kalisosok, Surabaya] ini memberlakukan disiplin sangat keras.

“Kalau soal disiplin, kalapas yang baru ini sulit dicari tandingannya. Mungkin dia kalapas paling keras di Indonesia,” ujar beberapa sipir LP Porong kepada saya.

Sejak bertugas di LP Porong tahun 2004, Asdjudin Rana sudah punya gambaran tentang apa yang harus ia lakukan. Penjara pengganti LP Kalisosok (Surabaya) terlalu luas, 12 hektare. Penjaga alias sipir sangat terbatas, sementara penghuninya napi kelas ‘berat’.

Hukuman mereka di atas dua tahun. Para napi politik seperti aktivis organisasi separatis macam Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan, pernah dan sedang dititipkan di sini. Napi-napi yang mengacau di penjara lain--Jawa maupun luar Jawa--dititipkan di Porong.
Menghadapi orang-orang keras, Asdjudin pun harus sangat disiplin. “Di sini nggak ada kompromi,” ujar pria berdarah campuran Jawa-Lampung itu.

Disiplin ketat, kata Asdjudin Rana, harus meliputi semua lini. Pengunjung, entah itu keluarga, wartawan, pembesuk biasa, harus melalui ‘saringan’ di blok penjagaan. Barang-barang kiriman, termasuk makanan, diperiksa secara ketat. Ini sesuai dengan tekad Asdjudin agar LP Porong kebal dari narkoba. “Napi narkoba tidak ada di sini. Silakan mereka menghuni LP lain,” katanya.

Telepon seluler dan alat-alat komunikasi lain haram hukumnya bagi napi. Jangan heran, di sini para sipir kerap melakukan razia HP. Menurut Asdjudin Rana, alat komunikasi canggih ini bisa menjadi alat untuk berkoordinasi dengan dunia luar, dan itu pada akhirnya merepotkan pengelola LP juga. Di LP lain pun larangan HP memang ada, tapi praktiknya tidak seketat di Porong.

Ibaratnya, Asdjudin mengerahkan pasukan untuk merazia kamar, lemari, tas, dan semua perlengkapan napi untuk memastikan bahwa HP, pager, HT, radio, dan sejenisnya tidak ada. Belajar dari pengalaman, beberapa LP atau rutan selalu kebobolan gara-gara penghuninya melakukan transaksi narkoba via HP/SMS.

Napi politi sama saja. “Kalau sudah masuk di sini mereka kita perlakukan sama dengan yang lain. Mereka pun tidak boleh pakai HP atau alat komunikasi lainnya,” kata Asdjudin Rana. Kendati begitu, kadang-kadang Asdjudin memberi kesempatan kepada napi politik untuk berkomunikasi dengan keluarganya melalui telepon kantor.
Ketika terjadi musibah gempa bumi dan tsunami, 26 Desember 2004, para napi GAM difasilitasi untuk memonitor perkembangan kampung halamannya di Aceh.

Di balik ‘keangkerannya’, sikap tanpa kompromi, Asdjudin Rana sadar bahwa para napi membutuhkan hiburan. Karena itu, di setiap blok ada televisi umum untuk ditonton ramai-ramai. Bagaimana kalau ada napi membawa televisi sendiri?

Bagi Asdjudin, tetap dilarang keras. Karena itu, napi yang kebetulan orang kaya (pengusaha top), mantan pejabat, artis, harus bisa merasakan ‘derita’ selama menjalani masa hukuman. Di dalam penjara, segala atribut seperti (mantan) pejabat, pengusaha, selebriti, artis, tidak dikenal. “Bisa rusak kalau kita memberi fasilitas istimewa kepada napi tertentu,” tegasnya.

Nah, sebagai kompensasi, Asdjudin Rana secara rutin menanggap orkes dangdut ke dalam penjara. Kenapa dangdut? Ini erat hubungan dengan selera mayoritas napi yang doyan joget. Dengan dangdut, apalagi penyanyinya cewek bahenol, para napi seperti kesetanan.

“Kita gelar orkes setiap empat bulan sekali. Waktu tujuh belasan, dan sebelumnya pada Hari Pemasyarakatan,” ujar Asdjudin Rana seraya tersenyum lebar.

Begitulah. Pria yang sudah 30-an tahun mengabdi di LP (di berbagai daerah di Indonesia) sangat mengerti psikologi narapidana. Sekeras-kerasnya napi di LP Porong, termasuk yang hukumannya di atas 20 tahun, mereka toh manusia pula.

Melihat artis dangdut bahenol, goyang ngebor, napi LP Porong yang 100 persen laki-laki itu ternyata tidak berkutik. “Tapi kita nggak bisa terus-terusan gelar orkes dangdut. Dananya dari mana?” ujar seorang sipir muda.

Rusaknya hutan bakau di Sidoarjo



Syukurlah, masih ada sekelompok orang yang peduli pada keberadaan hutan bakau alias mangrove di Kabupaten Sidoarjo. Mereka adalah 40-an aktivis organisasi nonpemerintah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kami berlayar bareng ke kawasan Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran.

Diantar Muhammad Ali Subhan, ketua Forum Peduli Lingkungan Pesisir, yang juga tuan rumah, para aktivis ini menikmati pelayaran selama satu jam lebih ke kawasan wisata pantai Sidoarjo itu. Wisata sambil amal, plus melihat langsung kondisi Sidoarjo di pelosok.

“Air sungainya sangat bersih,” goda seorang aktivis NGO dari luar Sidoarjo.

Teman-teman yang lain tentu saja tertawa ngakak karena kondisi sungai di Sidoarjo justru sangat jauh dari bersih. Sampah rumah tangga (domestik), eceng gondok, plastik, tampak hanyut mengikuti aliran sungai.

Menurut Ali Subhan, isu lingkungan hidup seperti pencemaran sungai, logam berat, bahan beracun dan berbahaya, mangrove, senantiasa menjadi concern siapa pun. Lingkungan telah lama menjadi isu global. Kalau sudah bicara soal lingkungan, maka tak ada lagi batas kabupaten, provinsi, bahkan negara.

Orang Malang bebas menyoroti kasus mangrove di Sidoarjo, sebaliknya NGO Sidoarjo berhak bicara kasus penambangan liar di Mojokerto. “Sebab, kerusakan lingkungan itu berdampak ke mana-mana. Inilah yang membuat teman-teman NGO lingkungan sangat solid. Lain dengan NGO politik yang cenderung sangat pragmatis,” ujar Bambang Harryadji, anggota Dewan Lingkungan Sidoarjo.

