14 May 2008

Menuju negara gagal

Seru. Lucu. Ngawur.

Itu kesan yang saya tangkap saat menyaksikan dialog 100 tahun kebangkitan nasional di Metro TV, Rabu malam (14 Mei 2008). Dipandu Meutya Hafid, dialog ini menampilkan Jusuf Kalla, Amien Rais, BJ Habibie, Kwik Kian Gie, Hendro Priyono. Kita, warga bangsa, menyaksikan bagaimana para pemimpin dan bekas bersilat lidah, sementara beban hidup semakin luar biasa.

Pak Kalla, seperti biasa, tampil bukan seperti wakil presiden, tapi kapitalis sejati yang sangat propasar. Kalla sangat menggampangkan soal. Bagi Kalla--yang disebut Amien Rais, KOLO--harga bahan bakar minyak harus dinaikkan, berapa pun besarnya, agar sama dengan pasar dunia. Bagaimana dampaknya bagi rakyat? Gampang saja, kata Kalla. Bantuan langsung tunai alias BLT itulah.

Amien Rais kesekian kalinya bicara tentang aset-aset bangsa yang jatuh ke tangan asing seperti sektor telekomunikasi. Kwik satu aliran dengan Amien. Bekas menteri era Megawati ini mengecam habis Laksamana Sukardi, bekas menteri badan usaha milik negara, yang ngotot melego aset negara ke asing. Dan sukses. Hmmm... Pak Habibie, bekas presiden, bicara menggebu-ebu dan kali ini sangat 'membela rakyat'.

Melihat tayanangan itu, saya kira, orang respek sama Pak Habibie, terlepas dari kekurangan-kekurangannya. Hanya Jusuf Kalla--dan mungkin Susilo Bambang Yudhoyono--yang menikmati jeratan sistem ekonomi neliberalisme sekarang. Kalla kapitalis ulung, saudagar kaya, yang sudah pasti sangat sulit memahami penderitaan rakyat kecil.

Bagaimana kalau Kalla, ketua umum Golkar, jadi presiden? Kemungkinan besar dia akan menyerahkan [baca: jual] negara kepada pasar. Mungkin hanya sektor pertahanan dan keamanan yang tetap dipegang Polri dan Tentara Nasional Indonesia. Wah, pantas saja Pak Amien melihat sosok Kalla sebagai BUTO KALA, hantu jahat yang sangat terkenal di Tanah Jawa. Ih, serem deh!

Bangun pagi, 15 Mei 2008, saya membaca artikel MT Zen di KOMPAS tentang negara gagal. Pak Zen menyodorkan ciri-ciri negara gagal. Dan Indonesia naga-naganya makin mengarahkan ke negara gagal. Reformasi yang ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 itu alih-alih membawa kemakmuran, justru menimbulkan penderitaan yang semakin meluas.

Belum pernah ada antrean panjang minyak tanah dan elpiji seperti sekarang. Harga bahan-bahan pokok membubung. Biaya sekolah semakin tak terjangkau. Uang masuk kampus negeri puluhan juta. orang miskin 40 juta. [Kalau pakai standar dunia, mungkin hanya 10 persen orang Indonesia yang tidak miskin.]

Nah, sekadar menyegarkan ingatan, berikut ciri-ciri negara gagal versi MT Zen. Lalu, saya kembangkan sendiri sesuai dengan interpretasi saya.

TIDAK ADA JAMINAN KEAMANAN

Tempat-tempat ibadat dirusak dan dibakar. Macam-macamlah alasannya. Aparat keamanan tak berdaya. Bahkan, terkesan melindungi gerombolan perusuh. Orang yang sedang beribadat diteror, disuruh bubar.

Pejabat setempat, bahkan presiden, tak mampu menjamin hak konsitusional warga sesuai dengan pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 dan deklarasi hak-hak manusia universal.

BAHAN POKOK LANGKA

Sudah jelas. Antre minyak tanah, elpiji, beras, dan sebagainya. Pasokan tersendat, sementara pemerintah berkali-kali gagal menjamin pasokan. Kata kakek-nenek, suasana sekarang mirip antre beras pada 1960-an alias Orde Lama.

KORUPSI MAKIN GILA

Dan justru dilakukan oleh orang-orang yang mendapat amanat untuk melindungi dan melayani rakyat seperti pejabat, aparat keamanan, militer, parlemen, eksekutif, organisasi nonpemerintah. Bahkan, departemen agama yang seharusnya diisi orang-orang 'suci dan ikhlas' sering korupsi.

