13 May 2008

Halte di Surabaya tak berfungsi



Surabaya itu disebut-sebut sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Penduduknya enam juta lebih [malam] dan delapan jutaan [siang]. Ada banyak perwakilan asing. Event-event besar taraf dunia. Singkatnya, Surabaya boleh dikata sudah menjadi kota yang 'menginternasional'.

Sayang, sampai sekarang perilaku warga dan pejabatnya masih sangat kampungan. Cak Bambang DH dan Cak Arif Afandi [wali kota dan wakilnya] belum mampu membenahi perilaku warga untuk urusan sederhana. Sebetulnya ini bukan kegagalan Pak Pambang dan Pak Arif belaka, tapi juga pemimpin-pemimpin sebelumnya. Cak Narto, Pak Pur, Pak Koco, dan seterusnya.

Kok peradaban kita tidak maju-maju? Pejabat, parlemen, pakar sering studi banding ke luar negeri kok hasilnya tidak tampak? Singapura sangat dekat dari Surabaya--tiap hari ada banyak penerbangan langsung. Tapi, bagi teman-teman yang sudah pernah ke sana, tata tertib warganya tidak bisa diadopsi di Surabaya. Sebut saja soal trotoar, halte, angkutan kota, tempat sampah... singkatnya pelayanan umum alias public service lah. Kita benar-benar kedodoran. Kok tidak bisa meniru hal-hal remeh, tapi penting itu ya?

Kali ini saya singung soal halte bus kota. Saya baru saja menjajal bus kota dari Terminal Purabaya [Bungurasih] hingga ke Pelabuhan Tanjung Perak. Paling selatan menuju kawasan paling utara Kota Surabaya. Lama perjalanan 70 menit. Wah, dari belasan halte yang sudah disediakan pemkot, pakai cat hijau, cukup bagus, hanya beberapa halte yang dimanfaatkan calon penumpang. Yakni, halte RS Bhayangkara, Universitas Bhayangkara, RS Islam Wonokromo, dan Tunjungan Plaza.

Adapun halte-halte lain hanya setengah berfungsi, seperempat berfungsi, dan tidak berfungsi sama sekali. Bahkan, dijadikan tempat singgah para gelandangan. Saya melihat petugas polisi pamong praja lewat begitu saja, padahal halte disalahgunakan oleh pengemis dan gelandangan. Orang segan mampir ke halte di Ahmad Yani [depan Golkar dan bawah jembatan penyeberangan, dekat Bulog] karena ada si gelandanan tidur nyenyak. Sorenya ada pekerja seks jalanan mangkal di halte Ahmad Yani, depan Golkar Jatim. Kok bisa begitu?

Anehnya lagi, teman-teman kita awak bus kota [sopir, kernet] sama sekali tidak berusaha memberi pendidikan kepada masyarakat. Mereka berhenti di mana saja, kapan saja. Anda bisa mencegat bus di mana saja, dan yakinlah bus akan berhenti. Padahal, tidak jauh dari situ ada halte yang sudah dibikin dengan anggaran cukup besar.

Klop! Masyarakat ngawur. Awak bus tidak disiplin. Pejabat-pejabat kota tidak berminat hal-hal sederhana seperti ini. Media-media massa di Surabaya tiap hari memuat isu-isu politik daerah, dugaan korupsi, kejahatan, pilkada, pedagang kaki lima... dengan pernyataan berbusa-busa dari politisi dan pengamat. Jarang ada yang membahas halte. Tidak ada upaya untuk membangun peradaban warga dengan membenahi halte.

Menjadikan halte sebagai tempat yang nyaman. Warga dibuat betah menunggu bus kota di halte. Ini sangat terkait dengan upaya mengajak masyarakat menggunakan angkutan umum [massal]. Sekarang angkutan massal tidak disukai warga Surabaya karena tidak nyaman, tidak tepat waktu, tidak pakai AC, haltenya tidak karuan. Aneh, pejabat suka bicara kemacetan lalulintas di ruas utama Surabaya-Sidoarjo tanpa memperbaiki sistem angkutan massal.

Kenapa tidak dimulai dari pembenahan halte?

Dibuat senyaman mungkin. Pakai AC biar sejuk. Ada kafe atau kantin sederhana. Lantas, semua angkot dan bus kota hanya boleh ambil penumpang di halte. Sanksi berat buat angkot/bus yang berhenti seenaknya untuk ambil penumpang. Bukan tidak mungkin, kesemrawutan bisa diatasi di Surabaya. Kita juga akan lebih tertib dan beradab.

Saya geleng-geleng kepala plus malu melihat perilaku warga Singapura. Halte-haltenya sangat bagus dan nyaman. Antrean panjang, mengular. Aliran bus kota sangat cepat, pengantre di depan naik duluan, disusul di belakangnya, dan seterusnya. Bus-bus kota juga nyaman, wangi, sejuk, keluaran baru. Tidak ada orang yang mencegat bus kota di luar halte. Kalaupun ada--biasanya orang Indonesia yang biasa ngawur--dijamin bus tidak akan berhenti.

Kenapa orang Surabaya--ribuan orang tiap hari jalan-jalan ke Singapura lho--tidak bisa mencontoh sistem halte dan antre ala negara singa itu? Apakah manusia Singapura lebih pintar, sementara manusia Indonesia goblok-goblok? Kenapa orang Surabaya yang biasa ngawur di kotanya ternyata bisa antre manis di halte-halte Singapura? Mau naik bus kota di Singapura, padahal di Surabaya seumur hidup tak pernah naik bus?

Cak Bambang, Cak Arif, Ning Tri, Cak Musyofak... tolong sampeyan-sampeyan benahi kelakuan arek-arek Surabaya mumpung saiki ono perayaan ulang tahun Surabaya ke-715!

No comments:

Post a Comment