13 May 2008

Alan Bishop, orang USA doyan musik Indonesia lawas



Rekaman musik pop lawas macam ini yang diburu Mr. Alan Bishop. Eksotik!

Gara-gara sering menulis catatan musik (lawas) di blog, saya sering dapat e-mail dari luar negeri. Orang-orang Barat ini bertanya tentang penyanyi atawa band lawas, perkembangan musik, minta lirik, atau sekadar bilang terima kasih. Saya sering dianggap sebagai "pengamat musik yang layak jadi referensi".

Hehehe.... Keliru lah. Sebab, tulisan-tulisan musik saya umumnya berdasar referensi dengaran atau pengalaman menyimak lagu-lagu di kampung atau sekali-sekali di arena konser. Saya sama sekali bukan praktisi musik.

Alan Bishop, orang Amerika Serikat, persisinya asal Seattle, tak sekadar kirim surat elektronik untuk basa-basi. Pak Alan ini pemusik, kolektor musik, produser musik, dan pecinta musik-musik eksotis di seluruh dunia.

Saya beberapa kali berdiskusi dengan dia lewat e-mail. Wah, wawasannya tentang musik Indonesia, khususnya sebelum 1980, luar biasa. Saya kalah jauh deh. Dia sangat paham musik Indonesia pada era 1960-an ketika rekaman dilakukan lewat piringan hitam atau long play. Koleksinya berjibun.

Pak Alan tak sekadar tahu tapi menikmati musik-musik lawas Indonesia yang umumnya versi piringan hitam. "Lambertus, mungkin Anda tidak percaya. Setiap minggu saya dan teman-teman kumpul di kafe dan menikmati musik Indonesia lama. Sangat menyenangkan," kata Pak Alan.

Musik tempo doeloe itu macam-macam. Dangdut Rhoma Irama 1970-an, Elvie Sukaesih, Ellya Khadam [Boneka dari India], Sapta Nada, Zaenal Combo, Dara Puspita [band ini paling dia sukai], dan sejenisnya. Juga rekaman-rekaman lagu daerah dari Orkes Melayu Bukit Siguntang dan rekaman-rekaman lagu Minang, Batak, Melayu, gamelan Jawa. Album macam ini sudah jelas sudah barang langka. Hanya disimpan oleh para kolektor musik yang rata-rata sudah sangat senior.

"Kenapa Pak Alan dan kawan-kawan di Amerika sangat suka lagu-lagu Indonesia lama? Padahal, di Indonesia sendiri lagu-lagu macam itu tidak disukai anak-anak muda sekarang. Dianggap kampungan atau norak?" tanya saya, tentu dalam bahasa Inggris.

[Pak Alan ini paham bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Dia bilang bahasa Indonesia itu paling mudah dibandingkan puluhan bahasa asing di luar Amerika Serikat yang pernah dia pelajari. Harus bangga lho kita punya bahasa Indonesia yang ternyata mudah dipelajari orang asing!]

"Nuansanya, suasananya, sangat berbeda dengan musik-musik sekarang. Lagu-lagu Indonesia pada awal industri musik di negara ini justru sangat berkualitas. Iramanya sangat bervariasi, eksotis. Indonesia memang luar biasa," ujar pemain bas sebuah band di Amerika ini.

Aha, saya terkejut mendengar apresiasi yang luar biasa dari seorang Alan Bishop--ini orang terkenal lho--terhadap musik lama. Dia bisa membahas anatomi band-band lama secara detail. Terlalu teknis kalau ditulis di halaman ini. Dia juga berusaha menemukan cerita di balik lagu-lagu itu: penyanyi, pemain band, label rekaman, serta suasana pada saat lagu itu dirilis. Singkatnya, saya kewalahan berdiskusi dengan Pak Alan karena pengetahuan beliau tentang musik Indonesia sangat luar biasa.

Setelah diskusi mendalam, Pak Alan berkunjung ke Indonesia. Dia ingin mengurus hak cipta [copyright] untuk sekian ratus lagu lawas kita. Lagu-lagu tersebut dia produksi ulang, dibikin kompilasi, kemudian dicetak 2.000-3.000 kopi untuk diedarkan di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Dia pakai sistem pejualan internet sehingga album kompilasi itu bisa dibeli siapa saja di jagat ini.

