31 May 2008

Pemilihan gubernur NTT 2008

Hari-hari ini para calon gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur sedang jualan kecap kampanye. Keliling Flores, Labuan Bajo, Sumba, Timor, Alor, Sawu, Rote, untuk merebut hati rakyat. Semua calon mengklaim bisa mengangkat masyarakat NTT yang miskin menjadi sejahtera. Menjual mimpi sekali-sekali perlu juga.

"NTT berdiri sejak 1958, tapi masih tertinggal di Indonesia. Kenapa? Fungsi birokrasi tidak jalan," kata Gaspar Parang Ehok, calon gubernur NTT, yang bekas bupati Manggarai di Flores Barat sana.

Ibrahim Agustinus Medah, juga calon gubernur, lain lagi. Dia janji membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan gratis untuk semua penduduk NTT. Ini supaya sumber daya manusia NTT lebih berkualitas. Selama ini, kata Pak Ibrahim, NTT tidak maju-maju karena kualitas manusianya buruk. Makanya, sekolah digratiskan sampai tingkat lanjutan atas alias SMA.

Ah, yang benar saja! Mekanismenya bagaimana? Subsidi pendidikan itu diambil dari pos mana? Sekolah gratis itu benar-benar gratis atau ada sumbangan ini itu? Namanya juga kampanye, ngecap, ya, kita tidak dapat banyak penjelasan. Politisi, apalagi di Indonesia, apalagi di NTT, tidak peduli detail. Bicara garis besar saja! Yang penting orang senang.

Pak Frans Lebu Raya, calon gubernur yang juga pentolan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kampanye tentang perlunya produk unggulan di tiap daerah. Timor dan Sumba untuk peternakan sapi. Flores pertanian dan perkebunan. Alor pusat perikanan dan cendana. Lembata dan Ndao budidaya rumput laut. Konsep ini persis Pak Basofi Sudirman ketika menjadi gubernur Jawa Timur pada 1990-an, tapi tidak jalan. Kerennya: one village one product!

Sebagai orang NTT di luar NTT, saya tidak banyak tahu detail konsep-konsep politik yang ditawarkan para kandidat. Juga tidak tahu rekam jejak masing-masing pasangan. Tapi mudah-mudahan saja pemilihan gubernur langsung pertama di NTT ini akan melahirkan gubernur yang benar-benar mengabdi untuk rakyat. Gubernur yang mau kerja keras, memberi waktu 100 persen, untuk rakyat NTT.

Ini penting karena sejak beberapa tahun terakhir terlalu banyak berita buruk di media massa tentang NTT. Pejabat korupsi. Istri pejabat foya-foya ke Jakarta, kota-kota besar di Jawa, atau luar negeri. Beli rumah mewah di Jawa. Punya proyek ini itu. Mengangkat sanak saudara atau orang-oran sedaerahnya sebagai pegawai negeri atau pejabat. Di Flores Timur, misalnya, mantan bupati masuk penjara karena dugaan korupsi miliaran rupiah.

Singkatnya, moralitas pejabat-pejabat di NTT rata-rata sangat buruk--setidaknya yang saya baca di media massa. Penduduk makan buah-buahan liar macam bakau karena bahan pangan habis. Minum air pisang. "Waduh, pokoknya kalau berita tentang NTT di surat kabar atau televisi pasti yang jelek-jelek. Kita sampai malu, tapi bagaimana lagi? Itu fakta sih," ujar Silvester, teman asal Flores Barat, yang tinggal di Surabaya.

Kalau kebetulan bertemu dengan teman-teman asal Lembata pun ceritanya sangat seru. Topiknya tidak jauh-jauh dari korupsi pejabat. Si pejabat dan keluarganya dikabarkan sangat brengsek. Proyek-proyek mahal dimakan sendiri oleh keluarga dan kroni. Unjuk rasa kasus tambang di Lembata bolak-balik terjadi. "Kita seperti putus asa deh. Sementara pihak gereja pun tidak mampu mencegah keserakahan itu," gerutu teman-teman dari kampung.

Saya tidak tahu apa-apa duduk persoalan di NTT. Karena itu, saya diam saja. "Mudah-mudahan segera ada solusi. Kamu tahu tidak bahwa citra NTT di Jawa itu sangat buruk. Teman-teman banyak yang tidak mau mengaku asal NTT saking malunya," kata saya.

Kenapa begitu? Itu tadi. Berita-berita yang muncul di media massa tentang Bumi Flobamora tidak pernah jauh dari bad news. Rakyat kelaparan. Penyakit menular macam rabies. Malaria. Pekerja ilegal ke Malaysia. Bencana alam. Unjuk rasa menentang pejabat yang disangka korupsi. Penduduk Timor Leste mengungsi karena negaranya kisruh.

"Yah, pantas saja teman-teman di Jawa tidak punya gambaran positif tentang Flores, Alor, Sumba, Timor Barat," kata Silvester.

Memang. Sampai sekarang banyak orang Jawa, termasuk intelektualnya, tidak tahu kalau di NTT ada banyak seminari yang sangat berkualitas. Pater-pater di kampung rata-rata menguasai lebih dari empat bahasa asing. Banyak sekali pater asal NTT yang bertugas di Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Asia Tenggara, khususnya Filipina.

Begitu banyak jurnalis asal NTT yang menduduki posisi strategis di media massa terkemuka macam Kompas, Tempo, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, SCTV, Metro TV, RCTI, dan sebagainya. "Mana ada media massa besar yang tidak punya orang Flores?" begitu guyonan Pak Herman Musakabe, bekas gubernur NTT, saat berkunjung di Surabaya beberapa waktu lalu.

Menurut Pak Herman, orang NTT di perantauan itu pekerjaannya ada empat. Satu, wartawan. Dua, satpam. Tiga, pastor dan pendeta. Empat, buruh. Yang nomor empat ini memang paling banyak. Datang saja ke kantung-kantung buruh di Surabaya, Tangerang, Kalimantan, Papua, Malaysia... dan Anda akan berjumpa begitu banyak orang NTT.

Kembali ke pemilihan gubernur. Kita di NTT pernah punya Bapak Ben Mboi, gubernur hebat pada era 1978-1988. Bersama istrinya, Ibu Nafsiah Mboi, Pak Ben bekerja habis-habisan untuk memajukan NTT. Dia tidak asal bicara, tidak jualan kecap politik [karena zaman itu gubernur ditunjuk Jakarta, kemudian distempel Dewan Perwakilan Rakyat Daerah], tapi langsung turun ke bawah. Pak Ben berkeliling ke 12 kabupaten [sekarang sudah jadi 15 kabupaten ya?], memotivasi rakyat untuk maju.

Kebetulan Pak Ben dan Bu Naf ini punya kecerdasan dan pengalaman di tingkat nasional dan internasional. Maka, Pak Ben menggulirkan Operasi Nusa Makmur. Program ini untuk menyediakan stok pangan. Sejelek-jeleknya bumi NTT, ia punya potensi untuk memberi makan kepada tiga juta penduduknya. Budidaya jagung umur pendek--kalau tak salah jagung arjuna--digalakkan di mana-mana.

Kemudian Operasi Nusa Hijau. Penghijauan untuk mengatasi penggundulan hutan. Gerakan Pak Ben ini sangat masih. Hampir tiap minggu rakyat bikin penghijauan. Tanam lamtoro gung, turi, dan pohon-pohon produktif. Ada juga Operasi Nusa Sehat. Pemberantasan penyakit menular yang dulu sangat gawat di NTT seperti malaria, cacar, demam berdarah, tifus, kolera, disentri. Masih banyak lagilah program Pak Ben Mboi selama 10 tahun menjabat.

Karena itu, nama NTT pada masa kepemimpinan Pak Ben [bersama Bu Naf] sangat harum. Imejnya sangat positif. Pak Harto senang bukan main punya gubernur hebat macam Pak Ben. Orang NTT bangga karena berkali-kali Pak Ben dan Bu Naf beroleh penghargaan nasional maupun internasional. Berita-berita di media massa tentang NTT pun tidak selalu buruk macam sekarang.

Kalau Pak Ben bisa, kenapa pejabat-pejabat penggantinya tidak mampu berbuat banyak? Menurut saya, gubernur terpilih nanti tidak perlu muluk-muluk bikin program yang belum tentu bisa dilaksanakan. Sebab, cetak biru NTT sudah dijalankan Pak Ben Mboi. Bapak cukup lanjutkan dan kembangkan program Pak Ben: Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, Operasi Nusa Sehat. Mungkin ditambah satu lagi dengan Operasi Nusa Cerdas.

Dan itu hanya bisa jalan kalau si gubernur dan pejabat-pejabat di provinsi, kabupaten, kecamatan, tidak korupsi, kolusi, nepotisme.

Dua tahun lumpur lapindo

Jawa Pos, 30 Mei 2008
Menjadikan Semburan Lumpur Daya Tarik Tingkat Dunia

OLEH: Dahlan Iskan


MEMBICARAKAN bagaimana cara menutup semburan lumpur Lapindo tampaknya sudah tidak relevan lagi. Terutama ketika masalah sosial yang ditimbulkannya hampir terselesaikan. Juga, berbagai upaya ternyata sudah dilakukan dan tidak ada gunanya. Memang masih ada banyak saran yang disampaikan. Tapi, semuanya hampir tidak mungkin dilakukan lantaran terlalu mahal.

Kalau masih harus membicarakan lumpur Lapindo, sebaiknya mulai beralih ke agenda ini: akan diapakan lokasi itu. Terutama setelah melihat dalam beberapa bulan terakhir tidak ada tanda-tanda membesarnya semburan itu. Belakangan saya sering lewat memutar di atasnya dan selalu saja saya melihat tidak ada tanda-tanda gejolak baru.

Tapi, untuk membicarakan akan diapakan lokasi itu tentu masih harus dilihat dulu siapa yang berhak atas pengelolaan wilayah tersebut. Pemda Sidoarjo? Pemda Jatim? Pemerintah pusat? Bakrie Group?

Dua minggu lalu saya diajak makan malam oleh seorang menteri luar negeri dari negara tetangga yang lagi berkunjung ke Surabaya. Meski tidak beragama Islam, siang harinya dia berziarah ke makam Sunan Ampel, lalu sorenya menemui pengusaha-pengusaha dari negaranya dan malamnya mengundang kami makan malam. Di samping kiri saya ada Alim Markus, chairman Maspion. Di samping kanan saya ada Pak Sigit dari Kadin. Lalu ada bos Bogasari Herman Juhar, bos Surya Inti Henry Gunawan, bos Bank Ekonomi Group dan bos Sekar Group.

Kami berbicara banyak hal, termasuk lumpur Lapindo. Topik pembicaraan adalah: bagaimana seharusnya orang Jatim menyikapi lumpur itu. Kesimpulannya, kini sudah saatnya membalik berita-berita tragedi, sedih, dan bencana itu menjadi berita baik. Sudah terlalu jelek nama Jatim di dunia luar. Apalagi nama Sidoarjo. Sudah terlalu lama kita bersedih, berduka, dan menangis untuk lumpur Lapindo. Tapi, air mata sebanyak lumpur Lapindo pun tidak akan mampu mengubah bencana itu.

Sudah saatnya kita mengusap air mata, meski tetap harus memperjuangkan mati-matian nasib penduduk yang terkena dampak lumpur itu, baik langsung maupun tidak langsung. Sebagai seorang asing yang tidak terikat oleh emosionalitas peristiwa itu, Menlu tersebut, secara pribadi, punya pandangan yang agak berbeda dengan umumnya kita.

Peristiwa di Sidoarjo itu dinilai sangat langka. Di seluruh dunia hanya terjadi di Sidoarjo ini. Seluruh dunia justru harus tahu ini. Harus tahu bahwa kalau mau melihat fenomena bumi yang ajaib dan hanya terjadi di satu tempat, datanglah ke Sidoarjo. Kini rasa malu bahwa daerah kita terkena musibah itu sudah harus diakhiri. Harus diubah menjadi bangga.

Caranya dengan membuat desain khusus yang bisa memanfaatkan lokasi itu untuk apa saja yang punya daya tarik tingkat dunia. Wisatanya, kajian ilmiahnya, historisnya, dan seterusnya. Film-film awal lumpur itu, penderitaan masyarakatnya, contoh-contoh lumpurnya, apa saja kandungannya, di mana saja peristiwa serupa pernah terjadi dan banyak lagi yang harus dipajang di lokasi.

Tapi, siapa yang harus mulai bicara ini? Inikah cara buat Sidoarjo untuk bangkit lebih hebat dari sebelum lumpur?

28 May 2008

Santriwati, wartawati, sastrawati... sukarelawati

Ada peristiwa mengejutkan di Surabaya. Seorang bapak--yang dikenal sebagai pengasuh pesantren alias kiai--diduga mencabuli santrinya. Disebut-sebut 27 perempuan santri berusia 16-19 tahun yang mengalami pelecehan seksual meski tak sampai penetrasi.

Sejumlah media sempat mendiamkan kasus ini, karena sensitif, tapi belakangan harus memberitakan juga karena para korban mengadu ke Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya. Beberapa koran menulis kira-kira demikian: GURU NGAJI CABULI SANTRIWATI. Sebetulnya, kasus macam ini beberapa kali terjadi, namun baru kali ini yang heboh. Puluhan gadis remaja mengalami perlakuan tak senonoh.

Ah, saya tertarik pada SANTRIWATI.

Kata ini sudah lama mengganjal pikiran saya. SANTRI + WATI = SANTRIWATI. Santri berjenis kelamin perempuan. Teman-teman redaktur di Surabaya suka menggunakan kata ini, SANTRIWATI, untuk mempertegas bahwa korban pelecehan itu santri perempuan. Biasanya, sering muncul di berita-berita kejahatan yang memang sangat disukai oleh pembeli koran eceran.

Tapi kenapa tidak pernah ada kata SANTRIWAN? Kenapa hanya SANTRIWATI? Kenapa tidak cukup SANTRI saja? Toh, di dalam tubuh berita bisa dijelaskan bahwa korban kriminalitas itu sekian orang, usia antara sekian sampai sekian, jenis kelaminnya perempuan, dan seterusnya.

Saya pribadi memang sudah lama memperhatikan secara khusus kata-kata berakhir -WAN dan -WATI yang makin lama mengalami pergeseran. Kalau menonton ludruk atau ketoprak, saya sering dengar kata SENIWATI. Tapi kata SENIWATI [pekerja seni perempuan] hampir tak pernah kita baca di media cetak atau mendengar di televisi atau radio. SENIMAN entah laki-laki entah perempuan, ya, disebut SENIMAN. Atau cukup ARTIS.

Ibu Ratna Indraswari Ibrahim, penulis cerita pendek asal Malang, cukup terkenal di Indonesia. Saya beberapa kali mampir di rumahnya yang antik itu. Bu Ratna ini disebut SASTRAWAN. Saya tidak pernah dengar SASTRAWATI. Atau mungkin saya kurang pergaulan, kurang baca?

"Lha, Bu Ratna itu kan perempuan. Masak sih disebut sastrawan?" tanya seorang redaktur senior kepada saya beberapa tahun lalu. Saya lalu menjelaskan, berdasar referensi saya, bahwa sejak dulu kita tidak kenal bentukan SASTRAWATI.

