09 April 2008

Surabaya Oratorio Society

Surabaya Symphony Orchestra (SSO), satu-satunya orkestra di Jawa Timur, menggelar konser ke 55 di Hotel Sheraton pada 15 April 2008. Sejak dulu SSO selalu konser hari Selasa. Kok bukan Jumat, Sabtu, Minggu, ketika warga Kota Surabaya sedang agak santai?

Konser hari Selasa juga membuat saya "sulit" menonton karena kebetulan kegiatan saya sangat padat setiap Selasa. "Hurek, kamu pernah dengar Super Tuesday? Di Amerika sana hari Selasa itu penting," ujar Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO, Selasa (8/4/2008). Saya memang selalu mampir ke markas SSO menjelang konser-konser besar.

Cari ilmu musik sekaligus memberikan sokongan moral kepada Pak Tong dan kawan-kawan yang sudah kerja keras untuk mempertahankan SSO. Asal tahu saja, biaya untuk mempertahankan orkes simfoni sangat mahal. Sementara di Indonesia belum banyak donatur, apalagi pemerintah, yang mau membiayai musik klasik, khususnya orkes simfoni. Sebelumnya, Pak Tong bilang selalu tekor ratusan juta tiap kali konser. Tapi Tuhan selalu membantu: saat konser persoalan biaya tuntas. Puji Tuhan!

Karena sehari sebelumnya Pak Tong sudah bicara banyak di jumpa pers - saya tidak datang karena bukan tugasku, ada reporter lapangan - saya tak banyak bertanya soal materi konser. Toh, bisa dibaca di brosur atau surat kabar. Kali ini saya tanya sedikit tentang Surabaya Oratorio Society alias SOS. Ini paduan suara yang tidak bisa dipisahkan dari SSO. Setiap kali SSO konser, SSO mengisi paduan suara.

"SOS itu mitra SSO," tegas Pak Tong, dirigen dan tokoh musik klasik kelahiran Xiamen, 20 Oktober 1939. Usianya sudah tak muda, tapi semangat Pak Tong tak kalah dengan orang muda. Organ-organ tubuhnya pun sama sekali belum aus. Keluhan-keluhan para manula tidak dialami Pak Tong.

"Sampai sekarang saya bebas makan makanan apa saja. Nggak ada pantang ini pantang itu," ujarnya bangga. Saya juga dikasih tahu bagaimana cara menjaga kesehatan agar tetap sehat sampai kakek-kakek. Hehehe....

Nah, SOS itu dibentuk Pak Solomon Tong pada Februari 1997. Dua bulan setelah konser pertama SSO di Hotel Westin [sekarang JW Marriott]. Paduan suara SOS dibentuk karena kebutuhan yang mendesak untuk melengkapi SSO. Di mana-mana sebuah orkes simfoni membutuhkan paduan suara "siap pakai" untuk memperkuat konser-konser besar.

"Sebelumnya kami memakai paduan suara gabungan gereja-gereja. Lha, kalau tiap kali konser saya harus pinjam orang dari gereja-gereja kan capek. Makanya, saya dirikan Surabaya Oratorio Society."

Solomon Tong sangat menekankan kata society. Dus, sejak awal paduan suara ini didesain sebagai sebuah komunitas penggemar paduan suara. Anggota-anggotanya orang-orang yang suka menyanyi, suka paduan suara, ingin maju, ingin menembangkan diri bersama paduan suara dan orkestra. Tidak banyak lho paduan suara yang beruntung bisa nyanyi diiringi symphony orchestra setiap kali. Pengalaman musik itulah yang ditawarkan Solomon Tong.

"SOS punya pengurus sendiri, tidak campur dengan SSO. Tapi SOS mitranya SSO. Saya sendiri yang menangani paduan suara itu," papar Pak Tong.

Paduan Suara SOS berlatih setiap Senin malam, pukul 19.00 hingga 21.00 WIB di markas SSO Jalan Gentengkali 15 Surabaya. Ada atau tidak ada konser latihan jalan terus. Ini karena Pak Tong selalu mempersiapkan program konser jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak ujug-ujug atawa alias SKS [sistem kebut sebulan] seperti grup-grup musik lain.

Karena besifat society, komunitas, anggota SOS datang dan pergi. Anggota lama keluar karena sibuk atau pindah kota, datang anggota baru. Namun, rata-rata paduan suara ini diperkuat 50-60 anggota. Jumlah ini dianggap memadai untuk mendukung konser-konser SSO di Surabaya.

"Pernah dua kali SOS lebih dari 100 orang. Tapi sekarang sudah tidak bisa," tutur Pak Solomon Tong. Menurut dia, idealnya paduan suara untuk orkes simfoni memang sekitar 60 orang.