Pak Alan sangat detail dan serius mengurus hak cipta. Saya bantu menjelaskan tentang Yayasan Karyacipta Indonesia (KCI) serta proses mengurus hak cipta. "Sebaiknya Anda langsung ke Jakarta. Di Surabaya ada perwakilan KCI, tapi akan sangat bagus kalau langsung di pusatnya. Sebab, hampir semua label di Indonesia ada di Jakarta," kata saya.

Benar saja. Alan Bishop kemudian datang ke Jakarta. "Ini kunjungan saya yang kedua ke Indonesia," tuturnya. "Kapan-kapan saya mampir ke Surabaya dan bertemu Anda. Tahun ini tidak bisa karena agenda saya sangat padat."

Selain mengurus hak cipta dan memburu kaset-kaset atau piringan hitam lama, Pak Alan masuk keluar kampung untuk merasakan denyut kehidupan orang Indonesia. Dia mengaku senang menikmati musik dangdut di kampung-kampung. Di mana-mana dangdut, dangdut, dangdut. "Asyik sekali," ujar produser berpengaruh di kancah world music itu.

"Termasuk suka dangdut remix macam Kucing Garong atau Bang SMS?" pancing saya.

"Tidak. Lagu-lagu macam SMS itu sangat tidak saya sukai. Itu bukan dangdut. Itu sudah kena pengaruh Amerika," katanya serius.

Saya menimpali bahwa sudah lama musik pop Indonesia--termasuk dangdut--berkiblat ke Amerika Serikat. Semua yang datang dari USA dicontek, ditiru begitu saja. Cara nyanyi, idol-idolan, gaya hidup, struktur irama dan melodi... semuanya Amerika banget. "Pak Alan, coba Anda ganti lirik Indonesia dengan bahasa Inggris. Maka, lagu-lagu pop Indonesia itu sama saja dengan Top 40 di USA," kata saya.

"Yah, saya tahu. Dan itu bukan saja di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain. Padahal, kalian punya musik yang sangat luar biasa seperti pada era sebelum 1970-an. Musik ala USA itu membuat selera dunia ini serba seragam. Itu ibarat racun yang kita tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya," ujar Pak Alan.

Diskusi dengan Alan Bishop ini membuat pemahaman saya tentang USA semakin kaya. Bahwa tidak semua orang USA senang dengan musik ngak-ngik-ngok yang sekarang meraja di televisi dan industri hiburan kita. Bahwa masih ada manusia-manusia USA macam Alan Bishop dan kawan-kawan yang cinta musik-musik lama Indonesia yang sederhana, tapi jujur dan tahan zaman.

Pak Alan kembali ke markasnya di USA. Di internet saya baca wawancaranya dengan beberapa media di sana. Berkali-kali Pak Alan memuji kehebatan Indonesia yang punya kebudayaan yang sangat kaya. Oh, ya, apa lagi yang menarik selama Anda berkunjung ke Indonesia?

"The people....the Durian markets....Gado Gado for dinner.......clove cigarette smoke in every building........Dangdut music blasting from every conceivable sound source.....anything....and everything!"

Hmmmm... Terima kasih! Matur suwun, Pak Alan!

7 comments:

  1. Get your Online Lyric song in http://www.lyrics-x.com

    ReplyDelete
  2. hehehe.. gak salah anda disangka pengemat musik. org kalo nulis terus-menerus ttg musik kayak anda, ya, layak disebut pengamat. apalagi artikel2 di sini lumayan komplit. good luck.

    freddy

    ReplyDelete
  3. aq kira wajar krn org barat suka nyari sst yg eksotis. kalo musik industri kan mrk dah biasa. gicu lho.

    ReplyDelete
  4. Bang lambertus, coba review album nya Suarasama... baru aja rilis di US tuh. Googling aja "suarasama".

    Thanks

    ReplyDelete
  5. Btw, met kenal bang... artikel2 nya bagus2.
    contact saya oyash.panjaitan@gmail.com buat sharing informasi... thanks and good luck

    ReplyDelete
  6. Wah hebat.. Aku salut sama mr alan.
    hptips.Blogspot.Com

    ReplyDelete
  7. wah.... salut untuk alan bishop dan terima kasih bung lambertus untuk berbagi. viva indonesia! ^^

    ReplyDelete