"Sampean [Anda] kan perempuan WARTAWAN. Apa pantas disebut WARTAWATI?" balas saya.

"Pantas dong! Istilah WARTAWATI memang ada, tapi sekarang sudah jarang terdengar," kata Mbak Hera, redaktur senior itu.

Sekarang semua reporter atau jurnalis memang disebut WARTAWAN, tak peduli laki-laki atau perempuan. Daripada harus berdebat kusir, saya lebih suka menghindari kata WARTAWAN [karena ada yang anggap hanya pas untuk laki-laki], dengan memilih REPORTER, JURNALIS, REDAKTUR, atau PEWARTA. Capek deh kalau kita harus bertengkar gara-gara istilah WARTAWATI atau SASTRAWATI.

Di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sangat sering terjadi unjuk rasa buruh pabrik. Sasarannya kantor Dinas Tenaga Kerja, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur, serta Gubernur Jawa Timur. Senin, 26 Mei 2008, ratus buruh unjuk rasa menuntut kenaikan upah minimum. Reporter menulis berita: "Sekitar 800 KARYAWAN melakukan unjuk rasa di DPRD Jatim."

Mbak Hera, redaktur yang kritis, bertanya: "Lho, apa yang demo itu semuanya laki-laki? Kok ditulis KARYAWAN?"

Hehehe.... Ada juga lah perempuan ikut unjuk rasa. Tapi masak sih ditulis KARYAWAN dan KARYAWATI unjuk rasa di dewan? "Mbak, sekarang sudah umum kata KARYAWAN itu dipakai untuk laki-laki dan perempuan. Sama dengan WARTAWAN.

Menurut Prof Dr Gorys Keraf, gejala ini disebut perluasan makna. Kalau dulu hanya perempuan, sekarang meluas," saya mencoba menjelaskan dengan membawa-bawa nama mendiang Gorys Keraf, pakar bahasa asal Flores Timur itu. Ternyata ampuh. Penjelasan ini bisa diterima. Saya juga mengusulkan: "Bagaimana kalau ke depan kita biasakan memakai kata PEKERJA? Rasanya lebih mencakup."

Begitulah.

Sufiks WAN/WATI memang patut dicermati oleh pengguna bahasa Indonesia. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat penggunanya. Gejala perluasan dan penyempitan terjadi dalam banyak kasus. Sikap yang konsisten, taat asas, macam Mbak Hera, tentu bagus, tapi kurang luwes. Belum tentu cocok dengan ragam Bahasa Indonesia sekarang. Gaya bahasa era Balai Pustaka, Pujangga Baru, 1960-an, 1980-an, 2000-an, pasti berbeda meski secara umum hampir sama.

Di Jawa Timur, pelancong alias turis misalnya sering disebut WISATAWAN. Ada WISMAN = wisatawan mancanegara, kemudian WISNU = wisatawan nusantara. Sebelum ditanya Mbak Hera, saya lebih dulu nerocos: "Bagaimana dengan turis yang perempuan? Apakah disebut WISATAWATI? Bukankah akhiran WATI itu berkonotasi dengan hal-hal yang feminim?"

Ah, kalau pertanyaan-pertanyaan macam ini dikembangkan, wah, bisa peninglah awak punya kepala! Kacau-balau!

Bukan apa-apa. Di Surabaya ada radio yang suka pakai istilah REKAN untuk penyiar/reporter laki-laki dan REKANITA untuk penyiar/reporter perempuan. Kenapa tidak disamakan saja: REKAN? Telinga saya gatal setiap kali mendengar istilah REKANITA di radio itu, karena menurut saya berlebihan. REKAN itu netral, tidak pernah hanya mengacu pada laki-laki.

Mungkin redaksi radio itu merujuk pada istilah BIDUAN dan BIDUANITA pada era sebelum 1970-an. Sekarang BIDUAN dan BIDUANITA tidak terdengar lagi kecuali beberapa penyair senior Radio Republik Indonesia [mereka punya istilah khas: ANGKASAWAN, ANGKASAWATI] yang masih mempertahankan gaya lama.

Oh, ya, kasus sama terjadi pada kata BANGSAWAN [ada BANGSAWATI?], NEGARAWAN [ada NEGARAWATI?], SUKARELAWAN [ada SUKARELAWATI?], USAHAWAN [ada USAHAWATI], DERMAWAN [ada DERMAWATI].... dan seterusnya.

27 May 2008

Pengalaman membimbing mahasiswa magang



ANAK TNI AL: Nevy Periyanti, mahasiswa UPN Surabaya asal Sidoarjo. Kerja keras, disiplin, semangat, tak kenal menyerah.




ANAK TRANSMIGRAN: Anggun Dewi Kurniawati, mahasiswa UPN Surabaya asal Lampung. Mudik ke kampung halaman di Lampung kok lama banget ya? Hehehe...

Saat ini--hingga 10 Juni 2008--saya menjadi pendamping dua mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Surabaya yang magang reporter. Ira Puspitasari dan Trisna Elsa kuliah di fakultas komunikasi. Mereka juga mendalami jurnalistik. Magang menjadi syarat lulus strata satu.

"Banyak mahasiswa yang gak lulus-lulus karena belum magang. Cari tempat magang di Surabaya itu gak gampang lho. Makanya, alhamdulillah, kami bisa magang dan dimbimbing langsung oleh Mas Hurek," ujar Elsa sedikit mengambil hati. Hehehe.... Jurus rayuan biar saya semangat mendampingi mereka selama satu bulan.

Enam hari sepekan dua mahasiswa ini harus wawancara langsung [telepon, e-mail, jumpa pers, tidak boleh], memotret, menulis berita, bikin rencana liputan. Saya larang mereka nunut reporter senior agar bisa mandiri. Pun tak boleh meliput bersama sesama mahasiswa yang magang di media lain. Sebab, pengalaman selama ini, mahasiswa yang nunut reporter biasanya tidak berkembang. Tidak bisa menulis sendiri. Hanya titip nama atau kode di berita.

Dari tes awal yang saya lakukan, Elsa dan Ira ini punya kemampuan di atas rata-rata. Logikanya jalan. Bisa menulis lancar dengan ejaan yang benar--meski masih ada kesalahan lazim di sana-sini. Dan, yang terpenting, mereka mahasiswa komunikasi.

"Kamu itu sudah tahu semua teori jurnalistik. Stright news, features, indepth news, teknik wawancara... semua sudah tahu. Jadi, saya gak akan kasih teori. Newsroom itu tempat praktik, bukan bicara teori macam-macam," tegas saya.

Ira dan Elsa sepakat. Dan, syukurlah, selama dua pekan ini dua gadis 20 tahun ini bisa magang dengan baik. Hasil karya mereka saya muat setelah saya klinik langsung. Kelemahan magang, juga reporter pemula, adalah mengembangkan tulisan. Wawancara banyak, panjang lebar, data ada, tapi sulit menulis secara agak panjang. Cerita lisannya seru, tapi tidak tercermin di tulisan.

Memilih sudut berita [angle] pun rata-rata sulit. Akibatnya, mengutip Rosihan Anwar, tulisan jadi bergelemak peak. Tidak ada sudut. Banyak fakta tak penting masuk begitu saja. Anak-anak muda itu hafal piramida terbalik, tapi praktiknya radar sulit. Bagian yang penting kadang ditulis di tengah, bahkan akhir naskah. "Soalnya, di kampus kan jarang praktik," kilah Ira, yang tinggal di Kalikepiting, Surabaya.

Sebelum mendampingi Ira dan Elsa, saya juga membimbing Grima Rasmi, juga mahasiswa UPN Veteran. Sebelumnya lagi dua cewek Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Alumni Wartawan Surabaya. Ada pula dari Institut Teknologi 10 Nopember di Surabaya alias ITS, Universitas Airlangga, Universitas Bhayangkara, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Muhammadiyah. Latar belakang kampus ternyata sangat menentukan mutu mahasiswa magang.

Diam-diam saya bisa memetakan kualitas kampus di Surabaya berdasar mahasiswa magang yang saya bina. Mana yang pandai, goblok, suka mencari-cari alasan, kreatif, sangat mudah terlihat hanya dengan dua kali tatap muda. Saya pun jadi tahu kalau ternyata banyak dosen yang tidak bertanggung jawab. Malas bekerja, membiarkan mahasiswanya bingung, bahkan sebenarnya tak mampu mengajar.

Saya pun jadi tahu kualitas mahasiswa jurnalistik di Jawa Timur. Maaf sebesar-besarnya, mahasiswa dan sarjana lulusan kampus-kampus kita itu tidak bisa siap pakai di dunia kerja. Termasuk AWS yang sering disebut-sebut sebagai dapurnya para calon wartawan. Mungkin mahasiswa terlalu dijejali teori, tanpa praktik, kurang bimbingan, untuk masuk newsroom sebenarnya. Celakanya lagi, adik-adik manis ini umumnya bukan orang yang hobi menulis.

Menulis catatan harian, blog, atau surat saja tak, apalagi artikel atau reportase. "Kita kejar SKS biar cepat selesai. Kuliah kan mahal. Kalau udah lulus, baru mikirin praktik," ujar seorang mantan anak magang asuhan saya.

Yah, pantas saja, pembimbing magang macam saya dipaksa bekerja sangat keras dan sering sakit kepala. Lha, dosen-dosen itu kerjanya apa? Saya akhinya mahfum mengapa begitu banyak pengusaha yang komplain dengan kualitas lulusan perguruan tinggi kita.

26 May 2008

Belajar dari pilkada Pasuruan

Saya baru saja jalan-jalan di beberapa kawasan di Kabupaten Pasuruan. Pada 18 Mei 2008 warga baru saja mengadakan pemungutan suara untuk memilih bupati secara langsung. Suasana tenang-tenang saja, ayem, maklum saya berada di kawasan pegunungan.

"Coblosan sudah selesai. Sekarang bensin naik, gak usah bahas lagi soal pilkada," kata Pak Mamat asal Pandaan.

Pilkada [pemilihan kepala daerah] langsung sudah jadi barang biasa. Padahal, dulu di era Orde Baru, rakyat dianggap tidak dewasa, tidak siap dengan demokrasi langsung. Selama 32 tahun semua gubernur, bupati, wali kota, sudah ditentukan dari atas. Pemilihan di parlemen hanya formalitas belaka. Biasanya, satu calon jadi--yang direstui Pak Harto dan Golkar dan ABRI--dipasang dengan dua calon pendamping.

Karena itu, di Flores Timur sering muncul nama-nama siluman sebagai bupati. Contoh: Markus Weking atau Simon Petrus Soliwoa. Keduanya dipilih hanya karena ABRI, bukan kemampuan dan bukan pula aspirasi rakyat atau parlemen. Kilas balik ini penting agar kita bisa mensyukuri demokrasi murni sekarang meskipun, harus diakui, kehidupan rakyat tambah sulit. Harga-harga naik, sementara penghasilan tetap saja, bahkan berkurang.

Bagi saya, pilkada [pemilihan kepala daerah alias bupati] Pasuruan ini sangat menarik. Jauh lebih menarik ketimbang pilkada Sidoarjo dan Surabaya, tetangganya. Kenapa? Tiga calon punya kekuatan yang seimbang. Peluang menang sama. Tidak ada calon yang lebih dominan. Ini cocok dengan hukum kompetisi. Tidak lucu kalau klub bola divisi utama ditarungkan dengan divisi satu atawa divisi dua.

Dan hasilnya memang sangat kompetitif. Ketiga calon berbagi angka sama, yakni 30-an persen. Bedanya sangat tipis, hanya satu dua persen. Kalau tidak salah beda antara pemenang dengan runner-up hanya 783 suara alias nol koma sekian persen. Pasangan Dade Angga-Eddy Paripurna [PDI Perjuangan plus partai-partai kecil] menang 33,95 persen. Mereka mengalahkan Jusbakir Aldjufri [33,84 persen], bupati sekarang alias inkumben. Muzammil 32,20 persen.

Ini juga menarik karena setahu saya Pak Jusbakir sudah kampanye habis-habisan selama dua tahun terakhir. Poster, baliho, gambar Pak Jusbakir ada di mana-mana. Kalau Anda kebetulan jalan-jalan ke kawasan pegunungan, poster bupati berdarah Arab itu mudah ditemui. Calon satu lagi, Muzammil Syafi’i, juga sudah dikenal rakyat karena dia menjabat wakil bupati. Sementara Dade Angga ini tidak banyak kampanye karena duitnya cekak.

Kok bisa menang si Dade dan Eddy? "Itu karena Allah SWT. Selama ini saya sering datang ke kampung-kampung, cangkrukan, dengan warga. Saya juga selalu sowan ke alim ulama," ujar Pak Dade. Pernyataan ini disampaikan setelah Komisi Pemilihan Umum Pasuruan mengumumkan hasil pilkada yang sangat kompetitif itu. Normatif memang.

Pilkada di Pasuruan memberi harapan baru pada dunia politik di Jawa Timur. Kenapa? Selama ini semua pasangan inkumben menang mudah. Beda suaranya terlalu jauh sehingga kompetisi tidak ada. Pak Bambang Dwi Hartono di Surabaya menang hampir 45 persen, padahal ada empat pasangan. Pak Win Hendrarso lebih hebat lagi: meraih suara 70 persen lebih.

Sebagai warga Sidoarjo, saya kecewa melihat pemilihan bupati Sidoarjo pada 2005. Pak Win dan Pak Syaiful--keduanya inkumben--seperti melawan boneka. PDI tidak serius mengusung calon karena diam-diam partai ini punya komitmen untuk memenangkan Pak Win. Calon satu lagi, Pak Nadhim, sangat lemah. Partai Demokrat juga asal-asalan mencalonkan Pak Nadhim.

Maka, pilkada langsung pertama di Sidoarjo itu ibarat dagelan. Mirip zaman Orde Baru. Satu calon utama--yang pasti menang--bertarung dengan dua calon pendamping yang pasti kalah. Saya akhirnya tidak ikut mencoblos saat itu. Buat apa capek-capek coblosan kalau kompetisinya tidak ada? Andai saja saya ber-KTP Pasuruan, sudah pasti saya ikut mencoblos di pilkada.

Pada 23 Juli 2008 warga Jawa Timur memilih gubernur secara langsung. Melihat nama-nama kandidat yang muncul saat ini, naga-naganya, bakal seru. Pak Imam Utomo [inkumben] tidak akan bertarung karena sudah dua kali menjabat. Kelas berat tidak ada. Ibarat tinju, lima pasangan kandidat [paling banyak memang lima] sama-sama kelas ringan atau menengah-ringan meskipun Pak Karwo dan Pak Narjo orang lama di pemerintahan.

Bukan tidak mungkin hasil pilkada Pasuruan bakal tercermin di pilkada Jawa Timur. Seru!

20 May 2008

Dukut Imam Widodo penulis Soerabaia Tempo Doeloe



Pak Dukut itu lahir di Malang, 8 Juni 1954, sembilan tahun setelah kita punya negara merdeka dari Kerajaan Belanda. Tapi dia punya kemampuan menguasai sejarah Surabaya tempo dulu memang luar biasa. "Seng ada lawan!" kata orang Ambon.

