28 May 2008

Santriwati, wartawati, sastrawati... sukarelawati

Ada peristiwa mengejutkan di Surabaya. Seorang bapak--yang dikenal sebagai pengasuh pesantren alias kiai--diduga mencabuli santrinya. Disebut-sebut 27 perempuan santri berusia 16-19 tahun yang mengalami pelecehan seksual meski tak sampai penetrasi.

Sejumlah media sempat mendiamkan kasus ini, karena sensitif, tapi belakangan harus memberitakan juga karena para korban mengadu ke Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Beberapa koran menulis kira-kira demikian: GURU NGAJI CABULI SANTRIWATI. Sebetulnya, kasus macam ini beberapa kali terjadi, namun baru kali ini yang heboh. Puluhan gadis remaja mengalami perlakuan tak senonoh.

Ah, saya tertarik pada SANTRIWATI.

Kata ini sudah lama mengganjal pikiran saya. SANTRI + WATI = SANTRIWATI. Santri berjenis kelamin perempuan. Teman-teman redaktur di Surabaya suka menggunakan kata ini, SANTRIWATI, untuk mempertegas bahwa korban pelecehan itu santri perempuan. Biasanya, sering muncul di berita-berita kejahatan yang memang sangat disukai oleh pembeli koran eceran.

Tapi kenapa tidak pernah ada kata SANTRIWAN? Kenapa hanya SANTRIWATI? Kenapa tidak cukup SANTRI saja? Toh, di dalam tubuh berita bisa dijelaskan bahwa korban kriminalitas itu sekian orang, usia antara sekian sampai sekian, jenis kelaminnya perempuan, dan seterusnya.

Saya pribadi memang sudah lama memperhatikan secara khusus kata-kata berakhir -WAN dan -WATI yang makin lama mengalami pergeseran. Kalau menonton ludruk atau ketoprak, saya sering dengar kata SENIWATI. Tapi kata SENIWATI [pekerja seni perempuan] hampir tak pernah kita baca di media cetak atau mendengar di televisi atau radio. SENIMAN entah laki-laki entah perempuan, ya, disebut SENIMAN. Atau cukup ARTIS.

Ibu Ratna Indraswari Ibrahim, penulis cerita pendek asal Malang, cukup terkenal di Indonesia. Saya beberapa kali mampir di rumahnya yang antik itu. Bu Ratna ini disebut SASTRAWAN. Saya tidak pernah dengar SASTRAWATI. Atau mungkin saya kurang pergaulan, kurang baca?

"Lha, Bu Ratna itu kan perempuan. Masak sih disebut sastrawan?" tanya seorang redaktur senior kepada saya beberapa tahun lalu. Saya lalu menjelaskan, berdasar referensi saya, bahwa sejak dulu kita tidak kenal bentukan SASTRAWATI.

"Sampean [Anda] kan perempuan WARTAWAN. Apa pantas disebut WARTAWATI?" balas saya.

"Pantas dong! Istilah WARTAWATI memang ada, tapi sekarang sudah jarang terdengar," kata Mbak Hera, redaktur senior itu.

Sekarang semua reporter atau jurnalis memang disebut WARTAWAN, tak peduli laki-laki atau perempuan. Daripada harus berdebat kusir, saya lebih suka menghindari kata WARTAWAN [karena ada yang anggap hanya pas untuk laki-laki], dengan memilih REPORTER, JURNALIS, REDAKTUR, atau PEWARTA. Capek deh kalau kita harus bertengkar gara-gara istilah WARTAWATI atau SASTRAWATI.

Di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sangat sering terjadi unjuk rasa buruh pabrik. Sasarannya kantor Dinas Tenaga Kerja, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur, serta Gubernur Jawa Timur. Senin, 26 Mei 2008, ratus buruh unjuk rasa menuntut kenaikan upah minimum. Reporter menulis berita: "Sekitar 800 KARYAWAN melakukan unjuk rasa di DPRD Jatim."

Mbak Hera, redaktur yang kritis, bertanya: "Lho, apa yang demo itu semuanya laki-laki? Kok ditulis KARYAWAN?"

