31 May 2008

Pemilihan gubernur NTT 2008

Hari-hari ini para calon gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur sedang jualan kecap kampanye. Keliling Flores, Labuan Bajo, Sumba, Timor, Alor, Sawu, Rote, untuk merebut hati rakyat. Semua calon mengklaim bisa mengangkat masyarakat NTT yang miskin menjadi sejahtera. Menjual mimpi sekali-sekali perlu juga.

"NTT berdiri sejak 1958, tapi masih tertinggal di Indonesia. Kenapa? Fungsi birokrasi tidak jalan," kata Gaspar Parang Ehok, calon gubernur NTT, yang bekas bupati Manggarai di Flores Barat sana.

Ibrahim Agustinus Medah, juga calon gubernur, lain lagi. Dia janji membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan gratis untuk semua penduduk NTT. Ini supaya sumber daya manusia NTT lebih berkualitas. Selama ini, kata Pak Ibrahim, NTT tidak maju-maju karena kualitas manusianya buruk. Makanya, sekolah digratiskan sampai tingkat lanjutan atas alias SMA.

Ah, yang benar saja! Mekanismenya bagaimana? Subsidi pendidikan itu diambil dari pos mana? Sekolah gratis itu benar-benar gratis atau ada sumbangan ini itu? Namanya juga kampanye, ngecap, ya, kita tidak dapat banyak penjelasan. Politisi, apalagi di Indonesia, apalagi di NTT, tidak peduli detail. Bicara garis besar saja! Yang penting orang senang.

Pak Frans Lebu Raya, calon gubernur yang juga pentolan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kampanye tentang perlunya produk unggulan di tiap daerah. Timor dan Sumba untuk peternakan sapi. Flores pertanian dan perkebunan. Alor pusat perikanan dan cendana. Lembata dan Ndao budidaya rumput laut. Konsep ini persis Pak Basofi Sudirman ketika menjadi gubernur Jawa Timur pada 1990-an, tapi tidak jalan. Kerennya: one village one product!

Sebagai orang NTT di luar NTT, saya tidak banyak tahu detail konsep-konsep politik yang ditawarkan para kandidat. Juga tidak tahu rekam jejak masing-masing pasangan. Tapi mudah-mudahan saja pemilihan gubernur langsung pertama di NTT ini akan melahirkan gubernur yang benar-benar mengabdi untuk rakyat. Gubernur yang mau kerja keras, memberi waktu 100 persen, untuk rakyat NTT.

Ini penting karena sejak beberapa tahun terakhir terlalu banyak berita buruk di media massa tentang NTT. Pejabat korupsi. Istri pejabat foya-foya ke Jakarta, kota-kota besar di Jawa, atau luar negeri. Beli rumah mewah di Jawa. Punya proyek ini itu. Mengangkat sanak saudara atau orang-oran sedaerahnya sebagai pegawai negeri atau pejabat. Di Flores Timur, misalnya, mantan bupati masuk penjara karena dugaan korupsi miliaran rupiah.

Singkatnya, moralitas pejabat-pejabat di NTT rata-rata sangat buruk--setidaknya yang saya baca di media massa. Penduduk makan buah-buahan liar macam bakau karena bahan pangan habis. Minum air pisang. "Waduh, pokoknya kalau berita tentang NTT di surat kabar atau televisi pasti yang jelek-jelek. Kita sampai malu, tapi bagaimana lagi? Itu fakta sih," ujar Silvester, teman asal Flores Barat, yang tinggal di Surabaya.

Kalau kebetulan bertemu dengan teman-teman asal Lembata pun ceritanya sangat seru. Topiknya tidak jauh-jauh dari korupsi pejabat. Si pejabat dan keluarganya dikabarkan sangat brengsek. Proyek-proyek mahal dimakan sendiri oleh keluarga dan kroni. Unjuk rasa kasus tambang di Lembata bolak-balik terjadi. "Kita seperti putus asa deh. Sementara pihak gereja pun tidak mampu mencegah keserakahan itu," gerutu teman-teman dari kampung.

Saya tidak tahu apa-apa duduk persoalan di NTT. Karena itu, saya diam saja. "Mudah-mudahan segera ada solusi. Kamu tahu tidak bahwa citra NTT di Jawa itu sangat buruk. Teman-teman banyak yang tidak mau mengaku asal NTT saking malunya," kata saya.