Pak Dukut tahu begitu banyak seluk-beluk Kota Surabaya, gedung-gedung tua, jalan-jalan lawas, sejarah Tanjung Perak, hingga bagaimana tingkah polah pelacur masa lalu di Surabaya, aktor bisu, jongos Londo.

"Para kelasi Belanda lebih suka wanita pribumi. Sementara para kelasi anak negeri lebih suka memilih wanita mestizo, yaitu wanita peranakan Eropa," tulis Pak Dukut tentang kompleks pelacuran tertua di kawasan Tanjung Perak, dekat pelabuhan.

DUKUT IMAM WIDODO. Nama ini memang identik dengan Soerabaia Tempo Doeloe. Pada pertengahan 2001 Pak Dukut setiap hari menulis kisah-kisah human interest tentang berbagai hal pada masa lalu, khususnya Surabaya pada era Hindia Belanda, di koran Radar Surabaya.

Kita dibuat senyam-senyum sendiri saat membaca naskahnya Pak Dukut. Ini karena kemampuan novelis plus salah satu manajer PT Smelting (Gresik) itu bermain kata-kata ala pemain ludruk. Naskah inti yang hanya beberapa kalimat diramu, dikembangkan, dioplos dengan interpretasi plus humor segar.

Karena itu, Dukut Imam Widodo tak pernah mau disebut sebagai penulis sejarah. Padahal, naskah-naskahnya--yang kemudian dibukukan--sarat dengan cerita sejarah. Referensinya banyak. Dia bahkan menyiapkan dana khusus untuk memburu buku-buku tua di pasar loak di berbagai kota. Lantas, berkat kemampuan Bahasa Belanda dan Bahasa Inggrisnya, Pak Dukut mengajak kita tamasya ke alam tempo doeloe.

"Saya ini kan cuma pemulung data tempo dulu," ujar Pak Dukut yang tinggal di Wiguna Tengah IX/7 Surabaya ini.

Lahir dari papa-mama yang suka membaca, kutu buka, paham beberapa bahasa asing, Dukut kecil sangat suka membaca. Baca apa saja. Habitus inilah yang kemudian membuat dia lebih kutu buku daripada orang tuanya. "Tapi waktu SMA di Malang saya lebih suka melukis. Sampai sekarang teman-teman saya masih menganggap saya ini pelukis," kata bapak tiga anak ini.

Saat bekerja di Papua selama tiga tahun, hobi melukis ini ditinggalkan. Gantinya Dukut menulis untuk mengisi waktu senggang. Dia punya teman Klaverstein, orang Belanda. Mereka akrab karena Dukut bisa bicara Bahasa Belanda dengan fasih. Dukut menyatakan ingin menulis sejarah kota-kota di Jawa Timur.

Tapi bahannya dari mana? Si Londo ini menyarankan agar Dukut mengirim surat ke museum-museum di Belanda. "Klaverstein yang menulis surat, saya tinggal tanda tangan saja. Hehehe," kenangnya.

Maka, sejak awal 1980-an itulah bahan-bahan dan data tentang sejarah kota-kota di Jawa Timur mulai berdatangan. Tak puas, Dukut memburu koleksi buku-buku lawas ke mana saja. Hobi ini membuat dia mabuk membaca buku-buku lama yang sebagian besar dalam bahasa Belanda. Nah, ketika otaknya sudah penuh dengan informasi, mau tidak mau harus "dikanalisasi" [istilah Harmoko] menjadi tulisan.

Semua penulis memang begitu. Latar belakangnya pembaca yang rakus, kelebihan muatan di otak, lalu tumpah sebagai artikel atawa buku. Maka, jangan harap orang yang malas membaca bisa menjadi penulis.

"Selama 15 tahun saya mengumpulkan data-data tentang Soerabaia Tempo Doeloe dari museum-museum di Negeri Belanda, buku-buku kuno, arsip-arsip kuno, koran-koran kuno, foto-foto kuno, iklan-iklan kuno. Apa saja! Saya menulis dengan gaya jenaka karena saya tidak ingin artikel Soerabaia Tempo Doeloe seperti pelajaran sejarah," tulis Dukut Imam Widodo di Radar Surabaya edisi 15 Mei 2001.

Dukut Imam Widodo sudah punya modal keterampilan [skill] menulis. Dia menulis beberapa novel dan cerita pendek pada 1980-an yang menang lomba. Novel Raden Ayu Prabawati juara ketiga sayembara majalah FEMINA, 1987. Novel Sang Penumpas juara ketiga lomba versi Ikatan Penerbit Indonesia, 1988. Cerpen Nyai beroleh penghargaan FEMINA, 1988. Novel Krakatau juara tiga FEMINA, 1988. Novel Raden Ajeng Kartini juara harapan majalah KARTINI, 1988-1989. Novel Perboeroean dimuat bersambung di JAWA POS, 1992. Novel Beirut dimuat harian SURYA, 1992.

Dan masih banyak karya-karya fiksi Dukut Imam Widodo baik berupa novel maupun cerpen. Paling banyak memang novel dan cerita bersambung di surat kabar. Ini menunjukkan bahwa Dukut penulis yang punya napas panjang serta kemampuan menjaga plot, fantasi, serta bermain kata-kata. Dia dalang sejati. Maka, jangan heran kalau Dukut bisa meramu cerita-cerita tempo dulu secara segar dan menarik.

"Ceritanya pendek saja, tapi diuleg-uleg kayak pemain ludruk. Tulisannya sangat menghibur," komentar beberapa penggemar Soerabaia Tempo Doeloe di Radar Surabaya.

Ketika Pak Dukut menyatakan capek, tangannya sampai bekeringat, sehingga harus mengakhiri Soerabaia Tempo Doeloe setelah jalan enam bulan, tak sedikit pembaca Radar Surabaya yang protes. Surat-surat pembaca berdatangan minta Dukut melanjutkan cerita. "Tapi saya sudah gak kuat. Saya harus istirahat dulu, siapa tahu suatu saat saya akan lanjutkan lagi," ujarnya.

Serial Soerabaia Tempo Doeloe terlalu sayang kalau hilang begitu saja. Pemerintah Kota Surabaya, harian Radar Surabaya, bersama Dukut Imam Widodo pada 2002 bekerja sama untuk membukukan cerita-cerita tempo doeloe yang sudah dimuat di Radar Surabaya. Pak Dukut melengkapi dengan foto-foto bagus--yang kurang elok dimuat hitam-putih di koran. Pakai kertas luks. Jadilah Soerabaia Tempo Doeloe [harganya Rp 350 ribu, kalau gak salah] buku yang menjadi opus magnum seorang Dukut Imam Widodo.

Sejak itu Pak Dukut diajak bicara ke mana-mana. Yah, cerita tentang masa lalu Surabaya dengan segala pernak-pernik dan ludruknya. Dukut Imam Widodo pun identik dengan STD, Soerabaia Tempo Doeloe. Dia juga dianggap sebagai ahli sejarah. Atribut yang selalu ditolaknya dalam berbagai kesempatan.

"Dukut itu generasi muda yang sangat peduli pada sejarah kotanya. Dia muncul pada saat yang tepat, ketika banyak gedung-gedung tua di Surabaya telantar, bahkan dihancurkan," ujar Eddy Samson, tokoh Indo-Belanda yang peduli pada nostalgia Hindia-Belanda di Surabaya.

Sukses dengan Soerabaia Tempo Doeloe--kemudian istirahat karena kacapekan--Pak Dukut melanjutkan menulis sejarah Malang Raya era Hindia Belanda. Bahan-bahannya sudah banyak, apalagi dia asli Malang, tidak sulit baginya untuk menulis buku sejenis Soerabaia Tempo Doeloe. Maka, lahirlah Malang Tempo Doeloe terbit pada 2005.

Buku ini dijual sebagai suvenir bagi turis-turis Eropa, khususnya Belanda, yang datang ke Malang. Saya menemukan di Toko Oen, Jalan Basuki Rahmat, Malang, harganya Rp 500 ribu. Larang tenan, Cak!

Oh, ya, sebelumnya Pemerintah Kabupaten Gresik meminta Pak Dukut menulis buku sejenis Soerabaia Tempo Doeloe. Pemerintah setempat yang membiayai. Pak Dukut tinggal cari bahan, meramu sana-sini, mengetik pakai komputer jinjing kesayangannya. Pada 2004 terbit Grissee Tempo Doeloe. Dulu orang-orang Belanda memang menyebut Gresik dengan Grissee. Dibandingkan Malang dan Gresik, buku Soerabaia Tempo Doeloe jauh lebih heboh dan dikenal orang banyak.

Sambil mengurus PT Smelting, perusahaan kerja sama Jepang-Indonesia di Gresik, Pak Dukut masih juga menulis. Ini luar biasa karena dia pandai mencari waktu di sela-sela kesibukan bekerja. Belum lama berselang, awal 2008, Pak Dukut mengumumkan buku terbarunya Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe. Beda dengan Soerabaia Tempo Doeloe, Hikajat menampilkan cerita-cerita tutur atawa dongeng masa lalu di Surabaya. Cerita rakyat alias folklore lah.

"Saya blusukan ke kampung-kampung untuk cari narasumber. Mereka rata-rata sudah sepuh, ada yang 75 tahun," kata Pak Dukut. Hikayat lawas itu misalnya asal-muasal pengantin pegon, Sawunggaling, Joko Dolog. Pak Dukut ingin agar cerita-cerita rakyat Surabaya itu tidak hilang. "Kalau tidak ada yang mendokumentasikan, apakah 10 tahun lagi masih ada?" ujar suami Kiky Ernawaty ini.

Pak Dukut bekerja keras untuk melestarikan aset-aset budaya dan sejarah kotanya. Sementara di sisi lain para investor, yang didukung pemerintah kota, sibuk menghancurkan gedung-gedung tua. Banyak bangunan cagar budaya sudah hilang di Surabaya. "Pemerintah kota harus lebih memperhatikan cagar budaya. Mereka yang menempati bangunan-bangunan itu harus di-support. Apakah pajaknya tidak diibayar penuh, subsidi listrik, biaya perawatan, dan sebagainya," usul Pak Dukut.

Salut Pak Dukut! Kalau aku dadi wali kota, sampeyan tak angkat dadi ketua badan pengurus gedung-gedung tua dan cagar budaya! Hehehehe....

Low trust society



Banyak orang tidak percaya penjelasan pemerintah bahwa harga minyak harus dinaikkan agar rakyat tambah sejahtera. Omongan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa demonstrasi menolak kenaikkan harga minyak sama dengan membela orang kaya pun tidak dipercaya. TRUST memang barang mahal di Indonesia, apalagi budaya korupsi makin hebat. Rakyat melarat, pemerintah, parlemen, aparat negara korupsi terus.



Seratus tahun kebangkitan nasional. Mau refleksi apa ya?

Oh, kemarin ada teman yang kehilangan ponsel mahal nan canggih. HP ditaruh di indekos, dia mandi, pintu kamar tidak dikunci. Dia tidak curiga sama sekali. Habis mandi, wow, HP raib. Siapa yang ambil?

"Gak tau deh. Tapi saya curiga yang di sebelah itu," katanya.

"Kamu punya bukti?"

"Gak ada. Tapi feeling saya bilang begitu."

"Gak nanya teman-teman kosmu [ada 15 kamar], siapa tahu ada yang salah ambil. Atau pinjam karena lagi habis pulsa."

"Hmm.. sulit ya? Kita di kos-kosan itu jarang komunikasi. Semua karyawan, sibuk sendiri-sendiri. Pagi ke kantor, sore pulang, malam jalan-jalan cari makan, lihat TV di kamar sendiri-sendiri, besok kerja lagi. Dan seterusnya. Gak kayak suasana di kampung, di desa."

Hmm, saya ingat Cak Nur, teman saya. Untuk menambah penghasilan, Nur jualan jagung rebus, pisang goreng, camilan... di kantor. Mulanya dia sangat percaya sama seisi kantor. Jualannya ditauh begitu saja. Ada daftar harga. Silakan beli, uangnya taruh di samping barang dagangan.

"Masak sih ada teman-teman yang bohong? Mau menghancurkan usaha saya?" pikir dia.

Saya lihat Nur hanya bertahan satu bulan. Sekarang dia tetap jualan, tapi barangnya diawasi. Harus bayar tunai di tangannya. Cash and carry! Kenapa tidak ditaruh di tempat umum macam dulu? Nur hanya tersenyum lebar. Mungkin malu.

"Soalnya, ada beberapa teman kita gak jujur. Makan gak bayar. Ambil tiga bayar satu. Ya, lama-lama rugi. Makanya, cara jualnya diubah," cerita teman yang lain. Kasus macam ini memang sering terjadi di Surabaya dan Sidoarjo dan kota-kota besar di Jawa. TRUST memang mahal!

Ada teman baru pulang dari Jepang bersama rombonan. Apes, ada seorang anggota tur ketinggalan barang [kalau gak salah kamera mahal dan peralatan elektronik] di stasiun. Belajar dari pengalaman di Surabaya, orang ini pucat pasi. Takut kehilangan harta tersebut.

Lantas, mereka ke stasiun menanyakan barang ketinggalan. "Tenang saja, ini lho barang Anda. Masih utuh," ujar si petugas Nippon. "Kalau di Surabaya sudah amblas. Nggak ada ceritanya barang ketinggalan bisa kembali," komentar si teman yang baru pesiar di Jepang itu. "Di Jepang tidak ada pencuri. Mereka sangat menghormati hak milik orang lain. Padahal, agamanya gak jelas. Hehehe," tambah teman yang suka bercanda itu.

Cerita lain datang dari Amerika Serikat [USA]. Ada senior saya magang di perusahaan surat kabar besar di sana. Dia terkejut karena koran-koran itu ditumpuk begitu saja di tempat umum. Tidak ada yang jaga. Pembeli cukup masukkan uang ke kotak, lalu ambil koran. Bagaimana kalau ada yang nakal, ambil gak bayar?

"Hehehe... gak ono. Iku kan nang Surabaya. Nang Amerika gak ono wong sing mokong kayak ngono. Mereka bayar sesuai harga, bahkan lebih, lalu membaca paling lama 30 menit. Setelah itu korannya diletakkan di tempat umum. Jadi barang bebas, semacam sampah lah," cerita sang teman yang sempat mencicipi suasana kerja di Voice of America itu.

Teman ini pun mengoleksi koran-koran buangan yang nota bene masih baru dan bagus. Pulang ke Surabaya dia membawa oleh-oleh satu karung surat kabar USA. Bagus-bagus desain koran USA itu. Desain dan isi koran-koran Indonesia kalah jauuuuh sekali. Gak ada apa-apanya!

"Pokoke, kalo kita sudah di luar negeri, negara maju, Indonesia ini ndeso banget deh. Kita kalah peradaban. Wong salat jumatan nang masjid ae, sandal ilang. Hehehe," komentar sang teman.

Saya teringat suasana di kampung halaman [Flores Timur]. Rumah-rumah sederhana. Jalan berdebu. Ladang-ladang penuh ilalang dan tanah yang mengeras. Apa yang menarik di pelosok Flores, pulau terpencil itu?