Bekas menteri agama saat ini berada di dalam penjara. Korupsi dana haji sangat luas. Korupsi uang gereja pun banyak. Hehehe.... Anggota parlemen ditangkap saat terima suap. Bahkan, anggota KPK [Komisi Pemberantas Korupsi] Irawady juga korupsi dan masuk penjara. Wah, kacau benar negaraku!

KONFLIK HORIZONTAL

Sudah banyak dibahas dan masih ada terus. Pemerintah gagal mengatasi karena memihak salah satu. Konflik ini bisa antarsuku, ras, agama, sekte, dan sebagainya. Silakan kasih contoh sendiri.

HILANGNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

Kepercayaan atau trust itu nomor satu. Saat ini saya lihat pemerintah tak lagi percaya pada pernyataan-pernyataan pejabat mulai lurah, camat, bupati, sampai presiden. Apalagi wakil presiden bernama Kalla. Putar saja radio-radio di Surabaya. Anda akan mendengar begitu banyak keluhan rakyat yang disampaikan secara terbuka. Menjelang kenaikan harga minyak macam sekarang, wah, suara-suara sumbang itu semakin ramai saja.

Indonesia memang belum masuk daftar negara-negara gagal. Tapi indikasi ke arah sana makin dekat. Menurut tradisi Jawa, untuk menghalau BUTO KALA yang mengancam nyawa manusia perlu ruwatan sukerto dengan wayang kulit dan sebagainya.

Terus, yo opo carane ngusir kala-kala sing ngerusak negarane awak dhewe, Cak?

2 comments:

  1. Gampang Bos! kampanyekan jangan pilih golkar. Golkar sekarang lain dengan Golkar di awal Reformasi. Golkar dulu pemimpinnya Poltikus murni sekarang pemimpinya Politikus kelaparan penganut faham neo lberilisme.

    ReplyDelete
  2. " Terindikasi Indonesia kearah negara gagal. " Pesan Habibie ( merdeka.com , 27 Juni 2015 ) : Jangan jadi bangsa bermental KASIR ! Ha, ha, ha, ha, semua pengagumnya tertawa senang, tanpa berpikir betapa penting dan mulianya pekerjaan seorang Kasir .
    Seorang Kasir harus pandai berhitung, jujur, teliti dan tegas, sebab uang yang dia urus, bukan uang miliknya sendiri. Mengapa pekerjaan kasir dihina dan dijadikan bahan olok-olok ? Ibu rumah-tangga, istri yang baik, seharusnya seorang kasir yang bijaksana. Menteri keuangan dan pegawai kantor pajak juga tugasnya sebagai kasir bangsa, jadi harus pandai berhitung dan jujur !
    Kalau tidak boleh bermental kasir, jadi harus bermental mercusuar, begitukah maksudnya ? Negara Yunani ( mbah buyutnya kebudayaan orang kulit putih, yang sekarang notabene menjadi budaya dunia ), bangkrut, diolok-olok. dihina diseluruh dunia, sebab bangsa Yunani ratusan tahun bermental mercusuar, bukannya meniru orang Singapura yang bermental kasir.
    Habibie menyebut Indonesia adalah negara paradox: besar tapi kerdil, kaya tapi miskin, merdeka tapi terjajah.
    Okay, Pak Harto menjadi RI-1 selama 32 tahun, Habibie selama 25 tahun jadi anak kesayangan Babe, de facto menjadi RI-2. Apa yang beliau kerjakan selama seperempat abad yang lalu ? Lha koq baru sekarang, setelah lengser selama 16 tahun, melontarkan kritikan.
    Pak, seorang insinyur juga harus punya mental kasir, jika tidak, pasti perusahaannya bakal bangkrut.
    Salah satu abang-saya juga insinyur lulusan Jerman, dia bilang begini: Dulu waktu gua masih bekerja hanya sebagai insinyur, gua merancang dan membuat alat2 technik, membuat patent, sesuai apa yang diperintahkan oleh boss perusahaan, pokoknya alatnya jadi dan berfungsi, tanpa memikirkan untung-rugi, tanpa perduli apakah mesin yang gua buat bisa dijual dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Setelah gua sekolah lagi dibidang ekonomi, barulah otak-gua berkembang, sebuah produkt harus bisa dijual dipasaran dan mampu bersaing, baik dalam hal fungsionalitas, kualitas dan harga. Jadi harus bisa menghemat biaya. Bermental kasirlah, bisa membuat neraca, harus ada saldonya.
    Mungkin Bapak Habibie hanya keseleo lidah, maksud beliau mungkin; jangan bermental tukang palak. Semoga demikian, jika tidak, maka pesawat R80 yang dirancang nasibnya akan sama dengan pesawat Tetuko.

    ReplyDelete