14 May 2008

Jemaat, jemaah, jamaah...

Kita, bangsa Indonesia, rupanya sulit bersepakat untuk hal-hal sederhana yang seharusnya bisa disepakati. Paling nyata dalam bidang bahasa. Saya sulit mengerti mengapa kata-kata serapan dari bahasa Arab--yang asalnya sama--diserap secara berbeda-beda. Maka, satu kata versinya banyak sekali. Pusat Bahasa dan ahli-ahli bahasa gamang.

Ketika aset-aset Ahmadiyah dirusak, ada teman yang bertanya:

"Mana yang benar: JEMAAT atau JEMAAH atau JAMAAH Ahmadiyah? Kalau JEMAAT kan berbau Nasrani. Kalau JAMAAH, wong Ahmadiyah tidak diakui sebagai bagian dari Islam. Lantas, bagaimana?"

Jawaban saya sederhana saja:

"Kita lihat papan nama. Tulisannya: JEMAAT AHMADIYAH. Yah, kita pakai saja JEMAAT biar sesuai dengan cara orang Ahmadiyah menyebut organisasinya."

Saya buta bahasa Arab, tapi berdasar beberapa penjelasan ahli bahasa, kata-kata ini akarnya sama. Tapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, ada JEMAAT yang menurut kamus khusus dipakai untuk menyebut kumpulan orang kristiani. Saya tertawa karena orang Kristiani di Indonesia hampir tidak ada yang paham bahasa Arab. Kecuali beberapa gelintir teolog macam Remy sylado atau Bambang Noorsena atau Romo Parera.

JEMAAT
Memang selalu dipakai di lingkungan kristiani, entah Katolik atau Protestan. Ada buku KIDUNG JEMAAT. Surat-surat Paulus selalu ditujukan kepada JEMAAT. Ada JEMAAT di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, Tesalonika.
Lagu-lagu liturgi Katolik selalu pakai JEMAAT. Contoh: JEMAAT ALLAH BERZIARAH. Jemaat, Allah, ziarah, pastilah serapan dari bahasa Arab juga. Teman-teman aliran Pentakosta punya denominasi SIDANG JEMAAT ALLAH sebagai terjemahan The Assembly of God.

JEMAAH
Hampir sama dengan JEMAAT. Ada beberapa media merujuk ke komunitas muslim, tapi tidak pernah untuk kristiani.

JAMAAH
Teman-teman editor di koran-koran Jawa Timur merasa istilah ini paling afdal untuk merujuk komunitas islami. JAMAAH HAJI, tidak pernah JEMAAT HAJI. JAMAAH salat Jumat. JAMAAH pengajian ibu-ibu. JAMAAH nahdlatul ulama. JAMAAH Ahmadiyah tidak dipakai karena--itu tadi--dianggap sempalan Islam.
JAMAAH Gereja Kristen Bethel juga tak pernah dipakai karena dianggap janggal oleh para editor. "Wong nasrani iku cocoke JEMAAT, bukan JAMAAH," kata seorang penyunting senior. Hehehe... Akar katanya kan sama, Bung! Tapi saya orang biasa yang tidak mampu mengubah paadigma ini.

JAMIYAH
Ini juga khas islami, biasa dipakai untuk merujuk organisasi muslim.

Persoalan ini akarnya sederhana saja. Serapan kata-kata Arab sejenis JEMAAH/JEMAAT, MUSYAWARAH/MUSYAWARAT, AMANAH/AMANAT, MUNAJAH/MUNAJAT/ IBADAH/IBADAT, HIKMAH/HKMAT... itu 'dimatikan' dengan fonem H atau T? Menurut saya, Pusat Bahasa atau para pakar bahasa segera bikin kajian mendalam, lalu bersepakat.

Dengan begitu, kita punya standar. Tidak ada lagi JEMAAT versi Kristen atau Ahmadiyah atau JEMAAH atau JAMAAH yang bikin bingung itu. Macam Malaysia itulah. Negara tetangga itu sudah punya pola penyerapan kata-kata Arab ke dalam bahasa Melayu yang standar. Masa sih kita sebagai sesama bangsa Indonesia harus terbedakan hanya gara-gara cara penyerapan kata-kata asing yang berbeda.

Saya sendiri merujuk pada Prof. Dr. Jos Daniel Parera, munsyi, pakar bahasa dari IKIP Jakarta, yang pernah mengkaji kata-kata serapan dari bahasa Arab ini. Yakni, memilih fonem T dan bukan H karena lebih konsisten dan sesuai dengan standar penyerapan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun di bahasa kita.

Maka, saya sejak dulu menggunakan JEMAAT [tak peduli Islam, Kristen, Ahmadiyah, Buddha, Hindu...], MUSYAWARAT, AMANAT, HIKMAT, IBADAT, MUNAJAT... dan seterusnya.

3 comments:

  1. Bahasa Arab, seperti juga bahasa Ibrani, termasuk rumpun bahasa Semit, penggunaan vowel banyak yang implisit jika di antara dua konsonan. Misalnya, teman saya orang Israel ada yang bernama Tomer, tapi dalam tulisan Ibrani sebenarnya Tomr; huruf e ditambahkan dalam ejaan bahasa Inggris agar gampang diucapkan oleh lidah barat. Ada yang namanya Tamir, tapi dalam penulisan Ibrani sebenarnya Tmir; huruf a ditambahkan dalam ejaan bahasa Inggris, yang sebenarnya bisa saja ditambahkan huruf e karena ucapannya tidak akan jauh berbeda.

    Gereja Katolik, karena datangnya di Nusantara belakangan, meminjam kata2 dan konsep2 biblikal dan monoteisme yang terlebih dahulu diperkenalkan oleh Islam. Bandingkan dengan Gereja Katolik Syria yang sudah eksis 500 tahun sebelum Islam berkembang di tanah Arab; umat di sana menyebut God ya Allah. Mana yang pinjam mana, bisa didebat.

    Standarisasi bahasa boleh, tapi jangan terlalu dipikirin, hehehe.

    ReplyDelete
  2. masih enak di indonesia. di malaysia, orang kristen dilarang pake istilah ALLAH. kita patut bersyukur krn punya pancasila yg memungkinkan keragaman.

    ReplyDelete
  3. siiip, terima kasih atas respons cak amrik dan cak anonim. kalau yang di malaysia ini pihak keuskupan sedang mengajukan gugatan ke mahkamah soal pelarangan ALLAH. kita tunggu saja perkembangannya. salam!

    ReplyDelete