20 May 2008

Low trust society



Banyak orang tidak percaya penjelasan pemerintah bahwa harga minyak harus dinaikkan agar rakyat tambah sejahtera. Omongan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa demonstrasi menolak kenaikkan harga minyak sama dengan membela orang kaya pun tidak dipercaya. TRUST memang barang mahal di Indonesia, apalagi budaya korupsi makin hebat. Rakyat melarat, pemerintah, parlemen, aparat negara korupsi terus.



Seratus tahun kebangkitan nasional. Mau refleksi apa ya?

Oh, kemarin ada teman yang kehilangan ponsel mahal nan canggih. HP ditaruh di indekos, dia mandi, pintu kamar tidak dikunci. Dia tidak curiga sama sekali. Habis mandi, wow, HP raib. Siapa yang ambil?

"Gak tau deh. Tapi saya curiga yang di sebelah itu," katanya.

"Kamu punya bukti?"

"Gak ada. Tapi feeling saya bilang begitu."

"Gak nanya teman-teman kosmu [ada 15 kamar], siapa tahu ada yang salah ambil. Atau pinjam karena lagi habis pulsa."

"Hmm.. sulit ya? Kita di kos-kosan itu jarang komunikasi. Semua karyawan, sibuk sendiri-sendiri. Pagi ke kantor, sore pulang, malam jalan-jalan cari makan, lihat TV di kamar sendiri-sendiri, besok kerja lagi. Dan seterusnya. Gak kayak suasana di kampung, di desa."

Hmm, saya ingat Cak Nur, teman saya. Untuk menambah penghasilan, Nur jualan jagung rebus, pisang goreng, camilan... di kantor. Mulanya dia sangat percaya sama seisi kantor. Jualannya ditauh begitu saja. Ada daftar harga. Silakan beli, uangnya taruh di samping barang dagangan.

"Masak sih ada teman-teman yang bohong? Mau menghancurkan usaha saya?" pikir dia.

Saya lihat Nur hanya bertahan satu bulan. Sekarang dia tetap jualan, tapi barangnya diawasi. Harus bayar tunai di tangannya. Cash and carry! Kenapa tidak ditaruh di tempat umum macam dulu? Nur hanya tersenyum lebar. Mungkin malu.

"Soalnya, ada beberapa teman kita gak jujur. Makan gak bayar. Ambil tiga bayar satu. Ya, lama-lama rugi. Makanya, cara jualnya diubah," cerita teman yang lain. Kasus macam ini memang sering terjadi di Surabaya dan Sidoarjo dan kota-kota besar di Jawa. TRUST memang mahal!

Ada teman baru pulang dari Jepang bersama rombonan. Apes, ada seorang anggota tur ketinggalan barang [kalau gak salah kamera mahal dan peralatan elektronik] di stasiun. Belajar dari pengalaman di Surabaya, orang ini pucat pasi. Takut kehilangan harta tersebut.

Lantas, mereka ke stasiun menanyakan barang ketinggalan. "Tenang saja, ini lho barang Anda. Masih utuh," ujar si petugas Nippon. "Kalau di Surabaya sudah amblas. Nggak ada ceritanya barang ketinggalan bisa kembali," komentar si teman yang baru pesiar di Jepang itu. "Di Jepang tidak ada pencuri. Mereka sangat menghormati hak milik orang lain. Padahal, agamanya gak jelas. Hehehe," tambah teman yang suka bercanda itu.

Cerita lain datang dari Amerika Serikat [USA]. Ada senior saya magang di perusahaan surat kabar besar di sana. Dia terkejut karena koran-koran itu ditumpuk begitu saja di tempat umum. Tidak ada yang jaga. Pembeli cukup masukkan uang ke kotak, lalu ambil koran. Bagaimana kalau ada yang nakal, ambil gak bayar?

"Hehehe... gak ono. Iku kan nang Surabaya. Nang Amerika gak ono wong sing mokong kayak ngono. Mereka bayar sesuai harga, bahkan lebih, lalu membaca paling lama 30 menit. Setelah itu korannya diletakkan di tempat umum. Jadi barang bebas, semacam sampah lah," cerita sang teman yang sempat mencicipi suasana kerja di Voice of America itu.

Teman ini pun mengoleksi koran-koran buangan yang nota bene masih baru dan bagus. Pulang ke Surabaya dia membawa oleh-oleh satu karung surat kabar USA. Bagus-bagus desain koran USA itu. Desain dan isi koran-koran Indonesia kalah jauuuuh sekali. Gak ada apa-apanya!

"Pokoke, kalo kita sudah di luar negeri, negara maju, Indonesia ini ndeso banget deh. Kita kalah peradaban. Wong salat jumatan nang masjid ae, sandal ilang. Hehehe," komentar sang teman.

Saya teringat suasana di kampung halaman [Flores Timur]. Rumah-rumah sederhana. Jalan berdebu. Ladang-ladang penuh ilalang dan tanah yang mengeras. Apa yang menarik di pelosok Flores, pulau terpencil itu?

Rumah-rumah tidak pernah dikunci. Tidak ada pagar, apalagi pagar tembok tinggi. Tidak ada yang jaga rumah meski pemilik rumah pergi jauh. Rumah-rumah, yang umumnya berdinding bambu--baru ditutup kalau sudah malam. Pagi sampai petang, sesuai tradisi, rumah harus dibuka. Siapa saja boleh masuk, minum air putih, syukur-syukur kopi atau teh. Atau, menikmati singkong rebus ala kadarnya.

