09 May 2008

Arie Soeprapto pembina paduan suara



Pak Arie mejeng sama Christopher Abimanyu selepas konser di Surabaya beberapa waktu lalu. Christopher bekas juara bintang radio dan televisi jenis seriosa, penyanyi tenor terbaik di Indonesia.


Arie Soeprapto merupakan satu-satunya dirigen [pelatih] paduan suara di Surabaya [bahkan Jawa Timur] yang diliput secara panjang lebar di Jawa Pos. Satu halaman penuh, plus empat foto. Satu foto besar, enam kolom. Tulisan khusus tentang Pak Arie Soeprapto ini dimuat Jawa Pos edisi 7 Mei 2008, halaman 37.

Rupanya, Pak Arie--nama penuhnya Fransiskus Xaverius Aryono Soeprapto--dinilai sebagai lansia berprestasi di Surabaya. Makanya, dia dimasukkan di EVERGEEN, rubrik khusus warga 50 tahun ke atas yang layak berita di Jawa Pos. Ingat, Jawa Pos itu koran sangat berpengaruh. Tirasnya ratusan ribu. Dibaca jutaan orang setiap hari.

Pak Arie, sampean sungguh beruntung! Jarang sekali ada tokoh paduan suara ditulis satu halaman di koran terkemuka. Dulu Pak Nortier Simanungkalit [Jakarta] pernah ditulis satu halaman juga di harian Kompas. Tapi untuk tokoh paduan suara Jawa Timur, setahu saya, baru Pak Arie Soeprapto. Mungkin karena selain membina paduan suara, Pak Arie dikenal sebagai salah satu tokoh fotografi, khususnya foto salon, di Surabaya. Ini yang bikin Pak Arie punya bobot lebih untuk diberitakan di koran besar.

Saya cukup mengenal gaya Pak Arie memimpin paduan suara. Saat tahbisan Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono [2007], pria kelahiran Surabaya 20 April 1946 ini ikut menjadi dirigen. Dia juga tampil di paduan suara misa Paskah dan misa mingguan di Katedral Surabaya. Saya selalu perhatian gaya direksinya.

Menurut saya, gaya Pak Arie Soeprapto agak berlebihan. Gerakan tangannya terlalu lebar, goyang badan, terkadang seperti hilang keseimbangan. Saya khawatir dia jatuh. Tapi, hebatnya, anggota paduan suara bisa membaca maksudnya. Mungkin karena sudah berlatih berbulan-bulan. Adik-adik SMA St Louis I yang dilatihnya--Pak Arie--memang guru di sekolah favorit ini buktinya sangat sukses ditangani Pak Arie. Asal tahu saja, SMA St Louis I berkali-kali menjadi juara lomba paduan suara tingkat lokal, regional, bahkan nasional.

Apa rahasia menjadi pelatih paduan suara sukses? Bagi Pak Arie, jawabannya sederhana saja: penjiwaan. Musik dan syair harus benar-benar meresap dan dihayati paduan suara. Materi vokal sebagus apa pun, jika kurang penjiwaan, maka paduan suara itu gagal. Dan, bicara soal penjiwaan, Pak Arie punya banyak metode untuk mengajak anak-anak asuhnya larut dalam nada dan lagu.

Anda yang pernah ikut paduan suara mahasiswa di Jawa Timur tentu tahu lagu TEKAD karya Damodoro Nuradyo. Itu lho yang liriknya begini:

Ku tabur mawar serta melati
di pusaramu pahlawanku
Kau telah gugur membela bangsaku
rela kau korbankan jiwamu

Kupanjatkan doa pada Ilahi
t'rimalah arwah pahlawanku
Daku warisi s'mangat perjuanganmu
Menuju cita nan luhur suci serta mulya

Oh, Tuhanku, kuatkan hambamu
Tekad mewarisi semangat pahlawanku
Akan tercapai s'gala cita-cita
Masyarakat nan adil makmur jaya
..............


Lagu ini dipakai SMA St Louis untuk festival paduan suara di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006. Anggota paduan suara yang muda-muda itu ternyata tidak bisa menghayati pengorbanan pahlawan. Pak Arie tak kehilangan akal. Dia minta anak-anak menemukan sosok pahlawan dalam kehidupan mereka. Ada anggota kor nyeletuk: Pak Arie pahlawan kami!

"Oke, sekarang kalian bayangkan bahwa saya meninggal dunia," pinta dirigen [pelatih] terbaik SLTA se-Jawa Timur tahun 1993, 1994, 1995 ini. Pak Arie pura-pura terbujur kaku, macam mayat, di hadapan siswa St Louis I. Hasilnya, anak-anak bisa menjiwai lagu TEKAD. Di ajang lomba sebenarnya di Bandung, PS SMAK St Louis I Surabaya berhasil menjadi juara II kategori remaja.