Ali Subhan bicara panjang lebar tentang kondisi hutan mangrove di Kabupaten Sidoarjo. Parah! Satu kata ini bisa menggambarkan hutan di kawasan pesisir, khususnya di kawasan Sedati, Buduran, dan Sidoarjo.
Menurut Ali, Kabupaten Sidoarjo sebetulnya kaya akan mangrove. Luasnya mencapai 1.080 hektare. Namun, dalam perkembangannya, areal bakau tinggal 700 hektare saja. Kenapa sekian banyak hutan mangrove hilang? Ini lagi-lagi tak lepas dari keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan.

“Semacam illegal logging, tapi dibiarkan,” tambah Harryadjie.

Bagi pengusaha tertentu, papan dari mangrove merupakan bahan palet yang sangat bagus. Semakin tinggi volume perdagangan, maka kebutuhan untuk mengirimkan barang ke luar daerah atau luar negeri semakin bertambah. Dan itu jelas memerlukan papan mangrove untuk kemasan. Nah, hutan mangrove di Sidoarjo menjadi sasaran karena lokasinya di sekitar Bandara Juanda serta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sidoarjo dan Surabaya.

Pembalakan liar pohon mangrove memang cukup dahsyat. Celakanya, tidak ada polisi hutan atau aparat khusus yang bertugas khusus untuk mengawasi hutan mangrove. Satpol PP Sidoarjo hanya sibuk menertibkan stan pedagang kaki lima atau menurunkan spanduk di dalam kota. Menangkap penebang mangrove? Satpol PP kita belum mampu.

Sidoarjo pun tidak punya dinas kehutanan, sehingga mangrove praktis jarang dibahas pejabat dan dewan. “Biasanya orang baru terkejut setelah mangrove-nya habis. Kalau ada apa-apa, misalnya bencana alam, baru orang sadar akan pentingnya mangrove,” tukas Cak Totok, aktivis NGO Surabaya.

Untungnya, kata Ali Subhan, sejak 2006 sudah mulai ada alokasi anggaran untuk pengadaan dua perahu pengawas mangrove di Sidoarjo. Jelas terlambat, tapi itu tadi, ‘masih untung’ sudah dianggarkan. “Kita harus optimislah. Masih ada harapan di Sidoarjo,” kata Arief Eddy Rahmanto dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Trawas.

16 June 2008

Dari buta huruf ke intelektual

Oleh Theophilus Bela
theo_bela@yahoo.co.id

Memang tentang Flores sungguh ada banyak ceritera serta analisa yang cukup menarik. Saat saya masih kuliah di Jerman dulu (tahun 1970-an) seorang profesor saya mengatakan di depan ruang seminar bahwa untuk dunia memang Flores merupakan sebuah fenomena khusus. Yaitu, telah terjadi semacam mukjizat di dunia pendidikan di mana hanya "dalam satu generasi orang Flores berubah dari masyarakat buta huruf menjadi kaum intelektual..."

Menurut Ibu Profesor tadi hal ini telah dibahas dan dilaporkan oleh "Dewan Para Ahli Pemerintah Jerman". Jadi, pengumuman bahwa telah terjadi mukjizat di bidang pendidikan di Flores bukan dibuat oleh sebuah surat kabar boulevard, tapi langsung oleh para ahli penasihat pemerintah Jerman sendiri. Tentu ada benarnya laporan tim ahli pemerintah Jerman Barat tersebut, tapi harus diingat bahwa ada kemungkinan besar bahwa hampir semua profesor tenaga ahli pemerintah Jerman tadi tak ada seorang pun yang tahu persis di mana letak Flores diatas muka bumi ini.

Saya menduga bahwa laporan istimewa tentang Flores tadi kemungkinan besar telah diselundupkan para pastor SVD asal Jerman ketengah tim para ahli tersebut. Atau bisa juga almarhum Pater Dr. Jan van Doormaal SVD yang telah menceriterakan hal tersebut kepada orang-orang ahli Jerman tadi.

Kawan saya Pater van Doormaal telah memainkan peran besar dalam menarik bantuan Pemerintah Jerman Barat untuk proyek pembanguan yang disebut "Flores-Timor Plan" . Proyek tersebut telah menelan biaya dari APBN Jerman sekitar 10 juta DM. Untuk menarik dana sebesar itu dari Pemerintah Jerman maka harus diciptakan sebuah mukjizat di Flores yaitu ceritera tentang keajaiban di bidang pendidikan tadi. Hal ini penting supaya baik pemerintah dan DPR Jerman senang hatinya dan lancar mengeluarkan dana bantuan tersebut.

Memang harus diingat bahwa Pater van Doormaal sangat ahli dalam tata cara berceritera kepada orang-orang Jerman yang umumnya amat minim pengetahuannya tentang Flores atau bahkan Indonesia. Perlu diingat bahwa dalam berkorespodensi dengan pihak pemerintah Jerman kawan saya tadi selalu menulis namanya sebagai Dr. JC von Doormaal, seorang tenaga ahli di bidang pertanian. (Perhatikan : van diganti von). Memang demi untuk "kebaikan Flores" segala trik telah dipakai kawan saya ini. Dulu di Jerman ada buku yang mendaftar semua nama orang Jerman yang memakai kata von karena itu katanya masih termasuk orang-orang dari kelas Mosalaki.

Kalau kita cari dalam buku pintar tersebut sampai tua juga tidak akan menemukan nama von Doormaal karena nama ini adalah nama orang Belanda. Tapi itulah kawan saya, Pater van Doormaal. Kenapa saya menyebut almarhum kawan saya? Beginilah ceriteranya (singkat saja).

Waktu melamar beasiswa pemerintah Jerman dulu saya disuruh ajak orang tua atau wali saat ada wawancara dengan seorang petugas beasiswa dari Jerman yang datang ke Jakarta. Kebetulan yang akan menginterviu saya waktu itu ialah seorang ibu muda yang bahasa Inggrisnya masih kurang lancar. Hal ini saya dapati saat beliau mulai menginterviu saya dan beliau berbicara dalam bahasa Inggris yang agak kaku (memang itu ciri khas orang Jerman). Melihat kekakuan itu saya langsung menginterupsi beliau dan mengatakan padanya: "Besser sprechen wir auf deutsch" (lebih baik kita bicara Jerman saja). Dan langsung saya merasa bahwa saya sudah menang--seperti orang main judi--yaitu bahwa beasiswa sudah ditangan saya.

Karena saya tidak dapat mendatangkan ayah saya dari Flores ke Jakarta maka yang saya ajak sebagai wali saya ialah Pater van Doormaal. Kebetulan juga tempat wawancara tadi tidak jauh dari kantor Soverdi Jakarta, tempat Pater van Doormaal menginap kalau berada di ibukota.