Rumah-rumah tidak pernah dikunci. Tidak ada pagar, apalagi pagar tembok tinggi. Tidak ada yang jaga rumah meski pemilik rumah pergi jauh. Rumah-rumah, yang umumnya berdinding bambu--baru ditutup kalau sudah malam. Pagi sampai petang, sesuai tradisi, rumah harus dibuka. Siapa saja boleh masuk, minum air putih, syukur-syukur kopi atau teh. Atau, menikmati singkong rebus ala kadarnya.

Bagaimana kalau ada maling? Bisa habis tuh isi rumah?

Hehehe... Mau curi apa di pelosok Flores? Di sana semua orang hidup ala kadarnya, tidak punya barang-barang berharga. Yang lebih penting, masyarakat di Flores sangat percaya bahwa sesama manusia itu pasti orang BAIK, bukan maling.

Kalaupun kita memetik buah kelapa muda milik orang--ini banyak dilakukan di Flores Timur--semata-mata karena kehausan. Minum satu dua butir, lalu memberi tanda dengan daun-daun. Selama hidup di Flores saya tidak pernah mendengar ada orang yang tertangkap, dan dihajar, atau diajukan ke polisi, karena kasus pencurian. Bahkan, polisi di satu kecamatan tak lebih dari lima orang.

TRUST. Harian Kompas [19 Mei 2008] dalam artikel 100 tahun kebangkitan nasional mengutip kajian Francis Fukuyama yang populer itu. Masih adakah TRUST di antara kita, sesama anak bangsa?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan Indonesia saat ini adalah LOW TRUST SOCIETY--kecuali kampung-kampung tradisional di Bali, Flores, Papua, Toraja yang masih punya kearifan lokal. TRUST menjadi kata barang amat mahal di Indonesia, khususnya Jawa, khususnya kota-kota besar.

TRUST antarsesama nyaris amblas. Indonesia yang majemuk ini sedang menuju DISTRUST SOCIETY. Jika itu terjadi, kata Fukuyama, negara akan hancur. Jadi negara gagal.

Beberapa waktu lalu ada ibu-ibu di Surabaya yang bakti sosial pengobatan gratis dan pembagian bahan makanan pokok di sebuah kawasan marginal. Protes bermunculan. Kenapa? Ibu-ibu ini dicurigai membawa misi kristenisasi. Mengajak orang-orang pindah agama berkedok bakti sosial.

Wah, gawat benar tuduhan itu! "Kita serba salah. Diam salah, action juga dituduh macam-macam," keluh Bu Theresia kepada saya suatu ketika.

[NOTA BENE: Ada jalan tengah bagi ibu-ibu gereja atau aktivis kristiani yang ingin baksos di Jawa Timur dan Pulau Jawa umumnya. Ajaklah kiai-kiai, pesantren, atau tokoh lintas agama. Baksos sama-sama! Jangan jalan sendiri dengan bendera kristen karena bisa dicurigai macam-macam. Baksos bersama ini jauh lebih efektif dan mampu membangun persaudaraan dan kebersamaan dalam jangka panjang.]

Memang, itulah buah dari LOW TRUST SOCIETY yang semakin menjadi-jadi di Indonesia. Negeri ini akan hancur kalau semangat DISTRUST dan kebencian terhadap golongan lain tidak segera dihentikan. Kendali ada di tangan pemerintah, khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Merdeka!

14 May 2008

Dahlan Iskan bahas kenaikan harga BBM


Oleh: Dahlan Iskan
Jawa Pos Rabu, 14 Mei 2008

TIAP kelompok punya logika berpikir sendiri dalam menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Rakyat kecil (dan yang mengatasnamakan rakyat kecil) sangat khawatir, kenaikan harga BBM akan lebih menyengsarakan mereka. Kelompok ini menggunakan logika bahwa kenaikan harga BBM ujung-ujungnya menaikkan harga bahan kebutuhan lain yang kian tidak terjangkau oleh mereka.

Mereka tidak tahu dan tidak perlu tahu bahwa tanpa kenaikan harga BBM, ekonomi nasional bisa bangkrut. Bagi mereka, sekarang pun mereka sudah bangkrut. Kalau nanti ekonomi bangkrut, apa bedanya dengan yang sudah mereka alami sekarang. Logika ini sangat kuat di benak mereka yang kadang tidak bisa dirasakan oleh kelompok yang di atas.

Bagi kelompok ini, tugas para pemimpinlah untuk mencari jalan keluar. Kalau untuk menghindari kebangkrutan itu para pemimpin hanya bisa mencari jalan yang paling mudah, yakni dengan menaikkan harga BBM, apa bedanya para pemimpin yang mendapatkan fasilitas mewah itu dengan orang biasa. Logika mereka, kalau harga BBM dinaikkan dan ekonomi terhindar dari kebangkrutan, pada dasarnya hanya para pemimpinlah yang ingin menghindarkan diri dari kebangkrutan. Para pemimpinlah yang ternyata tidak mau bersusah payah dan takut menderita.

***

Kelompok pemikir nonpemerintah melihat bahwa tanpa kenaikan harga BBM, ekonomi negara bisa bangkrut. Penyebabnya, dana APBN habis untuk membayar subsidi BBM. Kalau APBN jebol, kepanikan akan terjadi. Kalau sudah panik, ekonomi bisa lebih bangkrut lagi. Bahkan, kepanikan yang bercampur kebangkrutan itu bisa membuat kekacauan.

Subsidi BBM itu harus dicabut atau dikurangi untuk menghindarkan kebangkrutan itu, dan kepanikan itu, dan kekacauan itu. Toh yang menikmati subsidi BBM pada dasarnya bukan orang kecil. Para pemilik mobil, terutama mobil mewah, yang boros BBM-lah yang menikmati paling banyak. Kelompok ini berpikir kenaikan harga BBM memang akan menyulitkan masyarakat, tapi tidak menaikkan BBM akan lebih menyulitkan lagi.

Kalangan pengusaha besar punya pikiran sendiri. Dinaikkan atau tidak harga BBM itu, yang penting harus ada kepastian. Kalau mau naik, ya naiklah. Cari angka kenaikan yang terbaik. Kalau sudah ada keputusan seperti itu, pengusaha akan menghitung ulang bisnis mereka. Apa saja yang harus disesuaikan.

Pengusaha sudah biasa berada dalam situasi yang sulit begitu. Ini bukanlah kenaikan harga BBM yang pertama. Sejak dulu-dulu harga BBM sudah sering naik. Setiap harga BBM naik juga selalu sama: didahului dengan pendapat-pendapat yang menentang, lalu demo, lalu menjadi biasa lagi. Bagi pengusaha, usaha tetap hidup dan berkembang adalah fokus perhatiannya. Ketika orang lagi demo, pengusaha terus berhitung harus berbuat apa.

Setiap kenaikan harga BBM pengusaha selalu sulit. Tapi setiap itu pula pengusaha selalu mendapatkan jalan keluarnya. Tentu, ada satu dua yang benar-benar harus tutup. Misalnya, pabrik genting dan keramik dalam skala kecil.

Bagaimana kalau tidak ada kenaikan harga BBM?

Pengusaha besar juga akan berhitung. Kalau harga BBM tidak naik, pemerintah hanya akan bisa bertahan sampai bulan apa. Masing-masing punya hitungan sendiri. Ada yang memperkirakan pemerintah hanya akan bisa bertahan sampai Desember. Ada juga yang menghitung mungkin masih kuat sampai April tahun depan. Desember atau April, itu hanya hitungan bulan.

Setelah menghitung seperti itu, pengusaha lalu berpikir begini: saat ekonomi bangkrut itu nanti, berbagai macam kejadian bisa meledak. Mereka pun lantas mengambil tindakan: daripada berada harus menghadapi ledakan yang akan terjadi, lebih baik mulai sekarang menarik uang dari bank dan mengirimkan ke luar negeri. Dan, kalau sudah ada satu orang yang melakukan itu, yang lain akan menyusul. Dalam waktu sekejap, kepanikan akan terjadi. Kepanikan ini tidak dirasakan masyarakat umum karena hanya terjadi di kalangan pengusaha.

Tapi, dalam waktu beberapa minggu, kepanikan akan menjalar ke perbankan dan dalam hitungan hari bakal menjalar ke masyarakat luas.

Kalau hal ini terjadi, pemerintah yang diperkirakan baru akan bangkrut pada April tiba-tiba akan bangkrut dalam waktu lebih cepat. Dan, kalau saat itu baru diputuskan harga BBM naik, terlambatlah sudah. Tidak tertolong lagi.

Bagi pengusaha, kenaikan harga BBM memang akan menyulitkan, tapi risiko-risikonya bisa dihitung. Antisipasi-antisipasinya juga bisa direncanakan.

Kalau harga BBM tidak naik, dalam waktu pendek (lima bulan) memang akan menyenangkan. Setelah itu, segala macam risikonya sulit diperhitungkan. Pengendaliannya juga akan sulit direncanakan. Yang akan terjadi, terjadilah.
***
Yang paling sulit adalah pemerintah. Apalagi, pemerintah yang masih ingin lagi dipilih untuk menjadi pemerintah dalam pemilu yang akan datang. Pilihannya tidak ada yang enak. Pilihannya bukan pahit dan manis, atau pahit dan hambar. Pilihannya adalah pahit dan pahit. Sulitnya, pemerintah tidak bisa untuk tidak memilih.

Saya bisa merasakan kesulitan itu. Karena itu, ketika pekan lalu saya diminta untuk memberikan pandangan di hadapan presiden, Wapres, beberapa menteri, dan pimpinan media massa di Istana Negara Jakarta, saya kemukakan risiko-risiko pilihan itu.

Meski belum memformalkan, pemerintah sudah memberikan kepastian akan menaikkan harga BBM. Angkanya masih disimulasikan dan apa saja akibat yang akan ditanggulangi juga sedang dirumuskan. Salah satu di antaranya adalah bantuan langsung untuk orang miskin dan pegawai negeri, TNI-Polri, dan buruh.

Langkah ini pernah dinilai berhasil dalam mengatasi kenaikan harga BBM yang lalu. Harus dihitung ulang apakah kali ini juga akan berhasil. Terutama dengan menambah lapisan yang menerima bantuan langsung seperti buruh dan pegawai negeri.

Kalau hasil hitungan itu ternyata menyatakan bahwa rakyat masih belum puas, pemerintah harus menunjukkan kesungguhannya untuk mengoreksi dirinya lebih keras. Ini sebagai bentuk "penebusan dosa" kepada rakyat.

Di Istana Negara, saya mengatakan kurang lebih begini: kalau pejabat yang korupsi Rp 1 miliar ditindak, mestinya pejabat yang gagal memasukkan uang ke negara yang nilainya triliunan rupiah juga harus ditindak. Misalnya, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kemerosotan produksi minyak Indonesia. Mengapa tujuh tahun terakhir produksi minyak turun terus di bawah pejabat yang sama. Padahal, kalau saja produksi minyak mentah kita bisa naik terus, mestinya Indonesia justru bersuka ria dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai USD 120 per barel seperti sekarang ini.

Meski saya tidak menyebut nama, saya kira presiden dan Wapres tahu benar siapa yang saya maksud hari itu. Kalaupun tidak, dua hari lalu tajuk Media Indonesia menuding langsung: Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.**

Menuju negara gagal

Seru. Lucu. Ngawur.

Itu kesan yang saya tangkap saat menyaksikan dialog 100 tahun kebangkitan nasional di Metro TV, Rabu malam (14 Mei 2008). Dipandu Meutya Hafid, dialog ini menampilkan Jusuf Kalla, Amien Rais, BJ Habibie, Kwik Kian Gie, Hendro Priyono. Kita, warga bangsa, menyaksikan bagaimana para pemimpin dan bekas bersilat lidah, sementara beban hidup semakin luar biasa.

Pak Kalla, seperti biasa, tampil bukan seperti wakil presiden, tapi kapitalis sejati yang sangat propasar. Kalla sangat menggampangkan soal. Bagi Kalla--yang disebut Amien Rais, KOLO--harga bahan bakar minyak harus dinaikkan, berapa pun besarnya, agar sama dengan pasar dunia. Bagaimana dampaknya bagi rakyat? Gampang saja, kata Kalla. Bantuan langsung tunai alias BLT itulah.

Amien Rais kesekian kalinya bicara tentang aset-aset bangsa yang jatuh ke tangan asing seperti sektor telekomunikasi. Kwik satu aliran dengan Amien. Bekas menteri era Megawati ini mengecam habis Laksamana Sukardi, bekas menteri badan usaha milik negara, yang ngotot melego aset negara ke asing. Dan sukses. Hmmm... Pak Habibie, bekas presiden, bicara menggebu-ebu dan kali ini sangat 'membela rakyat'.

Melihat tayanangan itu, saya kira, orang respek sama Pak Habibie, terlepas dari kekurangan-kekurangannya. Hanya Jusuf Kalla--dan mungkin Susilo Bambang Yudhoyono--yang menikmati jeratan sistem ekonomi neliberalisme sekarang. Kalla kapitalis ulung, saudagar kaya, yang sudah pasti sangat sulit memahami penderitaan rakyat kecil.

Bagaimana kalau Kalla, ketua umum Golkar, jadi presiden? Kemungkinan besar dia akan menyerahkan [baca: jual] negara kepada pasar. Mungkin hanya sektor pertahanan dan keamanan yang tetap dipegang Polri dan Tentara Nasional Indonesia. Wah, pantas saja Pak Amien melihat sosok Kalla sebagai BUTO KALA, hantu jahat yang sangat terkenal di Tanah Jawa. Ih, serem deh!

Bangun pagi, 15 Mei 2008, saya membaca artikel MT Zen di KOMPAS tentang negara gagal. Pak Zen menyodorkan ciri-ciri negara gagal. Dan Indonesia naga-naganya makin mengarahkan ke negara gagal. Reformasi yang ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 itu alih-alih membawa kemakmuran, justru menimbulkan penderitaan yang semakin meluas.

Belum pernah ada antrean panjang minyak tanah dan elpiji seperti sekarang. Harga bahan-bahan pokok membubung. Biaya sekolah semakin tak terjangkau. Uang masuk kampus negeri puluhan juta. orang miskin 40 juta. [Kalau pakai standar dunia, mungkin hanya 10 persen orang Indonesia yang tidak miskin.]

Nah, sekadar menyegarkan ingatan, berikut ciri-ciri negara gagal versi MT Zen. Lalu, saya kembangkan sendiri sesuai dengan interpretasi saya.

TIDAK ADA JAMINAN KEAMANAN

Tempat-tempat ibadat dirusak dan dibakar. Macam-macamlah alasannya. Aparat keamanan tak berdaya. Bahkan, terkesan melindungi gerombolan perusuh. Orang yang sedang beribadat diteror, disuruh bubar.

Pejabat setempat, bahkan presiden, tak mampu menjamin hak konsitusional warga sesuai dengan pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 dan deklarasi hak-hak manusia universal.

BAHAN POKOK LANGKA

Sudah jelas. Antre minyak tanah, elpiji, beras, dan sebagainya. Pasokan tersendat, sementara pemerintah berkali-kali gagal menjamin pasokan. Kata kakek-nenek, suasana sekarang mirip antre beras pada 1960-an alias Orde Lama.