Bagaimana kalau ada maling? Bisa habis tuh isi rumah?

Hehehe... Mau curi apa di pelosok Flores? Di sana semua orang hidup ala kadarnya, tidak punya barang-barang berharga. Yang lebih penting, masyarakat di Flores sangat percaya bahwa sesama manusia itu pasti orang BAIK, bukan maling.

Kalaupun kita memetik buah kelapa muda milik orang--ini banyak dilakukan di Flores Timur--semata-mata karena kehausan. Minum satu dua butir, lalu memberi tanda dengan daun-daun. Selama hidup di Flores saya tidak pernah mendengar ada orang yang tertangkap, dan dihajar, atau diajukan ke polisi, karena kasus pencurian. Bahkan, polisi di satu kecamatan tak lebih dari lima orang.

TRUST. Harian Kompas [19 Mei 2008] dalam artikel 100 tahun kebangkitan nasional mengutip kajian Francis Fukuyama yang populer itu. Masih adakah TRUST di antara kita, sesama anak bangsa?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan Indonesia saat ini adalah LOW TRUST SOCIETY--kecuali kampung-kampung tradisional di Bali, Flores, Papua, Toraja yang masih punya kearifan lokal. TRUST menjadi kata barang amat mahal di Indonesia, khususnya Jawa, khususnya kota-kota besar.

TRUST antarsesama nyaris amblas. Indonesia yang majemuk ini sedang menuju DISTRUST SOCIETY. Jika itu terjadi, kata Fukuyama, negara akan hancur. Jadi negara gagal.

Beberapa waktu lalu ada ibu-ibu di Surabaya yang bakti sosial pengobatan gratis dan pembagian bahan makanan pokok di sebuah kawasan marginal. Protes bermunculan. Kenapa? Ibu-ibu ini dicurigai membawa misi kristenisasi. Mengajak orang-orang pindah agama berkedok bakti sosial.

Wah, gawat benar tuduhan itu! "Kita serba salah. Diam salah, action juga dituduh macam-macam," keluh Bu Theresia kepada saya suatu ketika.

[NOTA BENE: Ada jalan tengah bagi ibu-ibu gereja atau aktivis kristiani yang ingin baksos di Jawa Timur dan Pulau Jawa umumnya. Ajaklah kiai-kiai, pesantren, atau tokoh lintas agama. Baksos sama-sama! Jangan jalan sendiri dengan bendera kristen karena bisa dicurigai macam-macam. Baksos bersama ini jauh lebih efektif dan mampu membangun persaudaraan dan kebersamaan dalam jangka panjang.]

Memang, itulah buah dari LOW TRUST SOCIETY yang semakin menjadi-jadi di Indonesia. Negeri ini akan hancur kalau semangat DISTRUST dan kebencian terhadap golongan lain tidak segera dihentikan. Kendali ada di tangan pemerintah, khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Merdeka!

4 comments:

  1. Saya bekerja di eBay, perusahaan e-commerce terbesar di Amerika. Pendiri eBay, Pierre Omidyar, mula2 mendirikan perusahaan ini dengan motto: We believe that everyone is good. Artinya dia percaya pada dasarnya orang itu tidak akan menipu orang lain; jual barang kepada orang yang tidak dikenal, di kota lain, percaya saja lah bahwa uang akan dikirim lewat PayPal, dan barang akan dikirim lewat pos atau titipan kilat. Dan sim salabim, dalam waktu cepat bisnis ini menjadi perusahaan yang melakukan transaksi puluhan milyar dolar per tahun. Kalau di Indonesia business model ini gak bisa jalan, karena pedagang akan ditipu habis2an, atau sebaliknya akan banyak pedagang penipu yang sudah terima uang tapi tidak kirim barang.

    Saya juga pernah kerja di Yahoo, di anak perusahaan online shopping cart. Semua pembayaran dilakukan lewat credit card, online. Sedihnya, saya menemukan banyak sekali orang2 dari negara2 di luar USA yang mencoba menipu pedagang2 kecil yang jualan lewat Yahoo Store. Salah satu negara yang paling tinggi aktivitas penipuannya? Indonesia, nomor 3 setelah Ghana dan Nigeria! Akibatnya saya pasang sistem untuk memblokir semua transaksi keuangan dari negara2 tersebut.

    Sedih, malu, dan geli, semua campur jadi satu. Begitulah! Low-trust society mengekang pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Jika 25% saja orang2 yang suka menipu, tidak bermoral, cukup sudah untuk membuat 75% yang jujur untuk tidak mau melakukan transaksi. Sayang sekali.

    Solusinya?

    ReplyDelete
  2. betul banget, low trust society kalau dibiarkan akan sangat berbahaya. solusinya ya kembali ke kita2 juga. menarik sharing teman cinajawaamrik.

    freddy
    malang

    ReplyDelete
  3. Menarik nih bahasannya. baca juga tulisan serupa NO TRUST SOCIETY di
    http://christovita-wiloto.blogspot.com/search?q=no+trust+society

    ReplyDelete
  4. wah, luar biasa sharing dari mas cinajawaamrik. gak nyangka sampean punya pengalaman kerja di perusahaan besar dunia yg sangat merawat TRUST. moga2 sharing sampean dan teman2 lain bisa jadi bahan refleksi untuk kita semua di Indonesia. negara dengan 220 juta penduduk, tapi tak kunjung henti dari masalah. kisruh saban hari lah.

    ReplyDelete