Setelah wawancara tadi, kini giliran Ibu muda dari Jerman tadi bicara empat mata dengan wali saya, yaitu Pater van Doormaal. Ibu tadi mengatakan bahwa kesan beliau tentang saya baik sekali hanya Ibu tadi sedikit cemas karena saya seorang Katolik dan Ibu tadi tahu bahwa Indonesia adalah sebuah negara Islam.

Mendengar itu langsung Pater van Dorrmaal bertanya balik kepada Ibu muda itu: "Sudah berapa lama Anda tinggal di Indonesia?" Ibu itu menjawab bahwa baru kemarin dia tiba di Jakarta. Langsung Pater van Doormaal menggelar kebolehannya. Beliau katakan pada Ibu itu bahwa beliau sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Indonesia. Pater van Doormaal bertanya apakah Ibu itu tahu bahwa ada seorang menteri beragama Katolik.... Mendegar uraikan Pater van Doormaal yang amat meyakinkan itu, maka sang ibu muda itu pun menyerah dan beasiswa untuk saya beres.

Itulah jasa Pater van Doormaal untuk saya pribadi.

Sekarang tentang peran orang Flores didunia internasional seperti saat ketiga orang Flores mengikuti acara PBB di Roma yang diceriterakan dalam surat Pak Don ini.
Hal ini gampang saja dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sejak kecil orang-orang Flores mulai dari kampungnya sudah biasa bergaul dengan para pastor dan suster missionaris orang-orang Barat. Kalau dia masuk sekolah juga sekolah diasuh oleh pastor, frater atau suster orang Barat. Jadi, untuk orang Flores bergaul dengan orang Barat itu tidak lagi merupakan sesuatu yang "asing" karena dari kecil dia sudah biasa dengan hal itu.

Pernah di Jakarta di depan banyak orang dalam sebuah pertemuan besar saya katakan bahwa "Indonesia ini untuk saya terlalu kecil", dunia saya lebih luas dari negeri kita. Jadi, untuk Bruder Martin dan Sdr. Emmanuel Dapa Loka dapat saya katakan bahwa memang peran orang Flores sudah demikian. Dari kampungnya dia sudah terbiasa bergaul secara internasional karena di sana ada banyak pastor orang Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Polandia, Hongaria, dan Ceko Slowakia.

12 June 2008

Radio Suara Surabaya 25 tahun

Radio Suara Surabaya 100 FM sedang merayakan ulang tahun ke-25. Usia cukup matang meski belum apa-apa untuk media. Radio interaktif ini mulai beroperasi pada 11 Juni 1983 bersamaan dengan gerhana matahari total di tanah air.

Kini, 25 tahun kemudian, Radio Suara Surabaya bertekad masuk titik nol. Membuat visi dan tekad baru menjadi radio terbaik di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia. Saya juga mengucapkan selamat kepada Radio Suara Surabaya yang sedang merayakan pesta perak.

Radio Suara Surabaya membuktikan bahwa radio tidak pernah mati. Bahkan, penggemarnya justru makin banyak meski stasiun televisi makin banyak. Media cetak dan media online pun banyak. Tapi radio punya kekhasan yang tidak dipunyai media-media lain. Orang yang berkendara di jalan raya, terjebak kemacetan, maka radio yang diputar.

Radio Suara Surabaya menjadi favorit karena sejak dulu aktif melaporkan kemacetan di berbagai ruas jalan. Pelapor atau reporternya, ya, pendengar-pendengar sendiri. Radio Suara Surabaya beruntung karena masyarakat kita suka bicara ketimbang menulis. Mereka rela menghabiskan jutaan rupiah untuk pulsa.

"Saya ingin berbagi dengan masyarakat. Kalau topik yang dibahas menarik, ya, saya usahakan bergabung dalam diskusi di udara," ujar Iwan Kusmarwanto. Doktor lulusan luar negeri ini termasuk salah satu dari sekian banyak pendengar aktif Radio Suara Surabaya. Pak Iwan ini bisa membahas masalah apa saja dengan enak.

Harus diakui Radio Suara Surabaya telah menjadi ikon Surabaya. Kalau Anda ingin tahu perkembangan Surabaya--kemacetan, kejahatan, pembangunan, pengaduan warga, dan sebagainya--cukup simak saja Suara Surabaya. Radio Suara Surabaya juga senantiasa berusaha menelepon narasumber--hebatnya, Radio Suara Surabaya punya hampir semua nomor telepon orang-orang penting--sehingga informasi yang disiarkan relatif berimbang.

Kalau mau dibilang 'kelemahan'--dan ini risiko sistem interaktif--tak sedikit masukan atau celoteh warga yang tidak bermutu. Hanya asal bunyi. Saya sebagai pendengar Radio Suara Surabaya sering jengkel mendengar pernyataan asal-asalan itu. Terlalu memaksakan diri muncul di radio. "Suara Surabaya kayak obrolan di warung kopi. Berisik, gak karuan, meskipun ada yang baik," kata teman saya, Lutfi.

Saya tahu teman-teman di Radio Suara Surabaya pun sudah punya catatan tentang kualitas pendengar yang sering omong di radio. Tapi bagaimana mau menyensor ala media cetak? Konsekuensi internatif, ya, siap-siaplah menjadi corong bagi siapa saja yang menelepon. Karena itu, pemihakan atau penyikapan Radio Suara Surabaya terhadap sebuah masalah tidak jelas. Ini beda dengan BBC, Radio Australia, atau Radio Belanda yang proses siarannya didahului editing ketat.

Sebagai manusia biasa, teman-teman penyiar Radio Suara Surabaya pun sadar atau tidak sering terlalu subjektif. Apa-apa yang sebaiknya untuk konsumsi pribadi, tidak untuk disiarkan, diumbar begitu saja di udara. Padahal, Radio Suara Surabaya ini kan untuk pendengar dari berbagai golongan, etnis, ras, agama, afilisasi politik, dan sebagainya. SMS pribadi dari pendengar dibaca begitu saja.

Oh, ya, jingle 25 tahun Radio Suara Surabaya kok jelek sekali ya? Dan diputar puluhan kali sehari selama berbulan-bulan. Selamat ulang tahun Radio Suara Surabaya!

Manusia Indonesia memang brengsek



Gayus Tambunan, contoh manusia brengsek dan kaya.

Sejak sekolah menengah atas, saya sudah membaca buku karangan Mochtar Lubis berjudul Manusia Indonesia. Pendek, renyah, karena sejatinya makalah ceramah wartawan kawakan itu pada 6 April 1877 di Tamain Ismail Marzuki, Jakarta. Saat kuliah materi buku ini juga dibahas lagi. Kemudian buku itu hilang.