KORUPSI MAKIN GILA

Dan justru dilakukan oleh orang-orang yang mendapat amanat untuk melindungi dan melayani rakyat seperti pejabat, aparat keamanan, militer, parlemen, eksekutif, organisasi nonpemerintah. Bahkan, departemen agama yang seharusnya diisi orang-orang 'suci dan ikhlas' sering korupsi.

Bekas menteri agama saat ini berada di dalam penjara. Korupsi dana haji sangat luas. Korupsi uang gereja pun banyak. Hehehe.... Anggota parlemen ditangkap saat terima suap. Bahkan, anggota KPK [Komisi Pemberantas Korupsi] Irawady juga korupsi dan masuk penjara. Wah, kacau benar negaraku!

KONFLIK HORIZONTAL

Sudah banyak dibahas dan masih ada terus. Pemerintah gagal mengatasi karena memihak salah satu. Konflik ini bisa antarsuku, ras, agama, sekte, dan sebagainya. Silakan kasih contoh sendiri.

HILANGNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

Kepercayaan atau trust itu nomor satu. Saat ini saya lihat pemerintah tak lagi percaya pada pernyataan-pernyataan pejabat mulai lurah, camat, bupati, sampai presiden. Apalagi wakil presiden bernama Kalla. Putar saja radio-radio di Surabaya. Anda akan mendengar begitu banyak keluhan rakyat yang disampaikan secara terbuka. Menjelang kenaikan harga minyak macam sekarang, wah, suara-suara sumbang itu semakin ramai saja.

Indonesia memang belum masuk daftar negara-negara gagal. Tapi indikasi ke arah sana makin dekat. Menurut tradisi Jawa, untuk menghalau BUTO KALA yang mengancam nyawa manusia perlu ruwatan sukerto dengan wayang kulit dan sebagainya.

Terus, yo opo carane ngusir kala-kala sing ngerusak negarane awak dhewe, Cak?

Jemaat, jemaah, jamaah...

Kita, bangsa Indonesia, rupanya sulit bersepakat untuk hal-hal sederhana yang seharusnya bisa disepakati. Paling nyata dalam bidang bahasa. Saya sulit mengerti mengapa kata-kata serapan dari bahasa Arab--yang asalnya sama--diserap secara berbeda-beda. Maka, satu kata versinya banyak sekali. Pusat Bahasa dan ahli-ahli bahasa gamang.

Ketika aset-aset Ahmadiyah dirusak, ada teman yang bertanya:

"Mana yang benar: JEMAAT atau JEMAAH atau JAMAAH Ahmadiyah? Kalau JEMAAT kan berbau Nasrani. Kalau JAMAAH, wong Ahmadiyah tidak diakui sebagai bagian dari Islam. Lantas, bagaimana?"

Jawaban saya sederhana saja:

"Kita lihat papan nama. Tulisannya: JEMAAT AHMADIYAH. Yah, kita pakai saja JEMAAT biar sesuai dengan cara orang Ahmadiyah menyebut organisasinya."

Saya buta bahasa Arab, tapi berdasar beberapa penjelasan ahli bahasa, kata-kata ini akarnya sama. Tapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, ada JEMAAT yang menurut kamus khusus dipakai untuk menyebut kumpulan orang kristiani. Saya tertawa karena orang Kristiani di Indonesia hampir tidak ada yang paham bahasa Arab. Kecuali beberapa gelintir teolog macam Remy sylado atau Bambang Noorsena atau Romo Parera.

JEMAAT
Memang selalu dipakai di lingkungan kristiani, entah Katolik atau Protestan. Ada buku KIDUNG JEMAAT. Surat-surat Paulus selalu ditujukan kepada JEMAAT. Ada JEMAAT di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, Tesalonika.
Lagu-lagu liturgi Katolik selalu pakai JEMAAT. Contoh: JEMAAT ALLAH BERZIARAH. Jemaat, Allah, ziarah, pastilah serapan dari bahasa Arab juga. Teman-teman aliran Pentakosta punya denominasi SIDANG JEMAAT ALLAH sebagai terjemahan The Assembly of God.

JEMAAH
Hampir sama dengan JEMAAT. Ada beberapa media merujuk ke komunitas muslim, tapi tidak pernah untuk kristiani.

JAMAAH
Teman-teman editor di koran-koran Jawa Timur merasa istilah ini paling afdal untuk merujuk komunitas islami. JAMAAH HAJI, tidak pernah JEMAAT HAJI. JAMAAH salat Jumat. JAMAAH pengajian ibu-ibu. JAMAAH nahdlatul ulama. JAMAAH Ahmadiyah tidak dipakai karena--itu tadi--dianggap sempalan Islam.
JAMAAH Gereja Kristen Bethel juga tak pernah dipakai karena dianggap janggal oleh para editor. "Wong nasrani iku cocoke JEMAAT, bukan JAMAAH," kata seorang penyunting senior. Hehehe... Akar katanya kan sama, Bung! Tapi saya orang biasa yang tidak mampu mengubah paadigma ini.

JAMIYAH
Ini juga khas islami, biasa dipakai untuk merujuk organisasi muslim.

Persoalan ini akarnya sederhana saja. Serapan kata-kata Arab sejenis JEMAAH/JEMAAT, MUSYAWARAH/MUSYAWARAT, AMANAH/AMANAT, MUNAJAH/MUNAJAT/ IBADAH/IBADAT, HIKMAH/HKMAT... itu 'dimatikan' dengan fonem H atau T? Menurut saya, Pusat Bahasa atau para pakar bahasa segera bikin kajian mendalam, lalu bersepakat.

Dengan begitu, kita punya standar. Tidak ada lagi JEMAAT versi Kristen atau Ahmadiyah atau JEMAAH atau JAMAAH yang bikin bingung itu. Macam Malaysia itulah. Negara tetangga itu sudah punya pola penyerapan kata-kata Arab ke dalam bahasa Melayu yang standar. Masa sih kita sebagai sesama bangsa Indonesia harus terbedakan hanya gara-gara cara penyerapan kata-kata asing yang berbeda.

Saya sendiri merujuk pada Prof. Dr. Jos Daniel Parera, munsyi, pakar bahasa dari IKIP Jakarta, yang pernah mengkaji kata-kata serapan dari bahasa Arab ini. Yakni, memilih fonem T dan bukan H karena lebih konsisten dan sesuai dengan standar penyerapan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun di bahasa kita.

Maka, saya sejak dulu menggunakan JEMAAT [tak peduli Islam, Kristen, Ahmadiyah, Buddha, Hindu...], MUSYAWARAT, AMANAT, HIKMAT, IBADAT, MUNAJAT... dan seterusnya.

13 May 2008

Alan Bishop, orang USA doyan musik Indonesia lawas



Rekaman musik pop lawas macam ini yang diburu Mr. Alan Bishop. Eksotik!

Gara-gara sering menulis catatan musik (lawas) di blog, saya sering dapat e-mail dari luar negeri. Orang-orang Barat ini bertanya tentang penyanyi atawa band lawas, perkembangan musik, minta lirik, atau sekadar bilang terima kasih. Saya sering dianggap sebagai "pengamat musik yang layak jadi referensi".

Hehehe.... Keliru lah. Sebab, tulisan-tulisan musik saya umumnya berdasar referensi dengaran atau pengalaman menyimak lagu-lagu di kampung atau sekali-sekali di arena konser. Saya sama sekali bukan praktisi musik.

Alan Bishop, orang Amerika Serikat, persisinya asal Seattle, tak sekadar kirim surat elektronik untuk basa-basi. Pak Alan ini pemusik, kolektor musik, produser musik, dan pecinta musik-musik eksotis di seluruh dunia.

Saya beberapa kali berdiskusi dengan dia lewat e-mail. Wah, wawasannya tentang musik Indonesia, khususnya sebelum 1980, luar biasa. Saya kalah jauh deh. Dia sangat paham musik Indonesia pada era 1960-an ketika rekaman dilakukan lewat piringan hitam atau long play. Koleksinya berjibun.

Pak Alan tak sekadar tahu tapi menikmati musik-musik lawas Indonesia yang umumnya versi piringan hitam. "Lambertus, mungkin Anda tidak percaya. Setiap minggu saya dan teman-teman kumpul di kafe dan menikmati musik Indonesia lama. Sangat menyenangkan," kata Pak Alan.

Musik tempo doeloe itu macam-macam. Dangdut Rhoma Irama 1970-an, Elvie Sukaesih, Ellya Khadam [Boneka dari India], Sapta Nada, Zaenal Combo, Dara Puspita [band ini paling dia sukai], dan sejenisnya. Juga rekaman-rekaman lagu daerah dari Orkes Melayu Bukit Siguntang dan rekaman-rekaman lagu Minang, Batak, Melayu, gamelan Jawa. Album macam ini sudah jelas sudah barang langka. Hanya disimpan oleh para kolektor musik yang rata-rata sudah sangat senior.

"Kenapa Pak Alan dan kawan-kawan di Amerika sangat suka lagu-lagu Indonesia lama? Padahal, di Indonesia sendiri lagu-lagu macam itu tidak disukai anak-anak muda sekarang. Dianggap kampungan atau norak?" tanya saya, tentu dalam bahasa Inggris.

[Pak Alan ini paham bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Dia bilang bahasa Indonesia itu paling mudah dibandingkan puluhan bahasa asing di luar Amerika Serikat yang pernah dia pelajari. Harus bangga lho kita punya bahasa Indonesia yang ternyata mudah dipelajari orang asing!]

"Nuansanya, suasananya, sangat berbeda dengan musik-musik sekarang. Lagu-lagu Indonesia pada awal industri musik di negara ini justru sangat berkualitas. Iramanya sangat bervariasi, eksotis. Indonesia memang luar biasa," ujar pemain bas sebuah band di Amerika ini.

Aha, saya terkejut mendengar apresiasi yang luar biasa dari seorang Alan Bishop--ini orang terkenal lho--terhadap musik lama. Dia bisa membahas anatomi band-band lama secara detail. Terlalu teknis kalau ditulis di halaman ini. Dia juga berusaha menemukan cerita di balik lagu-lagu itu: penyanyi, pemain band, label rekaman, serta suasana pada saat lagu itu dirilis. Singkatnya, saya kewalahan berdiskusi dengan Pak Alan karena pengetahuan beliau tentang musik Indonesia sangat luar biasa.

Setelah diskusi mendalam, Pak Alan berkunjung ke Indonesia. Dia ingin mengurus hak cipta [copyright] untuk sekian ratus lagu lawas kita. Lagu-lagu tersebut dia produksi ulang, dibikin kompilasi, kemudian dicetak 2.000-3.000 kopi untuk diedarkan di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Dia pakai sistem pejualan internet sehingga album kompilasi itu bisa dibeli siapa saja di jagat ini.

Pak Alan sangat detail dan serius mengurus hak cipta. Saya bantu menjelaskan tentang Yayasan Karyacipta Indonesia (KCI) serta proses mengurus hak cipta. "Sebaiknya Anda langsung ke Jakarta. Di Surabaya ada perwakilan KCI, tapi akan sangat bagus kalau langsung di pusatnya. Sebab, hampir semua label di Indonesia ada di Jakarta," kata saya.

Benar saja. Alan Bishop kemudian datang ke Jakarta. "Ini kunjungan saya yang kedua ke Indonesia," tuturnya. "Kapan-kapan saya mampir ke Surabaya dan bertemu Anda. Tahun ini tidak bisa karena agenda saya sangat padat."

Selain mengurus hak cipta dan memburu kaset-kaset atau piringan hitam lama, Pak Alan masuk keluar kampung untuk merasakan denyut kehidupan orang Indonesia. Dia mengaku senang menikmati musik dangdut di kampung-kampung. Di mana-mana dangdut, dangdut, dangdut. "Asyik sekali," ujar produser berpengaruh di kancah world music itu.

"Termasuk suka dangdut remix macam Kucing Garong atau Bang SMS?" pancing saya.

"Tidak. Lagu-lagu macam SMS itu sangat tidak saya sukai. Itu bukan dangdut. Itu sudah kena pengaruh Amerika," katanya serius.

Saya menimpali bahwa sudah lama musik pop Indonesia--termasuk dangdut--berkiblat ke Amerika Serikat. Semua yang datang dari USA dicontek, ditiru begitu saja. Cara nyanyi, idol-idolan, gaya hidup, struktur irama dan melodi... semuanya Amerika banget. "Pak Alan, coba Anda ganti lirik Indonesia dengan bahasa Inggris. Maka, lagu-lagu pop Indonesia itu sama saja dengan Top 40 di USA," kata saya.

"Yah, saya tahu. Dan itu bukan saja di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain. Padahal, kalian punya musik yang sangat luar biasa seperti pada era sebelum 1970-an. Musik ala USA itu membuat selera dunia ini serba seragam. Itu ibarat racun yang kita tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya," ujar Pak Alan.

Diskusi dengan Alan Bishop ini membuat pemahaman saya tentang USA semakin kaya. Bahwa tidak semua orang USA senang dengan musik ngak-ngik-ngok yang sekarang meraja di televisi dan industri hiburan kita. Bahwa masih ada manusia-manusia USA macam Alan Bishop dan kawan-kawan yang cinta musik-musik lama Indonesia yang sederhana, tapi jujur dan tahan zaman.

Pak Alan kembali ke markasnya di USA. Di internet saya baca wawancaranya dengan beberapa media di sana. Berkali-kali Pak Alan memuji kehebatan Indonesia yang punya kebudayaan yang sangat kaya. Oh, ya, apa lagi yang menarik selama Anda berkunjung ke Indonesia?

"The people....the Durian markets....Gado Gado for dinner.......clove cigarette smoke in every building........Dangdut music blasting from every conceivable sound source.....anything....and everything!"

Hmmmm... Terima kasih! Matur suwun, Pak Alan!

Halte di Surabaya tak berfungsi



Surabaya itu disebut-sebut sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Penduduknya enam juta lebih [malam] dan delapan jutaan [siang]. Ada banyak perwakilan asing. Event-event besar taraf dunia. Singkatnya, Surabaya boleh dikata sudah menjadi kota yang 'menginternasional'.

Sayang, sampai sekarang perilaku warga dan pejabatnya masih sangat kampungan. Cak Bambang DH dan Cak Arif Afandi [wali kota dan wakilnya] belum mampu membenahi perilaku warga untuk urusan sederhana. Sebetulnya ini bukan kegagalan Pak Pambang dan Pak Arif belaka, tapi juga pemimpin-pemimpin sebelumnya. Cak Narto, Pak Pur, Pak Koco, dan seterusnya.

Kok peradaban kita tidak maju-maju? Pejabat, parlemen, pakar sering studi banding ke luar negeri kok hasilnya tidak tampak? Singapura sangat dekat dari Surabaya--tiap hari ada banyak penerbangan langsung. Tapi, bagi teman-teman yang sudah pernah ke sana, tata tertib warganya tidak bisa diadopsi di Surabaya. Sebut saja soal trotoar, halte, angkutan kota, tempat sampah... singkatnya pelayanan umum alias public service lah. Kita benar-benar kedodoran. Kok tidak bisa meniru hal-hal remeh, tapi penting itu ya?

