02 April 2008

Pelukis Jansen Jasien menggebrak



Nama aslinya Muhammad Yasin, nama kerennya Jansen Jasien. Kedengaran mirip meneer Belanda. Tapi begitulah cara pelukis asal Krian, Sidoarjo, ini menancapkan citranya di belantika seni lukis Jawa Timur.

Pekan lalu Yasin alias Jansen sukses menggelar pameran tunggal kedua di Graha Pena Surabaya. Judul pameran: Tandjoeng Perak Tepi Laut!

Berbeda dengan pameran-pameran lukisan di Surabaya umumnya, pembukaan pameran si Jansen Jasien ini dihadiri orang-orang top Surabaya. Pak Dahlan Iskan bos Grup Jawa Pos. Pak Radjimin pemilik Hotel JW Marriott Surabaya. Juga dua menteri yang kebetulan datang ke Surabaya: Ibu Mari Pangestu (menteri perdagangan) serta Pak Anton Apriantono. Saya kira baru kali ini pameran lukisan dihadiri sekian banyak pesohor.

Jansen Jasien merintis karir sebagai pelukis dari bawah. Bikin sketsa di pinggir jalan. Terima pesanan. Mencoba aneka macam gaya. Baru pada 2006, setelah bencana lumpur Lapindo, nama Jansen Jasien mulai terangkat. Ini berkat kemasan marketing yang digemar Rully Anwar dan Mahmud Yunus, pegiat seni lukis yang tinggal di Sidoarjo.

Rully reporter Radio Suara Surabaya. Relasinya luas. Ini memudahkan Jansen Jasien disosialisasikan ke khalayak ramai di Surabaya. Lihat saja, publikasi Jansen Jasien di media massa Surabaya sangat gencar. Pada Hari Pers Jansen Jasien bikin lukisan sembilan tokoh pers tanah air. Pak Dahlan [Jawa Pos], Pak Errol [Suara Surabaya], Pak Agil [alm], Pak Jacob Utama [Kompas]....

Kiat ini sangat jitu. Kenapa? Foto penyerahan lukisan besoknya dimuat di koran tersebut. Lalu wartawan mewawancarai Jansen Jasien panjang lebar.

Dalam dua tahun terakhir ini Jansen Jasien fokus pada objek-objek tempo doeloe. Bangunan-bangunan Hindia Belanda, Surabaya tempo doeloe, dan sejenisnya. Sebelumnya Mas Indri Sedana dari Buduran, Sidoarjo, pun sudah menekuni objek-objek lawas. Bedanya, Indri melukis ala juru potret: lukisan dibuat persis mungkin, bahkan lebih bagus; Jansen Jasien bermain dengan teknik ekspresionisme. Lukisan-lukisannya terlihat timbul, belepotan cat.

Jansen bikin riset dan bertanya kepada tokoh-tokoh Surabaya tempo doeloe macam Pak Dukut Imam Widodo, Pak Urip Sudarman, atau Eddy Samson. Mereka-mereka ini kebetulan punya koleksi buku-buku lawas yang sangat banyak. Setelah dicerna, Jansen Jasien pun mulai melukis. Pada pameran perdana ini objek yang dieksplorasi kawasan Tanjung Perak tempo doeloe. Suasana Tanjung Perak pada era penjajahan Belanda. Tema macam begini biasanya disukai oleh para penyuka sejarah dan kaum mapan.

Apa yang Anda dapatkan dari hidup sebagai pelukis?

"Sebagai seorang pengabdi seni yang otodidak, tidak ada istilah kepuasan. Orang melukis ibarat berpikir yang tak pernah mengenal kata puas. Saya bersyukur masih mampu mengendalikan dan menghidupkan batin saya.

"Alhamdulillah, selama 16 tahun jadi pelukis, saya bisa menghidupi anak istri. Mereka sehat, tidak kekurangan. Punya kanvas, cat ada. Semangat masih menggelora. Materi ada, riset pun masih banyak, dan saya juga sehat. Itu semua sudah lebih dari cukup bagi saya. Cukup itu sudah di atasnya layak. Kalau layak saja, belum tentu cukup lho. Berarti posisi hidup saya sekarang ini masih lebih bagus."

Saya menjabat tangan Jansen erat-erat usai penutupan pamerannya. Pria gondrong nan kurus ini tampak sumringah. Tentu saja, banyak lukisannya yang laku. Gebrakan Cak Yasin sedikit banyak menghidupkan iklim seni rupa di Jawa Timur.


BIODATA SINGKAT

Nama Asli : Muhammad Yasin
Nama Beken : Jansen Jasien
Lahir : Gresik, 15 April 1974
Alamat : Desa Tambak Kemeraan RT 14 RW 04, Krian, Sidoarjo
Istri : Try Ativa
Anak : Mahara Swarganessa Sinavas
Email : jansenjasien@yahoo.com
Ponsel : 0888.3522.382

PAMERAN TUNGGAL

1. 2007: Bingkai Sejarah RSU Dr Soetomo dari Simpang
ke Karangmenjangan (Surabaya)
2. 2008: Tandjoeng Perak Tepi Laoet di Graha
Pena-Jawa Pos (Surabaya)

PAMERAN BERSAMA

1. 1992 - Senandung Kehidupan (Krian, Sidoarjo)
2. 1994 - Derap 94 (Krian, Sidoarjo)
3. 1997 - Bersama Perupa Antar Kota di Museum
Vredenburg (Jogjakarta)
4. 1998 - Di Graha Pameran, Tunjungan Plaza
(Surabaya)
4. 1998 - Di Graha Residen (Surabaya)
5. 1998 - Bursa Lukisan Dewan Kesenian Surabaya
(Surabaya)
6. 1998 - Kelompok Exit THR Mall (Surabaya)
7. 1998 - Festival Seni Surabaya (Surabaya)
8. 1998 - Di Hotel Hyatt Regency (Surabaya)
9. 1999 - Di Hotel Satelit (Surabaya)
10. 2000 - Di Hotel Tunjungan (Surabaya)
11. 2000 - Di Hotel Radisson (sekarang Surabaya Plaza
Hotel)
12. 2001 - Di Hotel Shangri-La (Surabaya)
13. 2003 - Cipta Pesona Taman Budaya (Surabaya)
14. 2005 - Symponi warna (Peduli Korban Bencana Alam)
di Gallery Surabaya (Surabaya)
15. 2005 - Jambore Nasional di Ancol (Jakarta)
16. 2006 - Inspirasi (10 perupa) di Gallery Surabaya
(Surabaya)
17. 2006 - Absolute di Archade Area Istana Kuta
Galleria, Kuta, Badung, Bali
18. 2006 - Jambore Nasional di Ancol (Jakarta)
19. 2006 - JIEXPO di Kemayoran (Jakarta)
20. 2006 - Jambore Surabaya di Gedung Utama Balai
Pemuda (Surabaya)
21. 2007 - Roadshow Tiga Kota, Refleksi Kebangkitan
Nasional di Kantor Bank Indonesia Surabaya, Jakarta,
dan Denpasar (Bali)
22. 2008 - Art Possible

AKTIVITAS LAIN

1. 2007 - Mendirikan Kelompok Pekerja Seni Pecinta
Sejarah (KPSPS) Surabaya, dan hingga kini menjabat
sebagai ketuanya
2. 2008 - Menyelenggarakan Penghargaan Sembilan Tokoh
Pers Peduli Seni Budaya
3. 2008 - Menggagas Tahun Penghargaan 100 Pusaka
Surabaya bersama Surabaya Heritage

No comments:

Post a Comment