Tapi saya tidak pernah lupa poin-poin yang disampaikan almarhum Mochtar Lubis. Uraian Pak Mochtar tentang watak manusia Indonesia sangat membekas di hati saya. Dan, tadi, saya menemukan kembali buku klasik itu di pasar buku bekas Surabaya. Bagi saya, Mochtar Lubis menggambarkan secara tajam, kritis, blak-blakan, karakter manusia Indonesia.

Ketika korupsi makin meluas meski sudah banyak dibuat lembaga antikorupsi, bahkan jaksa, polisi, pejabat lembaga antikorupsi, pun ramai-ramai korupsi, tidak perlu heran karena Pak Mochtar Lubis sudah mengulasnya panjang-lebar pada 1970-an. Watak-watak yang disitir Mochtar Lubis, menurut saya, masih sangat relevan. Bahkan, semakin menjadi-jadi.

1. MUNAFIK.

Lain di bibir lain di laku. Ikut maki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Korupsi yang parah, kata Mochtar Lubis, akibat watak manusia Indonesia yang munafik ini.

"Sikap munafik sudah ditanam ke dalam diri manusia Indonesia oleh manusia Indonesia lainnya yang lebih berkuasa dan menindas serta memeras, merampas, dan memperkosa kemanusiaan mereka. Ini dipertebal lagi oleh datangnya kekuasaan dari luar seperti Portugis, Spanyol, Belanda," tulis Mochtar Lubis.

Orang Indonesia dikenal paling rajin beribadah. Masjid penuh, gereja sesak, vihara ramai. Terantuk batu sebut nama Tuhan, batuk sebut Tuhan, ditanya apa kabar, jawabannya ya sebut nama Tuhan. Tuhan. Tuhan. Tuhan. Allah. Allah. Allah. Allah. Tapi korupsi di Indonesia luar biasa. Termasuk di lingkungan Departemen Agama yang mengurus ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya. Kok iso ngene, Rek!


2. ENGGAN BERTANGGUNG JAWAB.

"Bukan saya," kata-kata ini sangat populer di Indonesia.

Kalau kebijakan salah, kesalahan digeser ke bawahan, kemudian digeser lagi ke bawah dan bawah lagi. Si bawahan berkilah: "Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan."

"Sebaliknya, jika ada sesuatu yang sukses, gilang-gemilang, maka manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya," kata Mochtar Lubis.

3. BERJIWA FEODAL.

Berkembang dengan cemerlang di kalangan atas dan bawah. Sikap asal bapak/bunda senang (ABS) ada di mana-mana. Jiwa feodal ini berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan. Zaman dulu raja dianggap beroleh kuasa dari Tuhan atau dewa. Raja ganti presiden, gubernur, bupati, camat... jiwa ini tetap lestari.

4. PERCAYA TAKHAYUL

Hari baik hari buruk. Percaya tempat-tempat keramat. Sekarang pun, meski teknologi berkembang luar biasa, takhayul tetap ada. Pernah ada menteri agama [menteri agama lho!] memerintahkan penggalian situs batu tulis karena ada harta karun. Sekarang pemerintah getol mewacanakan blue energy, bahan bakar dari air. Pakar-pakar tertawa karena tidak masuk akal.

Pejabat-pejabat pelihara dukun atau paranormal. Menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah, dukun laku keras.

5. WATAK LEMAH

Manusia Indonesia tidak kuat mempertahankan keyakinan. Manusia Indonesia bisa dibeli dengan uang dan fasilitas. Teman-teman aktivis yang mengaku berjuang untuk rakyat tiba-tiba berubah posisi. Ternyata, di belakang dia sudah terima uang dan fasilitas. Uang habis, teriak lagi. "Pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia," tulis Mochtar Lubis.

6. ARTISTIK

Ini satu-satunya karakter yang baik. "Bagi saya, ciri artistik manusia Indonesia adalah yang menarik dan mempesonakan dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia," kata Mochtar Lubis.

Malaysia BOLEH, Indonesia BISA



Malaysia BOLEH!
Indonesia BISA!


Pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan INDONESIA BISA. Upacara besar-besaran di Gelora Bung Karno Jakarta. Semua stasiun televisi menyiarkan acara ini.

Tapi, seperti biasa, orang Indonesia lebih pintar bicara daripada berbuat. INDONESIA BISA hanya slogan belaka. Mirip slogan Orde Baru: MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR. Hingga Orde Baru ambruk pada 21 Mei 1998 masyarakat tidak juga makmur, apalagi adil. Orang miskin mencapai 50-an juta orang. Kalau pakai standar Bank Dunia, mungkin 100-an juta orang Indonesia miskin.

Belum hilang pencanangan INDONESIA BISA, terjadi begitu banyak kejadian yang merisaukan di negeri ini. Pada 23 Mei Presiden Susilo menaikkan harga bahan bakar minyak. Unjuk rasa di mana-mana. Polisi bentrok dengan mahasiswa Universitas Nasional. Kemudian sekelompok warga berjubah putih melakukan kekerasan terhadap kelompok warga lain yang sedang merayakan Hari Pancasila. Kisruh!

Melihat kasus-kasus ini, plus komentar-komentar di televisi, yang sebagian membenarkan tindak kekerasan, yang mengedepankan egoisme golongan, saya ragu Indonesia bisa bangkit, bisa maju, bisa makmur seperti negara lain. Modal untuk bersatu semakin terkikis. Sementara Susilo pun belum terlihat mampu melaksanakan slogan INDONESIA BISA. Kita bisa apa? Kalau tidap hari yang muncul di televisi, radio, dan media massa lain adalah bahasa kekerasan?

Di Malaysia kata BISA selalu berarti RACUN. Misalnya: BISA ular itu berhahaya.

Dan orang-orang Malaysia tahu persis bahwa orang Indonesia menggunakan BISA untuk DAPAT, BOLEH, MAMPU, SANGGUP. Karena itu, sejak dulu pelawak-pelawak Malaysia sering bikin lelucon dengan mengeksploitasi BISA versi Indonesia. Indonesia BISA, menurut versi Malaysia, berarti Indonesia RACUN. Tiap hari menciptakan racun untuk menghabisi sesama bangsa Indonesia. Peristiwa 1 Juni 2008 di Monas menjadi bukti betapa hebatnya BISA di kalangan orang Indonesia itu.

Presiden Susilo sejatinya terlambat memopulerkan slogan INDONESIA BISA. Pada 1980-an Perdana Menteri Mahathir Mohammad sudah lebih dulu menggerakkan warga Malaysia dengan MALAYSIA BOLEH. Kemudian Visi 2020. Sebuah impian jangka panjang Malaysia saat memasuki era 1990-an dan 2000-an alias globalisasi.