Kali ini saya singung soal halte bus kota. Saya baru saja menjajal bus kota dari Terminal Purabaya [Bungurasih] hingga ke Pelabuhan Tanjung Perak. Paling selatan menuju kawasan paling utara Kota Surabaya. Lama perjalanan 70 menit. Wah, dari belasan halte yang sudah disediakan pemkot, pakai cat hijau, cukup bagus, hanya beberapa halte yang dimanfaatkan calon penumpang. Yakni, halte RS Bhayangkara, Universitas Bhayangkara, RS Islam Wonokromo, dan Tunjungan Plaza.

Adapun halte-halte lain hanya setengah berfungsi, seperempat berfungsi, dan tidak berfungsi sama sekali. Bahkan, dijadikan tempat singgah para gelandangan. Saya melihat petugas polisi pamong praja lewat begitu saja, padahal halte disalahgunakan oleh pengemis dan gelandangan. Orang segan mampir ke halte di Ahmad Yani [depan Golkar dan bawah jembatan penyeberangan, dekat Bulog] karena ada si gelandanan tidur nyenyak. Sorenya ada pekerja seks jalanan mangkal di halte Ahmad Yani, depan Golkar Jatim. Kok bisa begitu?

Anehnya lagi, teman-teman kita awak bus kota [sopir, kernet] sama sekali tidak berusaha memberi pendidikan kepada masyarakat. Mereka berhenti di mana saja, kapan saja. Anda bisa mencegat bus di mana saja, dan yakinlah bus akan berhenti. Padahal, tidak jauh dari situ ada halte yang sudah dibikin dengan anggaran cukup besar.

Klop! Masyarakat ngawur. Awak bus tidak disiplin. Pejabat-pejabat kota tidak berminat hal-hal sederhana seperti ini. Media-media massa di Surabaya tiap hari memuat isu-isu politik daerah, dugaan korupsi, kejahatan, pilkada, pedagang kaki lima... dengan pernyataan berbusa-busa dari politisi dan pengamat. Jarang ada yang membahas halte. Tidak ada upaya untuk membangun peradaban warga dengan membenahi halte.

Menjadikan halte sebagai tempat yang nyaman. Warga dibuat betah menunggu bus kota di halte. Ini sangat terkait dengan upaya mengajak masyarakat menggunakan angkutan umum [massal]. Sekarang angkutan massal tidak disukai warga Surabaya karena tidak nyaman, tidak tepat waktu, tidak pakai AC, haltenya tidak karuan. Aneh, pejabat suka bicara kemacetan lalulintas di ruas utama Surabaya-Sidoarjo tanpa memperbaiki sistem angkutan massal.

Kenapa tidak dimulai dari pembenahan halte?

Dibuat senyaman mungkin. Pakai AC biar sejuk. Ada kafe atau kantin sederhana. Lantas, semua angkot dan bus kota hanya boleh ambil penumpang di halte. Sanksi berat buat angkot/bus yang berhenti seenaknya untuk ambil penumpang. Bukan tidak mungkin, kesemrawutan bisa diatasi di Surabaya. Kita juga akan lebih tertib dan beradab.

Saya geleng-geleng kepala plus malu melihat perilaku warga Singapura. Halte-haltenya sangat bagus dan nyaman. Antrean panjang, mengular. Aliran bus kota sangat cepat, pengantre di depan naik duluan, disusul di belakangnya, dan seterusnya. Bus-bus kota juga nyaman, wangi, sejuk, keluaran baru. Tidak ada orang yang mencegat bus kota di luar halte. Kalaupun ada--biasanya orang Indonesia yang biasa ngawur--dijamin bus tidak akan berhenti.

Kenapa orang Surabaya--ribuan orang tiap hari jalan-jalan ke Singapura lho--tidak bisa mencontoh sistem halte dan antre ala negara singa itu? Apakah manusia Singapura lebih pintar, sementara manusia Indonesia goblok-goblok? Kenapa orang Surabaya yang biasa ngawur di kotanya ternyata bisa antre manis di halte-halte Singapura? Mau naik bus kota di Singapura, padahal di Surabaya seumur hidup tak pernah naik bus?

Cak Bambang, Cak Arif, Ning Tri, Cak Musyofak... tolong sampeyan-sampeyan benahi kelakuan arek-arek Surabaya mumpung saiki ono perayaan ulang tahun Surabaya ke-715!

12 May 2008

Musik klasik di radio Surabaya



Iman Dwi Hartanto, pengasuh musik klasik Radio Suara Surabaya FM 100.

Minggu, 11 Mei 2008, tengah malam. Saya menikmati alunan suara tenor Luciano Pavarotti dari Radio Sonora FM Surabaya. Legenda asal Italia itu membawakan O Sole Mio. Sulit menemukan suara bagus, kuat, tinggi, dan nyaris sempurna itu di jagat ini. Masih banyak sebetulnya seniman lain yang menekuni opera atau seriosa, tapi hanya sedikit yang matang macam Pak Pavarotti.

Saya memang selalu berusaha menyimak program musik klasik dan jazz di radio-radio Surabaya. Sonora FM--dulu namanya Salvatore FM--rutin menyiarkan musik klasik setiap Minggu malam. Pengasuhnya Bung Lody alias Dion, bujangan asal Nusa Tenggara Timur. "Dulu saya nggak bisa apa-apa. Logat dari Timor sulit hilang. Tapi, puji Tuhan, berkat latihan terus-menerus akhirnya bisa," kata Bung Lody.

Semua laki-laki penyiar Sonora memang pakai sebutan BUNG. Ada Bung Lody, Bung Tony, dan entah Bung siapa lagi. Gaya Bung Lody tenang, lembut, menyapa. Radio di bawah jaringan Kompas-Gramedia ini sejak dulu memang begitu. Dus, mendengarkan siaran musik klasik di Sonora enak sekali sambil membaca buku dan minum kopi.

Bung Lody banyak melayani permintaan lagu dari pendengar. Karena itu, jangan heran kalau sajian klasik di Sonora kebanyakan diisi komposisi-komposisi top hits. Mozart paling banyak. Juga Beethoven, Haydn, Strauss. Vokalis macam Pak Pavarotti, Jose Carreras, Placido Dominggo--Si Tiga Tenor--sangat disuka pendengar. Dan sering diputar.

Syukurlah, program itu bertahan bertahun meskipun iklannya sedikit, bahkan tak ada. Hanya idealisme pengelola radio sajalah yang memungkinkan program musik klasik eksis sampai kini. Salah satu fungsi media memang pendidikan. Tidak hanya cari uang saja!

Dalam waktu bersamaan Radio Suara Surabaya pun menayangkan program musik klasik. Iman Dwi Hartanto--penyiar terkenal, salah satu ikon SSFM--pengasuhnya. Iman biasanya bikin tema tertentu. Ketika Pak Pavarotti meninggal, misalnya, suara Pavarotti diperdengarkan. Juga ada wawancara dengan Pak Richard Awuy, guru vokal dan pelatih paduan suara di Surabaya. Mereka bincang soal kualitas Pavarotti, teknik vokal, serta seluk-beluk musikalitas sang legenda.

Dalam nuansa Paskah, Mas Imam tak lupa memutar komposisi-komposisi klasik yang kental dengan kristianitas. Paduan suara, oratorio, dan beberapa nomor populer yang tak asing lagi buat pegiat paduan suara gereja. Misalnya Hallelujah karya GF Handel. Pak Iman kasih narasi sedikit, lalu terdengarlah komposisi nan megah dan luar biasa itu.

Suara Surabaya itu radio yang mengutamakan laporan lalu lintas, traffic report. Macet sana, macet sini, tanggul jebol, unjuk rasa, kebakaran, dan seterusnya. Telepon dari pendengar sangat diutamakan. Musik bukan program utama. Musik hanya tempelan atawa sekadar mengisi waktu.

Maka, penyiar SSFM harus banyak cakap ngalor-ngidul untuk memancing reaksi pendengar. Lalu, Pak Iwan bicara membahas topik yang sedang aktual. Pak Sumarwito marah-marah karena jalan macet. Pak Nasaruddin nimbrung melapor ada sepeda motor ugal-ugalan. Bu Utami bahas kenaikan harga minyak. Pak Rudi yang terkesan pakar segala bidang. Pak Agustinus yang ngamuk-ngamuk di radio.

Hehehe... Pokoke seru banget deh!

Karena itu, musik klasik harus 'minggir' kalau ada laporan kejadian yang menarik. Kemaceta yang parah. "Sebentar, Kawan, saya gunakan peluang untuk menerima laporan dari seorang kawan tentang kemacetan di Raya Porong," begitu kira-kira cara Mas Iman menginterupsi program musik klasik.

Saya maklum. SSFM bukan radio khusus musik, apalagi musik klasik, bukan? Tapi saya salut sama Pak Sutoyo, bos SSFM, yang menyediakan ruang untuk musik nonkomersial macam klasik dan jazz. Layaklah kalau Pak Toyo dapat berbagai penghargaan atas dedikasinya bagi pengembangan wawasan warga Kota Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

Satu lagi radio yang punya program musik klasik JJFM. Radio ini sound-nya oke punya. Enak didengar. Ia membidik segmen pengusaha. Setahu saya JJFM sempat kerja sama dengan Surabaya Symphony Orchestra untuk penyediaan materi musik klasik. Ada ruang apresiasi. Ini penting karena orang Surabaya umumnya tidak akrab dengan musik klasik.

"kita bahas berbagai hal tentang musik klasik. Mulai concerto, oratorio, komponis-komponis terkenal, hingga symphony orchestra. Bahannya tidak akan pernah habis," ujar Samuel W. Tong kepada saya.

Putra Pak Solomon Tong, dirigen dan pendiri Surabaya Symphony Orchestra ini diajak pihak JJFM untuk memandu program musik klasik. "Tapi sekarang sudah tidak sempat. Saya banyak kegiatan di luar, termasuk mengelola SSO. Yang jelas, saya masih sempat kasih masukan-masukan untuk teman-teman di JJFM," ujar Samuel yang belakangan ini sering tampil di konser-konser SSO.

Begitulah tiga radio di Kota Surabaya yang sangat ajek membina musik klasik. Mungkin ada lagi radio-radio lain, tapi lolos dari pantauan saya. Penggemar musik klasik selayaknya berterima kasih kepada mereka.

09 May 2008

Arie Soeprapto pembina paduan suara



Pak Arie mejeng sama Christopher Abimanyu selepas konser di Surabaya beberapa waktu lalu. Christopher bekas juara bintang radio dan televisi jenis seriosa, penyanyi tenor terbaik di Indonesia.


Arie Soeprapto merupakan satu-satunya dirigen [pelatih] paduan suara di Surabaya [bahkan Jawa Timur] yang diliput secara panjang lebar di Jawa Pos. Satu halaman penuh, plus empat foto. Satu foto besar, enam kolom. Tulisan khusus tentang Pak Arie Soeprapto ini dimuat Jawa Pos edisi 7 Mei 2008, halaman 37.

Rupanya, Pak Arie--nama penuhnya Fransiskus Xaverius Aryono Soeprapto--dinilai sebagai lansia berprestasi di Surabaya. Makanya, dia dimasukkan di EVERGEEN, rubrik khusus warga 50 tahun ke atas yang layak berita di Jawa Pos. Ingat, Jawa Pos itu koran sangat berpengaruh. Tirasnya ratusan ribu. Dibaca jutaan orang setiap hari.

Pak Arie, sampean sungguh beruntung! Jarang sekali ada tokoh paduan suara ditulis satu halaman di koran terkemuka. Dulu Pak Nortier Simanungkalit [Jakarta] pernah ditulis satu halaman juga di harian Kompas. Tapi untuk tokoh paduan suara Jawa Timur, setahu saya, baru Pak Arie Soeprapto. Mungkin karena selain membina paduan suara, Pak Arie dikenal sebagai salah satu tokoh fotografi, khususnya foto salon, di Surabaya. Ini yang bikin Pak Arie punya bobot lebih untuk diberitakan di koran besar.

Saya cukup mengenal gaya Pak Arie memimpin paduan suara. Saat tahbisan Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono [2007], pria kelahiran Surabaya 20 April 1946 ini ikut menjadi dirigen. Dia juga tampil di paduan suara misa Paskah dan misa mingguan di Katedral Surabaya. Saya selalu perhatian gaya direksinya.

Menurut saya, gaya Pak Arie Soeprapto agak berlebihan. Gerakan tangannya terlalu lebar, goyang badan, terkadang seperti hilang keseimbangan. Saya khawatir dia jatuh. Tapi, hebatnya, anggota paduan suara bisa membaca maksudnya. Mungkin karena sudah berlatih berbulan-bulan. Adik-adik SMA St Louis I yang dilatihnya--Pak Arie--memang guru di sekolah favorit ini buktinya sangat sukses ditangani Pak Arie. Asal tahu saja, SMA St Louis I berkali-kali menjadi juara lomba paduan suara tingkat lokal, regional, bahkan nasional.

Apa rahasia menjadi pelatih paduan suara sukses? Bagi Pak Arie, jawabannya sederhana saja: penjiwaan. Musik dan syair harus benar-benar meresap dan dihayati paduan suara. Materi vokal sebagus apa pun, jika kurang penjiwaan, maka paduan suara itu gagal. Dan, bicara soal penjiwaan, Pak Arie punya banyak metode untuk mengajak anak-anak asuhnya larut dalam nada dan lagu.

Anda yang pernah ikut paduan suara mahasiswa di Jawa Timur tentu tahu lagu TEKAD karya Damodoro Nuradyo. Itu lho yang liriknya begini:

Ku tabur mawar serta melati
di pusaramu pahlawanku
Kau telah gugur membela bangsaku
rela kau korbankan jiwamu

Kupanjatkan doa pada Ilahi
t'rimalah arwah pahlawanku
Daku warisi s'mangat perjuanganmu
Menuju cita nan luhur suci serta mulya

Oh, Tuhanku, kuatkan hambamu
Tekad mewarisi semangat pahlawanku
Akan tercapai s'gala cita-cita
Masyarakat nan adil makmur jaya
..............


Lagu ini dipakai SMA St Louis untuk festival paduan suara di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006. Anggota paduan suara yang muda-muda itu ternyata tidak bisa menghayati pengorbanan pahlawan. Pak Arie tak kehilangan akal. Dia minta anak-anak menemukan sosok pahlawan dalam kehidupan mereka. Ada anggota kor nyeletuk: Pak Arie pahlawan kami!

"Oke, sekarang kalian bayangkan bahwa saya meninggal dunia," pinta dirigen [pelatih] terbaik SLTA se-Jawa Timur tahun 1993, 1994, 1995 ini. Pak Arie pura-pura terbujur kaku, macam mayat, di hadapan siswa St Louis I. Hasilnya, anak-anak bisa menjiwai lagu TEKAD. Di ajang lomba sebenarnya di Bandung, PS SMAK St Louis I Surabaya berhasil menjadi juara II kategori remaja.

