14 April 2008

Romo Suwadji CM penulis puluhan buku




Monday, 14 April, 2008

Di sela-sela kesibukannya sebagai pastor, Romo Donatus Suwaji CM--biasa dieja dengan ejaan lama, Donatus Suwadji--menulis buku. Buku apa saja, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan umat. Bagi Romo Waji, menulis buku itu bukan sekadar sarana untuk menuangkan ide-ide agar bisa dinikmati orang banyak, melainkan terapi fisik dan psikis.

"Saya kalau nggak menulis buku agak lama bisa sakit atau mengalami kecelakaan. Ini pernah saya alami tiga kali," tutur Pater Donatus Suwaji CM yang saya kontak via telepon seluler. Saat ini Romo Waji menjabat pastor paroki di Gresik, Jawa Timur. Rohaniwan kelahiran Slorok, lereng Gunung Kelud, 29 April 1941, ini mengaku tidak seproduktif dulu. Tapi ia tetap saja menulis bahan-bahan yang suatu saat kelak bakal dijadikan buku.

Saya tertarik dengan figur pastor senior ini karena sering sekali saya menemukan buku-bukunya terpajang do toko-toko buku gereja. Ada rak khusus untuk buku-buku Romo Waji. Bentuknya sederhana, bahkan kelewat sederhana karena pakai fotokopi atau cetakan murah, tipis, materinya tidak berat-berat amat. Biasanya soal-soal rohani, kebatinan, doa-doa, hingga terapi urine. Romo Waji sering membawa tumpukan bukunya untuk dijual di acara-acara yang dihadiri banyak orang.

Cari bahan sendiri, ngetik sendiri, ngedit sendiri, cetak sendiri... jual sendiri. Jauh sebelum ada penerbit independen, Romo Waji sudah melakukannya. Sebagai pater di Jawa Timur, Romo Waji tentu tidak perlu susah-susah cari uang untuk makan. Di pastoran kan tersedia makanan dan pelbagai fasilitas. Mau jalan-jalan ke mana saja pun bisa kalau lagi cuti. Bahkan, bisa tur ke tanah suci atau Vatikan bersama sekelompok umat, kalau mau. Lalu, untuk apa capek-capek bikin buku dengan modal dan kekuatan sendiri?

"Yah, untuk umat. Saya menulis buku untuk menjawab kebutuhan umat. Juga biasanya ada umat yang minta agar saya membahas topik tertentu. Saya langsung cari bahan, mengetik, lalu diterbitkan," papar Romo Waji kepada saya. Penerbitnya tanpa tanpa karena Romo Waji sendiri. Biasanya ditulis: "untuk kalangan sendiri".

Ditahbiskan pada 29 Juni 1972, Romo Donatus Suwaji CM mengawali tugas pastoralnya sebagai romo di Bojonegoro. Ia mendampingi Pater Adam Jan van Mensvoort CM di kota kecil itu. Baru sekitar dua tahun Romo Waji sakit parah sehingga harus dirawat di Surabaya. Romo Waji sempat putus asa karena sakitnya tidak kunjung sembuh. "Kamu kan buruhnya Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki kamu sakit, ya, terima saja," ujar Romo Rekso Subroto CM menghibur konfraternya.

Puji Tuhan, Romo Waji sembuh. Ia ditugaskan ke Blitar, mengurus jemaat Katolik di pelosok-pelosok desa. Ada 60an stasi kecil. Jemaatnya orang desa, berbahasa Jawa. Romo Waji sadar bahwa umatnya perlu buku pegangan untuk nyanyian dan doa dalam bahasa Jawa. Tapi cari di mana? Yah, dia pun menulis sendiri. Terbitlah buku KIDUNG (lagu-lagu pujian Jawa) dan IBADAT TANPA IMAM. Dua buku ini merupakan debut awal Romo Waji dalam karya literaturnya. Rata-rata buku Romo Waji dicetak 1.000 sampai 2.000 eksemplar.