Pak Mahathir tegas, cerdas, bisa membuktikan visi jangka panjangnya untuk Malaysia. Pak Mahathir beda dengan Susilo yang peragu dan tidak pernah tegas. Orang-orang Malaysia menjadikan MALAYSIA BOLEH sebagai visi bersama. Kalau negara lain BOLEH maju, makmur, sejahtera, kenapa Malaysia tak BOLEH? Pak Mahathir pun tak memberikan toleransi sedikit pun pada anasir-anasir yang hanya getol berjuang untuk kepentingan golongan.

Sekarang kita semua bisa menyaksikan betapa Malaysia benar-benar BOLEH. Maju, makmur, punya masa depan yang baik. Lapangan kerja di Malaysia berlebihan, sehingga jutaan orang Indonesia bisa bekerja di sana. Semua orang Malaysia punya rumah, punya kereta [mobil], penghasilan bagus, bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai level tertinggi.

Saya pernah menyaksikan sendiri betapa bangganya orang Malaysia pada negaranya. "Putrajaya ini sepenuhnya dibangun dengan dana dari dalam negeri. Hasil kelapa sawit dan getah kami sudah cukup untuk membina [membangun] Putrajaya," ujar Nasaruddin asal Pahang kepada saya di kawasan Putrajaya beberapa waktu lalu.

Putrajaya itu kota baru yang dirancang khusus sebagai ibukota Kerajaan Malaysia. Sangat indah dan modern. Dan, jangan lupa, pekerja-pekerja kasar yang membangun Putrajaya itu orang Indonesia yang TKI itu. Termasuk Pak Sucipto, tetangga saya di Gedangan, Sidoarjo. Yah, Malaysia BOLEH, sementara orang Indonesia sejak dulu masih tetap saja bangsa kuli di negeri orang.

Malaysia BOLEH! Dan sudah terbukti benar-benar BOLEH.

Indonesia BISA! Juga sudah terbukti benar-benar menciptakan BISA [racun] bagi sesama anak bangsa.

06 June 2008

Pra Budidharma membahas teknik vokal




"Vokal bagaikan alat musik tiup. Kita membutuhkan napas untuk memainkannya. Dalam bernyanyi, mengisi paru-paru dengan udara akan memberikan efektivitas, yaitu kemampuan untuk menyanyikan nada-nada panjang, kontrol terhadap nada tinggi, nada rendah, tekstur suara lembut-keras, warna suara, fleksibilitas, vibrato, nonvibrato, nada yang jernih dan bernyanyi lebih lancar dalam wilayah register tangga nada." - PRA BUDIDHARMA

Oleh Lambertus L. Hurek

Selama ini saya mengenal Pra Budidharma hanya sebagai pemain bas hebat, khususnya jazz dan world music. Pra pernah populer bersama Krakatau yang didirikannya pada 1980-an. Band ini sangat digemari anak-anak muda tahun 1980-an dan 1990-an. Personelnya hebat-hebat macam Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Tri Utami, Gilang Ramadhan. Nama-nama ini sangat penting dalam perkembangan musik industri kita di tanah air.

Tapi siapa sangka bahwa Pra Budidharma seorang guru musik. Dia sangat peduli pada musik vokal--yang disebutnya "bagaikan alat musik tiup". Meskipun tidak bisa menyanyi dengan sangat baik, Pra sangat paham teknik produksi suara. Bagaimana teknik menghasilkan vokal secara baik dan benar sehingga suara manusia benar-benar menjadi instrumen musik yang dahsyat.

Saya terkejut, kagum, membaca uraian-uraian Pra Budidharma dalam buku yang ditulisnya: METODE VOKAL PROFESIONAL, diterbitkan Elex Media Komputindo, Jakarta. Saya tak sengaja menemukan buku bagus ini di Toko Buku Gramedia Surabaya. "Masak sih Pra Budidharma menulis buku teknik vokal? Apa dia itu dosen atau instruktur vokal di Jakarta? Pra Budidharma yang Krakatau atau Pra Budidharma yang lain," bilang saya dalam hati.

Setelah membaca buku itu, ah benar, Pra Budidharma yang Krakatau. "Buku ini mengetengahkan teknik vokal dan pengertian berbagai corak vokal untuk jenis-jenis musik yang populer saat ini seperti pop, rock, R&B, jazz, dan country. Juga tidak melupakan pengetahuan tradisi musik klasik," tulis Pra Budidharma, yang menyelesaikan studi fine art di Seattle, Amerika Serikat. Sambil belajar di negara Om Sam, Pra Budidharma juga bermain musik selama beberapa tahun di sana.

Bagi mereka yang pernah aktif di paduan suara atau musik klasik, uraian Pra Budidharma di buku ini sebenarnya tak asing lagi. Teknik vokal dimulai dari PERNAPASAN. Cara menarik udara, masuk ke rongga dada, diafragma, dan perut. Latihan pernapasan ini cukup rinci. Tujuannya, itu tadi, menjadikan pita suara atau vocal chord kita sebagai alat musik tiup yang siap menghasilkan nada-nada indah.

Pra Budidharma mengingatkan bahwa teknik pernapasan yang salah akan merusak pita suara. Itu sama saja dengan tamatnya karier penyanyi. "Kita tidak dapat mengganti membran vokal seperti mengganti reed yang rusak pada saksofon. Oleh sebab itu, kita harus menjaga kondisi vocal chord sebaik-baiknya," kata Pra Budidharma.

Saya menambahkan, cara bernyanyi macam Alam saat membawakan lagu Mbah Dukun jelas-jelas ngawur dan berbahaya. Teknik vokal itu tidak bisa dipertangungjawabkan. Pita suara pasti akan rusak kalau cara nyanyi macam itu tidak diubah. "Kadang-kadang penyanyi terlalu ambisius. Kurang menyadari atau salah arah akan kekuatan fisik sehingga tampil melampaui kemampuan alat vokalnya," tegas Pra Budidharma.

Selain pernapasan, pada bagian TEKNIK VOKAL Pra Budidharma membahas secara ringkas [tapi sangat sistematis, plus metode pelatihan] vocal chord, artikulasi, kontrol volume, vibrato, resonansi warna vokal, register bawah dan atas, upper mix corak pop, lower mix corak vokal klasik. Pra Budidharma memberikan saran menggelitik dan kena:

"Rasakan senyum di dalam vokal Anda. Tidak seperti benar-benar tersenyum, tetapi angkat otot-otot daerah mulut dan muka sehingga sedikit menaikkan bibir atas. Rasanya kita seolah hendak menggigit sesuatu. Senyum dalam hati ini dapat membantu kita menaktifkan mask resonance," tulis Pra Budidharma di halaman 70.