FX Arie Soeprapto mulai terjun ke paduan suara pada 1976 dengan mendirikan PS Mudika Hosana di Wonokromo. Dia mengaku terjun ke paduan suara karena suka, bukan karena latar belakang pendidikan musik. Dia justru kuliah di ITS (perkapalan), tapi tidak tamat gara-gara G30S/PKI. Kuliah lagi di jurusan bahasa Inggris, tapi mrotol maneh. Lantas, suami Theresia Nining Hendrastuti ini mendalami seni fotografi. Dunia foto terus digelutinya sampai sekarang.

Pada 28 Desember 2005, Pak Arie memimpin konser Natal PS SMAK St Louis I di Auditorium Universitas Widya Mandala Surabaya. Mereka konser bareng PS SMAK St Aloysius Bandung dengan bintang tamu Christopher Abimanyu. Saya kebetulan menyaksikan konser ini. Secara umum anak-anak SMAK St Louis I tampil bagus. Sambutan penonton pun sangat meriah.

Saat memberikan sambutan, terasa sekali kalau Pak Arie ini sangat rendah hati. Low profile! Meskipun dikenal sebagai dirigen berprestasi, dia merasa belum apa-apa. Sangat berbeda dengan beberapa dirigen muda yang jam terbangnya minim serta prestasinya belum kelihatan, tapi sombongnya minta ampun. Bak padi, makin berisi makin merunduk, bukan?

"Saya ini cuma kebablasan pegang paduan suara. Tadinya saya hanya menyediakan wadah bagi remaja-remaja kita untuk berlatih paduan suara, eh, gak terasa sampai sekarang saya masih berkecimpung di paduan suara," kata Pak Arie yang kerap dipercaya memimpin paduan suara besar untuk upacara kenegaraan di Surabaya ini.

Pak Arie Soeprapto dirigen yang belajar sendiri. Otodidak. Dia bisa sukses, terkenal, karena semangat belajarnya luar biasa, tekun, dan mencintai paduan suara. Sebaliknya, dia pun dicintai anak-anak SMA St Louis I dan para alumninya yang terbesar di seluruh Indonesia, bahkan negara manca.

Lakshmi Mittal ke pabrik baja Sidoarjo



Bapak Lakshmi Mittal tersenyum lebar. Dia orang terkaya keempat di dunia dengan aset Rp 412 triliun. Cukup untuk traktir sate kambing untuk semua orang Indonesia setiap hari. Hehehehe....

PT Ispat Indo atau PT Ispat Indonesia. Orang Sidoarjo dan Surabaya sangat akrab dengan nama ini. Pabrik baja yang berlokasi di Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tidak jauh dari Terminal Purabaya, pintu gerbang masuk Kota Surabaya di Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Pabrik baja bukanlah tempat menarik. Karena itu, meskipun saya dan penduduk Sidoarjo sering melintas di sekitar PT Ispat Indo, tak ada yang memandang istimewa pabrik itu. Kesannya justru kumuh karena ada gunungan sampah besi tua di halaman. Juga truk-truk besar berseliweran di sana.

Nah, Ispat Indo baru menarik ditengok setelah awal April 2008, Lakshmi Niwas Mittal berkunjung ke sana. Pengusaha asal India ini orang terkaya nomor empat di dunia. Majalah FORBES menyebutkan kekayaan Lakshmi Mittal sekitar USD 45 miliar atau Rp 412 triliun. Dialah "raja baja" di dunia. Kabarnya, Lakshmi datang ke Indonesia untuk membahas rencana mengambil alih PT Krakatau Steel, pabrik baja ternama di negara kita.

"Lakshmi Mittal yang bangun pabrik baja Ispat Indo di Kedungturi, Sidoarjo, tahun 1976. Itu pabrik baja pertamanya dia. Boleh dibilang, cikal bakal kekayaan Lakshmi Mittal, ya, berawal dari Sidoarjo," ujar beberapa teman asal Kedungturi.

Penduduk senior di Kedungturi masih ingat baik bagaimana pengusaha India ini membuka pabrik baja dari nol. Tahun 1976 kawasan Kedungturi masih lengang. Hanya tanah kosong, sawah, dan penduduk sangat sedikit. Surabaya belum berkembang ke arah selatan [Sidoarjo] macam sekarang. Saat itulah Pak Lakshmi dengan tekun mengelola pabriknya. Usaha ini terbukti sukses besar. Selama 14 tahun Pak Lakshmi mengawasi langsung para karyawan di Ispat Indo, Sidoarjo.

Ekspor baja Ispat Indo berkembang pesat. Nama Pak Lakshmi tenar di dunia baja internasional. Pelan tapi pasti, dia mengembangkan usaha serupa di berbagai negara. Sekarang [2008] kabarnya dia punya pabrik baja di 61 negara di dunia. Pabrik di Sidoarjo--meski skalanya kecil karena lahan untuk perluasan tak ada lagi--selalu dikenang Pak Lakshmi. Jangan heran, ketika berkunjung ke Kedungturi baru-baru ini Pak Lakshmi memanfaatkan waktunya untuk bernostalgia.

Dia keliling pabrik, bertemu karyawan, serta berbagai cerita dengan pekerja senior. Sebelumnya dia berdoa di kuil khusus di dalam kompleks pabrik seluas 16,5 hektare itu. "Katanya, Pak Lakshmi senang sekali bisa datang ke Ispat Indo meski tidak lama. Pabrik baja ini punya nilai tersendiri bagi keluarga besar Lakshmi Mittal," papa warga Kedungturi.

Tak banyak cerita yang kita tahu dari kunjungan Lakshmi Mittal. Sebab, misi ini terkesan sangat dirahasiakan. Pihak Ispat Indo pun tak ada inisiatif untuk menggelar jumpa pers dengan manusia terkaya keempat di dunia itu. Padahal, itu bakal jadi momentum bagus untuk public relation bagi Ispat Indo. Setidaknya bisa menunjukkan kepada publik sosok hebat di balik pabrik baja legendaris itu.

Kenapa Ispat Indo perlu membangun citra positif?

Terus terang saja, selama ini berita-berita seputar Ispat Indo di surat kabar rata-rata kabar buruk. Didemo warga Kedungturi yang merasa sumurnya tercemar. Tidak ramah lingkungan. Masuk perusahaan daftar hitam buruk versi Kementrian Lingkungan Hidup. Membuang limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 sembarangan. Tidak punya instalasi pengolahan limbah yang ditentukan pemerintah.

"Dewan Lingkungan Sidoarjo mendesak manajemen Ispat untuk menghentikan pembuangan limbah padat (sludge) di lahan-lahan kosong di Sidoarjo. Sludge itu berbahaya bagi kesehatan manusia," begitu pernyataan teman-teman aktivis muda yang tergabung dalam Dewan Lingkungan Sidoarjo. Desakan ini sangat gencar disuarakan pada 2004/2005.

Muhammad Gempur Adnan, deputi Kementrian Lingkungan Hidup, saat berada di Surabaya, juga pernah melontarkan kritik keras kepada PT Ipat Indo, pabrik baja yang didirikan Lakshmi Mital. Menurut Gempur, izin Ispat Indo bisa saja dicabut kalau ia terbukti menyebabkan pencemaran lingkungan. Termasuk membuang limbah padat B3.

Namun, Gempur buru-buru menambahkan, wewenang pencabutan izin itu ada di pemerintah daerah. Sebaliknya, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengaku tidak berdaya menghadapi Ispat Indo. "Anda kan tahu Ispat itu miliknya siapa. Dia punya pengaruh sangat besar di dunia. Mustahil lah bupati Sidoarjo bisa menindak," kata salah satu anggota DPRD Sidoarjo. "Mbulet!" kata orang Jawa.

Hebatnya, isu-isu miring seputar Ispat Indo senantiasa hilang ditelan waktu. Orang-orang yang tadinya bicara keras, mengancam gugat, kirim surat protes ke mana-mana, entah kenapa tidak vokal lagi. Berita-berita di media massa pun raib. Kini, setelah tiga tahun lebih tak ada berita, eh muncul berita besar. Lakshmi Mittal datang menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membahas bisnis baja. Di sela kunjungan Pak Lakshmi mampir ke Kedungturi.

07 May 2008

Cangkrukan politik di Jolotundo


Saya baru saja jalan-jalan ke Jolotundo di Trawas, Mojokerto. Daerahnya sejuk, tenang, masih termasuk kawasan hutan meski sudah banyak yang gundul. Ada cagar budaya berupa sumur peninggalan Raja Airlangga. Sumur Jolotundo dikenal sebagai tempat wisata sekaligus ziarah bagi orang-orang yang bisa menghayati "spiritualitas" tempo doeloe.

Saya cukup sering ke Jolotundo. Beberapa pengurus Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)--hanya beberapa ratus meter dari Jolotundo--saya kenal baik. Juga beberapa penjaga cagar budaya. Mereka bahkan menganggap saya sahabat, bahkan keluarga sendiri. Maka, saya dipersilakan makan apa saja, minum kopi, tanpa harga. Bayar berapa pun terserah saya.

Hehehe... Tapi biasanya saya "titip" uang yang nilainya jauh di atas harga kopi sebagai sumbangsih saya bagi sahabat-sahabat di kawasan Jolotundo. Sebaliknya, kalau kembali ke Sidoarjo/Surabaya saya mendapat "titipan' pisang atau buah-buahan khas Jolotundo. Hubungan persaudaran ini saya rawat baik-baik.

Seperti biasa, saya main-main ke Jolotundo untuk keluar dari rutinitas kota. Tidak lihat televisi, dengar musik, diskusi politik yang membosankan, dan sebagainya. Tapi kali saya kecele. Ketika ngopi di warungnya Bu Jono [usianya 95 tahun, tapi masih kuat, maklum tiap hari jalan kaki di pegunungan], orang-orang kampung ternyata asyik bicara politik. Peta kekuatan lima calon gubernur Jawa Timur.

Soekarwo-Saifullah Yusuf. Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Sutjipto-Ridwan Hisjam. Achmady-Suhartono. Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono. Yang menarik di warung Bu Jono ada stiker Pak Tjip, calon dari PDI Perjuangan. "Wah, Bu Jono dan teman-teman di sini kok dukung Pak Tjip. Ada stiker segala. Sampeyan dibayar berapa sama orang-orangnya Pak Tjip?" pancing saya.

"Gak ngerti. Mak gak iso moco kok," ujar Bu Jono.

Ada yang nimbrung bahwa stiker itu kemungkinan dibawa orang-orang PDIP yang kebetulan mampir di tempat petilasan itu. Asal tempel saja. Kalau ada stiker Karwo, ya, ditempel juga. Apalagi dikasih kaus atau uang, diterima dengan senang. Tapi urusan coblos pada 23 Juli 2008 nanti tidak ada yang jamin.

"Rakyat sekarang sudah pintar kok. Jangan dikira kami yang di hutan ini gak bisa membaca politik," ujar Pak Koyo yang suka memakai baju loreng-loreng ala Angkatan Darat.

"Sudahlah, nanti hanya dua calon yang bersaing: Pak Dalang (Soenarj) dan Pak Karwo. Yang lain-lain itu berat. Wong dua ini sudah jalan (maksudnya, kampanye) bertahun-tahun, sementaa yang lain-lain kan baru muncul. Apa bisa kejar? Sulit, suliiiit," kata Pak Koyo.

Pria kurus ini pandai bicara, selalu menjadi "pemimpin" diskusi warung kopi khas Jolotundo. Pak Koyo piawai menyusun argumentasi--plus data sejarah [meski kebenarannya saya ragukan]--sehingga orang-orang kampung sangat tertarik. "Tapi lama-lama ya bosan juga. Omongannya kayak orang pintar saja. Hehehe," bisik seorang warga kepada saya. Memang, Pak Koyo ini suka mengklaim sebagai "temannya jenderal", sering bertandang ke Bogor, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya. Hehehe... bualan-bualan macam ini penting untuk hiburan, tapi tidak untuk urusan serius.

Saya kemudian bertanya soal peluang Pak Achmady, saat ini menjabat bupati Mojokerto. Pak Achmady termasuk sukses di Mojokerto sehingga baru saja terpilih untuk masa lima tahun kedua. "Wah, berat. Berat sekali," kata seorang bapak yang bekerja sebagai pemasok bahan makanan di restoran.

"Wah, kasihan Pak Achmady," timpal yang lain.

"Kenapa kasihan?" pancing saya. Menurut salah satu peserta cangkrukan, Pak Achmady sudah habis uang Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar untuk urusan pencalonan ini. Bahkan, mungkin lebih.

Uang dari mana? Dari tabungan pribadi, sponsor, atau sumber lain? "Wah, itu urusan wartawan untuk investigasi. Masak, kami yang di gunung ini disuruh investigasi?" tukas Pak Koyo. Hehehe...

Betul juga. Para wartawan memang perlu investigasi dana politik selama proses pilkada di Jawa Timur. Selama ini, harus diakui, investigasi jarang dilakukan wartawan-wartawan kita. Yang ditulis hanya berita-berita dari humas, tim sukses, tim iklan, yang tidak jelas juntungannya. Media massa dimanfaatkan oleh tim sukses untuk promosi. Sebaliknya, media memanfaatkan tim sukses untuk dapat iklan atau advertorial. Jurnalisme investigasi praktis mati suri di Jawa Timur, bahkan Indonesia umumnya.

Tak terasa bincang-bincang politik di kedai kopi ini sudah berjalan satu jam lebih. Diskusinya hidup, kadang panas, tapi hanya berputar dari itu ke itu saja. Capek ah! Saya minta izin menengok Sumur Jolotundo. Diskusi pun buyar. Saya mencoba mengusir kejenuhan rutinitas kota dengan melihat anak-anak kecil mandi di pancuran tua itu. Belasan orang dewasa melihat ikan-ikan hias di kolam Jolotundo. Ada juga beberapa remaja yang berpacaran.

04 May 2008

Empat calon gubernur Jawa Timur

Pemilihan langsung gubernur Jawa Timur dijadwalkan pada 23 Juli 2008. Tapi gaungnya sudah ramai sejak lama. Di mana-mana ditempel poster bakal calon gubernur dan wakilnya. Coba anda jalan-jalan ke pelosok Jatim: poster-poster ada di mana-mana. Semua kandidat berbusana ala santri nahdliyin.

Semua merasa dekat kiai, orang nahdliyin, paling berhak memimpin provinsi besar ini. Wuih, wuih.... Sing gak santri, opo maneh arek-arek minoritas kayak kita orang, ya, cukup dadi pemantau ae! Pokoke, ikut menyukseskan pigub langsung pertama di Jawa Timur ini.

Saat liburan begini, iseng-iseng saya bikin catatan tentang para bakal calon gubernur. Disebut bakal calon karena nama-nama yang beredar sekarang belum ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Jatim. Mereka-mereka itu orang yang rumonso calon, merasa sebagai calon gubernur. Rumongso iso mimpin Jatim periode 2008-2013. Ambisi tinggi penting bagi politikus Indonesia, bukan?

KHOFIFAH INDAR PARAWANSA
Surabaya, 19 Mei 1965

Khofifah, menteri pemberdayaan perempuan pada era Gus Dur, calon gubernur Jatim yang paling belakangan muncul karena proses politiknya panjang dan berliku. Arek Suroboyo asli ini--dulu tinggal di kampung Wonocolo--tadinya diincar oleh partai-partai besar, tapi sebagai wakil gubernur.