FX Arie Soeprapto mulai terjun ke paduan suara pada 1976 dengan mendirikan PS Mudika Hosana di Wonokromo. Dia mengaku terjun ke paduan suara karena suka, bukan karena latar belakang pendidikan musik. Dia justru kuliah di ITS (perkapalan), tapi tidak tamat gara-gara G30S/PKI. Kuliah lagi di jurusan bahasa Inggris, tapi mrotol maneh. Lantas, suami Theresia Nining Hendrastuti ini mendalami seni fotografi. Dunia foto terus digelutinya sampai sekarang.

Pada 28 Desember 2005, Pak Arie memimpin konser Natal PS SMAK St Louis I di Auditorium Universitas Widya Mandala Surabaya. Mereka konser bareng PS SMAK St Aloysius Bandung dengan bintang tamu Christopher Abimanyu. Saya kebetulan menyaksikan konser ini. Secara umum anak-anak SMAK St Louis I tampil bagus. Sambutan penonton pun sangat meriah.

Saat memberikan sambutan, terasa sekali kalau Pak Arie ini sangat rendah hati. Low profile! Meskipun dikenal sebagai dirigen berprestasi, dia merasa belum apa-apa. Sangat berbeda dengan beberapa dirigen muda yang jam terbangnya minim serta prestasinya belum kelihatan, tapi sombongnya minta ampun. Bak padi, makin berisi makin merunduk, bukan?

"Saya ini cuma kebablasan pegang paduan suara. Tadinya saya hanya menyediakan wadah bagi remaja-remaja kita untuk berlatih paduan suara, eh, gak terasa sampai sekarang saya masih berkecimpung di paduan suara," kata Pak Arie yang kerap dipercaya memimpin paduan suara besar untuk upacara kenegaraan di Surabaya ini.

Pak Arie Soeprapto dirigen yang belajar sendiri. Otodidak. Dia bisa sukses, terkenal, karena semangat belajarnya luar biasa, tekun, dan mencintai paduan suara. Sebaliknya, dia pun dicintai anak-anak SMA St Louis I dan para alumninya yang terbesar di seluruh Indonesia, bahkan negara manca.

9 comments:

  1. Gembira sekali membaca tentang pak Yapie (panggilan akrab pak Arie). Saya anggota paduan suara di St Louis 1, 20 tahun yang lalu, dan tampil di malam kesenian dan berbagai acara sekolah. Pak Yapie memang sangat berdedikasi, dan standardnya tinggi. Bekas pacar saya (sekarang istri) ikut klub fotografi yang juga diasuh pak Yapie. Sekarang kami berdua tinggal di California, dan saya masih suka bernyanyi, dan istri masih suka memotret, khususnya anak2. Terima kasih pak Yapie atas asuhannya.

    ReplyDelete
  2. hehehe... cak tionghoa, suwun banget wis mampir nang blogku. yo opo kabare pak obama? koyoke josss banget ya?
    salam damai!

    ReplyDelete
  3. pak arie memang oke.

    ReplyDelete
  4. pak Arie memang ok!!!
    saya mantan tim PS nya St.louis dulu...
    dulu siy saya suka ngomel,p arie bs dibilang menuntut banyak, tapi ternyata dia memberi lebih banyak...
    disiplinnya pak arie tidak trasa ternyata menjd bekal buat saya.kemarin pas saya ngurus acara konsernya Paroki St Yohanes Pemandi, sya dibilang galak sama teman2,pdhl saya cuma menerapkan pengalaman yang saya dpt di bawah bimbingannya p arie dulu:DISIPLIN.

    ReplyDelete
  5. Aku seneng mampir blog sampeyan, mergone nek moco koran biasa isine mung bencana alam, korupsi, dll sing gak enak2, nggarai gregetan. Matur nuwun sampeyan wis nulis cerito2 sing enak diwoco, lan iso ngobati kangenan kampung suroboyo.

    ReplyDelete
  6. suwun, sampeyan dah nulis byk artikel ttg paduan suara. moga2 bisa menjadi inspirasi bagi anak2 muda di SMA dan kampus2 se-jatim n indonesia.

    arif, eks aktivis psm

    ReplyDelete
  7. saya angkatan 2002 dan sempat jadi anggota PS selama 2 tahun. Herannya, tiap kali latihan, saya tetap merinding melihat gaya Pak Arie 'menyutradarai' sebuah lagu. Aransemen dan lirik lagu bukan lagi 2 jiwa yang terpisah, tapi seakan bisa dihadirkan dengan nuansa tersendiri dengan tangan dingin Pak Arie. Bavo, Pak Arie!!!!! Sekarang saya tahu, kalo nyanyi bukan sekedar suara indah, meleburnya nada dengan diri kita.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Saya adalah siswa beliau yang pernah dibimbing untuk olah vokal dan paduan suara. Dedikasi, dan ilmu beliau yang diajarkan, tidak lepas dari ingatan. Wajar bila kami mengatakan "Pak Arie adalah pahlawan kami".

    ReplyDelete