27 May 2008

Pengalaman membimbing mahasiswa magang



ANAK TNI AL: Nevy Periyanti, mahasiswa UPN Surabaya asal Sidoarjo. Kerja keras, disiplin, semangat, tak kenal menyerah.




ANAK TRANSMIGRAN: Anggun Dewi Kurniawati, mahasiswa UPN Surabaya asal Lampung. Mudik ke kampung halaman di Lampung kok lama banget ya? Hehehe...

Saat ini--hingga 10 Juni 2008--saya menjadi pendamping dua mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Surabaya yang magang reporter. Ira Puspitasari dan Trisna Elsa kuliah di fakultas komunikasi. Mereka juga mendalami jurnalistik. Magang menjadi syarat lulus strata satu.

"Banyak mahasiswa yang gak lulus-lulus karena belum magang. Cari tempat magang di Surabaya itu gak gampang lho. Makanya, alhamdulillah, kami bisa magang dan dimbimbing langsung oleh Mas Hurek," ujar Elsa sedikit mengambil hati. Hehehe.... Jurus rayuan biar saya semangat mendampingi mereka selama satu bulan.

Enam hari sepekan dua mahasiswa ini harus wawancara langsung [telepon, e-mail, jumpa pers, tidak boleh], memotret, menulis berita, bikin rencana liputan. Saya larang mereka nunut reporter senior agar bisa mandiri. Pun tak boleh meliput bersama sesama mahasiswa yang magang di media lain. Sebab, pengalaman selama ini, mahasiswa yang nunut reporter biasanya tidak berkembang. Tidak bisa menulis sendiri. Hanya titip nama atau kode di berita.

Dari tes awal yang saya lakukan, Elsa dan Ira ini punya kemampuan di atas rata-rata. Logikanya jalan. Bisa menulis lancar dengan ejaan yang benar--meski masih ada kesalahan lazim di sana-sini. Dan, yang terpenting, mereka mahasiswa komunikasi.

"Kamu itu sudah tahu semua teori jurnalistik. Stright news, features, indepth news, teknik wawancara... semua sudah tahu. Jadi, saya gak akan kasih teori. Newsroom itu tempat praktik, bukan bicara teori macam-macam," tegas saya.

Ira dan Elsa sepakat. Dan, syukurlah, selama dua pekan ini dua gadis 20 tahun ini bisa magang dengan baik. Hasil karya mereka saya muat setelah saya klinik langsung. Kelemahan magang, juga reporter pemula, adalah mengembangkan tulisan. Wawancara banyak, panjang lebar, data ada, tapi sulit menulis secara agak panjang. Cerita lisannya seru, tapi tidak tercermin di tulisan.

Memilih sudut berita [angle] pun rata-rata sulit. Akibatnya, mengutip Rosihan Anwar, tulisan jadi bergelemak peak. Tidak ada sudut. Banyak fakta tak penting masuk begitu saja. Anak-anak muda itu hafal piramida terbalik, tapi praktiknya radar sulit. Bagian yang penting kadang ditulis di tengah, bahkan akhir naskah. "Soalnya, di kampus kan jarang praktik," kilah Ira, yang tinggal di Kalikepiting, Surabaya.

Sebelum mendampingi Ira dan Elsa, saya juga membimbing Grima Rasmi, juga mahasiswa UPN Veteran. Sebelumnya lagi dua cewek Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Alumni Wartawan Surabaya. Ada pula dari Institut Teknologi 10 Nopember di Surabaya alias ITS, Universitas Airlangga, Universitas Bhayangkara, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Muhammadiyah. Latar belakang kampus ternyata sangat menentukan mutu mahasiswa magang.

Diam-diam saya bisa memetakan kualitas kampus di Surabaya berdasar mahasiswa magang yang saya bina. Mana yang pandai, goblok, suka mencari-cari alasan, kreatif, sangat mudah terlihat hanya dengan dua kali tatap muda. Saya pun jadi tahu kalau ternyata banyak dosen yang tidak bertanggung jawab. Malas bekerja, membiarkan mahasiswanya bingung, bahkan sebenarnya tak mampu mengajar.