Khofifah menolak. "Saya hanya mau maju kalau posisi saya nomor satu, bukan nomor dua," tegas alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Khofifah diusung Partai Persatuan Pembangunan bersama 12 partai nonparlemen. Koalisi ini rapuh karena bisa saja di tengah jalan ada yang mbalela. "Saya dan teman-teman mencalonkan Khofifah karena kemampuannya. Dia cerdas, pernah jadi menteri. Jantas pantas kalau jadi gubernur," ujar Rudi Sapulete, ketua Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) Jawa Timur, kepada saya. Rudi koordinator koalisi partai-partai kecil nonparlemen.

Berpasangan dengan Pak Mudjiono, bekas Kasdam Brawijaya, pensiunan mayor jenderal, Khofifah Indar Parawansa merupakan kuda hitam dalam pemilihan gubernur Jatim mendatang. Saya beberapa kali mewawancarai Khofifah. Orangnya cerdas, jago debat, bicara pakai angka dan data. Indikasi bahwa Khofifah suka membaca dan serius mencermati situasi sosial dan politik. Khofifah banyak mengangkat indeks pembangunan manusia atau IPM Jatim yang terpuruk di tanah air.

"Masak, provinsi kayak kok banyak orang miskin, buta hurufnya banyak sekali," ujar Khofifah saat kami jumpai di kantor Radar Surabaya belum lama ini. Sebagai ketua umum Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah punya mesin politik yang siap mengegolkan dirinya sebagai gubernur. Apalagi, dia didukung oleh Pak Hasyim Musyadi [ketua umum pengurus besar Nahdlatul Ulama] serta sejumlah kiai penting di lingkungan NU. Khofifah itu nahdliyin tulen.

"Saya satu-satunya calon gubernur Jawa Timur dari unsur NU," katanya.

Lha, kalau Pak Ali Maschan, Pak Achmady, Gus Ipul? "Mereka kan cuma calon wakil gubernur. Komunitas nahdliyin itu kan mayoritas di Jatim. Ya, seharusnya ambil posisi gubernur dong, bukan wakil gubernur. Hehehe," ujar Khofifah mantap.

Sejak kecil Khofifah aktif di organisasi. Jadi ketua kelas, ketua organisasi siswa intra sekolah, mengurus pengajian, debat dan diskusi di mana-mana. Saat kuliah di Universitas Airlangga, Khofifah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Organisasi yang semakin mematangkan Khofifah untuk terlibat dalam aktivitas sosial politik.

Maka, ketika dijegal dengan isu "keimamam perempuan", Khofifah tenang-tenang saja. Khofifah menjawab dengan cerdas, pakai rujukan yang komprehensif. Bagaimana mau dijegal? Wong yang mencalonkan dia PPP, yang sejak dulu dikenal sebagai partai Islam?

Khofifah Indar Parawansa menjadi darah segar di pemilihan gubernur Jatim. "Begitu melihat Khofifah muncul, saya batal jadi golput deh. Gairah saya bangkit lagi. Saya pasti coblos," kata Jeremias, teman saya, aktivis politik.

Coblos yang mana? "Hehehe... Sudah jelas lah. Bung sudah tahu lah," kilah teman saya ini.

SUTJIPTO [PDI PERJUANGAN]
Trenggalek, 19 Agustus 1945

Sutjipto terlambat muncul karena DPP PDI Perjuangan terlambat merekomendasikan nama bakal calon gubernur. Tadinya, suara pengurus partai banteng di daerah memenangkan Pak Karwo. Tapi proses politik di tingkat elite Jakarta mengatakan lain. Pak Tjip yang justru dapat restu Ibu Megawati Soekarnoputri.


Pak Tjip kader banteng gemuk tulen. Insinyur cum politikus ini berjasa mempertahankan partai di masa-masa paling sulit menjelang kejatuhan Orde Baru. Ketika hampir semua orang cari selamat, membebek pada rezim Pak Harto, Pak Tjip berani pasang badan untuk mempertahankan idealisme politiknya yang pro wong cilik. Maka, dia jadi ketua PDI Jatim versi Promeg. Latif Pujosakti ketua PDI Jatim versi pemerintah.

Ketika markas PDI di Jakarta diserbu, 1999, Pak Tjip juga berjasa. Dia habis-habisan di lapangan, menjadi tangan kanan Megawati. Setelah reformasi dia masuk MPR menjadi ketua fraksi. Sayang, dia gagal mengantar Megawati sebagai persiden karena kurang pandai berdiplomasi dan bikin manuver.

Sejak itu Pak Tjip anteng di Jakarta sebagai anggota parlemen, tapi pamornya merosot. Popularitas Pak Tjip di kalangan aktivis PDIP di daerah juga kurang baik. "Pak Tjip itu sudah berubah, nggak kayak dulu masih berjuang. Dia ikut-ikutan elitis," kata sejumlah kader PDIP di Sidoarjo kepada saya.

Jangan heran, saat konfercab untuk memilih bakal calon gubernur Jatim, Pak Tjip kalah sama Pak Karwo yang bukan kader PDIP. Lalu, kenapa DPP berkeras memajukan Pak Tjip? "Silakan tanya sama Bu Megawati. Kita ini mau menang apa kalah? Kalau Pak Tjip yang maju aku gak bisa jamin," ujar teman saya, kader banteng gemuk.

Pak Tjip berpasangan dengan Ridwan Hisjam, politikus Golkar. Ridwan, alumni Himpunan Mahasiswa Islam, pengusaha real estat, bukan orang populer. Ia selalu mengaku dekat kiai, rajin sowan ke ulama, tapi garis ke-NU-annya tidak jelas. Lain benar dengan Gus Ipul atau Pak Ali Maschan. Tentu saja, agak sulit mengharapkan Pak Ridwan menyedot suara dari kalangan santri.

"Tapi, jangan salah, suara kaum nasionalis kan utuh. Kalau NU-nya terpecah-belah bukan tidak mungkin Pak Tjip yang menang," ujar Ahmad, teman saya, aktivis Islam yang bukan NU. Kasus di Kalimantan Barat bisa jadi pelajaran. Karena kaum mayoritas terpecah belah, pemilih akhirnya memenangkan kuda hitam.

Nah, Pak Tjip ini termasuk kuda hitam. Kurang diunggulkan, underdog, tapi bisa bikin kejutan. Kekurangan utama: Pak Tjip ini lambat panas. Kalau Pak Karwo dan Pak Narjo sudah kampanye lima tahun, Pak Tjip baru kampanye enam bulan. Iklannya sedikit, duitnya pun pas-pasan, kata orang sih.

SOENARJO [PARTAI GOLKAR]
Blitar, 19 Januari 1945

Sama dengan Pak Soekarwo, Soenarjo alias Ki Dalang orang dalam birokrasi. Sekarang Pak Narjo menjabat wakil gubernur Jawa Timur. Seharusnya dia menjadi tangan kanan Pak Imam Utomo, gubernur sekarang. Tapi kelihatannya Pak Imam 'lebih dekat' Pak Karwo meskipun merestui dua anak buahnya untuk bertarung pada 23 Juli mendatang.


Kalau Pak Karwo sempat kesulitan mendapat kendaraan, Pak Narjo paling mulus. Wong dia ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur. Karena itu, dialah orang pertama yang dideklarasikan sebagai calon gubernur ketika para pesaingnya masih wira-wiri mencari perahu politik. Kantor Golkar pernah dibakar massa PKB dan NU pada 1998, tapi kini rupanya tak ada lagi dendam politik.

Pak Narjo bahkan menggandeng Pak Ali Maschan Moesa sebagai pasangannya. Pak Ali doktor sosiologi yang juga ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Proses masuknya Pak Ali dalam kancah pilgub sangat rumit, jelimet, kontroversial, tapi akhirnya gol juga. Orang nahdliyin itu luwes. Bisa menjelaskan apa saja secara jernih dalam posisi serumit apa pun. Termasuk mengarang alasan untuk membenarkan sikap politiknya.

Ketika sejumlah kiai NU mengkritik Pak Ali dengan argumentasi kontrak jamiyah, Pak Ali gampang saja menepis. "Kontrak jamiyah itu nggak ada. Itu kan akan-akalan saja untuk mengganjal pencalonan saya," katanya. Ketika dipecat sebagai ketua NU Jatim, Pak Ali pun enteng saja menjawab. "Wong yang pecat saya itu sudah mengundurkan diri."

Hehehe... bisa-bisa saja Pak Ali: ulama, intelektual, aktivis sosial, ulama, plus politikus ini.

Pak Narjo yakin Pak Ali bakal menyedot suara pemilih yang mayoritas NU. Dengan mesin organisasi NU yang solid di 38 kabupaten/kota, ulama-ulama berpengaruh, diharapkan suara Narjo/Ali signifikan untuk menjadi pemenang pilgub. Saya akui Pak Ali memang sosok populer. Sebagai ketua NU Jatim,Pak Ali berhasil menata organisasi, menjaga hubungan harmonis antarjemaat agama di Jatim. Kredit poinnya untuk soal ini luar biasa.

Pak Narjo termasuk tokoh yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkan pencalonannya. Empat tahun terakhir ini Pak Narjo rajin mendalang di televisi. Blocking time alias beli jam tayang. Jadi, bukan karena kualitas pedalangannya hebat sehingga sering muncul di televisi. "Alah, Pak Narjo itu mainnya biasa-biasa saja. Lawakane Kirun ya gak lucu, garing," ujar Pak Bambang, pengamat dan penggemar wayang kulit di Sidoarjo, kepada saya.

Tapi kan Pak Narjo punya uang. Paling tidak punya penyandang dana. Sehingga, dia bisa kampanye jangka panjang, sistematis, selama bertahun-tahun. Yang jelas, seperti Pak Karwo, dia diragukan mampu mereformasi birokrasi di Jatim. Kenapa? Dia pejabat karir yang sudah karatan di dunia birokrasi. Pola pikirnya ya khas birokrat. Apakah mungkin ada terobosan-terobosan segar?

ACHMADY [PKB]
Mojokerto, 8 November 1950

Dibandingkan tiga kandidat lain, Pak Achmady paling tidak populer. Ia 'hanya' bupati Mojokerto. Lurahnya Majapahit, begitu jargon yang beredar. Ia sukses di Mojokerto, tapi namanya tidak dikenal di 37 kabupaten/kota lain. Achmady siapa? Kok ujug-ujug ada nama itu?


Jangankan awam, orang-orang Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] pun kayaknya enggan mencalonkan Pak Achmady. Tapi mereka akhirnya pasrah gara-gara Gus Dur [Abdurrahman Wahid], ketua dewan syura sekaligus pendiri/pemilik PKB, merekomendasikan nama Pak Achmady. Ya, sudah, apa pun kata Gus Dur harus diikuti. Bisa dipecat kalau menantang Gus Dur, bekas presiden asal Jombang itu.

Munculnya Pak Achmady membuat konstelasi politik di PKB dan NU terfragmentasi. Sebab, seharusnya sebagai partai mayoritas, calon dari PKB-lah yang menang pilgub. Tapi kalau calon itu Pak Achmady, lha piye to? Maka, daripada NU tidak dapat apa-apa, Pak Ali digandeng Pak Narjo, Gus Ipul digandeng Pak Karwo. Rata-rata semua orang pesimistis Pak Achmady bakal menang.

"Kalau yang nyoblos itu cuma orang Mojokerto, ya, Pak Achmady menang. Tapi ini yang nyoblos wong sa-Jatim," begitu kata teman saya, arek nahdliyin.

Pencalonan Pak Achmady menjadi taruhan besar bagi Gus Dur. Jika menang, maka reputasi Gus Dur terangkat luar biasa. Tapi kalau Pak Achmady kalah, ya, nggak tahu lagi. "Gus Dur itu punya feeling politik yang luar biasa. Sulit ditebak orang lain. Biasanya orang baru sadar setelah kejadian," kata teman saya, bekas aktivis mahasiswa Islam.

Pak Achmady pun naga-naganya tidak punya modal besar. Iklannya sedikit. Jarang muncul di media. Gaya bicaranya macam apa tak banyak yang tahu. Wakilnya siapa pun gak jelas. Satu-satunya kelebihan, ya itu tadi, direkomendasikan langsung oleh Gus Dur. Ya wis!

SOEKARWO [PAN, DEMOKRAT]
Madiun, 16 Juni 1950

Kumisnya tebal, jadi trade mark tersendiri. Pasangannya juga berkumis, Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul. Soekarwo ini birokrat sejati, orang kepercayaan Pak Imam Utomo, gubernur sekarang. Saat ini dia menjabat sekretaris provinsi Jatim - yah, tangan kanannya Pak Imam di bidang adiministrasi pemerintahan.


Sejak menjabat kepala dinas pendapatan daerah, Soekarwo dianggap berprestasi. Orangnya ramah, hangat, murah senyum. Meskipun birokrat, Pak Karwo bisa bergaul dengan siapa saja dari kelompok mana saja. Sejak setahun terakhir Pak Karwo kerap mewakili Pak Gubernur dalam berbagai acara penting di Jawa Timur. Apakah ini isyarat bahwa Pak Imam Utomo memang menginginkan Pak Karwo sebagai penggantinya? Hmmm... tanyakan sama rumput hijau di Grahadi.

Yang jelas, kampanye [Pak Karwo menyebut 'sosialiasi] Soekarwo sangat gencar. Sejak 2003, khususnya 2004, saya melihat banyak acara di televisi yang mempromosikan Soekarwo. Pak Karwo disebut Pak De, ya, karena dipopulerkan oleh televisi Jawa Timur. Pak De digambarkan merakyat, merespons apa saja yang dikeluhkan masyarakat. Masalah seberat apa pun dijawab Pak De Karwo dengan enteng.

Pak Karwo, meski diusung PAN dan Demokrat, Pak Karwo sebenarnya didukung oleh mayoritas pengurus PDI Perjuangan. Seharusnya ia diusung PDIP. Namun, karena proses politik, Pak Karwo terpental. Akhirnya, PAN dan Demokrat dipakai sebagai kendaraan politik. Dengan mesin politik partai yang kuat, termasuk pengurus PDIP yang main mata, Soekarwo punya modal politik luar biasa. Iklan melimpah ruah. Fasilitas birokrasi oke.

Gus Ipul, pasangan Pak Karwo, punya darah biru NU. Tapi ia sebetulnya bukan figur populer. Pernah jadi menteri, tapi kiprahnya tidak jelas. Ia juga berseberangan dengan Gus Dur dan tak punya kekuatan di struktur NU.

Pak Karwo dan Gus Ipul punya slogan: "APBD untuk Rakyat". Memangnya selama ini APBD untuk siapa? Dimakan pejabat, birokrat, dikorupsi? Banyak orang mempertanyakan moto Pak Karwo yang bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Sebagai birokrat, Pak Karwo pun diragukan mampu melakukan reformasi birokrasi yang dikenal lamban, malas, dan korup itu. Pasti sisi ini akan menjadi senjata lawan-lawan politiknya.