Kenapa begitu? Itu tadi. Berita-berita yang muncul di media massa tentang Bumi Flobamora tidak pernah jauh dari bad news. Rakyat kelaparan. Penyakit menular macam rabies. Malaria. Pekerja ilegal ke Malaysia. Bencana alam. Unjuk rasa menentang pejabat yang disangka korupsi. Penduduk Timor Leste mengungsi karena negaranya kisruh.

"Yah, pantas saja teman-teman di Jawa tidak punya gambaran positif tentang Flores, Alor, Sumba, Timor Barat," kata Silvester.

Memang. Sampai sekarang banyak orang Jawa, termasuk intelektualnya, tidak tahu kalau di NTT ada banyak seminari yang sangat berkualitas. Pater-pater di kampung rata-rata menguasai lebih dari empat bahasa asing. Banyak sekali pater asal NTT yang bertugas di Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Asia Tenggara, khususnya Filipina.

Begitu banyak jurnalis asal NTT yang menduduki posisi strategis di media massa terkemuka macam Kompas, Tempo, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, SCTV, Metro TV, RCTI, dan sebagainya. "Mana ada media massa besar yang tidak punya orang Flores?" begitu guyonan Pak Herman Musakabe, bekas gubernur NTT, saat berkunjung di Surabaya beberapa waktu lalu.

Menurut Pak Herman, orang NTT di perantauan itu pekerjaannya ada empat. Satu, wartawan. Dua, satpam. Tiga, pastor dan pendeta. Empat, buruh. Yang nomor empat ini memang paling banyak. Datang saja ke kantung-kantung buruh di Surabaya, Tangerang, Kalimantan, Papua, Malaysia... dan Anda akan berjumpa begitu banyak orang NTT.

Kembali ke pemilihan gubernur. Kita di NTT pernah punya Bapak Ben Mboi, gubernur hebat pada era 1978-1988. Bersama istrinya, Ibu Nafsiah Mboi, Pak Ben bekerja habis-habisan untuk memajukan NTT. Dia tidak asal bicara, tidak jualan kecap politik [karena zaman itu gubernur ditunjuk Jakarta, kemudian distempel Dewan Perwakilan Rakyat Daerah], tapi langsung turun ke bawah. Pak Ben berkeliling ke 12 kabupaten [sekarang sudah jadi 15 kabupaten ya?], memotivasi rakyat untuk maju.

Kebetulan Pak Ben dan Bu Naf ini punya kecerdasan dan pengalaman di tingkat nasional dan internasional. Maka, Pak Ben menggulirkan Operasi Nusa Makmur. Program ini untuk menyediakan stok pangan. Sejelek-jeleknya bumi NTT, ia punya potensi untuk memberi makan kepada tiga juta penduduknya. Budidaya jagung umur pendek--kalau tak salah jagung arjuna--digalakkan di mana-mana.

Kemudian Operasi Nusa Hijau. Penghijauan untuk mengatasi penggundulan hutan. Gerakan Pak Ben ini sangat masih. Hampir tiap minggu rakyat bikin penghijauan. Tanam lamtoro gung, turi, dan pohon-pohon produktif. Ada juga Operasi Nusa Sehat. Pemberantasan penyakit menular yang dulu sangat gawat di NTT seperti malaria, cacar, demam berdarah, tifus, kolera, disentri. Masih banyak lagilah program Pak Ben Mboi selama 10 tahun menjabat.

Karena itu, nama NTT pada masa kepemimpinan Pak Ben [bersama Bu Naf] sangat harum. Imejnya sangat positif. Pak Harto senang bukan main punya gubernur hebat macam Pak Ben. Orang NTT bangga karena berkali-kali Pak Ben dan Bu Naf beroleh penghargaan nasional maupun internasional. Berita-berita di media massa tentang NTT pun tidak selalu buruk macam sekarang.

Kalau Pak Ben bisa, kenapa pejabat-pejabat penggantinya tidak mampu berbuat banyak? Menurut saya, gubernur terpilih nanti tidak perlu muluk-muluk bikin program yang belum tentu bisa dilaksanakan. Sebab, cetak biru NTT sudah dijalankan Pak Ben Mboi. Bapak cukup lanjutkan dan kembangkan program Pak Ben: Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, Operasi Nusa Sehat. Mungkin ditambah satu lagi dengan Operasi Nusa Cerdas.

Dan itu hanya bisa jalan kalau si gubernur dan pejabat-pejabat di provinsi, kabupaten, kecamatan, tidak korupsi, kolusi, nepotisme.

No comments:

Post a Comment