Saya pun jadi tahu kualitas mahasiswa jurnalistik di Jawa Timur. Maaf sebesar-besarnya, mahasiswa dan sarjana lulusan kampus-kampus kita itu tidak bisa siap pakai di dunia kerja. Termasuk AWS yang sering disebut-sebut sebagai dapurnya para calon wartawan. Mungkin mahasiswa terlalu dijejali teori, tanpa praktik, kurang bimbingan, untuk masuk newsroom sebenarnya. Celakanya lagi, adik-adik manis ini umumnya bukan orang yang hobi menulis.

Menulis catatan harian, blog, atau surat saja tak, apalagi artikel atau reportase. "Kita kejar SKS biar cepat selesai. Kuliah kan mahal. Kalau udah lulus, baru mikirin praktik," ujar seorang mantan anak magang asuhan saya.

Yah, pantas saja, pembimbing magang macam saya dipaksa bekerja sangat keras dan sering sakit kepala. Lha, dosen-dosen itu kerjanya apa? Saya akhinya mahfum mengapa begitu banyak pengusaha yang komplain dengan kualitas lulusan perguruan tinggi kita.

4 comments:

  1. Institut Teknologi Surabata itu TIDAK ADA.

    Ref:
    http://katamata.wordpress.com/2008/06/02/its/

    Salam,
    katamata

    ReplyDelete
  2. Dear Pak Lambertus,

    kenalan boleh? nama saya Kus, saat ini bekerja sebagai sekretaris GM, seorang lulusan d3 Tarakanita dan berencana mengambil S1 komunikasi di LSPR.

    sehubungan dengan rencana tersebut, recently, saya sering googling mengenai journalism, dan finnaly ketemu sama blog bapak.

    saya telah mengikuti les media writing di School of Broadcast Media, dan walaupun menyadari walau pembimbing saya sudah menjelaskan secara teoritis mengenai sudut pandang, practiccaly, hal itu memang sangat sulit untuk dilakukan, saya cenderung ingin menuangkan semua informasi, sehingga terkadang tidak konsekuen dengan angle yang saya pilih.

    dan harus saya katakan saya hanya menulis di blog in terms of bad mood or happy mood atau sedang ada sedang ingin menshare sesuati, baik itu film atau buku.

    Pertanyaan saya, bagaimana ya cara kita untuk membangun suatu cara menulis atau insting yang baik, supaya kita bisa menulis sesuai dengan angle tulisan yang sudah direncanakan.

    Dan akankah sangat signifikan pengaruhnya bagi mahasiswa jurnalistik, antara yang suka menulis setiap hari dengan yang hanya sesekali ?

    walau saya bukan anak magang bapak, hope you would share your knowledge with me..

    sicerely
    Kus

    ReplyDelete
  3. Hai Kus...
    Teori-teori sudah banyak di buku dan internet. Tinggal baca dan praktikkan saja. Makin banyak praktik, meskipun awalnya tidak lancar, bukan soal besar. Lama-lama akan ketemu pakemnya.

    Dan, yang juga penting, sekali-sekali minta dibaca oleh orang lain yang sudah lebih pengalaman di dunia tulis-menulis macam dosen bahasa atau redaktur [editor]. Dengan begitu, kesalahan-kesalahan dasar, khususnya gramatical error, bisa segera diperbaiki.

    Di Indonesia, guru dan dosen di sekolah/kampus hampir tak punya waktu untuk menyunting tulisan muridnya secara serius. Karena itu, saya capek mengedit tulisan-tulisan sarjana, IP di atas 3,5, yang kalimat-kalimatnya gak karuan.

    Salam.

    ReplyDelete
  4. hello pak .
    saya nessya .
    saya juga lg bingung mau magang dimana . .
    bisa bapak bantu . .??
    saya juga mahasiswi UPN surabaya jurusan ilmu komunikasi .

    Gbu

    ReplyDelete