Masih pada pertengahan 1970-an Romo Waji menatar 350 "modin" Katolik yang diharapkan bisa memimpin upacara-upacara selamatan Jawa secara Katolik. Maklum, Romo Waji termasuk pegiat inkulturasi liturgi di Jawa Timur, khususnya Keuskupan Surabaya. Lagi-lagi ia merasa para modin itu butuh buku pegangan. Maka, lahirlah AMIN buku ketiganya. "Jadi, saya itu nulis buku antara lain karena sakit lama. Lalu, saat bertemu umat di desa-desa saya melihat ada kebutuhan akan buku-buku panduan praktis. Bukan buku-buku teori yang sulit-sulit," papar putra pasangan Andreas Kasan Munadi dan Bertha Jamiah itu.

Bapa dan mamanya meninggal dunia hanya beberapa saat setelah Suwaji ditahbiskan sebagai romo oleh Uskup Surabaya Mgr Johanes Klooster CM di Blitar. Kehilangan bapa dan mama dalam waktu berdekatan sempat membuat Romo Waji merasa ditinggalkan Tuhan. Namun, Romo Waji beroleh kekuatan setelah mendekatkan diri pada Tuhan lewat doa-doa dan laku spiritualnya.

Nah, setelah tiga buku tadi, Romo Waji makin rajin menulis buku. Satu buku belum selesai, sudah ada ide untuk buku-buku berikutnya. Umat senang karena gaya tulis Romo Waji sederhana, akrab, pakai contoh-contoh nyata. Beberapa buku bahkan dicetak ulang beberapa kali. Tak terhitung yang diperbanyak dengan cara fotokopi tanpa izinnya. Romo Waji tetap tersenyum karena, menurut dia, buku-bukunya demi pembinaan jemaat. Bukan untuk cari uang atau minta royalti.

Royalti apa? Wong penerbitnya dia sendiri. Romo Waji membiarkan buku-bukunya dibajak. Hak cipta tidak dihargai. "Mestinya gak boleh kalau memperbanyak kemudian jual lagi. Tapi, sudahlah, kalau untuk umat gak apa-apa," ujar pater yang sempat mencicipi pendidikan guru di SGB Malang pada 1960 itu. Ia senang kalau umat Katolik suka membaca buku dan syukur-syukur mau menulis apa saja demi kebaikan masyarakat.

Kepada saya, Romo Waji mengaku sudah lupa sudah berapa judul buku yang sudah ditulis. Saking banyaknya. "Sekitar 60 sampai 70 buku. Saya sudah tidak ingat," kata romo yang dekat dengan anak-anak muda dan wong cilik ini.

Romo Waji mengatakan, biasanya dia hanya butuh empat hari untuk menulis buku. Kalau sudah ada bahan--dan bahan selalu ada di kepala dan perpustakaan--Romo Waji duduk manis di depan mesin ketik. Sekarang lebih efisien karena pakai komputer. "Saya nggak tidur. Saya usahakan supaya buku cepat selesai, dicetak, dan cepat diedarkan ke umat," paparnya.

Kini, buku-buku baru karya Romo Waji jarang terlihat di toko-toko buku. Kenapa tidak seproduktif pada 1980-an dan 1990-an? Apakah karena sibuk mengurus umat di Gresik? Juga merenovasi gereja? Saya tanyakan ini kepada Romo Waji.

"Kalau sibuk sih dari dulu juga sibuk. Saya aak kendor karena hampir semua topik sudah saya tulis. Tinggal dicetak ulang atau digandakan lagi. Nanti kalau ada topik yang sekiranya perlu diketahui umat, ya, saya menulis lagi," ujarnya santai.

Di usia 67 tahun ini Romo Waji punya kesibukan baru di Gresik, yakni berkebun. Selepas misa harian pagi, Romo Waji mengurus kebuh di halaman gereja. "Mbah Waji juga bikin kolam ikan dan taman yang snagat indah. Mbah Waji ternyata punya ketrampilan sebagai tukang kayu, tukang kolam, tukang batu, petani, dan nelayan. Pokoknya, komplet lah. Mbah Waji juga sangat peduli dengan anak-anak muda," ujar teman saya, Ignatius Indra, aktivis Mudika Gresik. (rek)

No comments:

Post a Comment