Sebagai pemusik yang aktif di industri musik--baik bersama Krakatau maupun penampilan di berbagai konser pop, jazz, blues, world music--Pra Budidharma tak lupa membeberkan teknik vokal yang lazim dipakai di dunia pop, rock, blues, jazz. Tak lupa Pra Budidharma kasih gambaran tentang materi vokal yang dibutuhkan sebagai penyanyi profesional.

Bisa sebagai penyanyi latar, artis rekaman, penyanyi klub, teater musikal, voice-over [jingles, dubber, dll], musik religius, hingga penulis lagu. Uraiannya hanya empat halaman, tapi cukup memberikan wawasan tentang apa-apa saja yang perlu Anda yang serius merintis karier profesional di dunia tarik suara. "Pada setiap tingkatan dalam karier sebagai penyanyi, kita membutuhkan materi promosi yang dapat mewakili diri kita," tegas Pra Budidharma.

"Kombinasi musikalitas yang baik, teknik vokal, dan komunikasi emosional dapat menjadikan kita seorang vokalis yang memiliki kekuatan dan kharisma," begitu kata pamungkas buku yang beroleh apresiasi dari beberapa vokalis macam Titiek Puspa, Ita Purnamasari, Tri Utami, dan Aning Katamsi itu.

Setelah tampil di Surabaya--halaman Hotel Garden Palace--beberapa waktu lalu, saya sempat ngobrol sedikit dengan Pra Budidharma seputar buku ini. Saya mengatakan terkejut dengan uraiannya yang gamblang dan detail seputar teknik vokal, improvisasi, dan sebagainya. "Saya tidak menyangka kalau Anda ternyata guru vokal," kata saya.

"Hehehe.... Terima kasih, Anda sudah membeli dan membaca buku saya. Buku METODE VOKAL PROFESIONAL itu saya tulis menggunakan beberapa bahan yang saya peroleh ketika studi di Amerika Serikat. Di sana bahan-bahan pelatihan vokal dan musik umumnya banyak sekali. Sementara di Indonesia kan sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Makanya, saya mencoba menulis. Sekadar sumbangan untuk dunia musik di tanah air," kata pemusik yang ramah dan murah senyum ini.

Kebetulan, menurut Pra Budidharma, sahabat dekatnya, Dwiki Dharmawan, punya lembaga pendidikan musik Farabi di Jakarta. Jadi, materi dalam buku ini juga menjadi referensi bagi para siswa sekolah musik itu. "Saya usahakan agar uraian saya tidak terlalu berat, cukup sederhana, sehingga bisa digunakan masyarakat luas," kata Pra.

Hanya saja, dia mengingatkan sebaiknya ada guru atau instruktur yang membantu mengarahkan siswa dalam metode pelatihan vokal. Latihan pun harus rutin ibarat atlet yang tidak bosan-bosannya menggembleng diri. Kalau profesional, ya, latihan vokal harus menjadi menu rutin setiap hari. Penyanyi instan, hanya mengandalkan apa yang disebut "bakat alam", tidak memadai lagi di dunia industri yang semakin kompetitif.

"Kita harus membangun teknik bernyanyi. Stamina vokal akan muncul melalui proses latihan yang lambat, stabil, dan konsisten," begitu petuah Pra Budidharma.

TULISAN TERKAIT

Teknik olah vokal seni suara klasik.

04 June 2008

Salah kaprah KEPALA KELUARGA


"Berapa orang yang mengungsi di Pasar Porong?"

Reporter menjawab: "601 kepala keluarga."

"Maksud Anda, hanya 601 laki-laki? Perempuan dan anak-anak juga adakah?"

Si reporter heran. Sebab, pertanyaan saya ini tidak lazim. "Ya, jelas ada suami, istri, anak-anak terpaksa mengungsi di pasar. Korban lumpur Lapindo kan banyak sekali, Mas," jawab reporter.

"Baik, baik, saya sudah paham maksud Anda. Andaikan satu keluarga punya dua anak, maka jumlah pengungsi mencapai 1.200. Kalau tiga anak, ya, hampir 2.000 orang lah."

Saya memang sudah lama mencoret kata KEPALA KELUARGA [biasa disingkat KK] dalam konteks kalimat seperti di atas. Sebab, seperti disepakati orang Indonesia, kepala keluarga itu berarti suami. Apa ada istri yang menjadi kepala keluarga? Mungkin ada. Tapi bangsa Indonesia yang patriarkis, merujuk pada agama-agama yang ada, kepala keluarga itu identik dengan suami. Laki-laki!

Maka, kalimat 'Ada 601 kepala keluarga di pasar' bisa diganti dengan 'Ada 601 suami di pasar'. Padahal, semua tahu maksud penulis berita tidak begitu. Dan si reporter tidak bisa disalahkan begitu saja karena dia memang meniru kebiasaan berbahasa di masyarakat. Pejabat-pejabat memang memopulerkan istilah KK = Kepala Keluarga dalam sensus atau urusan statistik daerah. Pada era Orde Baru [1966-1998] istilah KK memang sangat populer.

Kita memang sering salah kaprah. Ikut arus. Padahal, cara berbahasa pejabat-pejabat, tokoh masyarakat, media massa, tidak selalu benar. Kita telan begitu saja tanpa berpikir banyak. Kembali ke KEPALA KELUARGA, dengan mencoret kata KEPALA, maka selesailah urusan. KELUARGA berarti suami, istri, anak-anak. Singkatan KK dengan sendirinya harus dihapus karena memang tidak tepat.

Terima kasih, KOMPAS sebagai koran paling berpengaruh di Indonesia sudah mencoret istilah KEPALA KELUARGA atau KK dalam pemberitaannya. Mudah-mudahan media massa lain [koran, majalah, radio, televisi, internet] mengikutinya. Sebab, istilah KEPALA KELUARGA secara tersirat memperlihatkan sikap kita yang bias gender. Kita tidak menganggap keberadaan perempuan dan anak-anak. Mengapa hanya laki-laki yang dihitung?

Aha, saya ingat cerita mukjizat Yesus Kristus membuat mukjizat penggandaan roti untuk orang-orang di sekitar Danau Galilea [Matius 15;32-39]. Hanya bermodal tujuh roti dan beberapa ikan kecil, begitu banyak orang bisa makan sampai kenyang. Bahkan, ada sisa tujuh bakul penuh. Berapa orang yang makan roti dan ikan itu?

Penginjil Matius menulis begini:

"Yang ikut makan ialah 4.000 laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak."

Saya akhirnya sadar bahwa sejak dulu perempuan dan anak-anak tidak dianggap penting. Tidak perlu direken. Yang dihitung hanya KEPALA KELUARGA alias para suami. Jangan-jangan kebiasaan menulis data statistik di Indonesia dengan istilah KK [kepala keluarga] meniru tradisi Palestina dan Yahudi 2.000-an tahun silam?

