26 May 2008

Belajar dari pilkada Pasuruan

Saya baru saja jalan-jalan di beberapa kawasan di Kabupaten Pasuruan. Pada 18 Mei 2008 warga baru saja mengadakan pemungutan suara untuk memilih bupati secara langsung. Suasana tenang-tenang saja, ayem, maklum saya berada di kawasan pegunungan.

"Coblosan sudah selesai. Sekarang bensin naik, gak usah bahas lagi soal pilkada," kata Pak Mamat asal Pandaan.

Pilkada [pemilihan kepala daerah] langsung sudah jadi barang biasa. Padahal, dulu di era Orde Baru, rakyat dianggap tidak dewasa, tidak siap dengan demokrasi langsung. Selama 32 tahun semua gubernur, bupati, wali kota, sudah ditentukan dari atas. Pemilihan di parlemen hanya formalitas belaka. Biasanya, satu calon jadi--yang direstui Pak Harto dan Golkar dan ABRI--dipasang dengan dua calon pendamping.

Karena itu, di Flores Timur sering muncul nama-nama siluman sebagai bupati. Contoh: Markus Weking atau Simon Petrus Soliwoa. Keduanya dipilih hanya karena ABRI, bukan kemampuan dan bukan pula aspirasi rakyat atau parlemen. Kilas balik ini penting agar kita bisa mensyukuri demokrasi murni sekarang meskipun, harus diakui, kehidupan rakyat tambah sulit. Harga-harga naik, sementara penghasilan tetap saja, bahkan berkurang.

Bagi saya, pilkada [pemilihan kepala daerah alias bupati] Pasuruan ini sangat menarik. Jauh lebih menarik ketimbang pilkada Sidoarjo dan Surabaya, tetangganya. Kenapa? Tiga calon punya kekuatan yang seimbang. Peluang menang sama. Tidak ada calon yang lebih dominan. Ini cocok dengan hukum kompetisi. Tidak lucu kalau klub bola divisi utama ditarungkan dengan divisi satu atawa divisi dua.

Dan hasilnya memang sangat kompetitif. Ketiga calon berbagi angka sama, yakni 30-an persen. Bedanya sangat tipis, hanya satu dua persen. Kalau tidak salah beda antara pemenang dengan runner-up hanya 783 suara alias nol koma sekian persen. Pasangan Dade Angga-Eddy Paripurna [PDI Perjuangan plus partai-partai kecil] menang 33,95 persen. Mereka mengalahkan Jusbakir Aldjufri [33,84 persen], bupati sekarang alias inkumben. Muzammil 32,20 persen.

Ini juga menarik karena setahu saya Pak Jusbakir sudah kampanye habis-habisan selama dua tahun terakhir. Poster, baliho, gambar Pak Jusbakir ada di mana-mana. Kalau Anda kebetulan jalan-jalan ke kawasan pegunungan, poster bupati berdarah Arab itu mudah ditemui. Calon satu lagi, Muzammil Syafi’i, juga sudah dikenal rakyat karena dia menjabat wakil bupati. Sementara Dade Angga ini tidak banyak kampanye karena duitnya cekak.

Kok bisa menang si Dade dan Eddy? "Itu karena Allah SWT. Selama ini saya sering datang ke kampung-kampung, cangkrukan, dengan warga. Saya juga selalu sowan ke alim ulama," ujar Pak Dade. Pernyataan ini disampaikan setelah Komisi Pemilihan Umum Pasuruan mengumumkan hasil pilkada yang sangat kompetitif itu. Normatif memang.

Pilkada di Pasuruan memberi harapan baru pada dunia politik di Jawa Timur. Kenapa? Selama ini semua pasangan inkumben menang mudah. Beda suaranya terlalu jauh sehingga kompetisi tidak ada. Pak Bambang Dwi Hartono di Surabaya menang hampir 45 persen, padahal ada empat pasangan. Pak Win Hendrarso lebih hebat lagi: meraih suara 70 persen lebih.

Sebagai warga Sidoarjo, saya kecewa melihat pemilihan bupati Sidoarjo pada 2005. Pak Win dan Pak Syaiful--keduanya inkumben--seperti melawan boneka. PDI tidak serius mengusung calon karena diam-diam partai ini punya komitmen untuk memenangkan Pak Win. Calon satu lagi, Pak Nadhim, sangat lemah. Partai Demokrat juga asal-asalan mencalonkan Pak Nadhim.

Maka, pilkada langsung pertama di Sidoarjo itu ibarat dagelan. Mirip zaman Orde Baru. Satu calon utama--yang pasti menang--bertarung dengan dua calon pendamping yang pasti kalah. Saya akhirnya tidak ikut mencoblos saat itu. Buat apa capek-capek coblosan kalau kompetisinya tidak ada? Andai saja saya ber-KTP Pasuruan, sudah pasti saya ikut mencoblos di pilkada.

Pada 23 Juli 2008 warga Jawa Timur memilih gubernur secara langsung. Melihat nama-nama kandidat yang muncul saat ini, naga-naganya, bakal seru. Pak Imam Utomo [inkumben] tidak akan bertarung karena sudah dua kali menjabat. Kelas berat tidak ada. Ibarat tinju, lima pasangan kandidat [paling banyak memang lima] sama-sama kelas ringan atau menengah-ringan meskipun Pak Karwo dan Pak Narjo orang lama di pemerintahan.

Bukan tidak mungkin hasil pilkada Pasuruan bakal tercermin di pilkada Jawa Timur. Seru!

No comments:

Post a Comment