Boleh dikata, ini seleksi alam seiring usia SOS yang sudah 11 tahun. Namun, Pak Tong mengaku tidak kesulitan menggabungkan anggota lama dan baru. "Proses adaptasinya kan tidak sulit. Mereka bisa saling menyesuaikan, yang baru bisa belajar dari yang lama," ungkap pemusik yang sejak 1957 mengembangkan paduan suara di Kota Surabaya itu.

Para anggota SOS sangat beruntung. Mereka beroleh banyak peluang untuk membawakan nomor-nomor klasik nan bergizi. Ini membuat wawasan anggota tentang musik klasik, khususnya paduan suara, jauh di atas rata-rata. Biasanya, penonton memberikan apresiasi tinggi pada penampilan SOS bersama SSO.

Sebagai catatan, masyarakat Surabaya rata-rata senang dengan paduan suara yang heboh dan menggelegar. Saya saksikan tepuk tangan niscaya sangat meriah. Maka, tak salah kalau Pak Tong menyusun aransemen paduan suara dengan ending atau coda yang sangat meriah. Seakan-akan menumpahkan semua emosi dengan fff, sangat keras. Gaya Pak Tong menutup musiknya pun sangat menarik. Aplaus sangat meriah, Bung!

Saya terkesan ketika Paduan Suara SOS membawakan The Messiah karya Gerg Friedrich Handel [1685-1759]. Kalau biasanya kor-kor di tanah air baik gerejawi maupun umum hanya membawakan satu dua petikan oratorio, paling banyak Hallelujah, SOS membawakan secara komplet. Kalau tidak salah waktu itu dirigen asal Australia Mr Nicolas yang dipercaya Pak Tong sebagai dirigen. Nomor-nomor opera terkenal ini dibawakan secara penuh. Prestasi tersendiri buat SOS.

Mana ada paduan suara lain di Surabaya yang berkesempatan membawakan oratorio tersebut secara penuh? "Itu kan soal peluang saja, Bung. Teman-teman SOS kan terkait dengan SSO sehingga repertoar-nya lebih kaya. Mereka bisa menjajal aneka macam repertoir. Tapi bukan berarti paduan suara lain di Surabaya nggak bisa nyanyi," ujar Markus, aktivis paduan suara gereja, kepada saya.

Yang sedikit menjadi "ganjalan" di hati saya: anggota SOS ini kebanyakan berusia 50 tahun ke atas. Jarang sekali anak muda yang memperkuat paduan suara langka ini. Tiap kali menjelang konser SSO/SSO saya selalu bercanda dengan beberapa anggota SOS. Mana sih anak-anak muda? Gadis-gadis cantik? Hehehe....

"Wah, sekarang ini sangat sulit mengajak anak-anak muda ikut paduan suara. Sibuk sekolah, kuliah, kerja, dan sebagainya. Di gereja pun sekarang ini tidak gampang lho mengajak kaum muda untuk berlatih paduan suara secara rutin dan konsisten," ujar seorang anggota senior SOS kepada saya.

Rutin dan konsisten! Dua hal ini memang ciri khas anak-anak muda di Surabaya. Orang muda itu suka coba-coba, trial and errror, lekas bosan, suka mencoba hal-hal baru. Satu dua kali ikut latihan, kemudian konser, lalu bosan, lalu cari kesibukan baru di tempat lain. Itulah sebabnya begitu banyak paduan suara anak muda di Surabaya yang "buyar" atau vakum sampai sekarang. "Kami sih sangat senang kalau anak-anak muda bergabung," ujar penyanyi yang namanya saya lupa itu.

Oh, ya, apakah Paduan Suara SOS membaca musik dengan notasi balok? Afdalnya memang seperti itu, karena repertoar-repertoar klasik memang ditulis pakai notasi balok, bukan not angka. Tapi, karena SOS itu bersifat society, bukan SSO yang dituntut sangat profesional, setahu saya selama ini partiturnya pakai notasi angka.

Dulu, ketika mampir ke kantor SSO, saya melihat Anna yang serius mentransfer notasi balok ke notasi angka. Yah, agar lebih mudah dipakai latihan. Anna yang lulusan ISI Jogja itu sekarang sudah out, menjadi pelatih vokal freelance. Sekarang tugas itu dilakoni oleh Agus Pramono, juga pemusik lulusan ISI Jogja. Berkat teknologi komputer, transposisi notasi itu relatih lebih enteng.

ALAMAT KONTAK
Surabaya Oratorio Society
Jalan Kawi 3 Surabaya
Telepon 031 532 2147
Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon 031 5313297, 5342440
www.surabayasymphonyorchestra.com

1 comment:

  1. hallo pa kabar..... tulisannya bagus..... kok namaku ada juga ya...

    ReplyDelete