30 April 2008

Wartawan malas menulis

"Menulis itu gampang," kata Arswendo Atmowiloto dalam bukunya.
"Menulis itu sulit," kata Prof Budi Darma PhD, juga dalam bukunya.

Mana yang benar? Menulis atau mengarang itu gampang atau sulit? Sulit dijawab. Jawaban yang benar, barangkali: gampang-gampang sulit. Bisa dianggap gampang, tapi kalau dilakoni ya sulit juga. Tidak semua manusia punya talenta menulis macam Arswendo Atmowiloto, Budi Darma, Pramoedya Ananta Tour, Remy Sylado, NH Dini, Ratna Indraswari Ibrahim, Dahlan Iskan, Andreas Harsono....

Pak Arswendo dalam buku teori mengarang yang laris itu memang sengaja kasih motivasi agar remaja Indonesia mau menulis. Menulis apa saja yang bisa ditulis. Lalu, kirim ke majalah HAI karena saat itu Pak Arswendo pemimpin redaksinya. Hasilnya memang ada. Pada 1980-an dan 1990-an banyak remaja menulis cerpen, naskah drama, reportase untuk media massa. Ada yang dimuat, tapi jauh lebih banyak yang tak.

Kalau kita baca baik-baik buku manual mengarang karya Pak Arswendo, sebetulnya tidak ada teori baru. Semuanya sudah ada di pelajaran bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas. Judulnya saja yang bagus--Mengarang Itu Gampang--sehingga orang tertarik untuk beli dan baca. Judul karangan memang harus sangat menarik!

Lain lagi dengan Pak Budi Darma. Profesor dan sastrawan dari Surabaya ini menyebut menulis itu sulit karena kita, orang Indonesia, kurang mampu berpikir kritis. Kalau tidak kritis berarti orang itu tidak tidak bisa memilah-milah persoalan. Maka, daya analisisnya tidak jalan. Persepsi kabur.

"Kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulis. Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan," tulis Pak Budi Darma dalam buku kumpulan tulisannya yang diterbitkan JP Books, 2008.

Wartawan atau jurnalis atau reporter atau pewarta tidak bisa lepas dari tulis-menulis. Tiap hari si wartawan harus menulis, menulis, menulis berita atau analisis di medianya. Apakah dengan begitu wartawan bisa dianggap orang yang "kritis", "analisisnya jalan", "persepsi terang"? Belum tentu.

Para redaktur media massa zaman sekarang kerap menggerutu karena dipaksa membaca tulisan wartawan yang bergelemak-peak bin centang-perenang. Logika kacau, berantakan. Struktur kalimat tak jelas. Mana subjek, predikat, objek, anak kalimat, induk kalimat... sukar dibedakan. "Saya lebih suka menulis sendiri daripada harus mengedit tulisan teman-teman. Kalau menulis sendiri cepat selesai," ujar seorang redaktur senior di Surabaya.

Redaktur ini mengaku stres membaca tulisan-tulisan yang disodorkan si reporter. Salah ketik banyak, logika tak jelas, berita tidak imbang, konfirmasi kurang, dan seterusnya. "Payah deh. Maaf, kualitas wartawan Indonesia rata-rata makin lama makin parah. Susah menemukan naskah yang pressklaar," katanya. Pressklaar itu maksudnya naskah yang sudah sangat bagus, siap cetak. Fit to print.

Saya no comment dulu lah. Sebab, jujur, tulisan saya pun belum beres. Belum pressklaar. Salah ketik, salah eja, salah data, masih kurang lengkap. Belum sempurna. Tapi akhir-akhir ini saya heran melihat sejumlah wartawan [reporter] yang terkesan malas menulis. Menulis tidak dirasa sebagai pekerjaan yang dinikmati, tapi beban berat.

"Jangan aku deh, capek, mana banyak beban. Yang lain saja lah," begitu alasan wartawan menghindari tugas. Padahal, topik itu bidang tugasnya. Lha, kalau tidak mau menulis, cari-cari alasan, lantas bagaimana?

"Hampir semua redaktur yang pernah saya ajak diskusi, keluhannya sama. Kita harus cari solusi," kata redaktur senior itu tadi. Beberapa waktu lalu Dewan Pers bikin diskusi bersama para redaktur di Surabaya, dan ternyata keluhan-keluhan ini muncul. Wartawan Indonesia ternyata tidak semuanya menikmati profesinya: menulis, menulis, menulis.

Karena malas menulis, terlalu banyak beban, gairah reporter untuk wawancara dan cek langsung di lapangan pun merosot. Maka, minta berita ke teman. Contek internet. Oplos sana-sini pakai jasa Google dan mesin-mesin pencari data di internet. Tidak heran, kita semakin sulit menemukan cerita-cerita menarik yang ditulis dengan data dan gaya yang kuat.

Surat kabar dan majalah menjadi tidak menarik dibaca. Kita makin sulit menemukan tulisan yang enak, bernas, dan bergaya ala Goenawan Mohamad dan Remy Sylado pada masa sekarang. Koran makin banyak, majalah tebal-tebal dan luks, tapi isinya? Kalah sama majalah-majalah sebelum tahun 1980-an ketika komputer belum ada.

"Saya sudah lama nggak baca koran Indonesia. Wong isinya nggak ada yang menarik. Tulisannya kering. Wartawan nggak menguasai persoalan. Sok tahu, tapi kosong," ujar Pak Slamet Abdul Sjukur, pemusik kontemporer serta kritikus musik, kepada saya.

Kritik tajam Pak Slamet ini selalu "nancap" di kepala saya. Dan, ketika mendengar langsung banyak teman wartawan yang menggerutu, menolak tugas, marah-marah, tidak wawancara langsung, minta berita sama teman, saya akhirnya sadar bahwa Pak Slamet benar.

Terus bagaimana, Pak?

3 comments:

  1. Copy paste aja ya Mas ...Aku malah nge link

    ReplyDelete
  2. wow... bahaya mental copy and paste.

    ReplyDelete
  3. Repot juga kalau wartawan malas menulis ya. Mungkin, jadi wartawannya bukan karena panggilan hati? hehe

    Tapi menurut saya, ketrampilan mengeluarkan pikiran dalam bentuk tulisan itu...tidak dimiliki semua orang, walaupun bisa diasah. Belum lagi ditambah gaya penulisan...dan sebagainya, itu yg membuat tulisan saya dan mas Hurek ttg topik yg sama jadi terasa beda bobotnya ya....haha (ini niatnya memuji lho)

    ReplyDelete