03 June 2008

Flores pulau lahirnya pancasila



Di sini, pinggir pantai Ende, di bawah pohon sukun, Bung Karno menggagas Pancasila dan pemikiran-pemikiran besar untuk kemerdekaan Indonesia. Tapi sukun yang asli [hidup pada era 1934-1938] sudah mati. Yang ini sukun duplikat yang ditanam di lokasi bersejarah itu. Foto: www.ooyi.wordpress.com

Tidak banyak orang Indonesia yang memperingati Hari Pancasila, 1 Juni. Ada memang beberapa kelompok yang bikin acara, tapi secara umum tidak ada greget. Bahkan, menurut survei KOMPAS (1/6/2008), tidak sampai 50 persen manusia Indonesia yang hafal lima sila Pancasila dengan benar.

Wah, jangankan rakyat biasa, banyak pejabat dan politisi saja yang lupa sila-sila Pancasila. "Yang penting kan dilaksanakan. Bukan seremoni atau pidato-pidato," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejak Orde Baru jatuh, 21 Mei 1998, Pancasila memang jarang terdengar. Pejabat alergi omong Pancasila. Upacara bendera plus pengucapan Pancasila pun mulai langka. Partai-partai pun tidak merasa perlu berasas Pancasila. Sistem ekonomi, sistem politik, kebijakan budaya, dan sebagainya pun tak lagi merujuk pada Pancasila.

Tamatkah Pancasila sebagai ideologi, dasar negara, filosofi bangsa? Moga-moga tidak. Kita berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih tegas lagi komitmennya dalam membela dasar negara. Ironis, orang yan sedang memperingati Hari Pancasila diserbu komunitas tertentu. Polisi membiarkan, seakan merestui. Kacau-balau memang negaraku ini.

Di Hari Pancasila ini saya teringat Bung Karno, Flores, dan Pancasila. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan Flores, sejarah mencatat bahwa ideologi Pancasila itu digagas Bung Karno [Ir Soekarno] di Ende, Pulau Flores. Sekadar mengingatkan, Bung Karno diasingkan pemerintah Hindia-Belanda di Flores pada 1934-1938. Di pelosok terpencil itu Bung Karno punya banyak waktu untuk melahirkan ide-ide besar bagi Indonesia yang akhirnya diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Bung Karno mengatakan dalam biografinya betapa dia sering duduk merenung di bawah pohon sukun, dekat laut. "Pohon itu di atas sebuah bukit berumput. Dari sana saya dapat memandang sebuah teluk. Di sana selama berjam-jam saya bermimpi dengan mata terbuka sambil memandang luasan langit yang biru dengan tepi-tepinya yang putih berawan. Kadang-kadang seekor kambing tersesat lewat di depan saya." (Cindy Adams, 1966).

Banyak hal yang direnungkan Bung Karno. Pasang surut, tapi gelombang tetap menggulung. Bung Karno juga merumuskan ideologi negara yang di kemudian hari kita kenal sebagai Pancasila. Pada sidang persiapan kemerdekaan, rumusan ini disampaikan dengan bersemangat oleh Bung Karno. Tidak ada yang memungkiri--kecuali rezim Orde Baru--bahwa Pancasila itu merupakan ide besar Bung Karno. Dan, kalau kita baca buku-buku sejarah dan otobiografi Bung Karno, gagasan tentang Pancasila [ketuhanan, perikemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, keadilan sosial], dilahirkan Bung Karno... di Flores.

Pohon sukun di pinggir pantai jadi saksi. Sayang, saksi sejarah itu sudah mati. Pemerintah Kabupaten Ende kemudian mengganti sukun itu dan diberi nama Pohon Pancasila. "Kita sebagai orang Flores patut berbangga dengan kenyataan sejarah ini. Bahwa cikal-bakal Pancasila itu ternyata dari kampung halaman kita, Flores," ujar Frans, teman dari Flores Barat.

Karena itu, saya sangat marah ketika ada teman yang iseng-iseng mewacanakan Flores Merdeka. Alasannya, Timor Timur yang manusianya mirip Flores, agamanya sama-sama Katolik, sudah lebih dulu lepas dari Indonesia. Wah, teman yang punya ide macam ini jelas tidak pernah baca sejarah. Tidak sadar bahwa Flores pernah menjadi pulau perjuangan, tempat Bung Karno menempa diri selama empat tahun [1934-1938], merumuskan Pancasila, dan beberapa gagasan besar lain.

Dus, Flores bagian integral dari Republik Indonesia, bahkan sebelum proklamasi 1945. "Bagaimana bisa Anda menggagas Flores Merdeka? Timor Timur memang lain sekali. Sejak awal ia tidak termasuk eks Hindia-Belanda. Masuknya Timor Timur itu kan karena kecelakaan sejarah pada 1975. Bung, jangan samakan Flores dengan Timor Timur atau Aceh!" tegas saya.

Terus terang, menjaga hakikat Pancasila di era globalisasi, pasar bebas, neoliberalisme, eksklusivisme... sekarang sangat berat. Subsidi dicabut demi pasar dunia. Keadilan sosial masih mimpi. Musyawarah mufakat makin mustahil. Gotong royong cerita lalu. Persatuan sesama anak bangsa makin sulit dirajut. Tapi, mudah-mudahan, sebatang pohon sukun di pantai Ende, Flores, bisa membuat kita ingat pada Pancasila.

Sunatha Tanjung rocker jadi pendeta





Melintas di depan Masjid Agung Surabaya saya melihat seorang pedagang kaset-kaset lama. Saya mampir karena memang sejak tahun 200-an saya suka koleksi kaset-kaset lama yang menurut saya punya pengaruh di musik Indonesia. Hati-hati memilih kaset di loakan macam ini karena kondisi barang sudah jelek.

"Kalau rusak bisa ditukar. Tenang saja, Cak," kata si penjual. Rata-rata dijual Rp 5.000 satu kaset. Sangat murah. Padahal, banyak sekali koleksi rekaman artis-artis top masa lalu, Barat dan Indonesia, bisa kita temukan di sana.

Menyimak kaset-kaset lawas ibarat napak tilas sejarah musik industri. Kita juga bisa tahu gaya dandan masa lalu, teknik bermusik, pola lagu, pilihan lirik, hingga latar politik. Sebab, di mana-mana lirik itu selalu aktual dengan zamannya. Jadi, kalau saya banyak menulis cerita-cerita tentang artis atawa band lawas, tidak berarti saya suka band atau artis itu. Ia hanya cermin perjalanan masyarakat pada masa itu.

