07 May 2008

Cangkrukan politik di Jolotundo


Saya baru saja jalan-jalan ke Jolotundo di Trawas, Mojokerto. Daerahnya sejuk, tenang, masih termasuk kawasan hutan meski sudah banyak yang gundul. Ada cagar budaya berupa sumur peninggalan Raja Airlangga. Sumur Jolotundo dikenal sebagai tempat wisata sekaligus ziarah bagi orang-orang yang bisa menghayati "spiritualitas" tempo doeloe.

Saya cukup sering ke Jolotundo. Beberapa pengurus Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)--hanya beberapa ratus meter dari Jolotundo--saya kenal baik. Juga beberapa penjaga cagar budaya. Mereka bahkan menganggap saya sahabat, bahkan keluarga sendiri. Maka, saya dipersilakan makan apa saja, minum kopi, tanpa harga. Bayar berapa pun terserah saya.

Hehehe... Tapi biasanya saya "titip" uang yang nilainya jauh di atas harga kopi sebagai sumbangsih saya bagi sahabat-sahabat di kawasan Jolotundo. Sebaliknya, kalau kembali ke Sidoarjo/Surabaya saya mendapat "titipan' pisang atau buah-buahan khas Jolotundo. Hubungan persaudaran ini saya rawat baik-baik.

Seperti biasa, saya main-main ke Jolotundo untuk keluar dari rutinitas kota. Tidak lihat televisi, dengar musik, diskusi politik yang membosankan, dan sebagainya. Tapi kali saya kecele. Ketika ngopi di warungnya Bu Jono [usianya 95 tahun, tapi masih kuat, maklum tiap hari jalan kaki di pegunungan], orang-orang kampung ternyata asyik bicara politik. Peta kekuatan lima calon gubernur Jawa Timur.

Soekarwo-Saifullah Yusuf. Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Sutjipto-Ridwan Hisjam. Achmady-Suhartono. Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono. Yang menarik di warung Bu Jono ada stiker Pak Tjip, calon dari PDI Perjuangan. "Wah, Bu Jono dan teman-teman di sini kok dukung Pak Tjip. Ada stiker segala. Sampeyan dibayar berapa sama orang-orangnya Pak Tjip?" pancing saya.

"Gak ngerti. Mak gak iso moco kok," ujar Bu Jono.

Ada yang nimbrung bahwa stiker itu kemungkinan dibawa orang-orang PDIP yang kebetulan mampir di tempat petilasan itu. Asal tempel saja. Kalau ada stiker Karwo, ya, ditempel juga. Apalagi dikasih kaus atau uang, diterima dengan senang. Tapi urusan coblos pada 23 Juli 2008 nanti tidak ada yang jamin.

"Rakyat sekarang sudah pintar kok. Jangan dikira kami yang di hutan ini gak bisa membaca politik," ujar Pak Koyo yang suka memakai baju loreng-loreng ala Angkatan Darat.

"Sudahlah, nanti hanya dua calon yang bersaing: Pak Dalang (Soenarj) dan Pak Karwo. Yang lain-lain itu berat. Wong dua ini sudah jalan (maksudnya, kampanye) bertahun-tahun, sementaa yang lain-lain kan baru muncul. Apa bisa kejar? Sulit, suliiiit," kata Pak Koyo.

Pria kurus ini pandai bicara, selalu menjadi "pemimpin" diskusi warung kopi khas Jolotundo. Pak Koyo piawai menyusun argumentasi--plus data sejarah [meski kebenarannya saya ragukan]--sehingga orang-orang kampung sangat tertarik. "Tapi lama-lama ya bosan juga. Omongannya kayak orang pintar saja. Hehehe," bisik seorang warga kepada saya. Memang, Pak Koyo ini suka mengklaim sebagai "temannya jenderal", sering bertandang ke Bogor, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya. Hehehe... bualan-bualan macam ini penting untuk hiburan, tapi tidak untuk urusan serius.

Saya kemudian bertanya soal peluang Pak Achmady, saat ini menjabat bupati Mojokerto. Pak Achmady termasuk sukses di Mojokerto sehingga baru saja terpilih untuk masa lima tahun kedua. "Wah, berat. Berat sekali," kata seorang bapak yang bekerja sebagai pemasok bahan makanan di restoran.

"Wah, kasihan Pak Achmady," timpal yang lain.

"Kenapa kasihan?" pancing saya. Menurut salah satu peserta cangkrukan, Pak Achmady sudah habis uang Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar untuk urusan pencalonan ini. Bahkan, mungkin lebih.

Uang dari mana? Dari tabungan pribadi, sponsor, atau sumber lain? "Wah, itu urusan wartawan untuk investigasi. Masak, kami yang di gunung ini disuruh investigasi?" tukas Pak Koyo. Hehehe...

Betul juga. Para wartawan memang perlu investigasi dana politik selama proses pilkada di Jawa Timur. Selama ini, harus diakui, investigasi jarang dilakukan wartawan-wartawan kita. Yang ditulis hanya berita-berita dari humas, tim sukses, tim iklan, yang tidak jelas juntungannya. Media massa dimanfaatkan oleh tim sukses untuk promosi. Sebaliknya, media memanfaatkan tim sukses untuk dapat iklan atau advertorial. Jurnalisme investigasi praktis mati suri di Jawa Timur, bahkan Indonesia umumnya.

Tak terasa bincang-bincang politik di kedai kopi ini sudah berjalan satu jam lebih. Diskusinya hidup, kadang panas, tapi hanya berputar dari itu ke itu saja. Capek ah! Saya minta izin menengok Sumur Jolotundo. Diskusi pun buyar. Saya mencoba mengusir kejenuhan rutinitas kota dengan melihat anak-anak kecil mandi di pancuran tua itu. Belasan orang dewasa melihat ikan-ikan hias di kolam Jolotundo. Ada juga beberapa remaja yang berpacaran.

No comments:

Post a Comment