Hehehe.... Ada juga lah perempuan ikut unjuk rasa. Tapi masak sih ditulis KARYAWAN dan KARYAWATI unjuk rasa di dewan? "Mbak, sekarang sudah umum kata KARYAWAN itu dipakai untuk laki-laki dan perempuan. Sama dengan WARTAWAN.

Menurut Prof Dr Gorys Keraf, gejala ini disebut perluasan makna. Kalau dulu hanya perempuan, sekarang meluas," saya mencoba menjelaskan dengan membawa-bawa nama mendiang Gorys Keraf, pakar bahasa asal Flores Timur itu. Ternyata ampuh. Penjelasan ini bisa diterima. Saya juga mengusulkan: "Bagaimana kalau ke depan kita biasakan memakai kata PEKERJA? Rasanya lebih mencakup."

Begitulah.

Sufiks WAN/WATI memang patut dicermati oleh pengguna bahasa Indonesia. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat penggunanya. Gejala perluasan dan penyempitan terjadi dalam banyak kasus. Sikap yang konsisten, taat asas, macam Mbak Hera, tentu bagus, tapi kurang luwes. Belum tentu cocok dengan ragam Bahasa Indonesia sekarang. Gaya bahasa era Balai Pustaka, Pujangga Baru, 1960-an, 1980-an, 2000-an, pasti berbeda meski secara umum hampir sama.

Di Jawa Timur, pelancong alias turis misalnya sering disebut WISATAWAN. Ada WISMAN = wisatawan mancanegara, kemudian WISNU = wisatawan nusantara. Sebelum ditanya Mbak Hera, saya lebih dulu nerocos: "Bagaimana dengan turis yang perempuan? Apakah disebut WISATAWATI? Bukankah akhiran WATI itu berkonotasi dengan hal-hal yang feminim?"

Ah, kalau pertanyaan-pertanyaan macam ini dikembangkan, wah, bisa peninglah awak punya kepala! Kacau-balau!

Bukan apa-apa. Di Surabaya ada radio yang suka pakai istilah REKAN untuk penyiar/reporter laki-laki dan REKANITA untuk penyiar/reporter perempuan. Kenapa tidak disamakan saja: REKAN? Telinga saya gatal setiap kali mendengar istilah REKANITA di radio itu, karena menurut saya berlebihan. REKAN itu netral, tidak pernah hanya mengacu pada laki-laki.

Mungkin redaksi radio itu merujuk pada istilah BIDUAN dan BIDUANITA pada era sebelum 1970-an. Sekarang BIDUAN dan BIDUANITA tidak terdengar lagi kecuali beberapa penyair senior Radio Republik Indonesia [mereka punya istilah khas: ANGKASAWAN, ANGKASAWATI] yang masih mempertahankan gaya lama.

Oh, ya, kasus sama terjadi pada kata BANGSAWAN [ada BANGSAWATI?], NEGARAWAN [ada NEGARAWATI?], SUKARELAWAN [ada SUKARELAWATI?], USAHAWAN [ada USAHAWATI], DERMAWAN [ada DERMAWATI].... dan seterusnya.

1 comment:

  1. Kalau dalam bahasa Inggris, kata "artist" secara umum berarti seniman, yaitu pelukis, perupa, pematung. Bukan pemain film dan penyanyi. Mungkin karena kata artis dalam bahasa Indonesia itu turunan dari bahasa Belanda "artiest" yang cakupan artinya lebih luas. Sedangkan pemain panggung dan film, penyanyi, pemusik, dll. disebut lebih khusus performance artist.

    Di Amerika, beberapa pemain film perempuan lebih suka disebut "actor" daripada bentuk feminin "actress". Jadi debat ini pun ada di bahasa lain.

    Gejala penggunaan akhiran Sansekerta itu kan merajalela di jaman Orde Baru, karena Suharto bertemperamen Jawa. Semua nama gedung, yayasan, istilah macam2 jadi pakai Sansekerta. Pelacur, jadi wanita tuna susila. Rasanya istilah ini lebih tepat diterapkan pada pejabat yang korupsi; PTS = pejabat tuna susila.

    ReplyDelete