Tadi, 31 Mei 2008, saya ketemu rekaman lama AKA. Ini grup rock legendaris asal Surabaya pimpinan Ucok 'AKA' Harahap. Pak Ucok saya kenal, pernah omong-omong banyak sama saya. Sekarang dia tinggal di Kediri bersama istri barunya. Ayem tentrem, latihan musik, sambil semedi di kaki gunung. "Apa sih yang kita cari dalam hidup? Usia makin tua, kita perlu lebih dekat pada Sang Pencipta," katanya.

Judul kaset lawas ini: Forever AKA in Rock. Ada 10 lagu yang direkam Ariesta Record, semuanya pakai lirik Inggris. Shake Me. crazy Joe. Groovy. Suez War. Skip Away. Do What You Like. Reflection. Cruel Side. Open Dor. Sky Rider. Pak Ucok menyanyi dengan suaranya yang khas: tebal, pakai vibrasi, ngeblues, jernih. Pada 1970-an hingga 1980-an AKA merupakan grup luar biasa di Indonesia. Ucok suka bikin aksi panggung ala pemain sirkus atau teater.

"AKA itu kalau di panggung main musik untuk mata. Kalau di rekaman, ya, musik dibuat untuk konsumsi telinga," ujar Mbah Ucok Harahap kepada saya. Jangan heran Ucok muda suka jungkir balik di atas pangung, melata di atas tali, salto, dan sebagainya. Penonton heboh. "Sekarang sih masih bisa, tapi gak kayak dulu lagi. Hehehe...," kata putra pemilik Apotek Kali Asin [disingkat AKA] itu.

Selain Ucok Harahap, AKA diperkuat Athur Kaunang (bas, keybards), Sjech Abidin Jeffrie (drum), Soenatha Tanjung (gitar). Setelah Ucok sibuk bersolo karier, AKA bubar. Tiga personel sisanya--Sjech, Arthur, Soenatha--bikin grup baru: SAS.

Kumpulan ini sangat produktif merilis album maupun tampil di atas panggung. Bahkan, beberapa wartawan musik senior menyebut SAS sebagai grup rock Indonesia yang paling banyak bikin album. Benarkah? Silakan dicek lagi.

Beberapa waktu lalu saya bertemu Pak Soenatha Tanjung. Dia bukan lagi bintang rock, gitaris hebat, tapi sudah jadi pendeta. Pendeta Muda Soenatha Tanjung. Dia dipercaya menangani pelayanan musik di Gereja Bethany Surabaya. Kebetulan gereja beraliran karismatik ini memang menggunakan musi pop rohani untuk kebaktian-kebaktiannya. Musik rock, pop ber-beat kencang, sangat populer di Bethany. Lain sekali dengan suasana kebaktian di gereja-gereja Protestan lama macam GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Barat), atau GKI (Gereja Kristen Indonesia).

"Sudahlah, itu semua masa lalu. Sekarang saya menekuni pekerjaan baru. Melayani Tuhan dengan lebih intensif," ujar Pak Soenatha.

Pendeta cum pemusik ini selalu ramah, tersenyum, bicara dengan nada rendah. Sama sekali tidak ada eksan sangar seperti saat main bersama AKA atau SAS sebelum 1990-an. Profesi baru, panggilan baru, gemblengan rohani ala Bethany membuatnya berubah.

"Tuhan yang mengubah hidup saya. Dan saya menemukan kebahagiaan dengan bekerja seperti sekarang. Ingat, popularitas di masa lalu, ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Dulu saya jauh dari Tuhan. Gak pernah ke gereja. Gak berdoa, gak puasa. Saya seperti orang hilang," ungkap Pak Soenatha.

Arkian, sekitar 1987 Soenatha bersama teman-temannya manggung di sebuah kota Jawa Timur. Penonton histeris. Para pemusik makin kesetanan. Tanpa diduga-duga terjadi korsleting. Gitaris hebat ini langsung lumpuh tangan kanannya. Konser pun bubar. Meski ditangani dokter hebat, rumah sakit mahal, tangan Soenatha tak kunjung pulih. Padahal, anggota badan itu sangat penting bagi kariernya.

Bagaimana dia bisa cari makan kalau tangannya tidak bisa dipakai main gitar? "Sejak itu karier musik saya selesai. Sudah waktunya bagi saya untuk istirahat dari hiruk-pikuk industri musik," kenangnya.

Selama mengalami kelumpuhan, Soenatha Tanjung dibesuk para aktivis gereja. Mereka berdoa minta Tuhan memberikan mukjizat penyembuhan. Di pihak lain, Soenatha yang dulu malas berdoa, jarang menyapa Tuhan, semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. "Kelumpuhan itu ternyata merupakan cara Tuhan untuk menyapa saya. Tuhan punya rencana lain atas saya," katanya.

Singkat cerita, suatu ketika, setelah didoakan, tangan Soenatha bisa digerakkan. Kuat lagi seperti sedia kala. Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, Soenatha berniat memberikan diri dan talentanya untuk Tuhan. Gereja Bethany pun tak menyia-nyiakan talenta Soenatha untuk menata music ministry di gereja yang bermarkas di kawasan Nginden Intan, Surabaya, itu. Saya beberapa kali menyaksikan gaya Soenatha Tanjung setelah bergelar pendeta muda. Mainnya tetap ciamik, selalu senyum, sangat menikmati musiknya.

"Kalau dulu saya main musik untuk memuaskan penonton, cari nafkah, cari popularitas, sekarang main musik untuk memuliakan nama Tuhan. Tuhan kita itu sungguh luar biasa. Haleluya!" ujar Pak Soenatha.

Para penyelenggara konser musik nostalgia di Surabaya berusaha mengajak Soenatha untuk reuni bersama Athur Kaunang dan Sjech Abidin. Tidak usaha banyak lagu, cukup beberapa untuk memenuhi keinginan para penggemar rock klasik Indonesia. Arthur--yang juga makin religius, sempat bikin album rohani alias gospel--sudah bersedia. Begitu juga Sjech. Tapi Soenatha tetap bergeming. Dia tetap fokus di Bethany dan menolak manggung lagi.

Soenatha sekarang beda dengan dulu. Lain dengan Ucok AKA Harahap yang masih terus berusaha mencari job ke mana-mana meskipun penggemarnya sudah tidak ada lagi. Juga Arthur yang masik suka mendemonstrasikan kepiawaiannya bermain bas, keyboard, dan menyanyikan nomor-nomor kencang ala classic rock.

Begitulah. Nasib bintang rock Indonesia di hari tua memang berbeda-beda. Ada yang menjadi pendeta atau kiai [macam Gito Rollies atau Hari Moekti], tapi ada juga yang dipenjara gara-gara kasus narkoba macam Achmad Albar.

Rock! Rock! Rock! Yeah!!!!